Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Oohh Hana ....


__ADS_3

Liburan sederhana di villa putih itu cukup mengesankan bagi Nilam dan Gavin, yang kini tengah berkubang dalam lautan kebahagiaan.


Keduanya kini tengah asyik berjalan santai dengan tangan saling tertaut, ditengah hamparan luas bunga-bunga berwarna putih dan ungu tersebut.


Tiupan lembut sang angin seakan terus menggoda, ikut menyemarakkan meriahnya cinta yang bertabur di antara dua sejoli itu.


Lain dari pada mereka, Hana tengah duduk memangku dagu di balkon atas villa itu. Memupuk bayangan dalam pikirnya, kala ia dan Kenzie melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Nilam dan Gavin. Senyum menggelitik berpulas diparas manisnya. Indahnyaaa....


Namun apa mau dikata, khayal tetaplah khayal.


Seketika senyum itu memudar, kala ia menyadari kekonyolannya.


"Tidak, tidak! Apa yang sedang aku pikirkan." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai caranya menepis khayalan bodoh itu. "Sebaiknya aku menonton tv saja." Dan iapun berjalan menuju ruang dilantai bawah untuk merealisasikan niatnya.


Namun baru beberapa anak tangga diinjaknya, matanya sudah tertuju pada satu titik.


Kenzie!


Pemuda itu tengah asyik dengan ponselnya, dengan headset terpasang dikedua telinganya. Sialnya, mengapa kegiatan itu dilakukannya di depan televisi?


Jadilah Hana hanya terpaku diam ditangga itu.


Sebenarnya ada sesuatu yang membuatnya tak mampu beranjak.


Laki-laki itu ... kenapa senyum-senyum sendiri? Apa yang sedang dilihatnya di layar ponselnya?


Tanpa sadar, Hana memerosotkan tubuhnya dan duduk di anak tangga. Setiap gerak dan gerik lelaki itu, begitu sangat menarik perhatiannya. Terlebih senyumnya.


Kenzie masih asyik dengan mainan ditelapak tangannya. Satu yang membuat bibirnya tak bisa menahan senyuman yang sebenarnya ingin dikembangkannya menjadi tawa.


Maaf, Ken. Aku masih belum mendapatkan hasil apapun. Aku masih harus membuat Dahlan yakin dan percaya sepenuhnya terhadapku. Ku harap kamu bersabar.


Itulah penggalan isi pesan chat yang dikirimkan Mona. Coba kita tengok apa penyebab pesan itu begitu terasa lucu dimata Kenzie. Hingga membuat pria itu tersenyum lucu sedemikian.


"Jelas saja kamu belum mendapatkan hasil apapun. Pekerjaanmu saja hanya bercinta dengannya," gumam Kenzie kembali dengan senyuman lucunya.


Alat penyadap suara yang dipasangnya di balik anting yang terpasang ditelinga Mona itu, lah yang menjadi alasan penyebab tawa tertahan yang kemudian berubah menjadi senyuman menggelitik dibibirnya itu.


Bagaimana tidak, setiap percakapan wanita itu dengan Dahlan selalu terekam tanpa skip, termasuk adegan-adegan fulgar yang memperdengarkan erangan-erangan penuh nafsu. Semua didengar Kenzie melalui ponsel pintarnya.


Ajaib!


''Mona ... Mona ... terkadang rasa ibaku tertutup oleh tingkah konyolmu ini." Kalimat itu cukup keras diucapkan Kenzie. Dan tentu saja didengar Hana yang masih berdiam diatas tangga.


"Mona. Siapa Mona?" gumam Hana. Lagi, kilatan perih yang berasal dari perasaan cemburu, kembali menyerang hatinya. "Kenapa aku tidak pernah sedikitpun bisa menarik perhatiannya?" lanjutnya pelan.


Ia mulai bangkit, menatap pria itu terlalu lama, semakin membuat perasaannya kebas.

__ADS_1


Sayangnya pergerakannya kali ini disadari Kenzie.


"Hana! Ada apa?"


Telak, Hana tak lagi mampu menghindar. Wajahnya meringis bingung. Kenapa lelaki itu harus melihatnya, sih? Terpaksa, sebuah cengiran kuda terpulas diwajah kakunya. "Tidak, Ken. Aku hanya ingin keluar," kilahnya.


Kenzie memberengut heran. "Keluar? Lalu kenapa kamu naik lagi keatas?"


Aduh!!


"A-anu ... ada yang tertinggal."


"Apa?"


Ihh ... pria itu cerewet sekali, sih?!


"Umm ... tidak jadi, aku naik lagi saja."


"Kalau mau keluar. Ayo ku antar!"


