
Alam bermandi guyuran hujan.
Dahsyatnya cambukan cemeti dewa, memekik di tengah gelapnya malam. Lagi-lagi, langit menyuarakan jerit tangisnya.
Seonggok tubuh ringkih , berdiri memangku asa di bingkai jendela. Di rayapi gelisah yang membuncah menyesakkan dada.
Kakek Usman ... di temani kekalutan, menatap halaman rumahnya yang tersembur air hujan. Nilam hilang entah kemana. Murni dalam penghakiman Juragan Dahlan. Dan kini Hana, juga belum kembali. Hidup, memang terkadang sepahit itu ....
Mengusap sisa tetesan air di pipinya, dengan berat ia menutup jendela yang sedari tadi di biarkannya menganga. Berharap akan muncul yang di nantinya.
Namun apa mau di kata, waktu masih kukuh dengan segala misterinya.
Ia berjalan menuju kamarnya dengan langkah penuh resah. Berbaring dan memejamkan mata, mungkin saja akan mengurangi rasa gelisah, begitu pikirnya.
Saat itu tiba-tiba ...
Ceklek .... Pintu yang tak di kuncinya itu terbuka.
"Kakek!" teriakan seseorang berhasil menghambat laju langkahnya. Ia menoleh. Seketika mata itu membulat penuh binar. "Cucuku ...."
Gadis itu membuka pintu tanpa mengetuknya. Karena ketidak sabarannya untuk segera bertemu dengan sang kakek. Tanpa xy dan z, ia langsung menghambur ke pelukan orang tua nan renta itu. Tangisan kerinduan tergelar di antara keduanya. "Aku rindu Kakek ...."
Nilam. Ia datang di dampingi Gavin. Usai mendengar penjelasan lelaki itu tentang Anita di pantai siang tadi, ia memang sempat di landa sedih, yang tak jelas apa penyebabnya. Iba ataukah cemburu? Entahlah.
Hingga akhirnya ia meminta Gavin mengantarkannya pulang ke desa untuk memalingkan perasaan tak nyaman di hatinya dengan cara bertemu sang kakek. Gavin dengan senang hati mengabulkan. Dan kini, di sinilah ia berada, di rumah yang slalu di rindukannya.
"Kakek juga rindu kamu, Nak. Sangat, sangat rindu. Ya, Tuhan ... akhirnya kamu kembali, Nak," ujar Kakek seraya mengecupi pucuk kepala gadis itu bertubi-tubi. Seketika matanya menangkap sosok yang berdiri tak jauh darinya. "Siapa dia, Nak?"
Nilam melepas pelukannya. Lalu mengikuti arah pandang Kakek Usman, menatap wajah sang kakek, kemudian tersenyum. "Dia Gavin, Kek. Kakek ingat?"
"Gavin?" Kakek menggeleng.
"Iya, Kek. Saya Gavin. Anak laki-laki, yang dulu di asuh Almarhumah Mbok Nah di desa ini," sela Gavin menjelaskan seraya mengulurkan tangannya menyalami kakek tua itu.
Sembari menerima uluran telapak tangan si pemuda, kakek mengernyit, memaksa otaknya untuk berpikir. Hingga sesaat kemudian ... "Apakah kamu anak laki-laki yang selalu menggendong Nilam sepulang dari sungai. Iya?" tanyanya.
"Benar, Kek. Itu aku." Gavin tersenyum.
"Ya, Tuhan .... Kakek sampai pangling, Nak. Kamu sangat tampan," pujinya takjub.
"Benarkah? Kakek orang ke seribu yang mengatakan hal itu padaku," canda Gavin. Ia kini sudah berdiri di samping Nilam.
Nilam memanyunkan bibirnya. "Turunkan kepercayaan dirimu. Karena aku akan menjadi orang pertama yang menyebut kamu jelek."
Gavin mendekatkan wajahnya ke wajah Nilam. "Benarkah?" Senyum di semat semanis mungkin.
Nilam memundurkan tubuhnya. "I- iya, tentu saja kamu jelek," balasnya kikuk.
__ADS_1
"Tampan!"
"Jelek!"
"Tampan!"
"Jelek!"
"Hey, Kakek juga mengakui bahwa aku ini tampan. Iya, kan, Kek?" Gavin beralih menatap Kakek Usman. Berharap mendapat dukungan.
Kakek tersenyum lucu melihat kelakuan kedua anak muda di hadapannya itu. "Iya. Sangat tampan. Karena kamu adalah gambaran ketika Kakek muda dulu," ujarnya terseret candaan receh Nilam dan Gavin.
"Kamu dengar itu, Nilam?" Gavin merasa menang.
"Kakek ...." Nilam bergelayut manja di lengan sang Kakek.
Rasa sakit dalam kesepian yang hampir membungkam seluruh semangat Kakek Usman, kini musnah dalam sekejap. Berganti pelangi nan indah, berwarna-warni. Tapi tidak melengkung, ya .... Hihi.
"Oiya, Kek. Hana dan Bibi Murni, mana?" tanya Nilam seraya mengedar pandangannya ke sekeliling.
Seketika!
Pelangi yang baru saja memendar bias warnanya, kembali pudar. Kakek terdiam membisu. Bingung harus menjawab.
