
Akan sulit mengurai benang yang sudah kusut.
Cinta sudah terlanjur jatuh dan memilih.
Berpijak pada ketetapan yang meskipun samar.
Namun waktu melerai pada masa yang seharusnya.
Dan berujung luka yang sulit dibebat.
POOR!
•••••
Ibarat hanya mengembalikan barang yang bukan haknya, Kenzie hanya beberapa saat dirumah Gavin. Ia lalu kembali memacu mobilnya menuju suatu tempat.
Tak seperti anak-anak muda gaul pada umumnya, yang menyukai tempat-tempat dimana setan bersarang, terlebih dengan isian dompet yang cukup tebal, Kenzie lebih memilih menyendiri ditepi danau atau semacamnya. Bermain biola ataupun mengurus lembar-lembar gawainya.
Tapi kali ini ia sedikit menggeser kebiasaan dan keyakinannya. Perasaan kacau dan patah hati membuatnya sulit meninggikan akal sehatnya. Ia menjejak kakinya ditempat yang termasuk super minoritas dalam tujuannya. Nol.
Sebuah klub!
Ya, ia kini memasuki tempat itu tanpa keraguan.
Iblis-iblis cemong dengan kostum-kostum kekurangan bahan mulai mengerumuninya yang kini sudah terduduk santai disebuah sofa dipojok ruangan.
Suara dentaman musik yang dimainkan wanita Disk Jockey dengan tubuh meliuk-liuk terasa memekakkan telinga. Namun Kenzie tak peduli itu. Bising bukan lagi gangguan untuknya yang berteman galau. Bahkan wanita-wanita ular itupun dibiarkannya menggelayut manja disisi kanan dan kirinya
"Mau tambah lagi, Tuan Tampan?" suara itu lebih terdengar seperti semilir desahan. Anggukan Kenzie membuatnya tersenyum senang.
Dituangkannya kembali cairan merah bak darah itu kedalam cawan kecil yang kini dalam genggaman Kenzie. Pria itu mengahbiskannya hanya dalam satu tegukkan, dan terus berlanjut hingga tegukkan-tegukkan selanjutnya.
Tangan-tangan setan manis itu mulai bergerilya ke badan Kenzie yang tersandar disofa. Wajah tampan dan aroma tubuh maskulin yang menggoda membuat mereka saling berebut. Satu dan lainnya menginginkan lebih dekat dengan pria itu. Sungguh tangkapan yang menggiurkan.
Hingga sebuah sentuhan yang bergerak merayap masuk ke dalam baju yang dikenakan Kenzie, membuat pria itu tersadar. Dicengkramnya pergelangan tangan itu kuat. Hingga menciptakan ringisan diwajah sang penggoda. "Apa yang kau lakukan?" Tubuhnya sudah terduduk tegak. Dihempasnya lengan itu kasar.
"Ma-maaf, Tuan. A-aku ...."
Tanpa memperdulikan suara yang terbata itu, Kenzie bangkit meninggalkan kedongkolan diwajah-wajah itu.
"Semua ini gara-gara kau! Dia jadi pergi!"
__ADS_1
"Hey, lelaki itu saja terlalu sombong! Biasanya lelaki yang ku gerayang tidak pernah ada yang menolak."
"Itu karena mereka semua pria-pria murah. Sedangkan yang satu itu ... uuuhhh ... terlalu keren untuk menjadi mainanmu. Yang ada kau lebih pantas jadi pembantunya!" ejek lainnya.
"Sialan, kau!"
Perdebatan antar ulat usai kepergian Kenzie itupun terus berlanjut.
Hadiuuuhhh ....
•••
Kenapa saat-saat suram seperti ini, langit selalu memberikan background yang begitu jujur? Tidak bisakah bintang-bintang itu dibiarkan berkedip, walaupun hanya sebuah topeng?
Hah ... mungkinkah semuanya sedang mengolok sebentuk hati yang gusar?
Hujan mulai turun.
Kenzie berjalan meliuk usai memarkirkan mobilnya serampangan. Beruntung ia masih sampai ditempat itu dalam keadaan selamat, meskipun berkendara dalam keadaan setengah sadar.
Tengah malam yang temaram. Terdiam di tengah guyuran air hujan, lelaki itu memaku diri dihalaman ditempat itu.
Halaman rumah singgah.
Suasana sudah sangat sepi. Namun Hana, gadis itu baru saja hendak menutup jendela kamarnya yang terus bergerak diterjang angin. Seketika pandangannya terpaku pada sosok yang tengah berdiri menantang hujan.
