Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Secarik surat undangan


__ADS_3

"Masih ada kesempatan. Diantara kita hanya baru berbentuk sebuah undangan, belum ada cincin pernikahan yang ku lingkarkan di jarimu." Tak ada keraguan. Kenzie membenamkan segala perasaannya sampai ke palung terdalam jiwanya. Ditutupnya dengan segumpal keyakinan.


Tidak, ia tidak boleh egois. Menikmati cintanya di atas keterpaksaan, sungguh ... itu bukan termasuk sebuah pilihan. Melainkan obsesi untuk memiliki. Tak ada cinta dihati gadis itu untuknya, bahkan seperempatnya pun tidak. Gugur secarik niat untuk menumpuk rasa itu dalam kebiasaan. Kini ... pemeran utama sudah kembali. Dan ia ....


Ahh... lupakan!


Tidak setenang menikmati gesekan mendayu sang violinist, atau sesejuk melukis diatas bukit. Perasaan Nilam sungguh dalam belitan benang kusut. Jantungnya berdentam menyamai kecepatan Marc Marquez dilintasan.


Ditatapnya nyalang punggung Kenzie yang mulai melangkah meninggalkannya untuk menyusul Gavin dan Dalia. Air mata sudah memasang diri menggaris di kedua belah pipinya. Harus apa?


"Tidak, Kenzie...." Tanpa memperpanjang lagi pikirnya, Nilam berlari ke arah Kenzie yang sudah hampir di telan pintu. Dan....


BUG!


Dipeluknya lelaki itu dari belakang. Wajah dengan hiasan tangisnya, bersandar miring dipunggung kekar itu. "Tidak, Ken. Aku ingin tetap bersamamu."


Tersentak, terperangah, dengan kedua manik mata melebar, Kenzie sungguh tidak percaya. Nilam, benarkah ia tetap memilihnya? Tapi bagaimana dengan cintanya pada Gavin? Tidak, tidak. Ini tidak benar.


Ia membalik tubuhnya yang sontak membuat pelukan Nilam dipunggungnya terlepas. Di pegangnya kedua pundak Gadis itu. Ditatapnya netra sendu yang juga menatapnya. "Jangan paksakan dirimu. Tidak perlu kasihani aku. Aku bisa tetap berdiri diatas kedua kakiku. Jangan mengorbankan yang tidak seharusnya. Aku tidak ingin membuatmu menderita, hanya karena kamu terpaksa menikah denganku didasari rasa bersalah dan ibamu. Tidak Nilam!"


Nilam menggeleng cepat. "Tidak, Ken. Aku sudah putuskan. Pernikahan ini akan tetap berjalan."


"Tapi bagaimana dengan perasaanmu untuk Gavin? Aku tahu masih sangat besar cintamu untuknya. Dan sekarang dia sudah kembali. Tuhan masih memberimu kesempatan untuk bersamanya. Tolong jangan paksakan dirimu."


"Tidak ada keterpaksaan dalam diriku. Aku benar-benar ingin bersamamu, Ken! Dua bulan ini tak sedetikpun kamu meninggalkan aku. Masih pantaskah ada kata terpaksa dalam diriku?! Aku sadar aku belum bisa mencintaimu sepenuhnya. Tapi aku yakin, cinta itu akan terus bertambah seiring waktu. Sampai tak ada tempat lagi dihatiku untuk orang lain. Dan hanya dirimu ...." Melembut.


Benarkah demikian? Lalu bagaimana dengan Gavin?


Karena pasang mata milik lelaki itu, telah menyaksikan seluruh adegan melankolis antara Nilam dan sahabatnya tersebut. Berdiri kaku beberapa meter dari posisi kedua muda-muda itu, Gavin sungguh dalam perasaan hancur.


Pada akhirnya, ia benar-benar telah kalah. Kalah tanpa perlawanan. Dan Kenzie ... memang pantas mendapatkannya. Aku harus sekuat hati menerimanya.


Clik!


Dalam satu kedipan, bulir bening itu terjun tanpa payung melewati kedua pipinya yang memerah. Sakit!


Menegakkan wajah, menguatkan hati, dihapusnya sisa tetesan dipipinya, Gavin melangkah ke arah dua orang yang kini tengah berpelukan itu. "Selamat untuk kalian berdua." Dijulurkannya telapak tangannya ke arah keduanya.

__ADS_1


Dan sontak, pelukan itu terlepas. "Gav ...." suara pelan Kenzie


"Semoga kalian berbahagia. Dan Nilam ... maafkan aku." Telapak tangannya masih melayang. Tak terlihat, Kenzie ataupun Nilam akan membalasnya. Karena keduanya masih menatapnya dengan tatapan yang entah berarti apa.


