
"Tidak, Ibu, ini tidak mungkin. Kalian semua pasti salah!" Menggeleng-gelengkan kepala, Kenzie masih belum mampu menerima kenyataan.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, selama ia kehilangan adiknya, ia tidak ingin adiknya ditemukan saat ini. Bukan karena ia tidak menyayangi, atau memutuskan harapan, melainkan kenapa adiknya itu harus Nilam? Gadis yang sangat dicintainya, yang bahkan beberapa hari lagi akan dinikahinya.
Tuhan ... mengapa takdir begitu terasa mempermainkan?
Nilam yang tengah dikerumuni keluarga besar Kevin dalam kebahagiaan penuh, juga masih tak percaya, bahwa dirinya dan Kenzie benar-benar bersaudara. Perbincangan ricuh tentang wacana pernikahannya dan Kenzie tiba-tiba lenyap. Berganti topik tentang dirinya sebagai puteri yang hilang.
"Ibu ... apakah Ibu yakin bahwa aku adalah anakmu?" Sekali lagi, Nilam berusaha meyakinkan dirinya.
Dalia tersenyum dalam sebaris asa yang sudah terkabul. "Tidak ada keraguan dihati Ibu, Nak. Kamu benar-benar anak Ibu dan ayah. Juga adiknya Kenzie."
Mendengar kalimat terakhir itu, Kenzie merasakan hatinya terbakar. Kenapa begini, Tuhan...? Kenapa harus dia? Lalu sebuah ide muncul dikepalanya. "Ayah."
Kevin yang tengah berbahagia, menoleh pada puteranya. "Ada apa, Ken?"
"Lakukan tes DNA!"
"Apa?!" Ide Kenzie itu membuat semua tersentak.
"Tes DNA?" Kevin memastikan.
"Iya, aku masih belum yakin, bahwa Nilam adalah Kenny."
Hati Dalia mencelos perih. Ia mengerti benar perasaan puteranya itu. Dihampirinya Kenzie yang masih berdiri dengan raut kecewa dan tidak percayanya. "Kamu masih belum percaya, Nak?" Dibelainya lembut pipi merah Kenzie.
"Iya, Ibu."
"Jika itu maumu, maka akan kita lakukan."
"Kenzie! Baju dan gelang itu sudah jelas menjadi bukti!" sergah Kevin.
"Ayah ...." Dalia menggeleng. Lalu di rengkuhnya putera kesayangannya itu. "Maafkan Ibu, Nak. Maafkan. Kita akan lakukan tes itu. Jika Ibu dan Ayah salah, maka kamu bisa menikahinya."
Dalam bulatan keterkejutan semua menoleh ke arahnya.
"Dalia, seingat Ibu, Kenny kecil memiliki segores tanda putih di belakang telinganya." Kata itu terlontar dari mulut Ibunya Kevin.
Semua sontak melihat kearahnya.
Kevin dan Dalia saling beradu pandang.
"Ibu, benar," ucap Kevin. "Nilam, boleh Ayah lihat, Nak?"
"Tentu." Dan Nilam mulai melangkah mendekat ke arah Kevin dan Dalia yang berdiri disamping Kenzie.
Kemudian dengan sejuta harap, Dalia mulai menyibakkan perlahan rambut panjang Nilam yang tergerai. Setelah melihatnya, wanita itu terdiam. Air matanya mulai mengalir kembali.
Kenzie yang tak sabar menarik Nilam dan memastikan sendiri apa yang dilihat Ibunya. Disibaknya rambut gadis itu dan lihatnya bagian belakang telinganya. Seketika ia terpaku. Sebuah tanda berwarna putih berbentuk goresan memanjang terpampang nyata sesuai ucapan yang dikatakan sang nenek.
Kevin yang juga sudah melihatnya, menepuk pundak Kenzie. "Apa menurutmu tes DNA itu masih perlu?"
Kenzie masih bergeming. Ditatapnya bening mata Nilam yang kini juga menatapnya sendu. "Kita bersaudara." Tanpa perduli apapun lagi, ia berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Ken!" panggil Nilam seraya menyeka air mata dipipinya.
Tubuhnya yang hendak mengejar Kenzie ditahan Kevin. "Biarkan dia menenangkan dirinya."
__ADS_1
Dan Nilampun hanya mampu mengangguk pasrah.
Tak berselang lama, Kenzie kembali menuruni tangga dengan black hoody yang sudah melekat ditubuhnya.
Tanpa menghiraukan kerumunan keluarganya, ia berjalan menuju pintu keluar. Sesaat kemudian, mulai terdengar suara deru mesin mobilnya yang menyala. Ia pergi.
Dalia mencoba mengejar. "Ken ... kamu mau kemana, Nak?!" teriak dalam tangisnya.
"Sudah, Bu. Biarkan dia. Dia hanya belum bisa menerima kenyataan, bahwa Nilam adalah Kenny, adiknya. Ayah yakin dia akan baik-baik saja." Dirangkulnya pundak Dalia.
••••
Rencana Tuhan kadang lebih menyakitkan dari hal indah yang sudah kita rancang.
Namun tentu saja, Ia sudah menyiapkan hikmah yang lain yang lebih indah dibaliknya.
