Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
SAH


__ADS_3

Setiap masa pasti menjadi lalu.


Setiap jalan pasti menemukan ujung.


Setiap awal pasti menjumpai akhir.


Dan semoga ini menjadi akhir dari segala pekik dan pelik yang tercipta dari kisah sampah ini.


Prolog sudah tertinggal semakin jauh, merangkak pada konflik, resolusi juga solusi. Hingga kini semakin dekat dengan sang dinanti .... Epilog.


...••••...


Setelah melalui berbagai kepelikan, luka dan penderitaan, akhirnya, Nilam kini menjumpai titik dari segala harapnya ....


Pernikahan!


Ya, hari ini adalah hari pernikahannya dengan sang dicinta, Gavin!


Suara deburan ombak menjadi pengiring suasana sakral yang baru saja digelar. Sebuah kata yang terucap serentak menandakan akhir pengucapan janji diantara jabat tangan antara Gavin dan Kevin.


"SAAAHHH...!!"


Ulasan senyum menghias disemua wajah. Tak terkecuali kedua mempelai. Senyuman kebahagiaan teriring tetesan-tetesan kecil yang menjatuhkan diri dengan penuh keharuan, kala Nilam mencium punggung telapak tangan Gavin. Pria yang kini telah sah menjadi suaminya. Berlanjut Gavin mencium pucuk kepalanya. Begitu dalam dan penuh cinta.


Lalu keduanya merangkak bergeser sungkem pada orang tuanya yang duduk berjejer dibelakangnya.


Diiringi instrumen biola berpadu piano yang terdengar merdu dan mendayu di ujung singgasana, menjadikan suasana sakral itu semakin mengesankan. Khidmat!


"Bahagia selalu, Nak." Briana, mama Gavin, mengecup dan mengusap pucuk kepala anak dan menantunya bergiliran. Merah pipinya sudah basah tersiram air mata.


"Puteriku ...." Kali ini suara Kevin, ayah Nilam. Melakukan hal yang sama dengan Gerry dan Briana. Tak berbeda, ia dan Dalia pun turut larut dalam irama sakral, melepas puterinya berganti peran.


Ya, Tuhan ... berkahilah kebahagiaan untuk anak-anak juga menantuku. Dalia


Di barisan kursi terakhir, Kenzie dan Hana sudah berdiri menyambut.


"Nilam, adikku." Dikecupnya pucuk kepala Nilam dalam. "Berbahagialah."


"Terimakasih, Kak." Kenzie tersenyum haru lalu mengangguk.


Nilam dan Hana sudah saling berpelukan. Saling melafal do'a terbaik untuk kehidupan mereka kedepannya.


"Brother, jaga adikku baik-baik." Pelukan manly dilakukan Kenzi dan Gavin. "Jangan sampai kau lengah lagi," ujar Kenzie. Lalu saling menepuk pundak.


"Tentu, Ken."


"Hey, Bos." Chaka, pemuda gesrek itu sudah berdiri tepat dibelakang Gavin dengan seringai konyolnya. "Selamat!"


Gavin sudah berbalik menghadapnya. "Siapa yang mengundangmu?" guyonnya.


"Aku tidak perlu undangan, Bos. Semua pesta selalu menerimaku dengan tangan terbuka," kelakar Chaka.


"Tentu saja, karena kau ditunggu mereka untuk mencuci piring," balas Gavin.


"Haha... kau tahu saja, Bos."


"Baiklah, mana kado untukku?"


"Sudahlah, Gav. Untuk apa kau mengharapkan kado darinya. Percuma saja. Tak akan berguna," seloroh Kenzie memungkas.


"Enak saja. Ada, sudah ku siapkan. Nanti kau buka saat kalian sudah berdua dikamar," ujar pemuda itu tersenyum, seraya menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Ah, aku jadi curiga." Gavin melengos tak yakin.


"Nona Nilam. Cepat buatkan anak untuk Bos Gavin. Aku ingin tahu, bagaimana bodohnya dia saat kau hamil lalu dia menjadi seorang ayah," ledeknya.


"Kaaauuu.... minta ku tendang, ya?!" Dan benar saja, satu kakinya sudah terangkat menempel keras dibetis Chaka. "Aku tidak sebodoh dirimu, sialan!"


"Ampun, Bos!" seru Chaka terkekeh. "Pengantin kok pecicilan." Seraya memundurkan tubuhnya menjauh.


"Sudah sana, pergi. Kehadiranmu hanya mengganggu!" seru Gavin.


"Aku ini agen rahasia Bos Kenzie. Jadi kau jangan menyepelekanku, Bos."


"Pergi!"


"Dasar! Tak sadar banyak peranku dalam segala kasusmu. Bos tak tahu terima kasih!"


Umpatan Chaka itu masih terdengar jelas ditelinga Gavin. "Chaka.... Tiket sepeda ke Antartika akan buatkan segera untukmu."


"Sepeda dan Antartika, sejak kapan mereka berhubungan?"


"Chaka...."


"Hehe ... ampun, Bos Ken. Aku pergi, aku pergi. Akan ku habiskan semua makanan yang ada disini." Dengan langkah mulai menjauh.


