Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Bukan Dejavu


__ADS_3

"Kau harus cari cara yang halus, tanpa menimbulkan kecurigaan Dahlan." Memasukkan sebelah tangan ke dalam saku celana, dan secangkir teh panas di tangan lainnya, Kenzie melangkah mendekati Gavin yang duduk bersilang kaki di sofa di dalam ruang kerjanya. Lalu ikut medudukkan bokongnya di sebelah sahabatnya itu.


"Kakek Usman bilang, Murni di jadikan emban di sana, untuk mengganti kerugian Dahlan yang di sebabkannya. Sebenarnya aku malas menolong wanita itu, mengingat banyaknya kejahatan yang telah di lakukannya pada Nilam."


"Tapi Nilam dengan segala kesucian hatinya, berhasil mengusir jiwa iblismu." pungkas Kenzie dalam smirk khas mengejek.


Gavin tersenyum kecut. "Kau selalu benar, Ken." Meraih segelas kopi yang terhidang di meja, lalu menyesapnya lembut. "Oiya, soal hati Nilam ... sepertinya aku sudah maju sebagai pemenang." Melirik Kenzie dengan pulasan senyuman puas.


Kenzie terkekeh menanggapi ucapan si pemenang. "Selamat, kawan. Jaga dan sayangi dia. Jika kau gagal, maka aku tak segan merebutnya darimu."


Ada sebersit kilatan perih di hati Kenzie kala mengucap kalimat awalnya.


Apa hendak di kata, cinta miliknya tak mungkin akan bersambut. Sebentuk hati yang ingin di genggamnya telah di rengkuh sahabatnya sendiri. Dan itu jelas telah di sadarinya sejak awal.


Mempersiapkan hati seluas samudera, menempatkan kerelaan di tengah pusarannya. Fix, itu cara terbaik!


"Tidak akan! Aku sudah menyerahkan seluruh hidupku untuknya. Termasuk menyelamatkan wanita iblis itu dari Dahlan."


"Aku percaya padamu. Dan untuk kasus pembunuhan orang tua angkat Nilam. Ak--"


"Orang tua angkat? Maksudmu?" potong Gavin cepat.


Mengerutkan kening. "Kau tidak tahu?"


Satu gelengan kepala Gavin membentuk jawaban untuk pertanyaan Kenzie. "Nilam tidak bercerita padamu?"


"Tidak, Ken."


Kenzie bangkit dari tempatnya. Melangkah menuju kaca besar yang menampilkan keindahan kota di ketinggian. "Aku mengetahuinya dari Hana."


"Ceritakan padaku." Berdiri sejajar dengan Kenzie. Menatap satu titik yang sama.


Seperti dejavu, moment semacam ini pernah di lakukan keduanya, kala memperebutkan gadis yang belum jelas rimbanya pada masa itu. Berdiri berdampingan sebagai rival. Bedanya, kini mereka berdiri sebagai partner. Namun masih dalam tema yang sama ... Nilam.


"21 tahun yang lalu, Nilam baby di temukan di tepi jalanan menuju kota, oleh Almarhum paman Wisnu, seseorang yang di ketahui Nilam sebagai ayahnya. Karena memang pria itu beserta isterinya lah yang selanjutnya menjadi orang tua untuk Nilam yang sebatang kara. Hingga kejadian naas itu terjadi tiga tahun yang lalu."


Mendengarkan tanpa menyela, Gavin terdiam. Hembusan nafas kasar mulai terdengar. Rasa ingin melindungi tumbuh semakin kuat. Gadis semanis dan selugu Nilam, harus merasakan hidup sepahit dan sekeras itu. Miris.


"Orang tua bodoh mana, yang tega membuang dan menelantarkan anaknya sendiri? Jika aku menemukan mereka, akan ku buat perhitungan yang setimpal."


"Tenang, kawan. Sebelum itu kau harus tahu dulu, alasan apa yang membuat mereka membuang anaknya. Mungkin saja, kan, Nilam itu korban penculikan?"


"Tapi itu tetap tak bisa di benarkan, Gav. Jikapun Nilam adalah benar korban penculikan, lalu kenapa orang tuanya tak bisa menemukannya?!" seru Gavin sengit. "Dan untuk pembunuh Paman Wisnu dan Bibi Marni, aku bersumpah akan menghunuskan pedangku, tepat di titik jantungnya."

__ADS_1


"Kendalikan emosimu, Gav. Aku tahu kau mampu melakukan itu. Tapi kau harus tahu, Nilam tidak suka kekerasan. Jiwanya selalu bersih tanpa dendam. Baginya memaafkan adalah cara yang paling benar."


Mendengar penuturan Kenzie, Gavin terdiam. Melirik sahabat di sampingnya itu, lalu dengan kasar menyapukan telapak tangannya ke wajahnya. "Kau benar, Ken."


Satu tepukan penenangan di daratkan Kenzie di pundak Gavin. "Jangan sampai cinta menghancurkan kewarasanmu. Kau ini pemimpin. Lakukan apapun sebijak mungkin. Ingat, kau juga masih memiliki kedua orang tua yang harus kau muliakan kehadirannya. Buat Nilam berharga di hadapan mereka."


