
Cemburu itu sakit.
Cinta tak bisa memiliki, itu juga tak kalah sakit.
Kedua rasa itu dirasakan Kenzie sebelumnya.
Namun ada satu hal baru yang lebih menyakitkan dari pada keduanya.
Dia ... telah menodai kesucian seorang Hana. Gadis polos tak berdosa, yang harus rela menjadi budak nafsunya, hasil dari kekecewaan yang sama sekali tak ada kaitannya dengan gadis manis itu.
Kejam!
Buasnya khamar itu bukan hanya menurunkan kesadaran seseorang, melainkan juga menaikkan libido orang itu, hingga butuh pelepasan.
Dan itu terjadi pada Kenzie. Yang menjatuhkan pilihan pada Hana, sebagai korbannya. Meskipun iya, Hana cukup terbawa dalam permainan yang dikendalikan iblis itu, namun jelas itu tak pada tempatnya. Ia masih terlalu polos untuk sebuah arah asing yang belum dijejakinya sama sekali.
Cinta kadang membawa kebutaan yang melindas akal sehat.
Sebodoh itukah cinta?
Kusut berpulas diwajah yang selalu hensem itu. Tak ada rambut mengkilap, tak ada jas cassual berpadu dasi yang selalu menunjukkan kegagahannya. Hanya t-shirt berwarna biru polos disetelkan celana jeans pendek selutut, menjadi busana formal yang terlihat aneh saat ia berada diluar seperti ini. Benar-benar frustasi level akut.
Kenzie!
Duduk di sebilah kursi kayu dipinggir jalanan sepi, bermuram durja menengadah ke atas langit. Alas jepit hitam tersenyum-senyum dibawah kakinya. Akhirnya ia dipilih menjadi sponsor untuk perjalanan pemuda tampan itu kini. Oh, sendal jepit....
Hhuufffttt...
"Aku harus mencarimu kemana lagi, Hana?" gumamnya dalam lingkar kegetiran. Di usapnya wajah itu kasar.
Semua orang suruhannya belum satupun memberinya kabar. Hana seolah hilang ditelan ikan nun.
Ya, kalau bilang ditelan bumi, itu artinya dia sudah berkafan ria berteman cacing tanah.
Berhenti sebuah mobil tak jauh darinya. Yang kemudian turunlah dua orang dari dalamnya, lalu terlihat menghampiri Kenzie dengan wajah cemas.
"Kakak."
Berhasil!
Suara itu membuat Kenzie tersentak. Tengadah wajahnya sudah turun dan menoleh ke asal suara. "Kenny." Lalu berdiri menegakkan tubuhnya. "Gav ...." Dipandanginya lelaki yang berdiri dibelakang adiknya itu.
Keadaan Kenzie yang demikian, cukup mencubit keras perasaan Gavin. Dia sehancur ini. Tuhan, apakah aku terlalu cepat menarik Nilam kembali kedalam hidupku? "Ken." Dalam balutan senyum getir.
Gavin membawa pikirannya pada rasa iba. Ia mengambil tanggapan bahwa kekusutan Kenzie itu adalah karena masih adanya cinta dalam hatinya untuk Nilam. Dan rasa cemburu pada dirinya.
__ADS_1
Sabar, Gav. Penulis receh ini akan segera mengurai benang kusut yang mengganggu pikiranmu.
Dengan mata berkaca-kaca, Nilam mendekati pria tangguh yang kini rapuh itu. "Boleh, aku memanggilmu, kakak?" Dengan tatapan penuh harap.
DEG
Cukup lama Kenzie terdiam. Ditatapnya gadis yang begitu dicintainya itu dengan hunusan perasaan yang juga pahit.
Benar ... gadis itu tak lain adalah adik kandungnya sendiri. Adik yang telah lama hilang. Adik sedarah yang hampir dinikahinya.
Tidak, tidak! Ia seharusnya bersyukur, karena Tuhan menyingkap tabirnya tepat pada waktunya. Jika tidak, maka ia akan menjadi manusia paling hina dan busuk didunia, karena melakukan penyatuan darah yang sama dalam ikatan pernikahan terlarang.
Lalu perlahan kedua sudut bibirnya mulai tertarik kesamping. Ia tersenyum. "Tentu. Kamu boleh memanggilku kakak mulai dari sekarang." Ditariknya gadis itu kedalam rengkuh peluknya.
"Terima kasih, Kak." Nilam tersenyum penuh haru. Lengannya sudah melingkar erat dipinggang Kenzie.
Saku celana menjadi sarang untuk kedua telapak tangan Gavin. Ia tersenyum penuh haru. Meskipun tak bisa dipungkiri, perasaan tak nyaman masih bergelayut dalam hatinya. Wajah luka Kenzie, sangat, sangat menyedihkan.
Realistis! Tidak sebucin para CEO kebanyakan yang bahkan disentuh kakaknya pun harus mencuatkan rasa cemburu. No! Kita berkiblat datar saja. Tidak masalah. Toh mereka sedarah.
"Ken, apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Gavin. Kenzie memang menyukai keheningan. Tapi bukan tempat seperti ini yang biasa menjadi pilihannya. Terlebih setelan yang menunjang penampilannya. Cukup aneh!