Apa? Kenzie akan mengantarnya? Ini termasuk kesempatan atau godaan, sih?


Bergelung dengan pemikirannya sendiri, Hana malah terdiam tak menyahuti.


"Hana... ayo. Mumpung masih disini. Sayang, kan, kalau hanya menghabiskan waktu didalam villa saja."


Tak mampu berkilah lagi, akhirnya sebuah anggukan refleks tergerak tanpa komando.


"Kalo begitu, ayo!"


"Baiklah." Dan Hanapun mulai menuruni sisa anak tangga itu.


Tuhaann ... apa lagi ini?


Sebuah uluran tangan Kenzie meminta untuk disambutnya. Membuat ritme detak jantungnya tiba-tiba berubah cepat.


Akhirnya, walaupun dengan gerakan kaku, Hana meraih tangan itu, diiringi gemuruh yang bergejolak didalam dadanya.


Berjalan dengan santai dan tangan saling tertaut, Kenzie dan Hana menyusuri tepian sebuah danau yang terletak beberapa meter dari villa itu.


"Disini sangat tenang." Kenzie berucap dengan wajah terjurus luruh ke hamparan danau yang tidak terlalu luas itu. Tautan telapak tangan mereka sudah terlepas. Dan itu sangat disesalkan Hana.


"Iya, disini memang sangat tenang." Sebuah kalimat yang berbanding terbalik dengan perasaannya sebenarnya. Resah!


"Hana ... apa kau belum punya kekasih?"


DEGG!!

__ADS_1


Pertanyaan macam apa itu?


Hana menyentuh dadanya yang didalamnya terdapat lonjakkan yang tak terkendali. "Umm ... tidak ada, Ken."


Kenzie menanggapinya dengan sebuah kekehan kecil. "Benarkah?"


Eh, kenapa lelaki itu malah tertawa? Apa ada yang lucu? Atau ... itu adalah sebuah ejekan, karena hingga saat ini, tak ada satupun lelaki yang dekat dengannya. Oh God ....


Akhirnya, hanya sebuah anggukan kaku dijadikan Hana sebagai jawaban.


"Kamu lucu sekali. Kamu itukan cantik. Kenapa tidak memiliki kekasih?"


Sungguh! Kali ini Hana merasa jika lelaki itu benar-benar sedang mengoloknya. "Jangan mengejekku, Ken!" Dengan wajah cemberut lucu.


Sontak, Kenzie tertawa dibuatnya. Dilingkarkannya lengan itu ke leher Hana menyamping. Dan lengan lainnya mencubit gemas hidung lancip gadis itu. "Kamu kenapa lucu begini? Aku tidak sedang mengejekmu. Aku hanya bertanya. Kenapa gadis semanis kamu belum memiliki kekasih?!"


Jangan tanyakan tentang hati Hana saat ini, semua rasa bercampur dalam gejolak yang semakin tak terbendung. Bahagia, sedih, haru, dan sesal bercampur teraduk menjadi adonan yang terbakar.


"Aku hanya belum mendapatkan orang yang tepat."


Ya ... Tuhan ... jawaban macam apa itu? Bahkan tak ada satu orang pun lelaki yang menginginkanku. Kenapa aku berubah jadi sesombong itu? Aaaarrgghh ... bodoh!


Kalimat umpatan Hana dalam hatinya. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang meringis merasa jika ucapannya terlalu menunjukkan kebodohannya.


"Oh, ya? Memang harus seperti apa, orang yang tepat menurutmu?"


Please ... jangan terus menggencar dengan pertanyaan-pertanyaan jebakan semacam itu!


Hana mulai kehabisan kata. Andai kejujuran itu tak cukup membuatnya merasa rendah, maka akan ia pastikan, bahwa jawabannya adalah ... tentu saja yang sepertimu, Kenzie.


"Tidak ada yang spesifik. Aku hanya menginginkan lelaki yang benar-benar tulus mencintaiku." Seuntai jawaban jujur. Namun sudah jelas, hati itu sudah dilabuhkannya pada sebentuk hati milik lelaki yang ada disampingnya itu. Meskipun tak bersambut.


Miris bukan?


Senyuman Kenzie kembali terpulas apik.


"Semoga kamu segera mendapatkannya."


Bolehkah tangis itu diledakannya sekarang? Ulu hatinya seakan dipukul-pukul hingga membiru.


Rasanya ingin sekali ia menyemburkan teriakan yang berisi ... ''KAMU YANG AKU INGINKAN, KENZIE SIALAAAANNN...!!!!!


°°°°°


Budayakan Like usai baca yoooo...


Aku selalu menunggu cinta kalian.... Karena cinta itu akan aku balas dengan Update teratur dua bab perhari...😂

__ADS_1


__ADS_2