
Nilam menuruni anak tangga rumah besar keluarga Gavin itu perlahan dan terlihat kaku.
"Gav, aku takut...." Ia menghentikan langkahnya.
"Ibuku maksudmu?" tanya Gavin. Ia meraih telapak tangan Nilam yang terasa dingin dan berkeringat. "Ya, ampun, Nuri... telapak tanganmu sampai berkeringat seperti ini." Kekehan kecil Gavin bernada mengejek.
"Gav, aku serius."
"Tenang saja. Kan ada aku."
"Tapi aku benar - benar takut."
"Ibuku tidak akan memakanmu. Ayo, perutku sudah lapar." Gavin menarik lengan Nilam
untuk melanjutkan langkah menuruni anak tangga itu, menuju ruang makan.
Nilam mengikuti dengan langkah ragu.
Sesampainya di meja makan. Briana sudah bertengger di kursinya. Ia menatap Nilam tak lepas dengan sorot mata elangnya.
Nilam menundukkan kepalanya. Tatapan tajam Briana membuatnya benar - benar tak nyaman.
"Mama melihat Nuri seperti akan memakannya hidup - hidup saja," celetuk Gavin sembari menarik salah satu kursi.
"Ayo Nuri, duduk di sini." Ia melihat Nilam masih tertunduk diam. "Ayo...." Akhirnya bokong gadis itu mendarat di kursi sebelahnya. Karena ia menarik lengannya secara paksa.
Gavin menuangkan satu persatu menu makanan yang tersedia di meja itu ke dalam piring di hadapan Nilam. "Makanlah."
"Terimakasih," ucap Nilam pelan dengan memaksakan sedikit senyum di sudut bibirnya.
"Selamat makan, Mama." Gavin tersenyum ke arah ibunya.
"Iya, Sayang. Selamat makan," balas Briana.
Jika di lihat - lihat, wajah gadis ini memang sangat cantik. Hanya penampilannya saja yang aneh dan kuno. Dan kerudung penutup kepalanya itu....
"Nuri sangat cantik, kan, Ma...?" tanya Gavin yang melihat ibunya terus saja memandangi wajah Nilam dengan air wajah yang sedikit menampakkan sirat kekaguman.
Briana mengerjap kikuk. "A- apa maksudmu, Gav?"
"Dari tadi Mama terus memandangi wajah Nuri. Dan aku lihat itu." Gavin tersenyum miring.
Nilam yang tengah mengunyah makanan dengan malu - malu itu, melirik sekilas ke arah Briana.
Ya, Tuhan... kenapa ibunya Gavin terlihat lebih menakutkan dari bibi Murni.
"Kamu ini... mana mungkin seperti itu? Lihatlah kerudungnya. Norak sekali," ucap Briana ketus.
Gavin terkekeh. "Terserah Mama saja."
"Mama akan mencarikan lagi wanita yang lebih cantik dan lebih berkelas untukmu, Gav."
Mendengar ucapan Briana, Gavin langsung menaruh sendok dan garpunya ke atas piring, menghentikan ritual makannya.
"Jangan lagi mengatur urusan pribadiku, Ma. Mama seharusnya berkaca pada kejadian masa lalu. Karena Mama, aku jatuh cinta sekaligus tersakiti oleh wanita yang Mama hadirkan dalam hidupku di masa itu. Dan karena itu juga, aku terlambat menjemput wanita yang sesungguhnya aku inginkan."
Nilam sedikit tesentak mendengar ucapan Gavin. Entah mengapa, ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya. Namun buru - buru di tepisnya. Ia melanjutkan kembali kegiatan makannya agar terlihat seolah - olah tak peduli.
__ADS_1
"Wanita yang kamu inginkan...? Siapa, Gav? Anak dari keturunan mana? Keluarganya punya bisnis apa? Dia berasal dari negara ini atau bukan?" Berondongan pertanyaan Briana.
"Stop, Ma! Berhenti berbicara tentang kasta. Karena Mama akan terkejut, mendengar siapa wanita yang ku inginkan itu."
"Maksudmu?"
"Dia hanya gadis desa biasa... yatim piatu." Gavin menunduk sendu.
Nilam tetap dalam diamnya. Meskipun sejuta pertanyaan sudah memenuhi benaknya.
Dan seperti yang telah di katakan Gavin, Briana memasang wajah kagetnya.
"Gadis desa? Yatim piatu?" Seketika pandangan Briana jatuh pada Nilam. "Apakah gadis ini, Gav?"
Gavin mendongak. Menatap wajah ibunya, kemudian beralih menatap Nilam yang juga tengah melihat ke arahnya. Kemudian menggeleng. "Bukan, Ma. Bukan Nuri." Entah mengapa, jawaban yang di lontarkannya itu, malah membuat hatinya berdebar tak karuan.
Tatapan mata Nilam di sampingnya, seperti menghipnotisnya untuk terus membawanya pada kekaguman. Ada desiran - desiran aneh yang merambat perlahan dalam hatinya. Yang bahkan ia sendiri tak mengerti.
*Perasaan ini... Nuri.... Ada apa denganku?
Tatapan matanya benar - benar mengalihkan duniaku*.
Briana menangkap ada tatapan tak biasa dari mata Gavin pada gadis di sampingnya.