"Kek ... ada apa? Mana Hana dan Bibi? Apa terjadi sesuatu pada mereka?" tanya Nilam khawatir.
"Murni ... Murni di bawa Dahlan, Nak."
"Dahlan meminta kembali sejumlah uangnya yang di terima Murni."
"Uang...? Uang apa?"
"Uang hasil dari dia menyerahkanmu pada Dahlan waktu itu." Kakek menjelaskan.
Nilam terhenyak. "Dan bibi tidak bisa mengembalikannya, karena seluruh uang itu sudah di pakainya. Begitu, Kek?" terkanya.
Kakek mengangguk. "Iya, Nak?"
"Lalu Hana, dia dimana, Kek? Jangan bilang dia juga ikut di bawa Juragan itu?"
"Tidak. Kakek menyuruh Hana pergi diam-diam, beberapa saat sebelum Dahlan membawa Murni."
Gavin masih diam memperhatikan. Namun otak besarnya terus mencerna setiap bait percakapan antara cucu dan kakeknya tersebut. Begitu pelik, pikirnya.
"Jadi Hana selamat. Tapi apa Kakek tahu dia pergi kemana?"
"Tidak, Nak. Kakek hanya menyuruhnya pergi, tanpa memberinya tujuan. Kakek sudah mencarinya di sekitaran desa. Tapi tidak berhasil menemukannya," ujar Kakek sendu.
__ADS_1
"Besok kita akan cari Hana, Kek." Gavin membuka suara.
Kakek dan Nilam menatap pemuda itu, "Benarkah?" tanya Kakek.
"Tentu. Iya, kan, Nilam?" Gavin tersenyum.
"Iya, Kek. Aku dan Gavin akan berusaha mencari Hana," ucap Nilam seraya mengelus pundak sang kakek.
"Baiklah, terimakasih, Nak. Setidaknya Kakek tenang ada kalian berdua di sini."
"Iya, Kek. Oiya, Nilam bawa makanan yang banyak. Kita makan malam sama-sama, ya...."
****
Nilam, Gavin dan kakek Usman kini tengah duduk melingkar di kursi meja makan sederhana di rumah itu. Usai makan malam, mereka melanjutkan dengan perbincangan mengenai apa saja yang terjadi pada Nilam setelah hari naas itu. Nilam menjelaskan secara rinci tanpa ada setitikpun yang di lewatkannya.
Mendengar seluruh penuturan Nilam, Gavin dalam keterkejutan yang haqiqi. Ia terpaku menatap sendu wajah gadis yang berada di seberang mejanya itu. Gadisku sayang ... gadisku malang .... Begitulah kira-kira isi hatinya.
"Maafkan Kakek, Nak. Saat itu Kakek tidak bisa melindungimu dari Dahlan dan juga bibimu," sesal kakek Usman.
Nilam meraih telapak tangan keriput milik kakeknya itu. "Tidak apa-apa, Kek. Yang terpenting sekarang aku baik-baik saja. Tuhan selalu melindungi aku dengan cara-Nya."
Kakek hanya tersenyum. Senyum yang di pulas kegetiran. "Kamu benar, Nak. Syukurlah."
"Sekarang sebaiknya Kakek istirahat. Ini sudah malam. Besok pagi aku dan Gavin akan mencari Hana. Ayo, aku antar Kakek ke kamar."
"Baiklah, Nak. Jangan lupa, Kamu siapkan kamar untuk Gavin."
"Iya, Kek. Dia akan tidur di kamarku. Biar aku tidur di kamar Hana."
"Ya sudah. Gavin, Kakek tinggal istirahat dulu, ya."
"Silahkan, Kek. Istirahatlah senyaman mungkin," sahut Gavin tersenyum ramah.
Selepas mengantar kakek Usman ke kamarnya, Nilam menghampiri Gavin, yang masih terdiam di meja makan. "Gav, ayo aku antar ke kamarku."
Gavin menatap Nilam yang sudah berdiri di hadapannya itu. Seketika ia bangkit, lalu melangkah menarik tubuh langsing itu ke pelukannya. Mendekapanya erat. "Maafkan aku, Nilam. Maafkan aku ... aku datang sangat terlambat."
Nilam mendongak. Menatap wajah Gavin yang hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya. "Kenapa harus minta maaf? Ini bukan salahmu."
"Jelas ini salahku. Seandainya aku datang ke sini lebih awal, kamu pasti tidak akan mengalami hal-hal pahit seperti itu. Tapi apa, aku malah terperangkap dalam jeratan Anita. Dan Kenzie ... malah dia yang sempat membantu kesulitanmu. Bukan aku."
"Tidak apa. Mungkin Tuhan menghadirkan segala kesulitan itu padaku, untuk membawaku bertemu denganmu," ucap Nilam menenangkan.
Gavin melepas pelukannya, lalu beralih menggenggam kedua telapak tangan gadis itu. Berhadapan. "Aku berjanji, mulai detik ini, aku yang akan menjadi tameng pelindung untukmu," ucapnya sungguh-sungguh.
Nilam tersenyum penuh haru. "Terima kasih .... Kuda Putihku."
__ADS_1
☆♡♡♡☆
Tererettetewww....🎶