
Sebaris asa terkikis ditengah jalan.
Merubah hati yang temaram menjadi pekat dan menggelap.
Seolah bintang yang bersinar ditengah teriknya siang. Tak terlihat.
Dan itulah Gavin. Berpacu dengan perasaan kacau. Tak ada keteguhan dalam pijak kaki dan langkahnya.
Mobilnya sudah terparkir diluar gerbang tinggi rumah utama Kenzie, dengan tirai kaca pintu yang sudah diturunkannya. Belum memiliki hati untuk mengangkat kakinya memasuki huma itu.
Masih bergelut dengan pikirnya. Akan sanggupkah dirinya melihat Nilam yang kini berdampingan dengan sahabatnya sendiri?
Rival!
Benar, dulu ia dan Kenzie pernah mencetuskan diri, bahwa mereka adalah rival. Dan sekarang telak, ia telah kalah. Kekalahan yang terlahir dari sebuah kebodohan.
"Shinta ...." geramnya. Ada kilatan dendam yang tidak bisa dibantah dalam sorot matanya. "Aku akan membuat perhitungan dengan wanita itu," tekadnya.
Ketika larut dalam gemuruh rasa dibenam jiwanya, suara-suara orang bercengkrama yang berasal dari dalam rumah besar Kenzie berhasil mengusiknya. Dan jelas, ia mengenal jelas suara-suara itu.
Nilam dan Kenzie.
Gemuruh didalam dadanya sudah saling bersambut. Perpaduan antara rasa sakit karena cemburu, juga penyesalan yang terus meninjunya, menjadi satu paket lengkap yang membuat hati dan jiwanya semakin rapuh dan hancur.
Tak bisa menahan diri lagi, untuk tak keluar dari dalam mesin pengangkut beroda empatnya, ia melangkah bergandengan dengan keraguan.
Disembunyikan tubuhnya disamping pintu gerbang disampingnya, sedikit memajukan wajahnya untuk mengintip sosok yang sangat dirindukannya itu.
Dan ....
BAM BAM BAM ....
Ada cengkrama hangat yang tengah berlangsung di satu titik yang ditatapnya. Sebuah gazebo yang terletak dipojok halaman, Nilam dan Kenzie tengah asyik mengobrol dengan tawa yang sesekali terselip. Entah apa yang tengah mereka kicaukan. Yang jelas ada binar bahagia diwajah-wajah itu.
Tuhan ... kuatkanlah aku ....
Tiba-tiba....
"Gavin."
Sebuah tepukan dipunggungnya berhasil mengalihkan pandangnya. Ia menoleh. "Ibu ...."
"Sayang ... kamu sedang apa disini? Mana isterimu, Nak?"
DEGG!
__ADS_1
"Isteri?"
"Bukankah kamu menikah kemarin?" Yang bertanya tak lain adalah Dalia, ibunya Kenzie yang muncul dari arah luar dengan mobilnya yang terhenti disamping mobil Gavin.
"A-aku ... aku tidak menikah dengan wanita itu, Bu." Tertunduk sendu.
Sendu yang tercipta bukan karena kegagalannya menikah dengan Shinta, melainkan karena Nilam yang kini bersama Kenzie.
Dalia sontak terkejut. "Apa?! Kenapa tidak, Nak? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Ak--"
"Bu, ada siap--" Ucapan Kenzie tertahan. Matanya bulatnya semakin membulat. "Gavin ..." gumamnya.
Gavin memandang ke arah Kenzie yang sudah berdiri dibelakangnya sosok manis nan cantik yang sangat dirindukannya. Nilam ... diam dalam keterkejutannya. Matanya tak lepas memandang lelaki itu. Lelaki yang jauh dari lubuk hatinya, masih sangat dicintainya. Gavin ....
Kenzie mengikuti arah pandang Gavin yang membelok kebelakangnya. Dan dilihatnya, Nilam juga tengah memandang ke arah sahabatnya, yang kini menjadi mantan kekasihnya. Tatapan saling merindukan. Ia langsung membuang wajah, mencoba mengalihkan perasaan cemburu yang mulai memukul-mukul hatinya.
"Ayo masuk, Gav. Tidak enak berkumpul di luar seperti ini." Suara Dalia memecah melodi cinta segitiga itu. Semuanya beralih pandang pada wanita paruh baya itu.
"Aku pulang saja, Bu." Cukup ragu Gavin berucap.
"Eh, kenapa? Bukankah kamu baru saja sampai? Ayo, sekalian bantu kita mengurus surat-surat undangan didalam."
DEGG!!
Gavin dalam kecemburuannya.