"Benarkah, bukan gadis ini, Gav?" tanyanya penasaran.
Gavin mengerjap, lalu menoleh ke arah sang ibu. "Iya, Ma. Bukan dia. Aku baru mengenalnya kemarin pagi. Jadi mana mungkin dia." Lagi - lagi ada perasaan bersalah dalam hati Gavin kala mengucapkan kalimat itu kembali.
"Lalu siapa?" tanya Briana.
"Dia... dia.... Sudahlah, Ma. Tidak usah bahas ini lagi. Karena percuma saja dia tidak akan pernah kembali."
"Aku tidak tahu, Ma. Aku sudah dua kali berniat menemuinya. Namun tak pernah berhasil. Dia sudah pergi, entah kemana."
"Oh. Begitu." Briana tersenyum tipis dan sekilas.
Berbeda dengan sirat kelegaan di wajah Briana, raut kesedihan yang di tunjukkan Gavin itu, menciptakan rasa iba di hati Nilam.
Namun ia tetap bungkam. Karena keberadaan Briana membuatnya tak leluasa untuk berbicara.
****
"Kamu tidak kembali lagi ke kantor?" tanya Nilam. Ia dan Gavin kini sudah berada di dalam kamar kembali. Mereka duduk di atas sebuah sofa berdampingan.
"Tidak. Aku sudah kehilangan mood untuk mengurusi pekerjaanku di kantor." Gavin menyandarkan kepalanya ke kepala sofa dengan mata terpejam.
"Apa itu tidak apa - apa?"
"Ada rekanku di sana yang menggantikan."
"Ouh."
Seperti mendapat angin segar, Gavin bangkit menegakkan kembali tubuhnya. Sebuah ide muncul dari dalam otak besarnya. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Nilam. Kemudian tersenyum menyeringai.
"Nuri... mulai besok, kamu bekerja denganku di kantor."
"Haa... apa?!" Nilam terkejut.
__ADS_1
"Iya, kamu bekerja sebagai asisten pribadiku di kantor. Tenang saja, aku akan menggajimu. Dengan begitu, kamu akan bisa membayar hutang - hutangmu padaku. Bagaimana?"
"Ta- tapi... aku tidak mempunyai pengalaman kerja seperti itu, Gav. Lagipula, aku hanya seorang lulusan SMA. Itupun hanya SMA pinggiran. Kemampuanku tidak akan sampai pada pekerjaan semacam itu," tutur Nilam ragu.
"Hey, aku tidak meminta ijazahmu. Latar belakangmu tidak berpengaruh pada pekerjaan ini."
Nilam mengernyit bingung. Ia memiringkan sedikit kepalanya. "Lalu, pekerjaan seperti apa yang kamu tawarkan padaku?"
Gavin memasang smirknya kembali.
"Cukup buatkan aku kopi, membersihkan hanya ruanganku, dan menemani aku bekerja."
"Hanya itu saja? Dan hanya di ruanganmu?" tanya Nilam merasa aneh.
Gavin mengangguk. "Ya, hanya di ruanganku. Bagaimana kamu mau?"
Nilam terdiam dan terlihat sedang berpikir. Menimang - nimang keputusannya.
"Kenapa diam saja? Apa kamu tidak mau?"
"A- aku...."
"Baiklah, kalau kamu tidak mau. Berarti kamu lebih memilih berada di sini bersama mama. Karena tidak mungkin, kan, kamu terus mengunci diri di dalam kamarku ini. Mama pasti akan mendobraknya. Dan hutangmu, selamanya akan menjadi hutang," ujar Gavin tersenyum licik.
Mendengar nama 'mama', Nilam sedikit tersentak. Keningnya berkerut dalam.
Benar juga yang di ucapkan Gavin. Aku bisa mati berdiri, jika harus menghadapi ibunya yang menyeramkan itu.
Gavin terkekeh kecil melihat ekspresi wajah Nilam yang memberengut ketakutan.
"Aku tidak akan memaksamu."
"Tidak, tidak. Aku mau, aku mau bekerja di kantormu," sergah Nilam cepat.
Kali kekehan Gavin terdengar lebih keras.
"Baiklah. Deal?" Ia mengulurkan tangannya ke arah Nilam.
Nilam membalas jabatan tangan pria tampan itu. "Deal," ucap Nilam masih terlihat ragu.
"Oke, mulai besok pagi, kamu ikut aku bekerja." Gavin tersenyum menang.
"Tapi...."
"Tapi, tapi apa?" tanya Gavin dengan raut wajah berubah heran.
"Apakah orang - orang di kantormu, akan mau menerimaku?" tanya Nilam ragu.
"Haha...." Tawa Gavin meledak kala mendengar pertanyaan gadis itu. "Hey, Nuri. Aku ini BOS! Perusahaan itu milikku. Siapa yang akan mengganggu kehendakku. Haha...."
"Benarkah?" tanya Nilam dengan tampang polosnya.
Gavin menghentikan tawanya. "Iya, Nuri. Iya. Kamu akan aman bersamaku. Tenang saja."
"Syukurlah."
💓💓💓
__ADS_1
Silahkan tinggalkan jejak -->👍 and coment.
Terimakasih sudah bersedia mampir😘