"Maafkan aku, Gav." Kenzie teriring penyesalan.


Namun dibalas senyum oleh Gavin. "Aku pernah mengatakan padamu dan juga Nilam, bahwa kau lebih baik segalanya dari aku. Dan jelas, dia sudah memilihmu. Memilih orang yang tepat. Meskipun aku tak termasuk pilihan. Berbahagialah. Kalian pasangan yang serasi. Aku permisi." Ditariknya dengan kaku telapak tangannya, kemudian melenggang pergi meninggalkan Nilam dan Kenzie yang masih mencerna setiap bait kalimat yang diucapkannya.


Jika kejujuran diharuskan disini, maka jujur saja, Nilam ingin sekali memeluk Gavin saat ini. Sangat dirindukannya aroma tubuh itu. Tapi ia bukan wanita yang bisa menabur harapan pada banyak hati. Meskipun Kenzie menyatakan keikhlasannya, tapi jelas, jika ia benar-benar kembali pada Gavin, maka bukan hanya Kenzie yang terluka, melainkan juga Dalia.


"Ken, Nilam, mana Gavin?" Kepala Dalia meliuk mencari.


"Dia sudah pergi, Bu." Jawaban tegas Kenzie.


Dan Nilam, dihapusnya cepat sisa basahan dipipinya, untuk menghilangkan kecurigaan Dalia bahwa sebuah drama cinta segitiga baru saja mereka mainkan.


"Kenapa dia buru-buru sekali?"


"Dia masih ada keperluan, Bu. Dia juga titip pamit untuk Ibu."


"Di buat saja, Bu. Kan masih ada aku dan Nilam. Iya, kan, Nilam?" Seperti biasa, Kenzie adalah aktor yang paling hebat memainkan peran ceria didepan sang Ibu.


"Iya, Bu. Ayo aku bantu." Dirangkul Nilam pundak wanita paruh baya itu. Lalu berjalan beriringan menuju Dapur.


"Nilam ... aku tidak tahu akan seperti apa hubungan kita nanti kedepannya? .... Juga aku dan Gavin." gumam Kenzie selepas kedua wanita itu berlalu.


****


Sepertinya dua hari ini, Gavin lebih membutuhkan mobilnya dari pada kasur empuk dikamarnya. Karena lagi-lagi, ia kini bermain dengan stir, juga pedal rem dan gasnya. Karena jalanan mulai ramai kendaraan, ia hanya mampu memacu dengan kecepatan medium.


Hingga beberapa jam kemudian, sebuah tempat menjadi pilihannya untuk memarkirkan mobilnya dan mengistirahatkan tubuhnya.


Villa putih!


Turun dan mulai berjalan memasuki area tempat itu. Tempat yang selama dua hari di beberapa bulan yang lalu, ia dan Nilam menghabiskan waktu dalam lingkar cinta yang masih hangat.


Namun saat ini, cukup kesendirian yang menemaninya.

__ADS_1


Dijejaki satu persatu anak tangga didalam bangunan berbahan dasar kayu bercat putih itu. Balkon menjadi tujuan utamanya.


Direkatkan kedua telapak tangannya meremas pagar pembatas disisian balkon itu. Pandangannya terjurus miring pada hamparan bunga-bunga lavender yang menghias disamping Villa.


Waktu... secepat ini kau merubah segalanya.


Di atas balkon ini, dulu ia melamar Nilam yang kemudian diterimanya. Berpelukan saling menghangatkan. Tapi kini ... ada jurang dalam yang sudah menyekat diantaranya.


Dirogohnya saku celananya. Secarik kertas keras yang dilipatnya susah payah, kini dalam genggamnya.


Surat undangan.


Yang nampak didepannya sebingkai foto Nilam dan Kenzie yang tersenyum saling berhadapan.


Perlahan rasa sakit itu mulai merayap kembali memenuhi rongga dadanya. Jika bukan untuk bersatu, kenapa ia dan Nilam musti dipertemukan?


Kenapa harus ada perasaan sebesar ini yang terkorban? Tapi ....


"Kenzie berhak bahagia. Juga dia ... Semoga Tuhan membuat perasaan ini hilang secepatnya."


Ditatap untuk beberapa saat, lalu jari jemarinya mulai bergerak untuk membuat beberapa lipatan pada kertas undangan yang digenggamnya tersebut.


Sebuah miniatur pesawat.


Yang kemudian dilemparnya ke udara mengikuti angin sejauh mungkin. Seiring harapannya yang juga ikut terkikis.


"Selamat tinggal, Nilam."


•••••


Beberapa Chapter masih akan bermain dengan perasaan. Jan bosan!


Tetap jaga kesehatan💪


Jan lupa bahagia❤


Luviu😘

__ADS_1


__ADS_2