Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Ketika cinta berbalas


__ADS_3

"Ya, Tuhan, ku mohon berikan kebahagiaan untuk puteriku. Hapuskanlah segala penderitaannya. Biarkan dia menjejak indahnya hidup sampai selamanya." Terus mengusap lembut kepala Nilam, yang tersangga kedua pahanya, air mata yang terlahir dari kepiluan terus memaksa keluar dari sumbernya.


Mata terpejam dengan black spot di sekitarnya, menampakkan keletihan yang mendalam diwajah Nilam. "Begitu banyak waktu kebersamaan kita yang hilang. Begitu berat penderitaan yang kamu alami, melebihi beratnya kehilangan yang Ibu rasakan. Mulai sekarang Ibu berjanji, semua waktu Ibu akan menjadi milikmu," lanjut Dalia dalam siraman kasih sayang berpulas tekad.


"Apa dia tidur, Bu?" Gavin menghampiri dengan segelas teh hangat ditelapak tangannya. Lalu ikut mendudukkan dirinya ditepi ranjang disamping Dalia.


"Iya, Gav. Sepertinya dia sangat kelelahan."


Mengangguk tipis. "Biarkan seperti itu."


"Jadi bagaimana dengan penjahat itu sekarang?" tanya Dalia dengan oktaf rendahnya.


"Sudah dibawa dan ditangani pihak kepolisian, Bu. Kenzie dan Om Kevin juga ikut ke sana, untuk memberi kesaksian awal sebelum Nilam."


"Oh, begitu," sahut singkat Dalia. "Sebaiknya kamu istirahat, Gav. Wajahmu lelah."


"Iya. Tapi ... boleh aku tidur disana?" tunjuknya pada sebuah sofa yang tersandar beberapa meter disamping ranjang yang kini didudukinya.


"Kenapa disofa? Bibik sudah menyiapkan kamar tamu untukmu."


"Tidak apa-apa, Bu. Aku ingin disini menemani Nilam bersama Ibu."


Dalia menatap wajah Gavin lekat, lalu tersenyum sesaat kemudian. "Baiklah kalau begitu. Tidurlah. Ambil selimutnya dilemari itu." Menunjuk yang dikatakannya.


"Iya, Bu."


...••••...


Pagi hari....


Pendar sang surya mulai mengikis temaram. Perlahan terang merayap mengambil alih, seiring udara dingin yang mulai berganti hangat.


Geming tubuh Gavin terusik kala sebuah sentuhan membelai lembut dibilah pipi tegasnya. Mengerjap!


"Sayang." Sebuah pemandangan pagi yang melebihi segala jenis keindahan. Di mata Gavin!


"Selamat pagi."


Senyuman manis itu, sungguh dirindukannya. "Pagi. Kenapa sudah bangun?" Meraih telapak tangan Nilam yang masih menempel dipipinya, lalu mengecupnya sekilas.


"Ini sudah siang."


"Siang?"


"Hmm."


"Lalu kenapa mengucapkan selamat pagi?"


Nilam terkekeh. "Aku tidak tahu."


Namun suara tawa ringan itu, justru membuat air muka Gavin berubah sendu. Menatap lekat wajah cantik yang selalu dicintainya itu. Mulai detik ini, aku berjanji, tak membiarkanmu terluka dan ketakutan lagi.


"Gav ... Gavin!"


"Eh!"


"Kenapa melamun?"


Tanpa menjawab, Gavin merubah rebahnya menjadi tekukan. Ia duduk lalu merengkuh tubuh ringkih itu ke dalam dekapnya. "Maafkan aku."


"Hey, kenapa minta maaf?"


"Aku selalu gagal menjagamu."


Nilam menarik tubuhnya dari pelukan Gavin, lalu mengelus iras tampan itu dengan senyuman manis mengiringinya. "Kamu akan selalu jadi jagoanku. Kuda putihku."


Bukan kuda lumping! Catat!


Membalas senyum. "Peri kecilku ... yang sudah dewasa ... dan akan segera menjadi isteriku."


"Kalau aku tidak mau?" goda Nilam.


"Harus mau!"

__ADS_1


"Kalau tidak?!"


"Tetap akan ku nikahi."


"Kalau aku mati?"


DEG


Merangkum wajah Nilam dengan hunusan tatapan tajam dengan jarak sangat dekat. "Dengar...." Mengikuti gerak bola mata Nilam. "Aku tidak akan membiarkanmu mati ... tanpa aku."


Senyuman merekah tanpa pengembang tersungging menyabit dibibir Nilam. Di genggamnya pergelangan tangan Gavin disamping wajahnya. "Aku juga ingin hidup ... serta mati ... bersamamu."


Dan sebelum kedua bibir itu saling beradu ....


"Ekhem!!!"


"Ouh, shit !" Memutar kepalanya jengah. Kenzie sialan!!!


"Ayo turun! Kita makan bersama. Hahaha...." Kenzie lalu melenggang pergi seolah tanpa dosa.


Hoyyyy!!! Justru dia mencegah dosa!


Di lingkar meja makan.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kedua muda-mudi itu turun dengan wajah yang lebih segar.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" sambut Kevin merentang lengan meminta Nilam mengisi dada kekarnya yang siap menerima terjangan pelukan dari sang puteri.


"Aku baik, Ayah." Kedua lengannya sudah melingkar erat dipinggang sang Ayah.


"Syukurlah, Nak." Mengecup pucuk kepala itu dalam. "Ayo duduk. Makanlah yang banyak."


"Kak Ken, Hana mana?" Seraya menarik kursi lalu mendudukkan tubuhnya disamping Dalia.


