Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Pertunangan - Dansa


__ADS_3

Hari ini, tepatnya pukul 07 malam, sesuai kesepekatan Gavin dan Nilam, keduanya menggelar acara pertunangan secara sederhana di kediaman Gavin. Acara tersebut hanya dihadiri beberapa sanak saudara dan kerabat saja.


Hiasan bernuansa putih tampak cantik dengan bunga-bunga disekeliling ruangan besar yang di jadikan pusat acara di langsungkan itu.


Busana putih senada membalut tubuh pasangan tunangan itu dengan anggun dan sempurna.


Nilam dengan maxi dress berlengan tanggung berhias kerutan renda cantik di bagian depan, sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Di bagian rambut, cepolan apik berhias bunga melingkar disekelilingnya, menambah aura kecantikannya semakin terlihat vivid.


Tuxedo putih dihiasi dasi kupu-kupu berwarna hitam, membalut sempurna di tubuh tegap Gavin. Rambut yang disisir rapi ke belakang, semakin membuat pria itu bak pangeran di negeri dongeng.


Kakek Usman tak henti mengumbar senyum, melihat cucu yang meskipun tak ada ikatan darah dengannya, kini menemukan pelindungnya.


Disampingnya, Hana dan Murni juga terlibat dalam perasaan yang sama. Murni telah berhasil mengubur jutaan dendamnya pada gadis tak berdosa itu.


Tak lupa, Didy dan Kedasih juga menjadi bagian dari tamu undangan penting Gavin dan Nilam malam ini.


Juga Kenzie, ia yang hadir di temani Chaka, sangat terlihat mempesona. Tuxedo hitam tanpa dasi, sangat pas di porsi tubuhnya yang gagah, membuat siapapapun akan terlena di buatnya. Tak terkecuali, Hana. Kedua pasang mata indahnya seolah terbius, oleh karisma sang idola. Benar, bukankah dia hanyalah seorang fans? Miris.


(Akan ada part menarik antara Kenzie dan Hana nantinya. Jadi jangan berpaling dariku yaa...🤓)


Lelaki itu terus berjalan lurus menuju Gavin dan Nilam berada, tanpa sedikitpun matanya melirik Hana yang terus menatapnya tak lepas.


Kamu begitu sempurna, Kenzie.


Tapi aku ... siapa aku?


Tak terasa, pipi itu mulai basah tertimpa butiran bening milik sang luka. Kenapa sedikitpun ia tak mampu untuk menepis perasaannya? Kenapa malah semakin bergolak tak terkendali?


Waktu ... tolong hapus segala perasaan itu dari hatinya. Hana.


"Hey, Ken! Kau terlihat seperti Legolas si peri hutan itu," canda Gavin di iringi kekehan kecil.


Salaman khas persahabatan itu di lakukan keduanya dengan ceria. Di ikuti Chaka.


"Karena aku suka menjadi Legolas," balas Kenzie. "Hay Nilam. Semoga kamu mampu bertahan dengan pria nakal ini, sampai hari pernikahan," lanjutnya terkekeh.


Pukulan ringan di daratkan Gavin di lengan sahabatnya. "Jangan coba-coba menjadi provokator, Ken!"


Kenzie tergelak. "Tidak ada provokasi, Gav."


"Iya, hanya sebuah usaha untuk melumpuhkan," timpal Chaka santai.


"Dasar kompor berkarat!" Satu toyoran telunjuk dikening Chaka di daratkan Kenzie.

__ADS_1


"Sakit, Boss!" Mengusap keningnya.


Senyum di hadiahkan Nilam untuk lelaki yang juga menjadi sahabatnya itu. "Aku akan bertahan, Ken."


Refleks. Ketiga lelaki termasuk Chaka itu menatap ke arah Nilam.


Sesaat kemudian Gavin tersenyum, lengannya sudah terlingkar di pinggang ramping gadis itu. "Kau dengar itu, Ken? Bahkan sebelum provokasimu selesai, dia sudah mengambil keputusan." Di akhirinya dengan tawa ringan.


"Baiklah, baik, aku mengaku kalah."


"Kau memang sudah kalah dari awal, Bos!"


"Chaka ... kau ingin ku pukul ya?" Tatapan elang Kenzie menghunus wajah Chaka.


"Hehe ... ampun, Bos!"


Gavin dan Nilam menanggapi dengan kekehan ringan.


Dari jauh, terlihat Briana dan Gerry suaminya tengah bercakap dengan Murni dan Kakek Usman. Hingga sesaat kemudian wanita paruh baya yang masih terjaga kecantikannya itu mendekat ke arah ke empat pemuda itu.


"Gav, Sayang. Acara kita mulai saja," ucapnya setelah berdiri di hadapan sang putera.


