
Matahari....
Merambat perlahan meninggalkan jejak dari masa menuju masa. Naik.
Ia akan terus bergerak.
Seperti hari sebelumnya, hari ini dan juga seterusnya, sampai Tuhan menutup segala kisah.
Dikamar seluas tiga kali tiga meter itu, hangat cahaya surya mulai mengusik Kenzie. Mengangkat tiga perempat tubuhnya dengan bertumpu pada siku yang dilipat dan tangan lainnya menghalangi silau yang menghunus lurus ke arah wajahnya.
"Jam berapa ini?" gumamnya. Dan mulai menegakkan diri terduduk sempurna. Aneh, kenapa tubuh dan tulang-tulangnya terasa begitu ringsek dan linu? Cukup menimbulkan ringisan kecil diwajahnya.
Disibaknya selimut yang menutupi setengah tubuhnya, sepulas kernyitan terlihat mengambang ....
"Ngngg ...?" Mulai menyadari keganjilan dalam dirinya.
Tubuh yang polos, baju yang terserak dilantai, kamar yang berbeda, dan .... "Bercak darah?" Disentuhnnya bercak berwarna merah yang terlukis di atas sepray yang terpasang dikasur yang kini dudukinya itu. Seketika! Wajahnya berubah menegang.
Pikirannya membentuk klise alur mundur pada kejadian semalam. Klub malam, tegukkan minuman, nyetir ugal-ugalan, hujan, dan .... "Hana!" Nama itu cukup mengejut ingatannya. "Ya, Tuhaann ... semalam dia menghampiriku. Membuatkan aku teh, lalu aku ...." Kedua bola matanya membelalak seraya menggeleng. "Tuhan, apa yang telah aku lakukan padanya?"
Bercakan merah itu cukup mencongkel jantung dan hatinya hingga terasa terlepas dan menyakitkan. Jahat! Ia telah merenggut mahkota berharga seorang wanita. Wanita yang tidak ada dalam daftar masalahnya sama sekali.
Lebih dari runyam!
Sebuah kisah baru telah menunggunya.
Tanpa berpikir lagi, ia bergegas turun dari ranjang yang menjadi saksi kegilaan itu berlangsung.
Andai bisa dilihat, mungkin kasur empuk itu sedang tertawa bahagia kala melihat Kenzie yang berlari keluar tanpa busana menuju lantai atas dimana baju-bajunya tersimpan.
Usai membersihkan diri dan berpakaian sempurna, Lelaki itu langsung menancap gas langkahnya menuju rumah pojok dimana Hana dan keluarganya tinggal.
Sesampainya, berbekal permintaan maaf, dan pertanggung jawabannya, Kenzie mendekati pintu yang tak tertutup itu. Namun baru saja satu langkah kakinya beranjak, sebuah suara tangisan didengarnya samar.
"Hana, kemana kamu, Nak? Kenapa kamu meninggalkan Ibu...." Tangis Murni terdengar semakin mengeras.
"Tenang, Murni, kita akan segera mencarinya." Suara penenangan Kakek Usman. Ia baru saja pulang tadi pagi dari rumah Kenzie, usai diantar supir keluarga Nilam tersebut.
Kalimat-kalimat itu cukup membuat jantung Kenzie berdentam tak beraturan. "Hana...." gumamnya getir. Dipapahnya langkah pelan memasuki rumah kecil itu. "Kakek, Bibi, ada apa?"
Anak dan ayah itu sontak menoleh ke arahnya yang kini berdiri menjulang diambang pintu.
"Nak Kenzie, kamu disini?" Pertanyaan Kakek memutus pertanyaan Kenzie sebelumnya.
"Iya, Kek. Aku semalaman disini."
"Nak Kenzie, Hana hilang!" Murni teriring derai air yang mengalir dari mata ke pipinya.
Kenzie tersentak. "Apa?! Maksud Bibi?" Dalam kerutan dalam di wajahnya.
"Iya, Nak. Hana pergi dari sini. Dia meninggalkan surat singkat ini dikamarnya," terang Murni.
Tanpa membalas kata, Kenzie menarik kertas yang digenggam Murni itu.
Ibu, Kakek, dan Kak Nilam.
Maafkan aku ... aku pergi tanpa pamit.
Maafkan aku juga, karena aku tidak bisa menjelaskan alasanku pergi dari tempat itu.
Sampaikan sejuta maafku pada Kak Nilam, karena mungkin aku tidak akan bisa datang ke acara pernikahannya.
Sampaikan juga rasa terima kasihku pada Kenzie yang sudah memberi tempat yang nyaman untuk kita.
Aku sayang kalian semua....
