
Keluar dari dalam lift yang ternganga, Nilam menapakkan langkahnya dengan ragu.
"Gav...."
Gavin yang berjalan satu langkah di depannya menoleh ke belakang. " Ada apa?"
"Apa kamu serius, mau mempekerjakan aku di perusahaanmu ini?"
Lelaki tampan itu sedikit mengernyit.
"Yaa... kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya.
"A- aku... aku hanya merasa tidak pantas berada di sini."
Gavin memegang kedua bahu gadis itu.
"Nuri... dengarkan aku... aku membawamu ke sini, untuk bekerja padaku. Itu artinya, kamu berada dalam jaminanku. Tidak ada kata pantas atau tidak pantas. Jangan dengarkan atau pedulikan apapun di sini. Fokusmu hanya untukku. Mengerti?" tuturnya tegas.
"Tapi Gav...."
"Sudahlah. Ayo, aku kenalkan kamu pada sekretarisku," ajak Gavin. Ia menarik lengan Nilam menuju sebuah ruangan yang menampakkan sosok wanita muda yang tengah asyik berkutat dengan layar komputernya.
"Asty...."
Yang di panggil Gavin itu mendongak.
"Eh, Pak Gavin. Selamat pagi." Ia berdiri seraya membungkukan sedikit tubuhnya sekilas. Tatapan matanya beralih pada sosok asing yang berdiri di samping Gavin.
"Dia Nuri. Asisten pribadiku."
"Eh...?"
"Jangan terkejut. Jangan sedikitpun kamu mencibir ataupun menghinanya. Perlakukan dia dengan baik."
"Ba- baik, Pak. Maaf," ucap wanita bernama Asty itu terbata. "H- hay, Nuri." Ia melambaikan tangannya sekilas, dengan senyuman yang terlihat kaku.
Nilam tersenyum manis. "H- hay, Nona...?"
"Asty. Namaku Asty." Ia mengulurkan tangannya ke arah Nilam.
Dan tentu saja, Nilam menerimanya dengan senang hati. "Panggil aku Nuri."
"Bagus. Kalian sudah saling memperkenalkan diri. Karena ke depannya kalian akan sering bertemu dan berkomunikasi," ujar Gavin lugas. "Ayo, Nuri."
"I- iya, Gav," sahutnya. "Permisi, Nona Asty."
"Iya, Nuri. Selamat bekerja," balas Asty. Matanya tak lepas menatap punggung gadis itu hingga hilang di balik pintu ruangan Gavin yang tertutup. " Apa katanya? Gav? Seakrab itu, kah? Siapa sebenarnya gadis itu? Dan penampilannya.... Ah, sudahlah. Bukan urusanku." Ia berkata pada dirinya sendiri. Lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
---
Nilam mengedar pandangannya ke sekeliling.
"Ruang kerjamu besar sekali, Gav. Lebih besar dari halaman rumahku di desa."
"Benarkah?" Gavin tersenyum seraya mendaratkan bokongnya pada kursi kebesarannya.
"Iya, Gav."
"Memangnya apa nama desamu? Tempat pertama kali kita bertemu, itu bukan desamu, kan?" tanya Gavin.
Nilam menggeleng. "Bukan, nama desaku Teg--"
Tok... tok... tok....
__ADS_1
Suara ketukan pintu berhasil memangkas kalimat Nilam.
"Masuk," sahut Gavin.
Ceklek (Pintu terbuka).
"Permisi, Pak. Rapat dengan Dewan Direksi akan dimulai 30 menit lagi."
"Baiklah, Asty. Tolong siapkan semua berkasnya."
"Baik, Pak. Saya permisi."
Gavin hanya mengangguk. Sekretaris itu kemudian keluar dari ruangan itu.
"Gav.... Lalu, apa yang harus aku kerjakan di sini?" tanya Nilam yang kini duduk di hadapan meja kerja Gavin.
"Emm...." Gavin mengetuk - ngetuk mejanya menggunakan bolpen yang di pegangnya. Air mukanya seolah berfikir. "Tolong buatkan aku kopi."
"Kopi? Emm... baiklah. Dimana aku harus membuatnya?"
"Kamu tanya Asty, dia pasti menunjukkan letak pantry nya."
"Baiklah." Nilam bangkit dari tempatnya. Dan berjalan menuju pintu keluar.
"Tunggu, Nuri!" panggilan ini berhasil menghentikan langkah Nilam.
"Kenapa, Gav?"
Gavin tersenyum. "Yang enak."
"Eh?"
"Kopinya. Jangan terlalu banyak gula."
"Ouh. Oke." Nilam meneruskan langkahnya kembali.
---
"Nah, Nuri. Ini pantry nya," ucap Asty.
"Oiya, terimakasih sudah mengantarku Nona Asty."
"Hey, Jangan panggil aku Nona. Panggil namaku saja. Oke?"
Nilam tersenyum. "Baiklah... Asty. Terima kasih."
"Sama - sama. Buatlah kopi yang enak. Jangan kecewakan Bos," ujarnya tersenyum. "Umm, Nuri sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan padamu. Tapi masih banyak juga pekerjaan yang harus aku selesaikan. Jadi lain kali saja kita bicara. Aku kembali duluan, ya."
"Baiklah."
