Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Peran yang berbeda


__ADS_3

Diantara sekelumit kisah cinta, mungkin ini adalah kisah cinta ternaas sejagad raya. Mencintai tanpa syarat. Hati yang sakit hanya di anggap ulasan biasa meskipun menuai luka yang cukup menganga.


Ia hidup dengan baik, mengikuti alur positif tanpa cela. Ragam tepuk tangan mengiringinya dalam prestasi yang hakiki. Tapi saat ini ... semua seolah menjungkir balikkan dunianya. Zero!


Wajah tampan dan otak geniusnya, kini terasa hanya sebuah batu sandungan yang menjatuhkan. Bisakah ia meminta hidup sederhana dengan wajah biasa? Memiliki keluarga kecil bahagia, walaupun hanya sekedar tukang asongan ataupun kuli pikul di pasar yang becek. Tidak muluk bukan?


Kegagalan mengendalikan perasaan menjadi boomerang yang melebur kewarasannya. Terjerembab dalam jurang kebodohan yang merugi. Gadis itu menyerahkan dirinya dengan sukarela, berasas cinta. Cinta yang tidak pernah disambut dan diindahkannya. Miris!


"Aku mencintaimu, Ken."


Bait kata yang di ucapkan Hana disela pergumulan panas penuh dosa kala itu, tak henti mengacau pikiran dan hatinya.


Kini ia terhempas dalam rasa sesal yang menyeruak hingga ke ubun-ubun. Juga sakit yang perlahan mengikis ketegarannya.


Kenzie.


Dunia itu memang labil.


Kau boleh menciptkan alurmu sendiri jika tak mampu mengikuti alur yang penulis receh ini ciptakan. Kau boleh melambaikan tangan saat kau ketakutan dalam gelap. Akan aku kabulkan!


"Everythings gonna be okay."


Tepukan pelan dipundaknya membuatnya mengerjap, lalu menoleh. "Gav. Kau masih disini?"


Balkon kamar menjadi pilihan. Pagar besi pembatas dalam genggaman. Keduanya kini berdiri berdampingan menghadap beranda malam yang cukup tenang.


"Aku tidak akan pulang."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Aku masih rindu adikmu."


Kenzie terkekeh. Sebuah pemandangan yang cukup langka baginya belakangan ini. "Bukankah kalian bertemu setiap hari?"


"Ya ... tapi rindu itu tak pernah mau pergi, meskipun aku dengannya sedang berhadapan." Gavin berujar santai.


"Aku percaya. Kali ini jaga peranmu baik-baik. Jangan pernah kecewakan dia. Sekarang aku akan berdiri paling depan untuk menjadi tamengnya. sekecil apapun kesalahanmu, akan ku buat penghakiman melebihi kesalahanmu."


Gavin terbahak. "Wooo.... Kau keren sekali, Ken!" Ditepuknya kembali pundak bidang sahabatnya itu. "Bukankah dari dulu kau selalu menjadi tamengnya?" godanya.


Tersenyum kecut. Diliriknya Gavin yang kini tengah menatapnya dengan senyum mengejeknya itu, sekilas. "Kau benar, kekuatan darah yang sama itu tak bisa disepelekan. Hatiku dan hatinya sudah saling terhubung secara otomatis. Membawa peran saudara yang vivid, meskipun masih berada dalam lingkaran rahasia Tuhan."


"Ya, dan itu membuat kalian hampir saja menikah dan membuat anak," ejek Gavin lagi.


"Setan kau!" Menonjok pelan lengan samping Gavin, Kenzie terkekeh.


Di ambang pintu dibelakangnya, Nilam menatap kedua lelaki itu penuh haru. Terima kasih Tuhan, aku mendapatkan keduanya dalam keadilan-Mu.


"Sayang ...." Gavin melingkarkan lengannya di pundak kekasihnya. "Darimana saja?"


"Aku baru selesai memasak untuk kalian." Nilam tersenyum.


"Kenny, kena--"


Telunjuk Nilam berhasil membungkam mulut Kenzie yang baru saja menganga. "Kak, aku memang adikmu. Tapi ... aku ingin tetap menjadi Nilam. Bisakah tak memanggilku Kenny lagi?"


"Tapi itu namamu yang sebenarnya, Sayang." Kenzie dalam kukuhnya.


"Aku tahu itu. Tapi ...."

__ADS_1


"Tapi apa?"


"Aku hanya ingin tetap menghargai jasa Ayah Wisnu dan Ibu Marni, kedua orang tua angkatku. Mereka merawat dan membesarkannya penuh kasih. Dan nama Nilam itu, mereka yang memberikannya. Jadi ...." Buliran bening itu sudah menerjuni kedua pipi glowingnya.


"Hey, jangan menangis." Gavin melepaskan rangkulannya, lalu mengusapkan kedua ibu jarinya, menyapu air mata di iras cantik sang kekasih. "Ken, aku rasa dia benar. Dia memang bagian dari darahmu juga kedua orang tuamu. Tapi jasa orang tua angkatnya itupun tidak bisa kau lupakan begitu saja. Kalian mungkin tidak akan menemukannya sebaik ini, jika bukan mereka yang merawatnya. Kau lihat Kakek Usman, dia sangat mencintai adikmu ini. Jadi aku rasa, mempertahankan nama itu, cukup menjadi bentuk apresiasi untuk mereka."


Kenzie terhenyak. Benar, ia dan keluarganya tak boleh egois. "Baiklah. Aku rasa semua ucapanmu benar." Lalu kembali menatap Nilam. "Adikku ..." Menangkup kedua pipinya. "Kamu boleh tetap menjadi Nilam. Dan Kakak akan bicarakan ini juga pada Ayah dan Ibu."


Tentu saja semua itu menghasilkan senyum diwajah yang masih basah itu. "Terima kasih, Kak."


"Iya, Sayang."


"Ya ... sepertinya kita memiliki boneka kesayangan yang sama," canda Gavin. "Tapi dengan peranmu yang berbeda." Kemudian terkekeh.


"Ku bungkam mulutmu keparat! Enak saja kau anggap adikku mainan." Tendangan kaki polos itu mengenai betis Gavin.


"Haha ... tidak-tidak! Aku bercanda, Kakak Ipar," ujar Gavin seraya menghindar. "Mana ada boneka secantik ini." Menarik Nilam kedalam peluknya. Menciumi pucuk kepalanya bertubi. "Sayang...."


Nilam tersenyum. Candaan itu sama sekali tak mengusiknya. Rasa syukur dalam hatinya lebih besar dari apapun. Hatinya tak henti memuja nama Tuhan atas kebahagiaan yang kini meliputinya. Namun seketika itu, pendar senyumnya beringsut datar dan menghilang. Ia mengingat sebuah nama. Hana! Melepaskan diri dari pelukan Gavin. "Kak, apakah sama sekali belum ada kabar tentang Hana?"


DEG


Lonjakkan irama jantung Kenzie kembali menyerang. Wajahnya berubah sendu. Lalu menggeleng perlahan. "Belum, Nilam."


"Kita akan terus membantu mencarinya. Aku juga sudah meminta bantuan Papa untuk mengerahkan beberapa orangnya mencari Hana." Gavin menenangkan. Kegusaran Kenzie sangat disadarinya.


"Terima kasih, Gav. Aku berharap dia baik-baik saja."


"Semoga. Dan aku yakin itu."

__ADS_1


...••••••...


__ADS_2