Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Oh Mona 2


__ADS_3

Chapter ini minim percakapan.


Tetap baca. Jan Bosan! Hihi....




Sapuan angin malam membentuk ombak-ombak kecil yang berjalan ketepian.


Tak ada bulan yang bercermin. Tak ada bintang yang saling berkedip.


Malam, apakah kau sedang bersedih??



Kenzie masih berdiri berdampingan dengan Mona.


Tujuannya membawa wanita itu, masih menjadi teka-teki.



"Ibumu akan sangat kecewa, jika mengetahui kebohongan yang kau lakukan ini."


Pria itu berucap tanpa menoleh.



"Aku pastikan itu tidak akan terjadi!"



"Kau yakin?" Pertanyaan berpulas senyuman miring Kenzie itu malah terdengar seperti sebuah ejekan.



"Tidak jika kau memberitahunya."



Kenzie terkekeh. "Kau pikir aku Mak Rempong!" candanya.



Disaat seserius ini, kenapa lelaki itu malah ....


*Ah ... aku bisa gila*!



"Aku ulangi, kenapa kau tidak datang padaku? Aku bisa memberimu pekerjaan yang layak, tanpa harus kau mengotori dirimu, juga membohongi ibumu." Iras Kenzie kembali serius.



Untuk beberapa saat Mona terdiam. Menunduk dengan jari-jemari saling meremas. Lalu mulai menegakkan wajahnya kembali. "Aku takut citra perusahaanmu akan rusak karena aku. Kau tahu sendiri bukan? Namaku sudah sangat kotor di negara ini. Kalau saja kau tidak menolongku disana waktu itu, mungkin aku sudah menjalani kematianku dengan senang hati."



Kedua mata Mona menatap nyalang ke depan. Tak ada fokus. Hati dan pikirannya mulai bergerak mundur pada kejadian dua tahun lalu di Negara G.



Kesialan hidupnya bermula ketika dirinya melakukan meeting kerjasama dengan sebuah perusahaan asing di negara itu. Karena presentase yang di ajukannya memuaskan, Direktur perusahaan bergender lelaki bernama Edward itu, tertarik padanya.



Hingga tanpa pikir panjang, lelaki bule itu menawari Mona untuk menjadi sekretarisnya. Dan memintanya untuk meninggalkan perusahaan sebelumnya. Tentu saja dengan perjanjian gaji yang menggiurkan.



Mona yang pada masa itu membutuhkan uang banyak untuk biaya pengobatan sang ibu, tentu saja tergoda. Dan akhirnya ia menerima tawaran itu dengan senang hati.



Dan dari sanalah kehancurannya dimulai.



Satu bulan pertama di negara itu, ia menjalani aktifitas kerjanya seperti biasa, tanpa apapun yang membuatnya terganggu.



Hingga suatu waktu, Edward menyatakan cinta padanya. Seribu rayu di layangakan lelaki itu. Rumah, fasilitas mewah dan lainnya, tak luput menjadi bagian dari caranya mengambil hati Mona.



Mona yang polos dan workaholic itu akhirnya tergoda dan tunduk. Ia menerima lelaki itu tanpa menggali latar belakangnya terlebih dahulu.



Semakin lama, cinta membuatnya semakin buta. Ia bahkan rela menyerahkan tubuhnya pada lelaki itu. Hingga berujung kehamilan.


__ADS_1


Hingga suatu malam dengan senyum mengembang, Mona mendatangi Edward ke kediamannya. Meskipun lelaki itu selalu melarangnya dengan berbagai alasan. Namun kali ini ia menegakkan tekad. Ia akan memberitahu kehamilannya pada lelaki itu langsung ke rumah mewahnya.



Dengan alasan pekerjaan ia berhasil mengelabui satpam dan pembantu Edward. Ia berjalan menuju sebuah kamar yang di tunjuk ART itu.



Pintu itu kebetulan tak terkunci. Ia menyibaknya perlahan dan hati-hati.



Dan yang dilihatnya adalah ....



Sebuah pergumulan panas antara lelaki yng di tujunya dengan seorang wanita, yang tak lain adalah isterinya.



Dari sanalah ia mengetahui segalanya. Bahwa lelaki yang ia jadikan penunjang harapan itu, sudah berkeluarga. Bahkan memiliki seorang anak yang sudah berusia tiga tahun.



Permintaan pertanggung jawabannya, tentu saja ditolak. Edward tak mengakui bayi dalam kandungannya, dan malah berbalik melaporkannya ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik.


