Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Antara cinta dan bisikkan setan


__ADS_3

"Ken, lepaskan. Aku ingin kembali ke kamarku."


Tak terusik. Kenzie masih tetap dengan bibir terkatup dan tatapan tajamnya.


Hana menggeliat berontak, mengerahkan sekuat tenaganya untuk keluar dari belenggu lelaki itu. Namun sepertinya tak ada dukungan untuknya. Kenzie terlalu kuat untuk tenaganya yang hanya sebatas itu.


Sebelah telapak tangan Kenzie beralih gerak menangkup pipi Hana. Dan tangan lainnya menyusup ke belakang tengkuk gadis itu.


Asap-asap ketegangan mulai mengepul dari tubuh Hana, matanya sudah membola menyamai tiruan bola bumi. Bulat dan melebar.


Waduh!


Tunduk kepala Kenzie itu perlahan semakin mendekat ke wajahnya. Memapas jarak sedikit demi sedikit. Hangat hembus nafasnya mulai terasa.


Seolah tersihir, Hana kini berubah membatu. Sorot mata Kenzie menjadi irama yang memabukkan baginya. Telapak tangan yang semula di tempelkannya pada dinding disamping pinggangnya, kini beralih secara refleks ke dada bidang pria itu.


Centi mulai menjadi mili. Dekat dan semakin dekat. Akhirnya Kenzie memungkas semua jarak. Bibir piasnya sudah menempel sempurna dibibir mungil Hana.


Dan gadis itu ... mata sayunya mulai terkatup perlahan mengikuti alunan syahdu yang tercipta dalam kegusaran. Hingga berubah menjadi kedamaian. Rasa cinta yang masih tersimpan dalam hatinya menjadi alasan ia tak mampu menolak.


Dan ini adalah ciuman pertamanya.

__ADS_1


Untuk beberapa saat kedua bibir itu hanya saling menempel tanpa embel-embel. Hingga tak lama Kenzie mulai merubah pergerakkan. Kepalanya 15 derajat lebih dimiringkan. Insting kelelakiannya mulai mencuat ke permukaan. Alat pengecapnya merangsek keluar melewati katup bibirnya yang tertutup.


Tak ada penolakkan. Hana ikut terbuai dalam alur yang diciptakan lelaki itu. Ia membuka mulutnya membalas. Keduanya saling bermain dalam kecapan demi kecapan.


Gelenyar memabukkan dalam tubuh Kenzie semakin menguasai. Ia mengangkat tubuh Hana ke dalam gendongan khas bridal style. Membawanya masuk kedalam kamar tamu yang biasa ditempati Nilam dilantai yang sama.


Dibaringkannya tubuh itu di atas ranjang bermatras empuk yang berdadah-dadah dan tersenyum menanti keduanya singgahi.


Tak tahu apa yang kini ada dalam pikiran Hana, ia hanya terdiam dan pasrah. Warasnya sudah terbelenggu dalam cinta yang mungkin tak lagi suci.


Ditatapnya Kenzie yang kini tengah melepas satu persatu busana kuyupnya.


Dalam kuasa dan pengaruh kejahatan khamar, Kenzie mulai menuntun geraknya untuk mengungkung tubuh mungil Hana.


Selanjutnya terjadilah hubungan yang terinterupsi dan terlarang itu.


Terkulai dengan mata terpejam, Hana dikuasai rasa lelah yang tiada tanding. Kenzie benar-benar menunjukkan kegagahannya. Juga kebodohannya.


Seiring kantuk yang mulai menyerang, mereka akhirnya terlelap bersamaan. Menuju alam mimpi yang mungkin indah. Namun kenyataan didepan ....


Ah, entahlah.

__ADS_1


Yang jelas, kedua muda-mudi itu sudah jatuh pada jurang kekeliruan yang hakiki.


Setan terbahak dalam kemenangannya. Khamar yang menjadi senjatanya menjebak Kenzie, telah berhasil membawa pria itu pada kesalahan terbesarnya. Juga menyeret Hana, gadis polos itu bersamanya


*****


Suara kokok Jackson, si ayam jantan bangkok milik Chaka, terdengar cukup keras. Hingga membuat Hana menggeliat. Ia membuka katup matanya perlahan. Rasa sakit disekujur tubuhnya menciptakan ringisan di wajahnya kala ia mencoba menuntun geraknya untuk bangkit.


Dan ....


"Pakaianku!" Hana terkejut. Wajahnya kemudian bergerak pada sosok yang terbaring sampingnya. "Kenzie! Ya, Tuhaann...." Ditutupnya mulut kecilnya dengan sebelah telapak tangannya. Sementara tangan lainnya meremas selimut yang sudah ditariknya hingga ke dada.


Ingatannya beranjak mundur pada kejadian semalam. Semua kejadian berkelebat berputar membentuk roll klise yang menyesakkan. Memory otaknya mulai terkumpul maksimal. Dan mulai lah ia mengeluarkan air matanya.


Sebuah air mata penyesalan.


"Tuhan ... apa yang telah aku lakukan...? Kenzie adalah calon suami Kak Nilam. Kenapa aku malah menjebaknya dalam situasi ini." Tangis dalam sejuta sesalnya, Hana kemudian menuntun tubuhnya untuk turun dari ranjang penuh noda itu. Dipungutinya baju-baju yang bercecer dilantai, lalu dikenakannya, walaupun dalam keadaan basah.


Beberapa saat, ditatapnya Kenzie yang masih tenang dalam lelapnya. "Aku harus pergi sejauh mungkin darinya. Jangan sampai aku menjadi pengganggu antara hubungannya dengan Kak Nilam." Air mata terus mengalir dipipi halusnya. "Kak Nilam, maafkan aku, Kak."


•••••

__ADS_1


95% Narasi


__ADS_2