Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Benci berteman Rindu


__ADS_3

Setapak langkah mengandung ragu.


Terus dan terus, menuju ragu dan ragu berikutnya. Namun henti tak diberi niat, hingga si langkah ... akhirnya sampai di titik yang mungkin seharusnya.


Berdiri kaku, memandangi sosok yang ditangkap korneanya dari kejauhan, Didy menunduk wajah teriring debaran hebat di dadanya. Pria dengan tangan terkunci borgol yang tengah berjalan dalam himpitan aparat polisi disisi kanan dan kiri juga dibelakangnya, terasa begitu menyakitkan hatinya. Seorang Tiran dengan tingkat kekejaman hampir setara cucunya Hitler. Miris!


Sungguh berat kata Ayah itu terucap. Takdir ... mengapa serumit ini menempatkannya di ruang yang penuh kemelut tanpa pendar cahaya milik sang bahagia?


Ah ... biarlah itu menjadi misteri Tuhan dengan segala aturan-Nya.


"Kamu dan juga Bibi, tunggu disini sebentar. Kakak dan Kak Ken akan menemui orang itu lebih dulu." Memengang kedua pundak bocah remaja itu, sorot mata Gavin seolah memberi penenangan.


"Iya, kakak harap kamu bisa memberikan kesaksian sesuai yang kamu lihat. Tetap tenang, oke!" Kali ini suara Kenzie.


"Iya, Kak." Ada keraguan dari sahutan singkat Didy. Matanya menunjukkan sirat antara benci, dan juga kerinduan. Kerinduan pada sosok seorang ayah, yang kini berada tak jauh darinya.


Terang saja, hari ini adalah sidang perdana bagi Dahlan. Seoarang pria yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri. Ayah yang yang belum pernah dipanggilnya ayah. Ayah yang belum tentu mengakuinya sebagai anak. Dan ayah ... yang telah menghancurkan hidup ibunya, bahkan menghabisi nyawa neneknya dengan sangat keji. Harus apa?


Biarkan waktu yang menjadi penentu segala kisah.


"Hallo, Tuan Dahlan." Dengan seulas senyum, Gavin menyapa pria berlebel psikopat itu. "Bagaimana kabar Anda hari ini?"


"Tidak perlu basa-basi dan membuang waktu. Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Tak ada raut bersahabat dari wajah itu. Agenda persidangan mungkin sudah memenuhi otak besar Dahlan.


"Baiklah, tadinya aku ingin mengajak Anda minum latte terlebih dahulu sebelum memasuki ruang sidang. Tapi sepertinya Anda tidak berkenan," ujar Gavin santai. "Baiklah kalau begitu, aku hanya ingin memberikan kejutan untukmu, Tuan."


Disaat yang sama, entah apa yang dikatakan Kenzie kepada para aparat itu, hingga mereka dengan menurut tanpa kata meninggalkan mereka bertiga, memberi ruang dengan mudah untuk berbicara secara pribadi dengan sang psakitan.


"Katakan!!" Tatapan tajam Dahlan, lebih menusuk dari sebilah kecil duri pohon salak. Menakutkan!


Namun tentu saja tak menghasilkan pengaruh apapun untuk Gavin dan Kenzie. Yaaa Lord ...


"Apakah kau ingin bertemu anakmu?"


Menanggapi pertanyaan Gavin, Dahi Dahlan mengernyit heran. "Apa maksudmu?"


Tersenyum. Menyusupkan kedua telapak tangan ke dalam saku celana. "Seorang anak laki-laki, berusia kurang lebih enam belas tahun, dia ada padaku saat ini."


"Apa kau menahan Yudi, anakku?!"


Gavin menautkan kedua alisnya. "Yudi...? Anak dari isteri ketigamu itu?"

__ADS_1


Senyuman Gavin itu entah mengapa malah terlihat seperti sebuah ejekan bagi Dahlan." Jangan coba-coba bermain-main denganku!" Dalam geramnya.


"Hey, santailah. Tidak perlu meregangkan urat-uratmu! Gunakanlah nanti didalam persidangan." Gavin menyibak sedikit ujung lengan bajunya untuk mengintip gulir waktu didalam jam tangannya. "Masih setengah jam lagi, Tuan."


Kenzie dengan tubuh bersandar ria didinding, dengan kedua tangan saling menyilang, hanya tersenyum menanggapi permainan lidah sahabatnya. Bocah nakal!


"Apa kau mengingat? Hampir enam belas tahun silam, kau pernah menanamkan benih kotormu di rahim seorang wanita?"


"Jangan bertele-tele!!" bentak Dahlan dengan kesabaran yang mulai terkikis.


"Woooo... Oke, oke!" Gavin terkekeh sekilas. Lalu kembali menarik datar wajahnya. Serius. "Begini, aku membawa dua orang saksi dalam sidang perdanamu hari ini. Saksi yang mungkin bisa membuat persidangan ini...hanya membutuhkan dua kali ketukan palu, untuk membawamu ke lubang hukuman mati."


"Katakan, Sialan!!!!" Sampai pada titik akhir kesabarannya, Dahlan mulai murka.


