Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Ketika kenyataan menjawab


__ADS_3

Kesalahan itu akan selalu menjadi bayangan dalam setiap kisah.


Hati mungkin sedang pada egonya.


Mencintai didasari ketulusan, pikir si Tuan.


Namun seribu sayang, cinta tulus itu menjadi arti yang keliru, ketika ia berpijak di tempat yang salah.


Untukmu cinta yang salah, kembalilah pada benarmu. Lupakan ego tentang rasa ingin memiliki yang tidak seharusnya.


Karena kini, memiliki itu akan berganti kisah.


Kisah tentang darah yang sama.


•••••


Disore hari ini.


Suara-suara ceria memekak memenuhi ruangan.


Rumah klasik itu kini dipenuhi orang-orang yang berasal dari keluarga besar Kevin, ayah Kenzie.


Semua sudah berkumpul, termasuk Kevin yang sudah kembali. Tanpa waktu yang lama, Nilam mampu menghipnotis semua orang yang entah berjumlah berapa itu. Selain wajah cantik yang membius, sikap lemah lembut menjadi point plus yang bisa meraih perhatian dengan mudah.


Namun Dalia masih belum terlihat, meskipun wajah senja mulai menyapa dengan jingganya.


****


Di perjalanan.


"Kenapa tiba-tiba jalanan macet begini?" keluh Dalia tidak sabar.


"Saya juga heran, Nyona. Sepertinya didepan ada rombongan mahasiswa yang akan berdemo ke gedung pemerintahan," tutur sang supir menginformasikan.


"Aduh, ada-ada saja," gerutu Dalia.


"Sabar, Nyonya." Kakek Usman yang duduk disampingnya berusaha menenangkan.


Ya, untuk menguatkan kesaksian, Dalia membawa Kakek kerumahnya.


"Iya, Pak. Terima kasih." Menoleh kakek tersebut sekilas, lalu menjatuhkan kornea matanya pada kotak persegi yang berisi baju dan gelang milik Nilam baby dipangkuannya. Dielusnya benda itu, lembut. Puteriku .... Lalu beralih menatap jalan yang masih tetap sama, karena kemacetan panjang membuat mobil yang ditumpanginya masih belum beranjak. Air mata masih menetes sesekali.


Tuhan, aku bersyukur Engkau mengembalikan puteriku padaku. Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini? Kenzie pasti terluka dengan keadaan ini.


Kriiiiiinngggg....


Suara dering ponsel Dalia memecah suasana.


Diambilnya alat komunikasi itu dari dalam tas jinjingnya.


"Hallo."


"Bu, Ibu kenapa belum sampai juga? Semua sudah menunggu Ibu." suara Kenzie seberang line telpon Dalia.


"Iya, Ken. Jalanan tiba-tiba macet. Polantas masih berusaha mengurainya," terang Dalia.


Sesaat tak ada sahutan. "Bu, kenapa suara Ibu--"


"Ken, halo, Ken. Kenapa suaramu menghilang? Halo, halo...." Tut... tut ... tut .... Dalia dalam pengalihan, untuk mencegah kehawatiran Kenzie. Ia mematikan telponnya sepihak.


"Ada apa, Nyonya?" Kakek Usman dengan raut cemasnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Pak Usman. Aku hanya sedang memikirkan Kenzie. Bagaimana perasaannya nanti setelah dia mengetahui, bahwa gadis yang dicintai dan akan dinikahinya adalah adik kandungnya sendiri."


"Justru kita harus bersyukur, Nyonya. Tuhan mengungkapnya sekarang. Sebelum mereka benar-benar sah menjadi pasangan suami isteri. Masalah hati yang terluka diantara keduanya, biarlah waktu yang akan menyembuhkannya."


Dalia terdiam, dicernanya setiap bait kalimat Kakek Usman. Lalu sesaat kemudian ia mulai menaik turunkan kepalanya pertanda kesetujuannya. "Pak Usman benar."


Apa? Nona Nilam adiknya Tuan Muda Kenzie?


Sang supir berkerut wajah tak percaya.


••••


Sementara dirumah Kenzie.


"Ken, ada apa?" Nilam menepuk pundak Kenzie yang terdiam, menatap nanar layar ponselnya yang menampilkan bayang wajahnya dilayar yang sudah gelap.