Pelukan kakak beradik itu sontak terlepas.
Nilam menatap miris ke arah Kenzie yang mulai disadarinya sangat semrawut. Jauh meninggalkan kegagahannya. "Kak, maafkan aku."
"Kakak jadi seperti ini gara-gara aku. Andai waktu itu aku tidak memberikan harapan pada Kakak, mungkin Kakak tidak akan sehancur ini." Dalam tunduk sendu dan juga titikkan air matanya yang mulai terjun tanpa parasut. Menyesal!
Namun tak disangka, Kenzie malah membalasnya dengan sebuah senyuman tulus. Nilam kembali dipeluknya. Dikecupnya pucuk kepala gadis itu penuh kasih. "Semua sudah terjadi. Dan ini bukan salahmu. Dulu, sekarang, dan untuk selamanya, kamu adalah adikku. Adik kecil kesayanganku."
"Syukurlah, jika kau sudah bisa menerima, Ken." Gavin dalam kesyukurannya. "Lalu kenapa kau masih terlihat amburadul seperti ini, jika memang kau sudah melapangkan dadamu?"
TELAK!
Sejurus pertanyaan Gavin itu membuat ingatan Kenzie kembali pada kacaunya. "Hana ...." Dalam tatapan gusar.
Nilam menarik diri dari dekap sang kakak. "Hana? Ada apa dengan Hana, Kak?"
Gavin dalam kernyitan herannya. "Ken, ada apa dengan Hana?" Ia mengulang pertanyaan Nilam. Karena sahabatnya itu masih memaku diam dengan sirat penuh beban.
Kenzie kembali menghempas diri pada kursi kayu di belakangnya itu. "Hana ...." Kembali terdiam.
Gavin dan Nilam masih menunggu jawaban.
"Hana ... Hana menghilang."
__ADS_1
"Apa?!" Nilam tersentak. "Maksud, Kakak?"
Mengusap wajahnya kasar, Kenzie cukup bimbang untuk menjelaskan. "Iya. Dan itu karena aku. Aku yang membuatnya pergi. Dan sampai sekarang aku belum bisa menemukannya." Dalam segudang sesal.
"Bisa kau jelaskan lebih detail?" Gavin tak cukup memahami. Karena jawaban Kenzie masih mengambang.
"Iya, Kak. Tolong jelaskan padaku, ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kepergian Hana itu karena Kakak?" Gempuran pertanyaan Nilam. Ia sudah mendudukkan tubuhnya disamping Kenzie.
Kenzie menoleh sang adik, lalu beralih pada Gavin yang berdiri penasaran. "Aku ... aku telah melakukan kesalahan besar padanya."
"Maksud Kakak?" Nilam semakin dibuat bingung.
"Malam itu, dihari yang sama saat aku mengetahui bahwa kamu adalah adik kandungku, aku pergi ke klub, sepulang dari rumahmu, Gavin. Dan aku ....aku minum cukup banyak disana."
"Ken, kau minum?" Gavin cukup dalam kejutnya. Karena setahunya, Kenzie cukup anti untuk hal-hal unfaedah semacam itu.
"Iya, Gav. Kenyataan bahwa Nilam adalah adikku, cukup membuatku kacau."
Ada sedikit kilatan perih dihati Gavin mendengar penuturan sahabatnya itu. "Lalu apa hubungannya dengan Hana? Kesalahan macam apa yang kau lakukan padanya?"
Nilam masih terdiam menyimak dengan segala persiapan hati.
"Aku ...." Mengusap wajahnya kasar. "Aku telah menodainya. Menghancurkan masa depannya. Aku telah merenggut mahkota keperawanannya."
DUARRR...
Kedua pasang mata itu membulat paripurna. Jantung mereka saling bertabuh kencang.
Efek dari cinta sedarah itu, segila ini?
Nilam melebarkan telapak tangannya menutupi mulutnya. Tangis dalam ketidak percayaan mulai disuarakannya. "Hana ..."
"Maafkan Kakak, Kenny. Maafkan." Sesal Kenzie berada dipuncaknya.
Nilam tetap bergeming dalam tangisnya..
"Ken ... kenapa itu bisa sampai terjadi?" Gavin sungguh tak habis pikir.
Kenzie bangkit dari posisinya. Mendekat ke arah mobilnya. Di jedukannya kepalanya pada bagian belakang besi penunjang travellingnya itu.
"Aku melakukan dengan separuh ketidaksadaranku, Gav."
Gavin tersenyum kecut. "Separuh katamu? Lalu bukankah kau masih punya separuhnya lagi untuk menolaknya, hah?"
"Aku terlalu terbuai nafsuku. Hingga akal sehatku tak bisa ku fungsikan, Gavin."
__ADS_1
"Bodoh!" Gavin menghampiri Nilam yang sudah terisak. Dipeluknya gadis itu erat. "Sudah, jangan menangis. Kita akan cari Hana bersama-sama."
Memukul-mukul dan menendang mobilnya keras, melihat tangis Nilam, Kenzie semakin frustasi. "Aaarrrrgggghhhhh...!!!!"