"Iya, Ma." Kemudian Gavin melirik Nilam. "Ayo Sayang."


Acara tukar cincin telah di laksanakan tanpa hambatan. Kenzie dengan gesekkan biolanya juga ikut memeriahkan acara.


Hingga tiba saatnya acara romantis itu dimulai. Dansa!


Pijatan tuts piano yang dimainkan seorang lelaki muda yang sengaja dihadirkan Briana, mulai mengalun indah memenuhi ruangan.


Nilam yang pada awalnya kaku dan asing dengan gerakan dansa, kini terlihat lebih luwes, karena Gavin mengajarinya sebelum acara di mulai. Dan itu berhasil. Keduanya berdansa dalam romansa. Indah ... romantis.


Beberapa kerabat juga ikut turun ke lantai yang sama dengan Nilam dan Gavin. Mereka mulai terbuai suasana.


Ditepi ruangan, Hana, dengan segelas minuman strobery di telapak tangannya, menatap sang kakak dengan penuh syukur. "Semoga kamu bahagia selalu, kak Nilam," gumamnya tersenyum. Hingga tiba-tiba seorang lelaki datang menghampirinya.


"Mau dansa denganku, Nona?" Uluran tangan mengajak itu, tentu saja membuat Hana terkaget.


"Kamu adik sepupunya Nilam, Kan?" tanyanya.


"I- iya."


"Cantik," puji lelaki itu.

__ADS_1


Hana cukup tersipu. Siapa lelaki ini?


"Ayo, berdansa," ulangnya.


"Ta- tapi aku ...." Hana menundukkan wajahnya. "Tidak bisa Dansa."


"Akan ku ajari. Ayo."


Sejenak berpikir. Bagaimana ini? "Tapi aku takut membuatmu malu."


"Tidak akan." Lelaki itu kembali menjulurkan tangannya. "Mari."


"Baiklah."


Keduanya mulai melangkah menuju lantai dansa. Meskipun ada keraguan dalam langkah si wanita.


Gavin dan Nilam terkejut melihat kedua orang yang berjalan ke arahnya dengan telapak tangan saling tertaut. Sejenak mereka menghentikan laju tarian romantis itu.


"Hana ... Chaka ...."


"Hay Kak Nilam ... Gavin..." Senyuman kaku Hana memancing kekehan ketiga orang didekatnya itu.


"Tidak usah canggung, Hana. Ayo kita dansa bersama," ujar Gavin.


Hana ... padahal aku berharap Kenzie yang mengajaknya berdansa. Huh! Pria itu, kenapa dingin sekali. Nilam menyayangkan.


Kegiatan itupun mereka lanjutkan. Chaka mengajari gerakan demi gerakan dansa pada Hana dengan sabar, hingga beberapa saat kemudian gadis itu mulai terbawa dan terbiasa.


Disudut ruangan, Kenzie yang terduduk santai memperhatikan mereka tak lepas. Sedikit senyuman menggelitik terpulas di wajahnya ketika ia melihat Chaka memboyong Hana ke lantai dansa. "Bocah nakal," gumamnya. Namun sesaat kemudian, pandangannya kembali teralih. Satu titik yang menjadi pusat kornea matanya berlabuh ialah ... Nilam.


Ia memang telah merelakan perasaannya. Tapi bukan berarti cinta itu akan pergi dengan mudah begitu saja. Malah semakin sering ritme pertemuan dan komunikasinya dengan gadis itu, semakin besar pula perasaan cinta itu terpupuk di hatinya. Andai lelaki itu bukan Gavin, mungkin ia bisa merebutnya dengan mudah. Namun ia bukanlah pecundang yang tega menikung tanpa perasaan. Oh, Kenzie ....


Semakin lama suasana semakin terlihat romantis. Pasangan-pasangan dilantai dansa beralas marmer itu, semakin hanyut dalam irama.


Hingga tiba-tiba ....


DORRR!!!!


Mendengar dentuman keras itu, semua terkejut bukan kepalang. Mereka berhambur kesana-kemari untuk mencari tempat berlindung.


Semua yang di tugaskan dalam garis keamanan dengan sigap mencari sumber asal suara tembakan itu.


Masih bergeming di lantai dansa.

__ADS_1


"Sayang ayo!" Gavin yang hendak mengajak Nilam untuk pergi dari tempat itu, merasa ada kejanggalan. Kenapa tubuh wanita itu terasa berat dipelukannya. "Sayang ...." Tak ada sahutan, wajahnya mulai panik. Ia mencoba melepaskan pelukannya, dengan mendorong pelan pundak Nilam. Dan .... "TIDAAAKKK!!!


__ADS_2