Senyuman bangga terpulas indah di wajah Gavin. "Aku selalu ingin menjadi sepertimu, Ken," ujarnya. "Dan kau tahu, aku bahkan sudah meminta Nilam untuk menikah denganku," lanjutnya terkekeh.


"Benarkah?"


"Ya."


"Lalu, apa dia bersedia?"


Gavin mengangguk berhias senyuman bahagia sebagai jawaban.


"Syukurlah. Bawa segera dia ke hadapan orang tuamu. Jangan sampai kau melangkah tanpa restu mereka."


Bugg!!


Gavin menerjang tubuh kenzie keras, menghadiahkan pelukan kebanggaan pada sahabat yang selalu mampu membuatnya tunduk pada bijaknya. "Terimakasih, Ken. Kau ini memang sahabat yang selalu bisa berperan sebagai kakakku." Lalu melepaskan pelukannya.


"Karena aku memang lebih tua darimu, bodoh!" balas Kenzie seraya menoyor kening Gavin.


"Aku masih 26 tahun, Gavin. Ingat itu! Kalau aku mau, wanita manapun bisa ku dapatkan. Bahkan tanpa ku kejar, mereka sudah dengan sukarela naik ke ranjangku."


"Tentu, aku percaya. Maka dari itu, aku tunggu kau menggandeng salah satunya di acara pernikahanku dengan Nilam nanti." Berujar dengan tawa seraya berbalik badan meninggalkan Kenzie yang ....


Melempar gulungan kertas yang di ambilnya dari tempat sampah ke arah Gavin. "Kau lihat saja, Gavin. Bahkan tanganku akan melingkar di pinggang ramping Selena Gomez di pernikahanmu itu!" seru Kenzie kesal.


Tunggu! Mengapa harus kesal? Bukankah seluruh harapan terbaik sudah di rapalkannya untuk kelangsungan hubungan Gavin dan Nilam?


Hmm....


Sepertinya si bodoh cemburu itu masih enggan untuk pergi. Sialaaannn!!


****


Menghentakkan sepatu yang di kenakannya pelan dan hati-hati, Gavin mengendap layaknya seorang maling.


Setelah mendekat, hatinya seketika menghangat. Mata indah itu tengah terpejam sangat tenang. Rasa lelah akibat perjalanan jauh, membuatnya tak bisa menolak kantuk. Nilam tertidur di atas sofa.


Gavin berjongkok di samping tubuh yang terbaring itu. Dan ... cup! Satu kecupan di hadiahkannya di kening Nilam. Memandangi anugerah Tuhan itu tak lepas. Hingga tanpa terasa, jarinya mulai menyusur pelan garis wajah oval itu lembut, selembut kapas.

__ADS_1


Tetapi gerakannya itu membuat bola penglihatan Nilam terbuka seketika. "Gavin."


Dan pria itu dengan senyumnya. "Hay," balasnya. "Lanjutkan saja. Sepertinya kamu lelah sekali."


Nilam mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu bangkit dan terduduk. "Kenapa lama sekali?"


Meraih telapak tangan Nilam, lalu mengecupnya sekilas. "Maaf membuatmu menunggu. Banyak hal yang harus aku bicarakan dengan Kenzie," tutur Gavin lalu duduk di samping gadis itu.


"Tak apa," balas Nilam. "Umm, Gav ...." Ia dengan tampilan wajah imutnya.


"Ya, ada apa?"


"Aku ...."


"Hmm?"


"Aku ... aku lapar."


"Haha .... Ya, Tuhan ...." Mencubit hidung Nilam gemas. "Kamu lapar, hmm? Baiklah, ayo," ajak Gavin, seraya berdiri menarik lengan pujaan hatinya itu.


Nilam mendongak. "Kemana?"


"Ke toko semen."


"Semen? Untuk apa?" tanya Nilam polos.


"Ya, Tuhan .... Apakah rasa lapar yang akut, membuat kepalamu jadi bekerja selambat ini? Tentu saja ke restoran, Sayang. Kita makan, bukan membuat adukan semen."


Memberengut kesal, dengan bibir di manyun-manyunkan. "Aku kan cuma bertanya."


Gavin membungkukan tubuhnya. Telapak tangannya terangkat menarik dagu Nilam, hingga menyisakan hanya sejengkal jarak antara wajah keduanya. "Bibirmu jangan di buat seperti itu," suara pelan namun terdengar berat.


"Ke- kenapa?"


Tak ada jawaban.


Seiring jarum jam yang berputar dari detik berganti menit, satu telapak tangan Gavin lainnya yang menggantung, kini telah berpindah ke tengkuk Nilam. Sisa jarak itu kini terkikis habis.


Dalam irama syahdu yang mendayu, kedua bibir itu saling beradu. Tak ada nafsu. Sebuah ciuman yang terlahir murni dari kalbu.


Cukup lama bertahan dalam romansa. Hingga sesaat kemudian, Gavin mulai merasakan ada perasaan lain dalam dirinya. Wajahnya berubah resah. Terjangan naluri dalam dirinya mulai mencuat ke permukaan. Seketika ia melepas ciumannya dari bibir Nilam. Dan ....


"Pinggangku sakit ...."

__ADS_1


🤓🤓🤓


__ADS_2