Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Dua bulan yang menghancurkan


__ADS_3

Melaju dengan kecepatan hingga 100 km/jam, Gavin menumbangkan kesabarannya. Rumah yang dibelinya untuk Nilam dan keluarganya menjadi tujuan utamanya. Membelah jalanan yang mulai sepi, karena tengah malam hampir tiba. Rasa lelah ditubuhnya tak dihirau, demi menjumpai sang dicinta yang terluka karena dirinya.


Beberapa waktu kemudian, mobil mewahnya sudah terparkir sempurna di halaman rumah yang ditujunya.


Setelah ditutupnya pintu mobilnya dari luar. Ia melangkah dengan tatapan heran.


"Kenapa semua lampunya mati?" tanya itu tertuju untuk dirinya sendiri.


Mulai dituntun langkahnya sedikit lebih pelan seiring perasaan tak nyaman yang mulai menyusup ke dalam hatinya.


TOK TOK TOK ....


Tak ada sahutan.


Diulangnya ketukan berikutnya.


Tetap sama.


Lagi dan lagi.


Namun tetap tak menunjukkan adanya tanda kehidupan didalam rumah itu. Kosong!


"Kemana, mereka?" gumamnya.


Mundur beberapa langkah, wajahnya terus menatap pintu yang tertutup dalam gelap. "Apa mereka pulang kedesa?" terkanya. "Aku harus tanya Kenzie." Seolah mendapat angin segar. "Ya, dia pasti tahu Nilam ada dimana."


Dibaliknya kembali tubuhnya dan berjalan menuju mobilnya kembali. Dipacunya mesin beroda empat itu lagi dengan kecepatan yang sama. Jalanan yang mulai sepi membuat mobil itu melaju tanpa hambatan.


Rumah singgah.


Tempat itu adalah tujuan Gavin berikutnya.


Namun di pertengahan jalan, mobinya tiba-tiba kehilangan kekuatannya. Mogok.


"Sial!" umpatnya seraya memukul stirnya. "Bahan bakarnya habis. Mana ponselku tertinggal," gerutunya kesal. "Bagaimana ini?"


Keluar dari dalam mobilnya dengan niat mencari bantuan. Namun sial, jalanan itu sudah sangat sepi. Tak ada satupun lalu lalang kendaraan. Hanya terlihat jejeran toko-toko kecil yang bertuliskan 'Closed'. "Damn!"


Tak ada pilihan lain, ia harus menunggu sampai pagi. Masuk kembali kedalam mobilnya dengan setumpuk kehampaan.


Bersandar pada kursi kemudinya. Bayangan wajah Nilam dengan senyum manisnya, menguasai pikirnya. Senyum manis penuh kerinduan nampak jelas memulas iras tampannya yang lelah. Namun seketika, senyum itu beringsut pudar, berganti sendu dalam barisan penyesalan, kala wajah cantik itu menangis terisak karena ulahnya.

__ADS_1


Kini mulai diingatnya dengan jelas, saat Nilam yang ditemani Kenzie datang ke ruang kerjanya untuk meminta kejelasan hubungan mereka kala itu, namun ia malah mengusirnya tanpa belas kasih. "Aaarrrghhh...!!! Bodoh! Kenapa aku bisa seperti ini?!" sesalnya seraya menjedukkan kepalanya ke bingkai stir.


Tangis dalam sepi. Luka yang terlahir dari sesalnya, menjadi teman sejati untuk Gavin malam ini. Tanpa sadar, kelopak matanya mulai terasa berat. Terus menuntunnya menjangkau alam lelapnya. Ia tertidur.


----


Tok tok tok...


Suara ketukan dikaca mobil itu terus berulang dan semakin kencang. Gavin mengerjap. Dengan pandangan yang masih buram ia melirik kaca pintu mobil disampingnya. "Sudah pagi ternyata."


"Hey, Tuan ... buka kaca mobilmu!"


Teriakkan itu mulai difahaminya. Tanpa berpikir lagi, Gavin menurunkan kaca itu cepat. "Ada apa, Pak?"


"Anda kenapa parkir dan tidur disini? Mobil Anda mengganggu pengguna jalan lain, Tuan?!" Lelaki itu adalah satu pemilik kedai makanan siap saji yang baru saja dibukanya.


"Maaf. Mobil saya kehabisan bahan bakar. Karena ponsel saya tertinggal, saya jadi tidak bisa menghubungi orang rumah," ungkap Gavin seraya membuka pintu lalu turun dari dalam kendarannya itu.


"Oh, begitu. Bisa saja Anda bisa memakai ponsel saya untuk menghubungi keluarga Anda, tapi itu akan sangat menyita waktu. Baiklah, sebentar saya carikan bensin disekitar sini."


"Benarkah? Kalau begitu, ambil ini, karena saya tidak bawa uang cash." Gavin menyodorkan jam tangan mahalnya yang sudah dilepasnya pada lelaki itu.