Kenzie dalam ketidaknyamanannya.
Dan Nilam, dalam menahan sakitnya.
Karena sudah dipastikan, surat undangan itu menjadi sekat pemisah antara dirinya dan Gavin.
Tak lagi bisa menuai harap.
"Ken ... kenapa diam? Ayo ajak Gavin masuk. Kalian kenapa tiba-tiba kaku seperti ini?" Dalia mulai merasa heran.
Kenzie memaksakan senyuman samar. "Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya heran saja, Gavin kesini seorang diri, tanpa membawa wanita yang baru kemarin dinikahinya."
Bolehkah jantung ditubuhnya ini terlepas saja, agar dentaman keras itu tak terus memukulnya? Nilam ... lagi-lagi hatinya mencelos. Semua rasa kesakitan mengudara kembali dalam jiwanya.
Benar, Gavin sudah menikah dengan Shinta. Lalu kenapa ia tiba-tiba muncul ditempat ini, tanpa wanita yang selama dua bulan ini disayanginya mati-matian, dan membuang dirinya dengan kejam?
"Ken, jaga bicaramu!" bentak Dalia.
__ADS_1
"Bu, aku bicara apa adanya. Iya, kan, Gav?" Wajahnya beralih pada Gavin.
"Ak--"
"Ken, Gavin baru saja bilang pada Ibu, bahwa dia tidak jadi menikah dengan wanita model itu!" pungkas Dalia.
"Apa?!!"
Kenzie dan Nilam tersentak luar biasa.
"Iya, Ken. Tidak terjadi pernikahan antara aku dan Shinta. Aku meninggalkannya, sesaat kami hendak melakukan perjanjian pernikahan."
"Apa alasanmu?"
"Karena semua yang ku lalui dengannya selama hampir dua bulan ini, diluar kesadaranku. Dari yang kudengar, wanita itu menanamkan gendam sihir ditubuhku. Hingga aku kehilangan kesadaranku tentang Nil--" .... Kalimat itu terpaksa diputusnya, karena disadarinya ada Dalia disana yang sepertinya tidak mengetahui perihal cinta segitiga diantara ia, Nilam juga Kenzie.
Penjelasan Gavin itu tentu saja melahirkan keterkejutan diketiga wajah dihadapannya.
"Ya, Tuhan ... benarkah begitu, Gavin? Dari siapa kamu mengetahuinya?" Dalia penasaran, yang juga tertular pada Kenzie dan Nilam.
"Mama dan Papa menghadirkan beberapa paranormal untuk memastikan perubahan yang terjadi padaku. Dan semua orang pintar itu hampir menyatakan hal yang sama. Aku terbius gendam dan sihir yang ditaburkan Shinta. Namun tak satupun dari mereka ada yang mampu mengobatiku."
"Lalu bagaimana kau bisa pulih?" Kenzie mengambil pertanyaan.
"Aku tidak tahu. Saat aku hendak melakukan janji pernikahan itu, tiba-tiba kepalaku terserang sakit yang luar biasa juga sekujur tubuhku. Dari sana aku tidak ingat apa-apa lagi. Dan saat aku terbangun, aku sudah terbaring diranjang rumah sakit, sebagai diriku sendiri."
Nilam masih terdiam. Larut dalam pikirannya.
Iya ... Briana pernah mengatakan itu padanya. Tapi ia tak memperdulikan, karena ia tidak begitu percaya pada hal-hal sejenis itu. Lalu sekarang, mungkinkah hatinya akan goyah kembali? Lalu bagaimana dengan Kenzie dan pernikahannya?
"Ayo masuk." Langkah Gavin sedikit terseok, karena Dalia menarik lengannya untuk masuk dalam rumahnya secara paksa. "Kita bicara didalam."
"Ta-tapi, Bu ...."
"Sudah, ayo. Ibu merindukanmu."
Kini tinggalah Nilam dan Kenzie yang masih saling terdiam. Entah harus bagaimana menyikapi. Gavin sudah kembali pada dirinya sendiri.
"Aku rela...."
Suara lembut layaknya angin tipis itu, membuat Nilam mengerjap. "A-apa?"
"Aku rela, jika kamu ingin kembali padanya. Aku tahu cinta dihatimu untuknya, masih bertahta. Juga dirimu dihatinya. Kalian saling mencintai. Dan kehadiranku hanya akan menjadi penghalang. Jadi ... kembalilah padanya."
Laksana di hantam ribuan belati yang merajam, penuturan Kenzie itu ... sungguh menohok sisi hati Nilam yang rapuh, menjadi semakin rapuh.
__ADS_1
Bisakah begitu?