Karena isteri Edward adalah seorang publik figur, mudah untuk berita itu tersebar luas hingga ke negara asal Mona.



Disana Mona terus berusaha menghindar dari media dan kejaran polisi. Hingga sampailah ia dititik lelahnya.



Bunuh diri!



Berdiri tegak di tepi jembatan yang cukup tinggi, ia siap menerjangkan tubuhnya ke dasar.



Namun.



GEPP!!



"Bodoh! Apa yang kau lakukan?!" teriak Kenzie kala itu. Nafasnya memburu geram.



"Kenapa kau menyelamatkanku?! Aku sudah tidak ingin hidup!"



Bangkit, dan berjalan kesana-kemari, Kenzie berusaha menetralkan perasaan kegetnya.



"Anakku ...."


Suara lirih itu mencuri perhatian Kenzie untuk kembali menoleh. Seketika itu matanya lebar membelalak. Darah segar mengalir di bagian bawah wanita yang terduduk lesu di hadapanya. "Ya, Tuhan ...."


Rumah sakit menjadi tujuannya setelah itu.



Beberapa hari menjalani pemulihan, akhirnya Mona di izinkan pulang. Dan yang membuatnya terkejut adalah, ia pulang langsung bersama Kenzie ke negara asal mereka, tanpa ia menjalani hukuman apapun di negara itu.



Rupanya selama wanita itu dirawat, Kenzie yang cerdas melakukan berbagai cara untuk membebaskannya dari tuntutan hukum di negara itu. Dan tentu saja berhasil!



Dan disinilah mereka berdiri saat ini.



Setelah bertahan dengan kepala tegak kedepan, akhirnya bulatan berisi otak itu bergeser, dan tatapan dengan seringai di luruskannya ke arah Mona. "Kau pikir tidak akan ada kehidupan lagi setelah mati?" terdiam sesaat. "Tidak Mona! Hukuman penghakiman Tuhan itu akan lebih berat dari yang kau jalani saat itu."



"Aku tahu."



"Lalu?"


__ADS_1


"Aku tak perduli. Sekarang aku sudah nyaman dengan apa yang aku jalani. Ada kebahagiaan saat aku mendapatkan uang dari para pria itu. Meskipun tubuhku taruhannya." Mona tersenyum penuh arti.



Ada kekehan kecil terdengar dari mulut Kenzie.


"Awalnya aku ingin bertemu hanya untuk mengetahui keadaanmu. Tapi sepertinya sekarang niatku bertambah." Smirk.



Mona mengernyit heran. "Maksudmu?"



"Bantu aku menyelidiki sesuatu."



"Apa itu?" Mona ingin tahu. " Tapi ada upah, kan?" berbalut senyuman nakal.



"Bukan sekedar upah. Selain kau mendapat uang dariku ... kalau kau cukup cerdas, kau juga bisa mendapatkan yang lebih banyak dari orang itu."



"Orang itu?"



"Ya."



"Lalu apa yang harus aku lakukan?"


Selanjutnya Kenzie menceritakan segala tujuannya.



"Itu mudah," ucap Mona meyakinkan.



"Bagus. Tapi kau harus tahu lebih dulu."



"Apa?"



"Orang itu seorang Tirani. Jika sedikit saja kau melakukan kesalahan. Maka nyawamu taruhannya."



Wajah terkejut dipasang Mona. "Benarkah?"



"Tapi kau tenang saja. Kalau kau melakukannya dengan halus, dan tetap mengikuti instruksi dariku. Maka ku pastikan kau tetap aman."



Sesaat Mona menjalankan pikirnya. Lalu .... "Baiklah. Aku akan melakukannya sesuai yang kau inginkan."



"Good! Dengan sedikit godaan dan menjilat, kau pasti bisa menaklukkan pria tua itu dengan mudah."



"Apa?! Jadi dia adalah seorang pria tua?"



"Jangan terkejut. Aku rasa Dahlan seribu kali lebih baik, dari para lelaki pelangganmu di club itu. Meskipun usianya tua, tapi wajahnya masih terlihat bugar. Dan juga ... tampan tentunya."



Mona terkekeh. "Aku rasa kau mulai mengerti duniaku, Kenzie," ujarnya. "Lalu kapan aku memulainya?"



"Segera. Aku harus menyiapkan segalanya terlebih dahulu seapik mungkin. Termasuk alat penyadap yang akan kupasang di tubuhmu nanti."



"Aku percaya padamu."



***Flashback off***

__ADS_1


__ADS_2