Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Honeymoon


__ADS_3

Pagi berikutnya....


Gavin, Nilam beserta inti keluarga besarnya, sudah berdiri berkumpul diteras villa.


"Gav ... jaga Nilam baik-baik. Jangan sampai dia sakit," pesan Briana seraya merangkul pundak sang menantu, Nilam.


"Tentu, Ma. Akan ku jaga dia sebaik mungkin. Bila perlu ku borgol tangannya dan tanganku, agar tak lepas dari jangkauanku."


"Itu sih akal-akalanmu saja, Bos. Nona Nilam aku yakin akan menolak," seloroh Chaka.


"Diam kau, Smeagoll!!" seru Gavin.


"Cih! Aku ini tampan dan tinggi! Tidak ugly apalagi kerdil!" balas Chaka.


"Sudah, sudah. Kalian ini." Dalia maju dengan sebuah koper besar yang dorongnya ke hadapan Nilam. "Segala keperluanmu sudah ada disini. Ibu dan Mama Briana sudah melengkapi semuanya." Kedua Mama itu saling melempar pandang dengan senyuman yang sulit difahami.


"Terima kasih, Bu." Seraya mengecup pipi sang ibu sekilas. "Terima kasih, Ma." Lanjut mengecup pipi tirus Briana.


"Iya, Sayang. Pokoknya pulang dari pulau, Mama ingin kalian bawa kabar bahagia untuk kami yang ingin segera menimang cucu," tutur Briana berjuta harap.


"Siap, Ma. Akan ku produksi sesering mungkin!" Gavin dengan seringai menggoda menatap isterinya.


Nilam mencubit pinggang suaminya.


"Aww! Sakit, Sayang!" pekik Gavin seraya mengusap bagian hasil cubitan Nilam.


"Bos gila!" umpat Chaka.


"Aku mendengarnya, Bodoh!" Laju maju dan menendang engkel kaki pemuda gasrak itu. Namun sial....


"Tak kena! Tak kena! Wlooo...." Chaka melanting menjauh seraya menjulurkan lidahnya mengejek.


Semua terkekeh. Termasuk Kevin dan Gerry yang duduk berhadapan di kursi teras.


"Gav ... mending kau ajak saja Chaka." Kenzie, baru saja muncul dari arah dalam bersama Hana dalam gandengannya.


Semua menoleh ke arahnya.


"Tidak! Dia pasti akan menghancurkan segalanya!" tolak telak Gavin.


"Lagian siapa sudi! Aku tidak mau menjadi cicak kering yang harus menonton adegan mesra kalian!" Chaka mendelik bersilang lengan.


"Ken, kau saja yang ikut," pinta Gavin. "Kita double date. Lagipula kau belum mengajak Hana berbulan madu, kan?"


"Jangan bodoh, kau! Isteriku sedang mengandung. Aku akan mengajaknya bulan madu nanti setelah anakku lahir," cetus Kenzie.


"Itu benar, Gav. Akan sangat berbahaya untuk kandungannya." Dalia menimpali seraya mengusap perut Hana yang mulai mengalami perubahan. Lalu dikecupnya kening menantunya itu tulus.

__ADS_1


Netijen sirig sama Hana. Laki cakep, punya ibu mertua manis pula. Hoalaaa....


"Memang Bos kurang waras!" Lagi-lagi umpatan Chaka.


"Chakaaa... kau benar-benar ingin ku bunuh ya?" Gavin dengan tatapan tajamnya. "Cepat kau urus pekerjaanmu dikantor! Atau ku potong kukumu!"


"Haha...." Chaka tergelak. "Aku sudah menipedi, Bos," selorohnya dengan gaya ngondek.


Tak lama, suara deru helicopter menggema di bagian atap villa. Bergerak semakin rendah dan akhirnya mendarat di tepi pantai, tempat resepsi pernikahan Nilam dan Gavin dilaksanakan dua hari lalu.


Otomatis mengalihkan perhatian semua orang.


"Heli mu sudah datang, Gav." Gerry bangkit dari posisinya, lalu berjalan mendekati pesawat mini tersebut.


"Chaka, bawakan koperku!" pinta Gavin. Sedangkan ia menarik koper milik Nilam.