^^^~Hana~^^^
"Hana ...." gumam getir Kenzie. Gadis itu pergi dan mengalah tanpa syarat. Tapi pernikahannya dan Nilam tidak akan pernah terjadi.
"Aku mencintaimu, Ken."
__ADS_1
Kalimat itu terus berputar menjejali pikiran dan hatinya.
Irama jantungnya terus bertabuh menertawakan, teriring rasa penyesalan menyeruak, menggema didalam dada pria itu. Hana pergi pasti karena dirinya. Karena kebiadabannya. Karena kebodohannya.
Diremasnya kertas itu dalam kepalan kerasnya. "Aku akan mencarinya, Bibi. Kalian tenang saja," tekad Kenzie.
Berlari menuju mobilnya yang selalu siap ditungganginya, Kenzie kembali memacu robot beroda itu dengan tergesa.
Mulai disusurnya jalanan perlahan. Matanya tak henti menyapu setiap detail yang berada dipinggir kanan dan kiri jalanan yang dilaluinya. Jauh dan semakin jauh. Sesekali ia turun untuk menanyakan sosok yang dicarinya pada setiap orang yang ditemuinya, berbekal sebuah foto yang diambilnya dari akun sosial media Nilam.
Namun sayang ... tunas belum menghasilkan buah. Ia mulai frustasi, seiring waktu yang mulai menjejak sore. "Kemana kamu, Hana?" Diusapnya wajahnya kasar.
...•••...
Duduk termenung disebuah kursi kayu yang entah dimana. Berjejer rumah-rumah penduduk dengan segala hiruk pikuknya tak jauh darinya, Hana dalam kebingungannya. "Aku harus kemana?" gumamnya getir.
Sebuah pilihan yang mungkin akan menimbulkan ejekan. Berani minggat tapi akhirnya bingung juga. Tepok jidat!
"Aku harus mencari pekerjaan."
Diangkatnya kembali tas jinjing berisi beberapa helai pakaian didalamnya, dan tas kecil diselempangnya. Kembali memapah langkahnya gontai.
Entah akan kemana.
Perut yang belum terisi apapun itu kembali berteriak meminta haknya. Namun apa mau dikata, tak sepeserpun uang digenggamnya. Dielusnya perut rata itu berulang. Lapar menerjangnya hebat.
Melangkah dalam lamunan, dan tiba-tiba ....
BUGG!
Hantaman antar tubuh tak bisa dielak.
Hana terjatuh.
"Maaf, maafkan aku, Nona." Seraya membantu Hana untuk bangkit. "Nona tidak apa-apa, kan?"
Usai mengibas tangan membersihkan sisa kotoran tanah yang menempel dirok tanggungnya, Hana mendongak. Didapatinya seorang pemuda yang tengah menatapnya cemas. "Tidak, aku tidak apa-apa," jawabnya seadanya.
Hana mengangguk, "Iya." Membungkukkan sedikit tubuhnya. "Aku permisi."
Namun....
GEPP!!
"Nona!" Tubuh Hana terkulai lemas. Dan dengan gerakan cepat, si pemuda menangkap tubuh limbung itu. "Nona, kamu baik-baik saja?!" Di tepuknya pipi Hana pelan dan berulang. Seolah kehabisan tenaga, tubuh gadis itu tetap terkulai dalam pejam ayamnya.
Kini posisi Hana dalam keadaan terbaring ditanah, dengan paha lelaki asing itu menjadi penyangga kepalanya. Terlihat ia mengeluarkan ponselnya. "Hallo, bawakan mobilku kemari .... Disamping perumahan Cempaka putih." Setelah melakukan panggilannya, ia kembali menatap Hana yang mengenaskan. "Kasihan kamu, Nona."
Tak lama, sebuah mobil berjenis Wuling Rongguang pickup berhenti tak jauh darinya. Lalu turunlah seorang gadis dengan penampilan tomboynya. "Ada apa? Siapa dia?" Wajahnya terjurus pada gadis dalam pangkuan pemuda yang dikenalnya itu.
Tak serta merta, dan tanpa menggubris gadis berambut cepak itu, lelaki muda berusia 24 tahunan itu mengangkat tubuh Hana kedalam gendongannya. "Bawakan tasnya." Ia suda berjalan menuju mobilnya.
"Siapa wanita itu? Merepotkan!" umpat si gadis tomboy.
..........
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya pemuda yang belum diketahui namanya itu pada wanita berseragam dokter.
"Nona ini baik-baik saja, dia hanya dehidrasi dan lemas. Sepertinya belum ada asupan makanan apapun didalam perutnya."
"Benarkah?"
"Iya, Tuan. Cukup berikan makanan yang bergizi seimbang dan air putih yang cukup. Ia akan pulih kembali."
