Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Bisikkan kematian


__ADS_3

Beberapa kata berantai saling terhubung, mengelilingi sebuah kata yang mungkin ditakuti atau bahkan hanya di anggap sebuah gurauan tanpa isi.


Tentang jarak dan waktu


Tentang antrean dan giliran


Tentang warisan dan bagian, juga ...


Tentang dosa dan penghakiman.


Mati !


..........


Setelah disadarinya, dengan bola mata membulat sempurna, teriring dentuman keras di ujung dadanya, Nilam mulai menggerakkan tubuhnya yang sudah bergetar cukup hebat. Melepas perlahan pelukannya dari tubuh Nenek Samiah. Keringat dingin sudah bercucur mengiring rasa takut yang menerjang tiada tanding.


Setelah jarak itu kembali, Nilam melangkah mundur dengan kaku seraya terus menatap wajah pucat pasi yang juga menatapnya itu. "Ne-Nenek ...." Tubuhnya bergetar semakin hebat.


"Terima kasih, Nilam. Kamu sudah menyatukan Didy dan Kedasih." Ucapan Nenek Samiah terdengar laun, namun warna suaranya seolah mengandung echo.


Dan seiring tubuh rentanya yang berubah semakin samar, ia mengarahkan telunjuk dan wajahnya pada setitik tempat disisi kanan yang berjarak beberapa meter darinya. Lalu kembali membalik wajah menatap Nilam. "Tolong sempurnakan jasadku. Aku ingin jasadku dikubur secara layak." Tetesan-tetesan air berwarna merah pekat yang keluar dari sudut matanya, seolah menjadi perpaduan yang melukiskan perasaan sakit, terharu dan juga harap. Namun cukup mengerikan.


Meskipun Nilam menyimak setiap bait kata wanita tua itu, ketakutan tetap tak bisa ditepisnya. "Ma-maksud, Ne- Nenek?"


"Sempurnakan jasadku ...."Lirih. Semakin terdengar seperti bisikkan. "Tolong ...." Dan tubuh itupun mulai memudar perlahan sebelum akhirnya menghilang sempurna.


"Nilam ...!!!"


Teriakkan panggilan Mona mengudara. Beriringan dengan tubuh Nilam yang jatuh melumbruk dan terduduk diatas tanah.

__ADS_1


"Nilam! Kamu kenapa?!" Usai menemukan gadis yang dicarinya, Mona berlari tergopoh menghampirinya. Di guncangnya pundak dan pipi dan ditepuknya berulang kali. "Hey! Jangan buat aku takut."


Nilam, perlahan mengangkat wajah, menatap Mona dengan air mata yang sudah bergaris horizontal di kedua belah pipinya. Tubuhnya masih terus bergetar. "Mo- Mona."


"Kenapa? Apa yang terjadi padamu?!" Mona dalam raut cemasnya.


"A-aku ... aku ...."


"Sudahlah, nanti saja kamu ceritakan. Matahari semakin naik. Kita haris segera pergi dari tempat ini," ujar Mona. Dibantunya Nilam untuk bangkit dan berdiri.


Dengan langkah tertatih, Nilam memaksakan kakinya untuk merambat menyusur rerumputan dihutan itu. Entah akan kemana tujuan mereka.


"Berhenti!!!"


DEGG!!


Iringan langkah dari dua pasang kaki milik Nilam dan Mona itu, sontak terhenti. Sejenak saling beradu pandang kemudian menoleh bersamaan ke asal suara. Dan....


"Mona, mereka ...." Nilam dengan debaran kuat didadanya.


"Iya, Nilam. Mereka berhasil mengejar kita."


"Apa yang harus kita lakukan?"


"Aku rasa tidak ada. Kita tidak akan bisa lari hanya dengan tenaga sisa seperti ini. Bahkan jika kita memiliki cukup tenaga pun, tetap tidak akan bisa menandingi kekuatan mereka. Mereka bersenjata, Nilam. Kita benar-benar akan mati disini."


Ucapan Mona seperti sebuah tombol yang ditekan untuk memulai pergerakkan angka pada bom waktu.


Dan benar, mereka tidak akan bisa lari.

__ADS_1


Ya, Tuhan. Jika kematian benar akan menjemputku hari ini, aku mohon, izinkan aku bertemu keluargaku dan juga Gavin untuk terakhir kalinya ... sedetiiikk saja!


Dahlan, muncul dari balik lapisan anak buahnya yang berjejer, seolah membelah kerumunan untuk menyaksikan sebuah tontonan. Wajah angkuh berpulas tatapan tajam, terjurus lurus ke arah Nilam dan Mona yang berkait tangan saling menggenggam.


"Bagus! Kalian memilih tempat semacam ini untukku eksekusi." Melangkah semakin dekat dengan seringai menakutkan diwajahnya. "Aku menawarkan berbagai keuntungan, kenapa kalian lari?" Terdengar lembut seolah menyesalkan.


"Mona! Kau sudah ku fasilitasi mewah. Apapun yang kau mau sudah ku berikan. Kenapa kau mengkhianatiku, parkit kecil?" Menarik dagu runcing Mona lalu mencengkramnya kuat. "Kalian, ikat mereka berdua!"


Cicitan ketakutan meradang menguasai sekujur tubuh lelah kedua wanita itu. Ketegangan menjadi aura tak terbantahkan. Namun apa ....


Tak ada senjata untuk melawan.


Tak ada perisai untuk dijadikan pelindung.


Tak ada harapan.


Tak ada....


Lari?


Kemana?


Mustahil akan berhasil.


Teriak?


Siapa yang akan mendengar apalagi perduli.


Hanya dedaunan yang tergerak melambai-lambai disapu hembusan angin yang terus menggoda tanpa henti, seolah membisikkan kata....

__ADS_1


Mati ... mati ... mati ....


^^^Bersambung ....^^^


__ADS_2