"Iya, Ken, kenapa wajahmu tiba-tiba berubah cemas seperti itu?" Kevin, ayahnya, menimpal tanya.


Lelaki itu mendongak wajah, menatap Kevin dan Nilam bergantian. "Aku merasa ada yang aneh dengan suara Ibu. Dia seperti sedang menangis. Suaranya terdengar parau dan kaku."


"Benarkah?" Nilam terbawa cemas.


"Iya, Nilam. Aku khawatir. Apa aku susul saja, ya?" Kenzie meminta pendapat.


"Tidak perlu, Ken. Ini Ibumu baru saja mengirimi Ayah pesan. Jalanan sudah mulai lancar. Dia mungkin akan sampai dalam beberapa menit saja." Kevin menerangkan santai.


Nafas lega Kenzie terdengar vivid. "Syukurlah kalau begitu.


Orang-orang keluarga Kevin yang terdiri dari Ibu, atau Neneknya Kenzie, adik perempuan dan suaminya, Satu orang sepupu beserta keluarga kecilnya, tengah asyik membicarakan agenda pernikahan Nilam dan Kenzie. Semua terdengar seperti sekumpulan anak-anak ayam yang bercicit kehilangan induknya. Riweuh!


"Aku yang akan menjadi pengiring pengantin," ucap anak perempuan kecil berusia enam tahunan itu.


"Baiklah, kalian berdua akan menjadi pengiring Uncle nanti." Kenzie duduk diantara kedua anak lucu itu, ia menimpal dengan senyum renyahnya. Anak-anak adalah salah satu species yang disukainya.


"Terima kasih, Uncle," ucap bocah Twin itu bersamaan.


Namun kicauan mereka tiba-tiba terhenti. Semua pandangan terjurus lurus pada Dalia yang baru saja datang didampingi Kakek Usman, dengan berurai air mata.


"Bu, ada apa?" Kevin menghampiri sang isteri dengan wajah cemas.


Kenzie ikut bangkit dan mendekati sang ibu. "Bu."


Namun Dalia masih bergeming. Tak mengusiknya setitikpun suara Kenzie dan suaminya. Tatapannya terjurus lurus pada Nilam yang duduk disamping Neneknya Kenzie, yang kini juga menatapnya.


"Kenny ... puteriku...." Suara itu cukup pelan terucap, namun masih mampu didengar semua orang.


Dan isi ucapan itu sontak mengejutkan bagi Kenzie dan juga Kevin.


"Bu ... apa maksud, Ibu?" Ditatapnya mata Dalia lalu mengikuti arah pandangnya. "Dia itu Nilam Ibu, calon isteriku."


Tanpa memperdulikan kicauan Kenzie, Dalia melangkah ke depan menghampiri Nilam yang masih terdiam tak mengerti. Di tariknya lengan gadis itu untuk berdiri. Ditatapnya mata bulat itu, lekat. Pelan tapi pasti telapak tangannya menyusur lembut pipi halus Nilam. "Kenapa aku baru menyadari, wajahmu sangat mirip dengan ayahmu." Dengan air mata yang masih berderai.


Nilam mengernyit. Juga semuanya.


"Maksud Ibu apa?"


Lalu tanpa babibu, dipelukna gadis itu erat, seerat-eratnya. "Puteriku...." Tangisnya semakin menggema keras. "Ibu rindu kamu, Nak...."


Kevin dan Kenzie tersentak di level tinggi.


"Bu, apa maksud, Ibu?" Kenzie dengan debar kencang didadanya. Apa mungkin penyakit ibu ....

__ADS_1


Semua masih terdiam dalam ketidak fahaman yang cukup menegangkan. Kevin mendekati isterinya. "Sayang ... jangan seperti ini. Dia ini calon menantu kita." Mencoba memberi pengertian.


Semua mungkin berpikir, bahwa penyakit hypoprenia yang diderita Dalia, tiba-tiba kambuh kembali.


"Tidak Ayah!" Pelukan dilepas Dalia seketika. "Nilam ini adalah Kenny! Anak kita yang telah lama hilang!" bentaknya.


DUAARRRR...