"Baiklah. Ken panggil mereka kemari."


Hanya anggukkan kecil, Kenzie lantas mengangkat tubuhnya lalu berjalan menuju ujung koridor.


Para petugas masih setia mengawasi dari kejauhan.


Beberapa saat kemudian ....


Dari jauh, dua sosok yang berjalan disamping Kenzie itu sudah membuat isi hati Dahlan saling berdesir. Kilatan-kilatan perih menjadi rasa yang seolah menertawakan. "Wanita itu ...." gumamnya dengan kedua bingkai mata melebar.


"Anak itu .... Bukankah dia...?"


"Ya, dia Didy, saksi kunci pembunuhan yang kau lakukan terhadap kedua orang tua angkat Nilam."


Dahlan sontak menoleh kepada pemuda yang berdiri disampingnya. "Orang tua angkat?"


"Ya, almarhum bibi Marni dan Paman Wisnu hanya orang tua sambung untuk Nilam. Karena orang tua kandungnya masih hidup dengan sehat hingga sekarang," terang Gavin santai. "Dan satu hal penting yang harus kau tahu, Kenzie, rekan bisnismu..." Tersenyum. "Dia adalah kakak kandung Nilam."


"Tidak usah terkejut. Terlalu sempit waktumu untuk membahas masalah adikku," sergah Kenzie yang kini sudah berdiri satu meter didepan Dahlan, dengan kedua orang yang dijemputnya berdiri dibelakangnya. "Masih ingat mereka?" Menggeser tubuhnya memberi ruang pandang luas untuk Dahlan melihat kedua orang dibelakangnya.


Dan pandangan itu kemudian saling bertemu. Dahlan dengan bulatan keterjutannya. Dan Kedasih dengan tatapan murkanya.


"Masih ingat aku, Juragan?!" Sinisme! Kedasih cukup mampu mengontrol emosinya.


"Ke-kedasih...."


"Kenapa kau terlihat terkejut, Don Juan?"

__ADS_1


"Ke-kenapa kau bisa ada disini?" Lalu menoleh pada bocah yang berdiri menunduk disamping wanita itu. "Bersama dia?"


Seketika! Ucapan Gavin mulai menggetarkan titik hati dan pemikiran Dahlan.


Apa kau ingin bertemu anakmu?


Seorang anak lelaki berusia enam belas tahun....


Juga ucapan Nilam ketika ia menyanderanya. Anakmu ada pada Gavin.


NGUING ... NGUING ... NGUING....


Semua berputar mengelilinginya. Seolah menggoda dan menggelitik, namun juga menyesakkan.


Kenapa bocah ini...? Bukankah dia itu anak kampung yang telah ia rusak pita suaranya tiga tahun yang lalu?


"Dia Didy. Hasil dari benih yang kau tanam dirahimku dengan cara keji!!" Oktaf suara kedasih mulai meninggi, teriring garis horizontal membentuk aliran dikedua belah pipinya.


DEGG


"Apa...?! Jadi dia....?"


"Ya, dia anakmu! Darah dagingmu, Dahlan!!"


"Tenanglah, Bibi." Kenzie merangkul pundak yang bergetar itu, lalu menuntunnya menuju sebuah deretan kursi yang tersandar didinding tak jauh dari tempat mereka berkumpul dalam lingkup ketegangan. Membiarkannya duduk dan menenangkan diri.


"Jadi kau ... puteraku ...." Dahlan berkata dengan mata berkaca. Entah bagaimana gambaran hatinya kini.


Didy mengangkat wajah. Menatap pria tua dihadapannya, dengan raut sulit ditebak. "Aku tidak tahu, apakah aku mampu menerimamu sebagai Ayah atau tidak. Apakah aku mampu menerima kenyataan bahwa ayahku adalah seorang penjahat?!"


Mungkin! Lahir dari sebuah penyesalan. Dahlan tiba-tiba menyuarakan tangisnya terisak. Menunduk dengan pundak yang berguncang. "Maafkan aku, Nak... maafkan." Kemudian tanpa babibu, ia menarik tubuh remaja itu kedalam rengkuh peluknya. "Maafkan, aku...."


Tanpa menolak ataupun membalas, Didy hanya terdiam dengan wajah yang juga berpulas air mata kesakitan. Ada perasaan aneh yang tiba bergelenyar merayap kedalam hatinya.


Inikah rasanya dipeluk seorang ayah?


Indah ... nyaman....


Gavin dan Kenzie menatap penuh haru. Keduanya sudah berdiri berdampingan.


"Aku berharap hukum tak menjatuhkan hukuman mati untuknya. Agar Didy mempunyai kesempatan lebih lama untuk bisa merasakan indahnya memiliki seorang ayah." Dalam harap Gavin berucap.

__ADS_1


"Kau benar, Gav. Aku akan melakukan sesuatu untuk itu. Setidaknya, dan sebaik-baiknya..." Diam sesaat. "Hukuman kurungan penjara seumur hidup."


"Aku percaya padamu, Ken."


__ADS_2