"Baiklah, Dok, terimakasih."
"Sama-sama, Tuan. kalau begitu saya permisi."
"Silahkan, Dok."
Dihampirinya Hana yang masih terpejam dalam baringnya. "Gadis yang manis." Lalu tersenyum. "Tapi kenapa ia bisa sampai kelaparan?"
__ADS_1
"Mungkin dia habis kecopetan!" ujar si gadis tomboy yang berdiri bersidekap lengan dan bersender pada dinding disamping pintu, santai.
"Benar juga. Tadi ia terlihat kebingungan sebelum akhirnya pinsan."
Ketika itu juga, gerakkan Hana kecil terlihat seolah hanya kelebat bayangan. Namun pemuda yang duduk disampingnya itu cukup menyadarinya. "Nona, kau sadar?"
Hana masih terdiam, dikerjapkannya matanya memperjelas pandangan, lalu menyapu sekeliling. "Ada dimana, aku?"
"Kamu di klinik."
Jawaban itu membuat Hana menujukan tatapannya pada si penjawab. "Kamu?"
Lelaki itu tersenyum. Di julurkannya telapak tangannya ke arah Hana. "Kenalkan, aku Jian. Dan itu..." Wajahnya terarah pada si gadis tomboy yang masih setia dengan tubuh tegaknya. "Ami, Temanku. Siapa namamu?"
Sesaat Hana terdiam. "Hana, namaku Hana." Dengan suara lembut dan lirihnya.
"Hana, nama yang cantik," puji pemuda bernama Jian tersebut. "Umm ... maaf, sebelumnya. Kamu, darimana dan akan kemana?" tanyanya ingin tahu.
"Aku ...." Wajah pucat Hana berubah muram.
"Hey, bodoh! Dokter bilang dia butuh asupan gizi. Sana cari makanan dan buah-buahan!" seloroh gadis tomboy bernama Ami tersebut.
"Ah iya, kau benar kutu," Jian tersadar. "Tunggu disini akan belikan makanan dulu. Kamu tunggu disini bersama Ami, ya."
Cukup bingung Hana menanggapi situasi. Hanya sebuah anggukan yang akhirnya dijadikan jawaban.
...........
Usai mengisi perutnya dan dinyatakan membaik, Jian membawa Hana keluar dari klinik itu.
Dalam perjalanan didalam mobil Jian.
"Umm, sekarang bisa ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Jian memulai percakapan.
Bingung harus menjawab, cukup lama Hana terdiam dalam tunduknya. "Aku ... aku pergi dari rumah karena suatu hal. Dan aku tidak bisa menceritakan alasannya pada kalian."
Jian tersenyum. "Baiklah, tak apa. Lalu akan kemana tujuanmu sekarang? Aku bisa mengantarmu."
"Hey, pekerjaan di resto kau tinggalkan begitu saja. Sekarang kau malah akan mengantarkan gadis asing ini?!" pungkas Ami ketus.
"Am ... kau ingat, aku bosnya. Terserah aku, lah!" Jian mendelik.
"Tidak, aku tidak punya tujuan. Jadi sebaiknya kalian turunkan saja aku disini." Hana dalam ketidaknyamanannya.
"Tidak!" seru Jian. "Memangnya kamu punya uang untuk bekalmu?"
"Iya, tadi saja kau sampai pinsan karena kelaparan," timpal Ami dengan tetap fokus pada stirnya.
Hana tersentak. Benar, ia tak punya bekal uang sepeserpun. Tapi tak mungkin juga ia merepotkan pemuda dan sahabatnya itu kembali. "Aku memang tidak punya uang. Tapi aku akan mencoba mencari pekerjaan."
"Pekerjaan? Syarat apa yang kau bawa, untuk mencari pekerjaan?" Pertanyaan Ami cukup menukik.
Hana kembali menunduk. "Menjadi kulipun aku tidak apa-apa." Dalam sebaris keraguan.
Jian tercenung. Gadis ini ... "Kamu kerja ditempatku saja." Angin segar itu sudah ada dikepalanya sedari tadi. Namun ia hanya menunggu jawaban Hana. Kesulitan diraut wajah gadis itu cukup dimengertinya.
Hana tersentak penuh binar. "Benarkah? Ada pekerjaan untukku?"
"Ya."
"Aku mau. Terima kasih." Hana tersenyum penuh syukur.
"Sama-sama, Hana." Sangat manis. Jian membalas senyum.
Fix! Kenzie berganti rival.
...°°°°...
Cukup satu bab untuk hari ini. Jangan lupa jejakmu.
...❤❤❤...
__ADS_1