Gelindingan bola mata yang terlepas dari sang tengkorak berserak tak kasat mata. Semua dibuat terperangah, tersentak dan segala bentuk keterkejutan terpulas disemua wajah.


"Ibu, sadarlah, Bu." Walaupun cukup terkejut, Kenzie masih tak bisa mempercayai ucapan Dalia. Didekatinya wanita pemilik rahim tempatnya bersemayam selama 40 minggu itu. "Ibu terlalu lelah hari ini. Ayo, ku antar Ibu ke kamar." Dirangkulnya pundak Dalia.


Namun tepisan telapak tangan Dalia kembali mengejutkannya. "Tidak Ken, Ibu tidak lelah. Ibu juga tidak sedang sakit! Nilam ini memang benar-benar Kenny, adikmu. Kamu tidak akan bisa menikahinya." Sungguh ini adalah luka baru baginya sebagai seorang Ibu. Puteranya dan puterinya akan terserang patah hati karena sebuah kenyataan yang tak bisa dibantah. Cinta sedarah.


Nilam terpaku ditempatnya. Air mata sudah mengalir tanpa komando di kedua belah pipinya. Matanya membelalak sempurna. Namun tak setitikpun kata, mampu diucapkannya.


"Sayang, darimana keyakinanmu itu, datang?" Kevin mencoba lebih tenang dengan menanggapi pernyataan sang isteri.


"Semua buktinya ada disini, Tuan." Kakek Usman membuka suara. Di layangkannya kotak persegi yang dijatuhkan Dalia tanpa sadar, kala wanita itu menghampiri Nilam.


Semua sontak menoleh kearahnya.


Tak serta merta Kenzie menghampiri Kakek Usman lalu meraih benda itu dan membuka dengan tidak sabar. Setelah terbuka, setelan mungil itu menjadi benda pertama yang diangkatnya. "Baju bayi perempuan." Lalu disusul benda lainnya." Gelang."


Kedua beda itu menarik perhatian Kevin. Seperti Hellboy yang melompat dengan kekuatannya, ia merebut benda itu dari tangan Kenzie. Di telisiknya teliti. Diputar dan dibalik berulang kali, dan ....


"Kenny." Kedua matanya mulai melebar. Nama yang terpatri dibagian dalam gelang itu menjadi pusat keyakianannya mencuat.


"Apa, Ayah?!" Kenzie ingin tahu.


"Ken, benar, semua benda ini adalah miliknya Kenny adikmu." Kevin lalu menaikkan tatapannya pada Kakek Usman. "Darimana Anda mendapatkan semua ini? Dan Kenapa Nilam?" tanyanya dengan nada tak sabar.


"Iya, Kek. Tolong jelaskan padaku." Kenzie menambahkan.


Nilam memasang telinga, dengan Dalia yang kembali memeluknya.


"Baju dan gelang itu, adalah baju yang dipakai Nilam ketika anak menantuku menemukannya pertama kali," ungkap Kakek perlahan.


"Menemukan?" Kevin mengernyit wajah.


"Benar, Tuan. Almarhum menantuku menemukannya dipinggir jalanan sepi dalam keadaan tertidur karena pengaruh obat bius."


"Obat bius?"


"Ya, Tuan."


"Kapan kejadian itu berlangsung?"


"Tanggal 12 Agustus, hampir 22 tahun yang lalu."


"12 Agustus?" Tatapan Kevin menerawang ke masa lalu. "Ya, itu benar, Kenny kecil hilang tepat ditanggal itu. Ya, Tuhan...." Lalu berbalik badan menghadap Nilam yang sudah berurai air mata. "Puteriku ...." Tanpa berpikir lagi, Kevin menghambur merebut Nilam dari pelukan isterinya. "Kamu benar, Bu. Kenny kita kembali." Dikecupinya pucuk kepala Nilam berulang kali.


"Iya, Ayah." Dalia tersenyum penuh haru.


Kenzie. Berdiri dengan kaku. Ditatapnya ketiga orang yang berpelukan itu. Tak ada kata terucap. Perasaannya mulai kacau. Sedikitpun belum bisa dicernanya kenyataan mengejutkan ini.


Nilam ....


-----


Bersambunggggg.....

__ADS_1


__ADS_2