"Kenzie. Apa yang sedang dilakukannya? Kenapa dia disini?" Ditutupnya jendela itu dari dalam. Sebuah cardigan rajut yang tergantung dikapstok diraihnya lalu dikenakannya. Kemudian dengan tergesa ia memapah langkahnya keluar usai menyambar sebuah payung yang tersandar dibelakang pintu.
Dibentangkannya benda pelindung itu, Hana lalu berlari menghampiri Kenzie yang masih terdiam ditempatnya. "Ken ... apa yang kamu lakukan?!" Suara deras hujan membuat Hana sedikit mengeraskan volume suaranya. Memayungi tubuh Kenzie yang sudah terlanjur kuyup.
Kenzie menolehnya. "Hana ...." Tanpa xyz, ia menuburukkan tubuhnya memeluk Hana, hingga baju wanita itu tertular basahan air dari tubuhnya.
Cukup mengejutkan bagi Hana. Apa yang terjadi pada pria itu? Seperti itulah suara batinnya. Tanpa terasa payung itu terlepas dari tangannya, dan mulai menuntun lengannya untuk membalas pelukan lelaki itu.
Akhirnya hujan mengguyur keduanya dilewat tengah malam ini.
"Ken ... ayo masuk. Tubuhmu mulai menggigil."
Namun tak bersambut. Kenzie masih terdiam.
Didorongnya perlahan tubuh lelaki itu. "Akan ku buatkan teh panas, ayo masuk. Kamu bisa sakit bila terus berada disini." Hanya sebuah anggukan kecil yang diterima Hana.
__ADS_1
Di gandengnya lelaki itu ke dalam salah satu bangunan yang biasa ditempatinya bersama Chaka.
Ya, Chaka. Pemuda selengean itu lama tak berada di tempat itu, karena Kenzie tengah mengirimnya ke salah satu cabang perusahaannya. Usai menyelesaikan tugasnya dikantor Gavin.
Kini keduanya sudah berada didalam rumah itu. Cucuran air dari baju Kenzie, membuat sofa yang didudukinya, ikut menjadi basah. "Ken, gantilah dulu bajumu," pinta Hana. Tidak mungkin ia yang menggantinya, kan?
Tak ada sahutan. Tatapan Kenzie membentur dinding, dan ... kosong. Hana mulai bingung. "Kenapa dengan dia?" gumamnya.
Mata yang memerah, wajah yang pucat, dengan tetesan air diujung rambutnya, membuatnya seperti sosok Edward Cullen, si vampire tampan yang dingin.
"Aduh, aku harus bagaimana, kenapa dia terus diam?" Hana mulai gelisah. Telapak tangannya masih sibuk dengan teh kantung dan air yang sedang dimasaknya.
Berjalan dengan ragu menghampiri Kenzie yang kini seperti mayat hidup itu, cukup membuat Hana ketar-ketir. Beragam pertanyaan mulai menjejali pikirannya yang polos.
Bukankah lelaki ini seharusnya berbahagia karena ia akan segera menikahi wanita yang dicintainya?
Lalu kenapa sekarang dia terlihat rapuh? Apa yang sebenarnya terjadi?
Dimana Nilam? Kenapa kakaknya itu tak menemaninya?
Bahkan kakek Usman saja belum kembali. Kenapa lelaki ini malah hujan-hujanan sendiri disini?
Aaarrggghhh ... memikirkannya saja sudah membuatnya pusing!
"Ini, Ken, minumlah." Diletakannya gelas berisi teh panas itu diatas meja dihadapan Kenzie. "Aku akan kembali ke kamarku. Segeralah ganti bajumu. Sebelum flu menyerangmu."
Apa?! Flu? Hana ... kamu lucu sekali. Penyakit itu sepertinya terlalu cetek jika dibandingkan dengan galau akut yang kini tengah menyerang Kenzie.
Hana memapah langkahnya gontai menuju pintu keluar. Diliriknya pemuda itu berkali-kali. Andai tak ada jurang diantaranya, maka ia akan dengan senang hati menemaninya malam ini.
Pahit!
Suara knob pintu yang baru saja diputar Hana itu, membuat penglihatan Kenzie teralih kearahnya. Tak serta merta, lelaki itu bangkit menghampirinya dan menarik lengannya cepat. Didorongnya tubuh yang lebih pendek darinya itu hingga terpojok kedinding dibelakangnya.
"Ken, apa yang kamu lakukan?!"
Aura kelam dari sosok Kenzie menciptakan ketegangan dalam diri Hana. Lengan kekar Kenzie sudah tercengkram dikedua pundaknya. Kepala lelaki itu menunduk menatap wajahnya yang rendah.
"Ken ... lepaskan. Aku ingin kembali kekamarku."
•••••
__ADS_1
👇👇👇👇👇