Nilam mulai meracik segelas kopi yang bahan - bahannya sudah tersedia di dalam pantry itu. Dan.... "Selesai. Semoga Gavin suka," ucapnya tersenyum penuh semangat. Ia mengangkat nampan kopi itu dan mulai melangkah menuju ruangan Gavin kembali. Namun tiba - tiba....
Brukkk!! Praangg!!
"Aww!! Panas!" pekik seorang wanita dengan balutan rok span pendek dan blazer berwarna biru senada di tubuhnya.
"Ma- maafkan saya, Nona. Saya tidak sengaja," ucap Nilam sembari mengusap - usap tumpahan kopi yang menempel pada baju wanita itu.
"Dasar gadis bodoh! Kamu mengotori pakaianku, sialan!" teriak wanita itu seraya menepis tangan Nilam yang menyentuh baju yang di kenakannya.
"Maaf, saya benar - benar tidak sengaja, Nona."
Wanita itu melayangkan tangannya hendak menampar wajah Nilam. Namun....
__ADS_1
Gepp!! Seseorang menahan lengan wanita itu.
"P- Pak Gavin..." ucapnya kala melihat tatapan tajam Gavin. Sepertinya lelaki itu memegang pergelangan tangannya cukup erat dan keras. Hingga nampak ringisan kecil di wajah wanita itu. "Maafkan saya, Pak...."
Gavin menghempaskan lengan wanita yang tak lain adalah karyawannya sendiri itu kasar.
"Jangan ganggu dia," ujarnya penuh penekanan.
Wanita itu menunduk. "Ta- tapi dia yang salah, dia sudah mengotori pakaian saya, Pak," kilahnya takut.
Banyak karyawan Gavin mulai berdatangan. Penasaran dengan apa yang terjadi.
"Iya, Gav. Aku yang bersalah," ucap Nilam sendu.
Gavin mengeluarkan ponsel dari dalam saku bagian dalam jasnya. Dan terlihat menghubungi seseorang.
"Asty, kamu kemari. Pantry." Ia memasukan kembali ponselnya ke tempat asalnya. Lalu beralih menatap Nilam. "Nuri kamu tidak apa - apa?"
Nilam balas menatap wajah lelaki nomor satu di perusahaan itu. "Aku tidak apa - apa, Gav. Tapi Nona ini... bajunya kotor olehku." Wajahnya mengarah pada wanita yang berdiri ketakutan di belakang Gavin.
"Kamu jangan khawatir, Asty akan segera mengurusnya."
Tak lama nama yang di sebut Gavin itu datang. "Ada apa, Pak?"
"Urus dia, ganti kerugian pakaiannya yang tak sengaja di kotori Nuri."
"Baik, Pak," sahutnya tanpa membantah. "Ayo Lisa," ajaknya pada wanita si korban tumpahan kopi.
"Kalian semua, apa yang kalian lihat? Kembali bekerja!" perintah penguasa tak terbantahkan.
Mereka semua berhambur kembali ke tempat masing - masing.
"Ayo, Nuri. Kita kembali ke ruanganku."
Namun Nilam tak bergeming. Ia masih terdiam dan menunduk.
"Nuri...." Gavin mengangkat wajah sendu itu. Dilihatnya, sudah nampak buliran - buliran bening yang berjatuhan di pipi halus gadis itu. "Hey, kenapa menangis?" tanyanya seraya mengusap pipi yang berhias air mata itu lembut.
"Maafkan aku, Gav. Aku sudah membuat kacau di sini," ujarnya sendu.
Gavin menarik tubuh langsing itu ke dalam dekapannya. "Sudahlah, bukankah Asty sudah mengurusnya. Dia akan mendapatkan ganti yang lebih dari harga pakaian yang di pakainya."
Nilam melepaskan diri dari pelukan Gavin.
"Kamu ini, selalu saja menghubungkan segalanya dengan uang." Nilam sedikit memanyunkan bibirnya.
Tentu saja itu terlihat lucu di mata Gavin. Hingga wajahnya menampilkan sebuah kekehan kecil. "Lalu menurutmu apa?" Ia menangkup kedua pipi Nilam. Hingga kedua pasang mata itu saling beradu pandang.
Mendapat tatapan manis itu, Nilam mengerjap kikuk. "Y- ya... ya itu...." Telapak tangannya meremas pergelangan lengan Gavin yang melayang di samping wajahnya.
Wajah merah itu sungguh menggoda insting lelaki Gavin. Ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Nilam. Mengikis jarak di antaranya.
Hembusan nafas Gavin terasa hangat di permukaan wajah Nilam. Tanpa sadar ia memejamkan matanya, ikut terhanyut dalam melodi romantis yang baru saja akan di mulai. Dan....
Kriiingggg!! (Suara dering ponsel milik Gavin).
Gavin menghembuskan nafas kasar. Ia melepaskan tangkupan telapak tangannya di wajah Nilam. "Damn it!" gerutunya.
Malu, juga tak habis fikir, itulah yang di rasakan Nilam kini. Mengapa ia bisa sampai terbawa suasana, sih? pikirnya.
Gavin merogoh saku dalam jasnya.
"Iya, Asty. Aku segera datang."
__ADS_1
¤¤¤¤¤
~😁😂~