Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Misi lanjutan - Oh ... Anita


__ADS_3

"Gav ... tidak bisakah, aku ikut denganmu dan Kenzie?" tanya Nilam.


"Maaf, Sayang. Tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkanmu dalam bahaya." Gavin mencoba meyakinkan.


Keduanya kini berdiri di ambang pintu masuk apartemen Gavin.


"Baiklah. Tapi kamu harus hati-hati."


"Tentu saja, Sayang. Aku sudah pesankan makanan, sebentar lagi pasti datang. Tidak apa-apa, ya, makan sendiri?" tanya Gavin seraya menangkup pipi halus kekasihnya itu.


Senyuman manis tersungging di bibir Nilam. "Iya, tidak apa-apa. Pergilah, kasian Kenzie terlalu lama menunggumu."


Gavin memberungut. "Jangan peduli padanya!"


"Kenapa? Sekarang dia, kan, temanku juga."


"Teman." Tersenyum. "Baiklah aku pergi dulu. Baik-baik di sini. Setelah selesai aku pasti langsung kembali." Satu kecupan di daratkan Gavin di kening Nilam.


"Iya, hati-hati."


****


Beberapa waktu kemudian ....


Mobil Kenzie sudah terparkir di halaman sebuah rumah yang letaknya sedikit terpencil di perbatasan kota. Dua buah mini bus juga terparkir berjejer di sebelah nya.


Kali ini, Gavin mengambil giliran untuk tak membawa mobilnya.


"Tuan Gavin, Tuan Kenzie." Suara sambutan seorang lelaki yang sudah berdiri di depan pintu masuk rumah itu di dampingi satu lelaki lain di sampingnya.


"Mana gadis-gadis itu, Chaka?"


"Di dalam, Tuan."


"Sudah beri mereka makan?"


"Sudah, Tuan."


"Bagus," ucap Gavin. "Bagaimana, apa ada yang mencurigakan sepanjang perjalanan kalian membawa gadis-gadis itu?"


"Sebelumnya ada, Tuan. Sebuah pick up hitam terus membuntuti kami di belakang." Jawaban di berikan lelaki yang berdiri di samping Chaka.


"Dugaanmu benar, Ken." Gavin melirik Kenzie yang masih terdiam menanggapi. "Lalu?" lanjutnya ingin tahu.


"Syukurnya kami berhasil menghindar, dengan menambah kecepatan dan mengambil arah lain. Dari sana sepertinya mereka kehilangan jejak." Chaka mengambil jawaban.


"Bagus. Tidak sia-sia aku mempercayakan ini pada kalian. Sekarang aku ingin menemui gadis-gadis itu."


"Silahkan, Tuan." Mengarahkan telapak tangannya ke arah pintu masuk.


Di dalam rumah yang tidak terlalu besar itu.


Di alas sebuah permadani, di dalam ruangan yang cukup luas, gadis-gadis itu duduk berkumpul. Terdengar obrolan-obrolan kecil yang sesekali di sertai gelak tawa renyah.


Sepertinya keluar dari rumah Dahlan, adalah harapan utama di hati mereka. Terbukti, meskipun belum tau pasti apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya, senyuman-senyuman senang mulai berpendar di wajah lusuh gadis-gadis malang itu.


Dan sukses! Kedatangan Gavin dan Kenzie ke ruangan itu, membuat mulut-mulut yang sebelumnya penuh cengkrama , kini bungkam seketika. Sebagian menunduk takut, sebagian lainnya menatap tak lepas. Tentu saja berisi kekaguman yang hakiki.


"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Kenzie yang sudah terduduk berdampingan dengan Gavin di sebuah sofa yang di sediakan Chaka khusus untuk mereka.


"Ka- kami ... baik, Tuan." Jawaban kaku salah satu di antara mereka.


"Jangan takut. Kami bukan orang jahat," ucap Kenzie dalam rangka menghapus ketakutan di wajah gadis-gadis itu.


"Kalau benar kalian orang baik, kenapa membawa kami ke sini, bukan mengantarkan kami pada orang tua kami?" Salah satu di antara mereka memberanikan diri.


