
Dingin milik pagi ini cukup menusuk.
Hingga kulit terasa kasar penuh duri.
Beruntung yang memiliki selimut hidup.
Bagi yang tak punya, cukuplah mendekap tubuhnya sendiri.
Kesiaann ....
Hari ini, keempat insan yang tengah berlibur itu, memutuskan untuk pulang.
Koper-koper berisi baju dan lain-lain, sudah dikemas sempurna dan tertaruh manis dibagasi mobil masing-masing.
Villa milik keluarga Gavin itu akhirnya ditinggalkan mereka dengan langkah malas.
Sebenarnya bukan mereka, melainkan hanya Gavin dan Nilam. Tidak dengan Kenzie dan Hana yang merasa liburan itu tak berarti, selain gejolak bodoh dalam hati keduanya.
Kenzie yang galau melihat kemesraan Nilam dan sahabatnya. Sedangkah Hana, dengan cinta sembunyinya. Sama-sama cinta sepihak yang menyesakkan!
Kedua mobil itu mulai melaju beriringan. Berbagai pemandangan mereka lewati. Kenzie dan Hana masih larut dalam diamnya, meskipun mereka duduk berdampingan. Sangat berbanding terbalik dengan keadaan dimobil yang dikendarai Gavin, yang dipenuhi canda dan tawa penuh cinta.
Dalam perjalanan, Gavin mengirim pesan teks pada Kenzie untuk menepikan mobil mereka disebuah restoran. Karena perut mereka yang belum terisi apapun. Dan tentu saja di iyakan sahabatnya itu.
Tak berapa lama, terparkir sudah kedua kendaraan mewah itu dihalaman sebuah restoran ayam bakar bergaya klasik Sunda. Dan keempat orang itupun mulai turun dan memasuki resto tersebut.
Satu paket kursi melingkar dipojok ruangan, menjadi pilihan keempatnya.
" Ayam bakar satu porsi besar, Mas. Sambalnya dipisah saja," pesan Gavin pada pelayan resto bergender lelaki tersebut. "Minumnya es teh manis dua."
"Aku air putih saja," timpal Kenzie. "Hana, kamu?"
"Aku ... air putih juga."
Cieee ... samaan ni yeee....
Gavin dan Nilam saling melempar senyum.
"Nasinya, Tuan?"
"Lo ...? Ya iya, pake dong, Mas. Masa iya kita makan tulang ayam supaya kenyang?!" Gavin sedikit kesal.
"Hehe... bercanda, Tuan."
Dan pelayan berwajah kocak itupun berlalu dengan kekehan kecil dibibirnya. Disusul tawa yang juga keluar dari mulut Nilam, Kenzie dan Hana.
"Apa-apaan kalian? Kenapa tertawa?" Gavin tak terima.
"Sepertinya kau sangat cocok dengan pelayan itu, Gav. Apa aku daftarkan kalian berdua saja ya, ke ajang pencarian bakat, sebagai pelawak," ledek Kenzie terkekeh.
__ADS_1
"Sialan kau!!!"
Dan seterusnya acara sarapan pagi yang dilakukan menjelang siang itu, mereka habiskan dengan selingan candaan-candaan renyah.
Tanpa mereka sadari, dikursi pojok berlawanan, seseorang memperhatikan mereka intens.
"Benar, itu adalah gadis yang selama ini aku cari," gumamnya menyeringai. "Akhirnya ... aku pasti mendapatkan bonus yang besar dari Bos untuk berita ini. Aku harus mengikuti wanita itu kemanapun dia pergi. Sampai aku tahu dimana dia tinggal."
Beberapa jepretan foto diambilnya secara sembunyi-sembunyi.
*****
Beberapa hari kemudian ....
Tok tok tok!
"Masuk." Suara sahutan dari dalam.
Dan pintu geser itupun terbuka. Berjalanlah sesosok lelaki kurus dengan sehelai amplop coklat ditangannya.
"Ada apa? Kalau tidak ada yang penting sebaiknya kau pergi saja. Aku tidak butuh laporan murahan seperti yang selalu kau bawa padaku selama ini!"
Lelaki itu tersenyum. "Kali ini Anda pasti senang, Juragan," ucapnya percaya diri.
Jelas sudah, siapa lagi yang dipanggil juragan di novel sampah ini, selain Dahlan. Dan lelaki itupun menjuruskan tatapan tajamnya pada sang pesuruh. "Apa yang kau bawa?" tanyanya ingin tahu.
"Silahkan Anda buka, Juragan." Disodorkannya kertas mengandung kertas itu pada sang bigbos.
"Tidak ada apa-apa, Mona Sayang. Anak buahku hanya membawa laporan hasil kerjanya." Sembari membuka lilitan tali yang melingkar dikancing amplop besar tersebut.
"Laporan apa?" Mona ingin tahu. Di sentuhnya anting miliknya untuk memastikan benda itu berfungsi dengan baik. Semoga ada materi yang bisa ku berikan pada Kenzie.