Dedaunan yang berserak dijalanan beterbangan kemana-mana. Kenzie memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sudah habis luka karena kecemburuannya pada Gavin, kini luka itu malah terobek semakin menganga.
Mencintai Nilam ternyata lebih menyakitkan dari apapun. Bagaimana tidak, hanya tinggal selangkah lagi ia memiliki gadis itu seutuhnya, namun Tuhan telah mengganti skenario-Nya hanya dalam hitungan jam.
Ternyata darah yang ia donorkan saat Nilam tertembak, bukan sebuah kebetulan semata. Melainkan darah itu berasal dari titik yang sama. Mereka bersaudara.
"Aarrrgghhh...." Dipukulnya stir itu berulang, sebagai bentuk pelampiasan perasaan kacaunya.
Lagi dan lagi pedal gas di injaknya maksimum. Entah akan kemana tujuannya.
Tak lama, kendaraan mewahnya sudah terhenti sempurna didepan sebuah gerbang yang menjulang.
Satpam yang berjaga sepertinya sudah sangat mengenalinya. Ia membuka gerbang itu tanpa banyak bertanya. Dan masuklah Kenzie dengan mobilnya kedalam halaman rumah itu.
Dan....
"Tuan Muda Kenzie."
"Gavin ada, Bi?" tanyanya pada wanita berseragam ART. Ya, rumah besar Gavin yang kini di jejakinya.
"Ada, dikamarnya Tuan. Silahkan masuk."
Tanpa banyak bicara, Kenzie menerobos pintu yang menganga itu, lalu menaiki tangga menuju kamar pribadi Gavin.
TOK TOK TOK....
Jarinya yang terlipat diketukannya pada daun pintu yang tertutup itu.
"Siapa?" sahutan malas dari dalam.
"Aku," jawab Kenzie singkat
Tak lama, sosok sahabat yang juga rivalnya itu menyibakkan daun pintu yang diketuknya. "Ken. Ada apa kau kemari?"
"Boleh aku masuk?"
"Tentu."
Keduanya sudah terduduk disofa didalam kamar Gavin.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa tampangmu kusut seperti itu?" Gavin menangkap keganjilan pada sosok Kenzie.
"Gav .... Aku ...." Jeda cukup lama.
Gavin masih menatap ingin tahu. "Ada apa, Ken?" Dua tetes air mata yang terjun dikedua belah pipi Kenzie cukup mengejutkan Gavin.
"Aku ...." Mengusap wajahnya kasar. "Aku serahkan Nilam kembali padamu."
DEGG!!
Tinjuan keras didada Gavin. "Apa maksudmu?"
"Ya ... aku kembalikan Nilam padamu."
Tanpa menunggu penjelasan Kenzie selanjutnya, Gavin menarik kerah hoody yang dikenakan sahabatnya itu. "Apa yang kau katakan?! Kau pikir dia barang yang bisa digilir kesana-sini seenaknya, hah?!" Emosi mulai menguasai dirinya. "Aku memang sangat mencintainya. Tapi dia sudah memilihmu, Sialan!"
"Tapi Tuhan tidak mengizinkanku, Gavin!" seru Kenzie keras.
Dilepasnya cengkraman itu. "Apa maksudmu sebenarnya? Bukankah kalian berdua akan segera menikah?" Gavin mulai bingung.
Menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa, Kenzie menengadahkan wajahnya ke atas. "Nilam itu Kenny, Gav."
Kening Gavin berkerut dalam. "Kenny?"
"Ya. Kau masih ingat, tentang adikku yang hilang 22 tahun silam?"
"Ya."
"Kau ingat namanya?"
"Kenny," jawab Gavin enteng.
Kenzie menatap sahabatnya. "Benar."
Hingga sesaat kemudian wajah Gavin berubah menegang dengan kelopak yang sudah melebar. "Tunggu, Ken. Apakah maksudmu ... Kenny itu adalah Nilam? Dan Nilam adalah Kenny. Dan dia adalah adikmu yang hilang itu?!" berondongan dalam keterkejutannya.
Dan Kenziepun mengangguk. "Itu benar, Gav."
"Bagaimana bisa?"
Kenzie terlihat diam beberapa saat. Hingga tak lama mulutnya mulai terbuka dan bersuara. Ia menceritakan segalanya pada Gavin tanpa ada skip.
Dan Gavin tentu saja terperangah. "Serumit itu?"
"Iya, Gav. Dan mulai sekarang, ku serahkan Nilam kembali padamu. Jauh dilubuk hatinya, dia masih sangat mencintaimu. Dia memilihku hanya karena tak ingin mengecewakanku dan keluargaku. Dan sekarang, Tuhan membuka segala misteri-Nya. Cintaku untuknya terlarang. Dia adik kandungku, Gavin."
"Ken ...." Ditatapnya sahabatnya itu nanar dan getir. "Aku mengerti perasaanmu, Kawan." Ditepuknya pundak Kenzie.
"Kembalilah padanya. Jaga dan sayangi dia. Sementara aku akan berusaha mengubah perasaan cintaku, menjadi cinta seorang kakak pada adiknya."
Sejenak Gavin terdiam. "Baiklah. Aku berjanji. Terima kasih, Kawan."
"Ya."
Pelukan manly antar sahabatpun dilakukan keduanya penuh haru.
••••
__ADS_1
Jangan lupa jejakmu❤