Kenzie tersenyum. "Bisa saja kami mengantarkan kalian pulang, dan membiarkan kalian melepas rindu dengan keluarga dan orang tua kalian. Tapi jangan menyesal, jika semua itu, akan terjadi hanya sesaat saja."

__ADS_1


"Ma- maksud Tuan?"


"Tentu saja Dahlan akan membawa kalian kembali padanya." Lontaran jawaban Kenzie yang otomatis mencuatkan kembali perasaan ngeri di wajah mereka.


"A- apa?!" Mata-mata itu saling melempar pandang.


"Dan satu lagi, selain kalian akan di bawa kembali secara paksa oleh Dahlan, kalian juga akan menciptakan kehancuran untuk perusahaanku." Gavin dengan raut serius.


"Dan itu artinya, kalian telah membuat usaha kami untuk membebaskan kalian dari Dahlan menjadi sia-sia," timpal Kenzie. "Kalian tahu, kami bahkan harus rela mengorbankan banyak uang untuk melakukan ini," sambungnya.


"Benarkah? Lalu apa yang harus kami lakukan di sini?"


Kenzie menegakkan tubuhnya. "Begini, aku sedang merintis sebuah usaha garment di kota B, kalian akan ku salurkan mejadi pekerja di sana."


"Benarkah itu, Tuan?"


Gavin tersenyum. "Itu benar. Kalian bisa mendapatkan uang dari sana untuk kalian menyambung hidup sementara, sebelum kalian kembali pada keluarga kalian."


"Berapa lama, Tuan?"


"Sampai kami berhasil menjebloskan Dahlan ke penjara. Ku harap kalian bersabar."


"Benar, dan untuk keluarga kalian di desa, secepatnya kami akan mengabari mereka, bahwa kalian baik-baik saja." Kenzie menambahkan.


"Baiklah, terimakasih, Tuan."


"Iya, terima kasih."


"Lalu kapan kami mulai bekerja?"


"Besok pagi. Mereka akan mengantarkan kalian." Kenzie mengarahkan pandangannya pada Chaka dan temannya yang berdiri tepat di sampingnya. "Dan jangan khawatir, di sana ada rumah singgah yang bisa kalian tempati untuk beristirahat."


Wajah-wajah itu saling melempar senyum. Senyuman-senyuman yang kemudian menular pada Ke empat lelaki di hadapan mereka.


****


Senandung kecil mendayu-mendayu terdengar merdu dari arah dapur. Nilam, dengan spon yang di penuhi busa sabun di gosok-gosokkannya pada sebuah piring di tangannya. Ya, ia tengah asyik mencuci piring di depan wastafel usai melakukan ritual pengisian lambungnya.


Dan ketika itu tiba-tiba ....


"Siapa, kamu?" Pertanyaan itu seketika membuat Nilam menoleh ke belakang.


Terkejut! Sosok Anita berdiri dengan angkuh dengan tangan bersilang di depan dadanya, berjarak beberapa meter dari Nilam. "Wanita itu ... bukankah dia Anita?" gumam Nilam pelan.


"Hey! Aku sedang bertanya, siapa kamu? Dan kenapa ada di sini?"


"A- aku ...."


"Apa kamu gagu?" tanya Anita sarkas. "Eh, tunggu ...." Ia melangkah mendekat ke arah Nilam. Sejenak menelisik wajah yang sedikit menunduk itu. "Bukankah kamu ... kamu wanita yang bersama Gavin di resto itu?" terkanya.


Wajah Nilam yang mendongak seketika membuat mata Anita membola. Benar, wanita ini ... kenapa jadi secantik ini?


"Maaf, Nona Anita, apa yang Anda lakukan di sini?"


Sejurus pertanyaan Nilam berhasil membuat Anita mengerjap. "Kamu tahu namaku?" tanyanya tanpa mengindahkan pertanyaan Nilam.


"Ya."


"Oh, biar aku tebak, pasti Gavin yang memberitahumu, kan?"


"Ya."


