
Kebanyakan penulis bilang, membersihkan diri itu adalah sebuah ritual. Dan Gavin baru saja usai dengan ritual tersebut. Meskipun belum sempat mengistirahatkan tubuhnya, ia terlihat lebih segar. Kekusutan itu telah terusir seiring sapuan air ke tubuhnya.
Setelan casual, kaos abu lengan pendek, berpadu celana beagle hitam, sangat pas membalut tubuhnya. Ia terlihat seperti anak-anak remaja keren California. Uwu ... uwu ....
Dan tentu saja, tampilan Gavin itu, sangat terlihat lain dimata Asty, yang terbiasa melihatnya dengan tanpilan formal jas lengkap berdasi. Wajah takjub melongo itu jelas berisi kekaguman yang hakiki.
Ya, Tuhaaan .... "Pak Gavin."
"Kamu itu harus konsisten, Asty. Jangan buat panggilanmu padaku menjadi rancu." Masih mengasak rambut basahnya dengan handuk.
"Ma-maksud Pak Gavin?"
Melempar handuk itu ke sofa, lalu berjalan mendekat ke arah ranjang Nilam.
Kalo dipikir-pikir, si Gavin udah berasa kayak di rumahnya aje. Semauh gueh!!
Maklum, Vip room. He...
"Tadi saat kamu datang, kamu panggil aku, Bos! Sekarang Bapak." Gavin tak habis pikir.
"E-eh itu ... aku panggil Bos saja, ya? Seperti Asisten Bos Kenzie itu."
"Kau juga panggil Kenzie Bos?" Gavin sudah mendaratkan bokongnya dikursi samping Nilam.
"Hehe ... tidak apa-apa, kan? Lagipula jabatan Bos dan Bos Kenzie, kan, hampir setara."
"Baiklah, lalukan saja apa maumu."
"Umm, Bos ... sepertinya aku harus kembali ke kantor." Asty melirik jam di pergelangan tangannya. "Berhubung Bos ambil cuti, pekerjaanku jadi ekstra. Jadi aku ha--"
"Tenang saja, aku akan berikan bonus untukmu. Sekarang pergilah. Kerjakan tugasmu dengan baik dan teliti."
"Siap, Bos." Senyuman ceria diwajahnya tersembur penuh semangat. "Jangan lupa bonusnya ya, Bos. Hehe."
"Kau ini... kenapa tiba-tiba cerewet! Sudah sana pergi. Dan terimakasih sudah mengantarkan baju untukku."
"Sama-sama, Bos. Semoga Nilam cepat sadar dan pulih. Saya permisi."
"Ya. Terima kasih."
Asty undur Diri dan mulai menuntun langkah meninggalkan ruangan itu.
Sepeninggal Asty.
Wajah pucat nan tenang itu dipandangi Gavin tak lepas. Punggung tangan berhias jarum selang infusan itupun tak luput dari kecupannya. Belaian lembut dirambut indahnya juga dilakukannya.
"Apa salahnya, Tuhan ...? Dia hanya seorang wanita biasa. Wanita yang sangat ku cintai." Gavin terus bergumam seorang diri. "Cepat bukalah matamu, Sayang. Aku rindu ...."
Serangan rasa lelah yang teramat sangat, membuat tirai matanya terkatup perlahan. Kepala yang semula tegak itu, kini tersungkur pada kasur disamping Nilam. Ia tertidur.
Tap tap tap ....
Suara derap langkah kaki, terdengar hati-hati.
"Kasian kamu, Bos. Sepertinya kamu kelelahan." Chaka baru saja tiba diruang perawatan Nilam tersebut. Sejurus matanya teralih pada sosok yang tergolek diranjang itu. "Nilam ... kenapa nasibmu sejahat ini?" Ia berkata nyaris tanpa suara.
Jinjingan berisi makanan untuk Gavin di letakannya disofa yang kemudian diikuti tubuhnya.
"Aku tunggu disini saja." Mengeluarkan ponselnya. Seperti biasa, game menjadi pilihannya.
"Haaa ... uusss ...."
Sukses suara lirih nan parau itu membuat Chaka bangkit seketika. Ia langsung mendekat ke asal suara. "Nona Nilam. Anda sadar?"
__ADS_1
"Aa ... irr...."
Cukup dimengerti Chaka. Ia bergegas meraih segelas air putih yang berada di meja di samping Gavin.
Gavin?
Lelaki itu sudah jauh mengembara dalam mimpinya, laku lampah Chaka dan suara Nilam tak sedikitpun mengganggu lelapnya. Sungguh kelelahan yang hakiki.
"Ini, Nona. Minumlah." Mengangkat sedikit tengkuk Nilam dan meminumkan air itu perlahan. "Sudah?"
Nilam mengangguk. Sesaat kemudian wajahnya terjun pada lelaki yang tertidur pulas disampingnya.
"Gavin ...." Lalu tersenyum.
"Apa perlu aku bangunkan, Nona."