Helaian demi helaian dilihat Dahlan satu persatu.
Beberapa lembar foto.
Mona mulai dengan kekepoannya. Ia merangkulkan lengannya di pundak Dahlan, dengan bokong bertumpu pada pegangan kursi. Seketika matanya membola. Itukan Kenzie. Batinnya
Jelas. Foto-foto itu berisi keempat orang yang tengah makan bersama disebuah restoran. Nilam, Kenzie, Hana, dan Gavin. Sebuah hasil tangkapan gambar yang sangat sempurna. Tak ada satupun dari keempat orang itu yang tak tertangkap wajahnya.
"Nilam dan Tuan Gavin?" Mata Dahlan tertuju pada sang pesuruh untuk meminta penjelasan dengan kening mengernyit tak mengerti.
"Sepertinya benar, Juragan. Mereka adalah sepasang kekasih," jawab lelaki itu tanpa ragu.
"Baiklah. Kau boleh keluar."
"Baik, Juragan." Lelaki pesuruh itupun berlalu dari hadapan Dahlan.
Mona mengambil lembaran-lembaran foto itu dari meja didepan Dahlan. Dilihatnya satu persatu. Aku harus tahu apa tujuan lelaki tua ini. "Umm ... Sayang ... orang-orang di foto ini siapa?"
__ADS_1
Direngkuhnya pinggang ramping Mona, lalu didudukannya wanita itu di atas pangkuannya. "Kedua lelaki itu rekan bisnisku."
"Apa kau ada masalah dengan mereka?" Mona ingin tahu.
"Tidak, Sayang. Mereka rekan bisnis yang kompeten."
"Lalu, apa artinya foto-foto ini?" Dan Mona mulai menggali.
"Wanita berbaju biru itu ( Nilam ), dia tawananku."
"Apa?! Tawanan?" Kening Mona berkerut dalam. "Maksudmu?"
"Ya, dia adalah salah satu gadis penebus hutang. Jadi aku menawannya." Dahlan berujar santai seraya terus menciumi pundak mulus Mona.
"Tapi dia cantik sekali." Mona memasang wajah seolah cemburu.
"Hey, apa kau cemburu?" Digaetnya dagu runcing Mona dan menghadapkan wajah cemberut itu ke wajahnya.
"Aku hanya takut kamu tinggalkan. Karena jelas, gadis itu lebih cantik daripada aku."
"Haha ...." Dahlan tergelak. "Aku suka. Sangat suka. Teruslah cemburu, Sayang." Diciumnya bibir merah itu sekilas. "Dengarkan, dia memang sempat akan kunikahi. Tapi sayangnya dia memilih kabur."
"Benarkah itu? Siapa nama gadis ini? Dan kenapa dia musti melarikan diri?" Mona terus mengorek.
"Ya ... karena dia tidak sama sepertimu. Dia terlalu bodoh dengan lari dariku. Padahal aku bisa memberikan apapun yang dia inginkan."
"Sepertinya kamu masih mengharapkan wanita itu." Mona mengangkat tubuhnya dari pangkuan Dahlan. Bersikap seakan dirinya merasa cemburu dan tersisihkan karena pembahasan tentang Nilam.
Namun lain dihatinya ...
Andai hidupku seberuntung gadis bernama Nilam itu, ada yang mencintainya dengan tulus, seperti yang terlihat didalam foto-foto itu. Maka sudah ku pastikan, aku akan melakukan hal yang sama dengannya. Lari dari bandot tua ini!
Sayang sejuta kali sayang, ia terlanjur menjerembabkan hidupnya pada suramnya jurang pembodohan. Menjilat dan menggoda layaknya seekor anjing yang kelaparan. Sungguh menjijikkan!
Tapi ya sudahlah. Sesalah-salahnya jalan yang ia pilih, harus tetap dijalaninya. Sampai Tuhan memberi jalan lain untuk dipijaknya. Meskipun itu adalah sebuah kematian.
"Kenapa, Sayang? Aku hanya menceritakan masa lalu." Dahlan berdiri mendekati Mona yang juga berdiri dengan wajah masam. Di pegangnya kedua pundak wanita patgulipatnya itu. "Tidak usah takut. Karena aku sudah memilikimu sekarang." Dibelainya rambut wanita itu penuh kasih dan juga ... penuh hasrat.
"Kamu tidak hanya membual, kan?" tanya Mona dengan nada manja.
"Tentu saja tidak, Sayangku." Diraihnya pinggang ramping itu, mengikis jarak hingga tak bersisa. "Aku sudah memilikimu. Mana mungkin aku memikirkan wanita lain. Apalagi gadis itu tidak se-hot dirimu."
Perlahan Mona menarik senyuman. "Aku benci kebohongan. Jadi jangan pernah berbohong padaku."
"Aku berjanji, Sayang."
Lalu bayangkanlah oleh kalian, selanjutnya apa yang Dahlan dan Mona lakukan....
°°°°
__ADS_1
Yok... Like and Vote nya...❤❤❤😂