Pemuda itu melengos dengan tatapan malas. Namun tetap mengikuti permintaan Gavin. "Baik, Bosges."


Semua serentak melangkah menuju heli yang masih dengan baling berputar dan deru yang menggema.


"Ayo, Sayang." Gavin mengulurkan telapak tangannya ke arah Nilam. Yang diterima wanita itu usai melakukan gerak pamit pada semua orang.


"Kalian hati-hati disana," Briana mengingatkan.


"Iya, Ma." Keduanya menyahuti.


Sedikit demi sedikit helicopter itu mulai terangkat, sampai akhirnya mengudara dengan sempurna, meninggalkan orang-orang yang menengadah menatapnya dengan berdadah-dadah dari bawahnya.


Hanya butuh sekitar dua jam saja untuk mencapai pulau yang disiapkan Gerry tersebut.


Sebuah pulau kecil ditengah lautan yang hanya memiliki luas sekitar tiga hektar saja. Pepohonan apik berjejer disekelingnya.


Ditengahnya sebuah bungalow kayu dengan desain minimalis bertengger manis menghadap lautan.



Dan disinilah Nilam dan Gavin akan menghabiskan waktu selama seminggu kedepan.


Gavin mengulurkan telapak tangannya ke arah Nilam yang baru saha hendak keluar dari dalam heli tersebut.


"Bagaimana, apa kamu suka?" tanya Gavin dengan lengan melingkar dipundak Nilam yang kini menatap takjub ke sekelilingnya.


"Sangat suka, Gav."


"Syukurlah." Gavin tersenyum.


"Selamat datang, Tuan dan Nyona." Satu orang lelaki dan wanita paruh baya sudah berdiri menyambut didepan pintu utama bungalow itu.

__ADS_1


"Saya Mujib, dan ini isteri saya, Elisabet," tutur pria itu memperkenalkan diri. "Kami yang akan melayani Tuan dan Nyonya selama berada disini," ujarnya dengan sedikit membungkuk.


"Oiya, Pak Mujib. Papa Gerry sudah memberitahu saya soal ini," sahut Gavin.


Dibelakangnya seorang lelaki muda mendorong kedua koper besarnya milik kedua sejoli itu.


"Tuan Gavin, ini kopernya."


Gavin yang sudah menginjak balkon kayu itu berbalik badan. "Oiya, terima kasih."


"Kami akan menjemput Anda kembali tujuh hari kemudian."


"Oke," sahut Gavin singkat.


"Baiklah, saya permisi. Tuan dan Nyonya, selamat bersenang-senang."


Gavin dan Nilam mengangguk menyahuti dengan senyuman. "Terima kasih," ucap Nilam menyusul.


"Sama-sama, Nyonya."


Selepas kepergian pemuda suruhan Gerry.


"Kalo begitu silahkan masuk, Tuan. Kamar Anda ada di lantai atas." Kali ini suara sang isteri memberitahu.


"Baiklah. Terimakasih Bibik Elisa."


Isterinya Elisabet, suaminya Mujib. Gavin geleng-geleng dengan kekehan kecil dibibirnya seraya terus berjalan mengikuti sepasang suami isteri yang lebih dulu berjalan membawa koper-koper miliknya dan juga Nilam.


Menatap tingkah sang suami, Nilam mengernyit. "Gav... ada apa?" tanyanya heran.


Menoleh singkat ke arah Nilam, wajah Gavin masih terlihat menggelitik. "Tidak, tidak ada apa-apa."


"Lalu kenapa tertawa-tawa sendiri?" Mulai menaiki tangga.


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya melihat cicak berseteru," kilahnya, lalu mengecup sekilas pelipis Nilam.


"Cicak? Berseteru?"


"Sudahlah jangan dipikirkan."


"Ini Tuan, kamarnya." Ucapan Pak Mujib memotong percakapan aneh kedua sejoli itu.


"Terima kasih Paman Mujib."


"Sama-sama, Tuan. Untuk makan siang, akan segera kami siapkan. Kalau Tuan dan Nyonya ada perlu apa-apa, panggil kami di belakang."


"Iya, Paman. Sekali lagi terima kasih."

__ADS_1


.............


...👇👇👇👇...


__ADS_2