Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Nafsu dalam topeng dan tipu daya


__ADS_3

Sedikit menjilat ...


Menghapus rasa malu ...


Menurunkan ego dan harga diri.


Oh, tidak! Bukan lagi menurunkan, melainkan harga itu memang sudah tidak ada.


Biarkan saja!


Di caci alam.


Di hujat matahari.


Ia tak akan lagi perduli.


Baginya ... menjadi suci hanyalah bualan.


Karena kesucian itu telah kotor dan ternoda.


Titik yang hitam, akan tetap hitam.


Perjalanan hidupnya akan tetap semu.


Mona!


Berperan seapik mungkin sebagai sekretaris Dahlan diperkebunan, penampilan Mona sudah berubah menjadi Power Ranger seksi. Setelan formal blazer hitam berpadu rok span berwarna senada membungkus tubuhnya yang zigzag dan meliuk.


Di tengah hamparan luas perkebunan teh.


"Sayang ... kamu cantik hari ini." Pujian menggoda itu, tentu saja keluar dari mulut racun sang Tirani.


Dahlan!


Dalam rengkuhan lelaki yang tak lagi muda itu, pinggang ramping Mona beradu tanpa jarak dengan tubuh Dahlan. Dengan kedua lengan yang sudah melingkar dilehernya. "Terimakasih. Ini semua berkat Anda, Juragan." Senyum itu dibuat semenggoda mungkin.


Kenzie benar, pria tua ini lebih baik dari para pelangganku di club. Menguntungkan!


"Apapun akan aku berikan, asalkan kamu bisa memuaskanku." Diselipkannya helaian tipis yang menjuntai dipipi Mona ke belakang telinganya.


"Pasti, Juragan. Aku tidak akan mengecewakanmu."


"Aku percaya padamu."


Akhirnya sentuhan antar pengecap itu mulai terjadi.


Tak peduli ada orang lain yang melihat keduanya dengan tatapan jijik. Darti, asisten pengurus di perkebunan itu harus rela menjadi obat nyamuk setiap hari, semenjak Mona menjadi bagian dari perkebunan. Sungguh sial! Hanya membuang muka saja tidak cukup. Suara kecapan liar mereka itu sungguh mengganggu telinganya.


"Ayo kita lanjutkan di rumah," ajak Dahlan. "Aku sudah mulai naik."


"Baiklah. Ayo." Mona tanpa ragu.


Masa bodo!


"Darti, kau urus semua laporannya. Serahkan padaku nanti sore."


"Baik, Juragan," sahut wanita paruh baya berbadan kurus itu. "Apa seperti itu bisa dikatakan sekretaris? Pekerjaannya hanya melayani kerakusan si Dahlan!" gumam Darti menggerutu, usai kedua orang itu mulai menjauh dari pandangannya.


Di rumah Dahlan.


Kedua pasangan berjarak usia itu, berjalan bergandengan menapakki sebuah bangunan kecil bagian dari rumah besar Dahlan. Bangunan kecil namun berkelas itu terletak terpisah di belakang rumah utama tempat ketiga isteri Dahlan beserta anak-anaknya tinggal.

__ADS_1


Tempat itu belum lama didirikan Dahlan. Tujuan pemisahannya adalah agar Dahlan lebih leluasa melakukan segala kegiatannya tanpa gangguan anak dan isteri-isterinya, seperti saat dirinya membawa Nilam ke rumah utama. Recok!


"Ini kamarnya, Sayang."


Mona sungguh dibuat terpana. Rumah kecil ini sangat elegant dan berkelas. "Ini benar untukku, Juragan?" tanyanya takjub.


"Tentu, Sayang. Aku baru merenovasinya dua hari yang lalu. Khusus untukmu."


"Benarkah?" Ditatapnya mata bulat milik Dahlan.


"Ya. Apa kau suka?"


Mona hanya menganggukan kepalanya dengan senyuman yang terpulas tak hilang diwajahnya.


"Syukurlah," Dahlan tertular senyum. "Lalu, bisakah aku menagih ucapanmu, sekarang?"


Mona mengangkat kedua lengannya, lalu di kalungkannya ke leher pria itu. "Kapanpun Anda mau." Dengan senyuman nakal.


Perlakuan itu mengundang senyuman merekah dibibir Dahlan, diiringi libido yang mulai mencuat menguasai dirinya. Nafas tenang itu mulai terdengar tak beraturan. Kedua pasang mata itu saling bertatap penuh gairah.


Tak lagi bisa menahan diri, Dahlan mengangkat tubuh seksi menggoda itu keatas pangkuannya, lalu menghempaskannya ke ranjang mediumsize yang sudah siap menadah keduanya.


Satu persatu kancing blazer milik Mona di lepaskan dari lubangnya. Disusul kemeja putih yang juga berkancing, tak luput dari pembebasannya. Dan...


Wusshh!


Terlepas! Di lemparnya baju-baju itu kelantai.


Dan wooww ... kulit putih bersih milik Mona kini tak lagi berpenghalang. Polos!


Si kembar dibagian dada Mona seakan terus melambai meminta disentuhnya.


Ini gila!


Mona. Dia sudah terbiasa menghadapi lelaki semacam ini. Hanya sepulas senyum yang ia hadiahkan untuk Dahlan. "Lakukanlah."


Dan terjadilah hubungan yang terinterupsi.


Maaf ya .... terpaksa skip.


Demi kebaikan bersama.😂


Seiring semburan pelepasan yang merangsek bersamaan diantara keduanya, erangan kepuasan juga terdengar menggema diseluruh ruangan.