"Habiskan saja, jika kau ingin meledak."


Semua menggeleng dengan kekehan.


....


Upacara dan resepsi itu digelar bersamaan ditepi pantai. Satu demi satu insan, kelompok demi kelompok datang dan pergi mengisi pelataran acara.


Angin bertiup didalam damai.


Biru laut terhampar dengan senyuman.


Hari ini...


Hujan dan petirnya.


Ombak beserta debur dan debarnya.


Tertunduk tak ingin lalu.


Seluruh psakitan, terikat tak ada gerak, seolah takut menerima hukum dan penghakiman.


Cukup hanya langit dan cerahnya.


Juga angin dan sejuknya.


Mengiring senyum dan tawa yang terdengar riuh saling bersahutan.


...-...


Malam pun tiba.


Suasana semakin ramai, sampai pada titik maksimal. Nilam dan Gavin kini dengan balutan sepasang kostum elegant.


A-line dress putih berlengan panjang yang dikenakan Nilam, serta rambut yang ditata membentuk sekumpulan bunga mawar, membuatnya terlihat bak bidadari ditengah temaram. Berkilauan!


Juga Gavin, dengan tuxedo berwarna senada, membalut gagah di tubuh tegapnya, sangat tampan!

__ADS_1


Untaian tamu undangan tak henti memenuhi antrean untuk bersentuh tangan memberi selamat pada kedua mempelai.


Hingga....


"Selamat, Tuan Gavin, Nilam." Danu, mengulur tangan mengucap selamat, dengan senyuman termanis dan nampak tulus.


Nilam cukup kikuk menghadapi suasana.


"Terima kasih, Danu." Menerima uluran tangan itu cukup ragu, Gavin akhirnya menumbangkan egonya, kala dilihatnya seorang wanita yang mendekat dan melingkarkan lengannya dilengan Danu. "Asty."


"Hehe... Bos."


"Kalian?" Menatap Danu dan wanita sekretarisnya itu bergiliran.


Danu menyabit senyum. "Iya, Tuan. Kami sudah resmi berpacaran. Baru dari seminggu yang lalu," ungkapnya, lalu melempar pandang pada Asty yang tersenyum malu-malu.


Gavin terlonjak, tak terkecuali Nilam. "Asty...."


"Hehe.... Iya, Nilam. Akhirnya aku punya pacar juga."


"Wooo... ini keren!" seru Gavin. "Cepat ikutilah jalan kami," godanya. "Iya, kan, Sayang?" Menoleh pada Nilam.


"Benar, Asty," jawab Nilam tersenyum.


"Hey, kami baru saja berpacaran seminggu. Mana bisa seperti itu," selorohnya dengan berengutan lucu.


Mengasak pucuk kepala Asty gemas, Danu terkekeh. "Aku bisa mengabulkannya jika kau mau."


Asty refleks mendongak dengan mata melebar. "Kamu pikir aku yang kebelet menikah?!"


"Hahaha...." Ketiga orang dihadapannya refleks tertawa.


"Aku serius, Asty," sambung Danu. "Pacaran terlalu lama juga tidak bagus."


"Hey!"


"Aww!" Jentikkan jari Gavin di keningnya membuat Asty memekik terlonjak. "Sakit, Bos." Seraya diusapnya hasil perbuatan Gavin tersebut.


"Kamu kenapa bengong, hmm? Danu itu serius mengajakmu menikah. Dasar lamban!"


"Gav ...." Nilam menggeleng tersenyum. "Jangan berlebihan." Lalu menoleh ke arah Danu dan Asty. "Sebaiknya kalian bicarakan ini berdua. Disini bukan tempat yang tepat." Melirik barisan tamu undangan yang sudah beruntun mengantri di samping singgana.


Semua mengikuti arah pandang Nilam. "Astaga!" pekik Asty. "Ayo, Dan. Aku takut mereka memakan kita." Seraya mendorong tubuh Danu untuk turun.


Gavin dan Nilam laju terkekeh.


Hingga gerak tubuh Danu yang diseret Asty membuat kekehan Nilam berganti senyuman penuh syukur. Akhirnya kamu menemukan tambatan hatimu, Danu.


Satu persatu tamu undangan mulai meninggalkan kemeriahan pesta pernikahan itu, seiring laju waktu yang mulai menjejak larut.


Kini tersisa dua keluarga besar yang duduk melingkar di sekumpulan kursi yang sudah di siapkan khusus untuk anggota keluarga. Baju-baju tebal sudah membalut tubuh mereka, guna menghalau dingin yang semakin menusuk kulit.


Masih ditemani debur ombak. Sepertinya malam ini akan jadi malam tanpa lelap untuk mereka. Melek sampai pagi!


Canda tawa tak henti beredar. Beragam goda dan guyonan saling terlontar melengkapi.


Hangat!


Begitulah pesta pernikahan itu berlangsung.


...••••...

__ADS_1


Next chapter ... Part bucin Nilam Gavin siap release. Jan mane-mane ye...!


Tunjukkan Jejakmu!


__ADS_2