"Jangan. Tidak perlu. Biarkan seperti itu." Suara itu masih terdengar lemah.
"Baiklah. Nona butuh sesuatu?" Chaka menawarkan.
Hanya gelengan Nilam yang terlihat menjadi jawaban, dan itu cukup di fahami Chaka.
*****
Elusan lembut dikepalanya terasa menenangkan. Gavin terbuai. Entah apa yang terjadi dialam mimpinya. Hingga semakin lama belaian itu semakin terasa nyata. Ia membuka pejam dan bangkit seketika.
Rona bahagia terpajang terang menghias wajahnya. Senyum mengembang berbalut haru dipendarkannya.
Mata sayu itu ... mata indah yang dinantikannya, telah terbuka. "Sayang ... kamu sudah sadar?"
Nilam mengangguk dengan senyuman. "Iya, Gav."
"Dia sudah sadar dari dua jam yang lalu."
Kalimat itu berasal dari mulut Chaka yang masih asyik dengan game diponselnya.
"Iya, Gav."
Gavin langsung mengangkat tubuhnya lalu berjalan ke arah pemuda slengean itu.
Telunjuknya ditekankan keras dikening Chaka. "Kenapa tidak membangunkanku?!"
"Sakit, Bos!" Mengusap sisa kekerasan Gavin di keningnya. "Nona Nilam yang melarangku membangunkanmu," jelasnya.
"Ap--"
"Gav ..." pungkas Nilam. "Aku yang melarangnya. Aku lihat kamu sangat lelah."
"Apa ku bilang," ketus Chaka. "Dasar bos gesrek!"
Kembali berjalan ke arah Nilam. Gavin tak perduli dengan kicauan pemuda itu. "Aku minta maaf, Sayang. Menunggumu terbangun, malah aku yang tertidur." Dengan wajah memberengut.
Nilam terkekeh, kekehan yang tanpa tenaga. "Tidak apa-apa, Gav," ucapnya. "Chaka membawakanmu makanan. Makanlah dulu."
"Kita makan bersama."
"Aku sudah makan, Gav. Tadi perawat membawakan untukku."
"Syukurlah. Apa kamu makan sendiri?"
"Tidak."
"Lalu?"
__ADS_1
Ada sedikit keraguan diwajah Nilam untuk menjawab pertanyaan itu.
"Aku yang menyuapinya, Bos."
Sesantai Chaka berujar, Gavin memasang mata elangnya. Ia siap mengeluarkan jurusnya kembali.
Hey readers, ada yang tahu, nama jurus Gavin itu?
He... komen dong!!
"Ampun, Bos. Jangan tusukkan lagi telunjukmu itu ke jidatku. Kan sakit, Bos!"
"Lalu siapa yang menyuruhmu menyuapinya? Apakah Nilam yang meminta?"
"Ti-tidak, Bos.," jawaban kaku Chaka ketar-ketir. "Aku hanya kasian saja, Bos."
"Lain kali kau harus bangunkan aku!"
"Memangnya kamu mau tidur kembali, Bos?"
Kekehan lucu terdengar dari mulut Nilam.
Kedua orang itu ... ada-ada saja.
****
Di parkiran rumah sakit.
Didalam sebuah mobil.
"Aku harus menunggu manusia-manusia itu lengah. Gavin masih berada didalam. Aku tetap harus bersabar menunggu kesempatan itu datang. Aku sudah tak sabar, untuk segera menghabisi wanita kolot itu."
Entah apa tujuannya. Yang jelas dia adalah seorang wanita. Kekuatan dendam mengusir waras dan keanggunannya.
Kebencian dari rasa tak bisa memiliki membuatnya nekad menghabisi nyawa Nilam, meskipun langkah pertama yang ditempuhnya, gagal. Karena Nilam masih bisa di selamatkan.
Sebuah rencana telah disusunnya.
Jangan tanya, sudah pasti isi rencana itu akan sama-sama keji seperti sebelumnya.
Dua hari sebelumnya.
Dengan langkah yakin ia menapakkan kakinya diperusahaan Gavin. Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.
"Aku ingin bertemu Gavin." Ucapannya tertuju pada seorang wanita yang berdiri dibalik meja resepsionis.
"Maaf, Nona. Tuan Gavin tidak ada dikantor."
"Jangan berbohong."
"Benar, Nona. Beliau mengambil cuti dari dua hari yang lalu."
"Cuti? Untuk apa?"
"Dari kabar yang beredar, beliau akan melangsungkan pertunangannya malam ini."
"Apa?! Tunangan?!!" Wajahnya terkejut bukan kepalang. Kurang ajar!!
"Benar, Nona," jawabnya. "Maaf, kalau boleh saya tahu, nama Anda siapa? Biar nanti saya sampaikan kedatangan Anda pada Pak Gavin."
"Tidak perlu. Aku permisi."
****
__ADS_1
Uwu uwu...
Siapa dia ya.....???" 😁😁