"Pak Kus sedang menjemputnya. Mungkin akan sampai sebentar lagi," jawab Kenzie seraya mengoleskan selai coklatnya pada sehelai roti.


"Umm... begitu."


Tak berselang lama.


"Hana!" pekik Nilam seraya bangkit dan menghambur memeluk adik yang kini berubah status menjadi kakaknya itu.


"Kak Nilam. Kakak baik-baik saja, kan?" Membalas pelukan Nilam.


"Iya, aku baik-baik saja. Hana aku merindukanmu."


"Aku juga, Kak."


" Tapi Hana...." Nilam melepas pelukan itu.


"Ada apa?" tanya Hana terheran.


"Sekarang kamu yang jadi kakakku. Jadi jangan panggil aku kakak lagi. Panggil Nilam saja."


"Ha? Tap-tapi...."


"Tidak ada tapi-tapian! Iya, kan, Kak Ken?" Wajah Nilam sudah menghadap ke arah sang kakak.


"Ken!"


Tepukan Gavin dipundaknya membuat Kenzie mengerjap. "Eh."


"Hahaha...." Gavin meledakkan tawanya. "Apakah kau terpesona oleh isterimu sendiri?"


"Sssttt ...." Nilam menempelkan telunjuk dibibirnya. "Gav." Lalu terkekeh.


"Ups!" Menutup mulutnya, Gavin menaik turunkan alisnya menggoda Kenzie.


"Ku bunuh kau," ujar Kenzie seolah marah, menatap Gavin penuh ancaman yang tentu saja hanyalah sebuah lelucon.


"Haha...."


Hana cukup kikuk menanggapi suasana.

__ADS_1


Sedangkan kevin hanya geleng-geleng.


Dalia tersenyum. Anak-anakku, semoga selamanya seperti ini, Tuhan....


"Sudah, kapan kalian akan memulai sarapan? Hana, sini duduk disamping Ibu."


"Iya, Bu." Hana menyahuti.


Usai dengan ritual pengurukkan perut itu.


Di ambang pintu, kini semua sudah berkumpul.


"Nilam, Sayang. Jangan takut. Jangan merasa iba, meskipun Edrick adalah kakak sambungnya Didy. Bicara dengan lugas dan jujur." Kenzie memegang kedua pundak Nilam meyakinkan. "Kakak tidak bisa ikut mendampingimu." Lalu melirik Hana disampingnya.


Mengikuti ekor mata Kenzie, Nilam tersenyum. "Iya, Kak. Ayah, Ibu, juga Gavin, mereka sudah cukup membuatku merasa aman. Kakak temani saja Hana."


Ya, hari ini Nilam akan memenuhi panggilan pihak kepolisian untuk melontarkan segala kesaksiannya, sebagai korban dan tokoh utama atas kejahatan yang dilakukan Edrick.


"Baiklah. Hati-hati."


"Ken jaga isterimu. Jangan biarkan dia kelelahan," amanat Dalia.


"Iya, Bu."


"Hana ... berhati-hatilah ..." goda Gavin tersenyum nakal.


"Diam kau, Sialan!" seru Kenzie.


"Haha...."


"Sudah. Ayo pergi." Kevin mengakhiri. Dan diangguki semuanya.


Dan kini tersisalah Kenzie dan Hana.


"Hana, apa kamu mau jalan-jalan?" Kenzie merangkul pundak isterinya. Masih berdiri didepan teras setelah kedua mobil milik orang tuanya juga Gavin meluncur meninggalkan halaman rumah.


"Jalan-jalan?" Mendongak menatap Kenzie yang juga menatapnya.


"Hmm."


"Kemana?"


"Terserah inginmu. Akan aku antar kemanapun." Membalik tubuhnya menjadi saling berhadapan. "Aku lelah berurusan dengan pekerjaan, polisi, dan juga penjahat."


"Lalu?" tanya polos Hana.


Bibir Kenzie tertarik kesamping. Sabit senyuman manis terpulas seimbang dengan anugerah ketampanan hakiki yang dimilikinya. "Kamu cantik." Membelai pipi yang mulai chubby itu lembut. "Apalagi saat hamil seperti ini." Lalu mengusap perut Hana yang masih terlihat rata, namun dengan tatapan tetap lurus ke wajah isterinya tersebut. "Hana, sepertinya .... aku mulai jatuh cinta padamu."


DEGG


Boleh tenggelam saja, tidak?


Hh... Wajah Hana sudah selayaknya Astrajingga si tokoh wayang berwajah merah itu. Terkejut! Campuran perasaan bahagian dan tak percaya beegumul menjadi satu. Apakah Kenzie baru saja mengungkapkan perasaannya? "K-Ken...." Sial! Kenapa kaku seperti ini?


"Iya, Hana. Aku mencintaimu." Menggenggam kedua telapak tangan Hana. "Maafkan atas keterlambatan ini."


Hana tersenyum penuh haru.


Akhirnya, setelah sekian lama, cinta yang berjalan seorang diri tanpa sambutan, kini terbalas. "Aku rasa aku tidak perlu lagi memberikan jawaban. Karena kamu sudah pasti mengetahui jawabannya."


Sejenak menatap manik mata Hana bergiliran, lalu menarik tubuh itu merengkuhnya erat. "Aku tahu. Terima kasih." Mengecupi pucuk kepala Hana berulang.


"Iya, Ken. Tapi ...."


Melepas pelukannya. "Tapi apa?"


"Jalan-jalannya?" Tersenyum kikuk.


Kenzie terkekeh. Wajah kikuk Hana semakin terlihat menggemaskan di matanya. "Aku membatalkan penawaran jalan-jalannya."


"Eh, ke-kenapa?"


"Kita ke kamar saja."

__ADS_1


"HAAA...?"


__ADS_2