"Tidak usah, Tuan. Saya tulus membantu," tolak lelaki itu. "Lagipula sepertinya harga jam tangan ini tidak sebanding dengan harga bensin yang akan saya beli."


"Baiklah. Terimakasih. Itu kedai saya. Silahkan Anda tunggu disana. Makanlah apapun yang Anda ingin makan."


"Baik, terimakasih sebelumnya, Pak."


****


Dengan mengorbankan jam tangan mahalnya untuk mengganti sepuluh liter bensin yang di berikan lelaki 35 tahunan itu, juga perut yang sudah terisi, akhirnya Gavin sampai dirumah singgah.


Selangkah demi selangkah, telapak kakinya menapaki bebatuan kecil jalanan yang menghubungkannya kedepan teras salah satu rumah yang dihuni Kenzie.


Di ujung halaman yang cukup luas itu, anak-anak didikkan Kenzie dan Chaka tengah asyik bermain bola dengan senyum ceria diwajah mereka.


Pintu yang tertutup itu mulai diketuknya. Bahkan hingga berulang. Namun tetap tak ada sahutan. Sampai sebuah ide muncul dikepalanya. Bertanya pada anak-anak itu.


Ia berlari kecil menuju kerumunan anak-anak yang tengah bermain itu. Hingga tiba-tiba sebuah suara berhasil menghentikan langkah cepatnya.


"Hey! Lelaki tak berhati, apa yang sedang kau lakukan disini?!"

__ADS_1


Gavin sontak menoleh ke asal suara. "Bibi Murni." Apakah mereka semua disini? Terka hati Gavin.


Ah, benar, pasti Nilam memutuskan untuk keluar dari rumah itu, dan Kenzie mengajak mereka ketempat ini.


Dengan berkacak pinggang, dan pandangan yang terjurus bengis ke arah Gavin, Murni menatap Gavin penuh kebencian. "Jika tujuanmu kemari hanya untuk menyakiti Nilam kembali, maka itu tidak akan terjadi. Aku akan menghalangimu!" seru Murni sengit.


Dalam tunduk berbalut rasa bersalah, jelas Gavin mengerti kemana arah perkataan Murni. "Maaf, Bibi. Bisakah aku bertemu Nilam?" Dalam ragu.


"Hah." Murni tersenyum kecut. "Untuk apa? Apa kau akan menambah luka hatinya, juga menambah penderitaannya?!" Sarkas.


Entah kata apa yang bisa diucapkan Gavin, ia hanya mampu memaku lidah tanpa kata. Kenyataan itu benar adanya. Ia sudah terlalu menyakiti Nilam. Bahkan hanya untuk sekedar mengucapkan 'maaf' saja, masih pantaskah?


Tapi bukankah menyakiti Nilam bukan terlahir dari hatinya? Itu semua diluar kesadarannya. Karena gendam yang Shinta taburkan ditubuhnya, membuatnya menjadi bodoh. Jadi, ia harus tetap menemui Nilam apapun yang terjadi nanti akhirnya.


"Bisakah aku bertemu Nilam, Bibi?" Tanya dalam harap.


"Tidak!" Murni menegaskan. "Lagipula Nilam sudah bahagia. Dia akan menikah dengan Kenzie sebentar lagi," ungkapnya jujur.


Dduaaarrrrr....


Sebuah kabar menggelegar.


Dalam hantaman mengejutkan, Gavin dengan mata membola. "Apa? Menikah? Dengan Kenzie?" Dalam sebentuk gumam yang masih bisa didengar Murni.


"Ya ... mereka akan menikah," ulang Murni. "Salahmu sendiri, mengabaikan bahkan melukainya. Dan kau tahu, selama ini hampir setiap malam dia menangis karena ulahmu. Terlebih saat dia mendengar kabar pernikahanmu dengan wanita itu! Namun Kenzie dengan segala kesabarannya, berhasil membendung air matanya hingga tak lagi keluar."


Sesak! Sakit! Hunusan pedang telah tertancap sempurna didadanya. "Nilam ... akhirnya aku benar-benar kehilanganmu." Wakil dari rasa sakit didadanya sudah menetes dikedua belah pipinya. Menyesal!


Kenzie ... akhirnya ia yang memenangkannya. Mengalah, mengorbankan perasaannya, bahkan bertaruh nyawa, semua Kenzie lakukan untuk gadis itu. Dan ia ... bahkan hanya luka yang dihadirkannya pada kehidupan Nilam, bukan kebahagiaan seperti yang slalu dijanjikannya.


Musnah!


"Aku hanya akan mengucapkan selamat dan meminta maaf, jadi bisa beri tahu aku dimana mereka?"


"Baiklah, karena aku percaya Kenzie akan melindunginya darimu, jadi temuilah mereka di rumah Nyonya Dalia."


"Ibu Dalia... baiklah, terima kasih, Bibi."


Dan ia mulai melangkah menuju mobilnya, gontai.


Dua bulan penuh kebodohan.

__ADS_1


Dua bulan yang menghancurkan.


Dan dua bulan, yang membuatnya kehilangan.


__ADS_2