"Bagus. Itu artinya kamu sudah tahu siapa aku," ujar Anita dengan segala kepongahan di wajahnya, seolah menekankan, bahwa dirinya adalah wanita yang cukup penting dalam hidup Gavin.


"Tentu, Gavin sudah menceritakannya padaku."


Anita tersenyum seraya melangkahkan kakinya ke arah meja makan, lalu mendudukkan tubuhnya di salah satu bagian kursinya bersilang kaki. "Pasti Gavin mengatakan, bahwa aku adalah perempuan yang pernah di cintainya. Iya, kan?" ujarnya penuh percaya diri.

__ADS_1


"Benar," jawaban singkat Nilam.


"Sudah ku duga."


"Tapi hanya 'pernah' ... bukan 'masih', Nona Anita."


Degg!


Anita tersentak. Sebutir anggur yang baru saja hendak di masukannya ke dalam mulut, di urungkannya dan berakhir kembali di letakkanya ke tempat asalnya. Sial ! Wanita itu ....


"Dan Gavin juga tidak akan pernah memaafkan sebuah pengkhianatan," lanjut Nilam.


"Apa?!"


"Ya, Anda pasti mengerti dengan ucapanku, Nona Anita."


Raut terkejut terpahat jelas di paras Anita.


Gavin, tidak mungkin, kan ia menceritakan kejadian memalukan itu pada wanita ini?


Nilam ikut mendudukkan tubuhnya di kursi berseberangan dengan Anita.


"Anda pasti bingung, kenapa Gavin mau menceritakan dengan gamblang tentang masa lalu percintaannya dengan Anda pada saya, Nona?"


Anita masih terdiam. Dan tentu saja, wajahnya kini layaknya terasi Cirebon. (Edisi kehabisan perumpamaan. Hihi)


"Tentu saja, karena ia tak ingin menyembunyikan apapun pada calon isterinya." Kata terakhir sedikit di tekankan Nilam.


Lagi, sengatan kalimat itu mengejutkan Anita. "Calon isteri?" tanyanya tak percaya.


"Benar, sebentar lagi kita akan menikah."


Menikah? Aku harus tanyakan ini pada Madam Briana. Batin Anita. Sesaat kemudian seringai iblis terpahat di wajahnya. "Nona, kamu pasti heran, kan, kenapa aku bisa masuk ke apartemen ini dengan mudah?"


Nilam terdiam, namun hatinya membenarkan pertanyaan Anita.


"Benar, kan?" Anita terkekeh. "Alasannya sederhana." Terdiam sesaat. "Karena Gavin belum bisa melupakan aku. Password pintu apartemen ini adalah tanggal hari jadian kami."


Nilam sedikit tersentak. Ada desiran perih melintas dalam hatinya. Tenang, jangan terpancing. Aku yakin, Gavin hanya belum sempat menggantinya.


"Aku tidak masalah tentang itu, Nona Anita. Karena apartemen ini sebentar lagi akan berganti pemilik. Gavin sudah menjualnya. Aku di sini hanya singgah sementara," tutur Nilam berusaha sesantai mungkin.


"Apa katamu? Menjual?"


"Ya, alasannya karena tempat ini baginya sangat menjijikkan."


"Apa maksudmu?!" Anita mulai terpancing.


"Sisa percintaan Anda dengan lelaki asing itu. Itu penyebabnya. Jelas?"


Anita bangkit dari tempatnya. Kemudian satu layangan telapak tangannya di arahkannya ke wajah Nilam. Namun ....


Gepp!!


Dengan sigap Nilam menahan pergelangan tangan wanita itu hingga di tariknya kembali dengan kasar.


"Dasar wanita sialan!!" Menghentakkan kakinya keras, Anita pergi dengan langkah cepat keluar dari tempat itu.


Dan ... Bruk!


Nilam menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Tangisnya mulai pecah. Kekuatan super yang baru saja di keluarkannya untuk menumbangkan kecongkakan Anita, musnah seketika.


Nilam ... Nilam ....


°°°°°°


Budayakan Like setelah membaca yaaa...😁

__ADS_1


Kalau suka ceritanya, Vote juga dong!! Wkwk... ✌


__ADS_2