Belaian lembut diwajah Mona di edarkan jemari Dahlan. Dengan tubuhnya yang masih mengungkung tubuh wanita itu dibawahnya. "Terima kasih, Sayang. Sekarang aku makin percaya, bahwa kau bukan mata-mata yang dikirimkan untuk mengahancurkanku."


Mona yang masih menempelkan kedua telapak tangannya di dada polos Dahlan, mengernyit. Ada sentakkan yang cukup besar didalam hatinya.


Jadi lelaki ini sudah mencurigaiku dari awal? Aku harus sebisa mungkin menutup kecurigaanya.


"Kenapa diam?" tanya Dahlan yang masih asyik dengan permainan nakal jari-jemarinya dibagian-bagian badan Mona.


Larut dalam pemikirannya, Mona mengerjap.


"Ti-tidak! Aku hanya tidak mengerti, kenapa Juragan menaruh curiga demikian padaku?" Dengan balutan wajah sendu. Jangan bilang dia Mona, jika dua tetes air mata saja tak mampu dikeluarkannya.


"Hey, kenapa menangis? Aku kan sudah bilang, itu hanya kecurigaan awalku saja."


"Lalu sekarang, apakah Anda sudah percaya padaku?" Mona ingin tahu. Ia harus sebisa mungkin membuat Dahlan percaya padanya sepenuhnya.


"Tentu. Aku merasakan ketulusan dari gairahmu saat percintaan kita tadi." Sebuah kecupan didaratkan dikening Mona. Lalu menurunkan tubuhnya ke samping dan memeluk wanita itu dalam baring menyamping.

__ADS_1


"Syukurlah kalau Juragan merasakan ketulusanku." Mona membalik posisinya, hingga kedua wajah itu saling berhadapan. "Aku takut karena kecurigaan itu, Juragan akan membuangku, seperti lelaki yang telah mencampakanku dulu."


Elusan halus di hadiahkan Dahlan dipipi Mona. "Tidak akan, aku sudah percaya padamu, Sayang."


"Terima kasih," ucap Mona. "Oiya, aku ingin tahu, kenpa Anda mencurigai ku sebagai mata-mata?"


"Aku hanya curiga. Wanita semuda dan secantik dirimu, tiba-tiba melamar pekerjaan padaku. Padahal diluar sana masih banyak yang bisa menerimamu."


"Bukankah aku sudah bilang, tidak ada yang mau memakai jasaku dimanapun. Karena itu aku memilih kemari untuk mempertaruhkan nasibku. Anda bisa lihat di internet semua berita tentangku."


"Aku sudah membaca dan melihat semuanya. Hanya satu yang ingin aku ketahui dari berita itu?"


"Apa itu, Juragan?:


"Oh Mona. Stop memanggilku Juragan! Panggil aku ... sayang! Bisa?"


Mona tersenyum. Puluhan lelaki yang menjadi pelanggannya, juga dipanggilnya sayang. Jadi sangat tidak masalah jika lelaki ini juga meminta hak yang sama. "Baiklah ... Sayang," ucapnya lembut. Telapak tangan halusnya terus bermain didada berbulu lelaki itu, demi menguatkan topeng yang terpasang diwajahnya. "Lalu apa yang ingin kamu ketahui dari berita tentangku itu?"


"Siapa orang misterius yang telah membantu proses pengadilanmu dan membuatmu terbebas dari hukuman dinegara itu?"


DEGG!


Pertanyaan itu ...?


Aku harus tenang. Jangan sampai keceplosan bahwa Kenzie yang telah melakukan semua itu.


"Oh lelaki itu ...."


Berpikir Mona, ayo berpikir ....


"Ya ... siapa?" Dahlan mulai penasaran.


"Umm dia .... Dia adalah Harry. Sahabat dari Edward, lelaki yang telah mencampakkanku itu," kilah Mona sekenanya.


"Sahabat lelaki itu?"


"Iya ... dia menyukaiku. Karena itu, dia berusaha mati-matian membebaskanku dari ancaman hukuman itu."


"Lalu kenapa kamu tidak bersamanya saja?"


"A- aku ... aku tidak mencintainya. Beruntung dia bisa menerima, dan mau menolongku untuk pulang kembali ke negara ini."


Dahlan tersenyum. "Pasti lelaki itu masih muda. Kenapa tidak kamu terima saja?"


Sebuah pertanyaan memancing!


"I- ya. Dia memang masih sangat muda. Tapi ... selain aku tidak mencintainya. Bersama dengannya juga bukan pilihan yang baik. Aku takut, Edward akan menghancurkan karirnya jika aku menerimanya. Dan aku tidak mau itu terjadi pada orang yang telah menolongku."


"Sungguh mulia sekali hatimu, Sayang .... Tapi di--"


Tak ingin pembahasan penuh tipu daya itu terus berlanjut, Mona memotong kalimat Dahlan dengan membekap mulut lelaki itu dengan bibirnya.


"Berhenti membicarakan orang lain di moment semanis ini."


Suara lembut Mona, membuat nafsu Dahlan kembali mengeras. "Kamu benar-benar penggoda," ucapnya seraya menyapu bibir kecil itu dengan jarinya. "Baiklah, kita lakukan lagi sampai kamu benar-benar terkapar."


Mona dengan senyuman miringnya. "Aku selalu siap."


Dan terjadilah kembali sentuhan demi sentuhan yang terlarang dan memabukkan itu.


••••

__ADS_1


Tunjukkan jejak cintamu untuk ceritaku ini, Sayang... ❤❤


__ADS_2