Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Rumah baru untuk ...


__ADS_3

Senja mulai merayap...


Mengikis terang perlahan dalam diam.


Sedikit demi sedikit, sang jingga memenuhi pelataran langit.


Disini, didalan kamar rawat inap berkelas vip sebuah rumah sakit. Beberapa berkumpul dalam rangka menjenguk sang bidadari. Mereka terdiri dari Kakek Usman, Murni, Hana, dan Gavin. Dan tentu saja, Nilam sebagai subjek utama penyebab mereka berkumpul diruangan itu.


Chaka sudah kembali kerumah singgah.


Urusannya terlalu banyak, jika ia yang dipilih untuk menemani Gavin seharian penuh ditempat itu.


Sedangkan Kenzie dan kedua orang tua Gavin, berjanji akan kembali malam nanti.


"Kakek, Hana, juga Bibi, maafkan aku...."


Di awal bab 69 ini Nilam sudah mengeluarkan air matanya.


Semua dengan kening berkerut.


"Maaf untuk apa, Nak?" tanya Kakek Usman.


"Maaf, karena penyambutan pertamaku untuk kalian dikota ini tak seindah yang kalian bayangkan."


Sendu menghias diri diparas cantik natural itu.


Murni dan Hana saling beradu pandang.


Sungguh kemuliaan hati yang sejati. Dalam musibah seberat itupun, Nilam masih memikirkan kebahagiaan orang lain.


Gavin masih tenang dalam diamnya. Diam yang didalamnya terkandung jutaan kesyukuran.


"Nak, Kakek yang seharusnya minta maaf, karena Kakek tidak bisa menjagamu. Bukan hal yang tepat, jika kamu menyalahkan dirimu sendiri atas masalah yang terjadi."


"Tapi, Kek, aku dan Gavin sudah berjanji, akan mengajak kalian berkeliling kota ini. Tapi apa, aku malah berakhir disini," ujarnya muram.


"Nilam ... cucuku .... Melihatmu selamat dari maut saja, adalah kebahagiaan terbaik saat ini untuk Kakek."


"Iya, Kak. Tidak perlu berkeliling kota, yang penting Kakak sembuh. Aku malah menemukan kebahagiaan lain disini. Didy sudah bertemu ibu kandungnya. Tadi kami juga di jamu makanan yang enak-enak saat numpang istirahat dirumahnya." Hana menimpali dengan senyuman.


"Disini aku yang salah. Aku yang gagal melindungi dia." Durja tampan milik Gavin itu menatap sendu sang kekasih dengan sesal tiada tara.


"Gav ... sudahlah. Tidak ada yang salah disini. Setiap yang terjadi, musibah ataupun berkah, pahit ataupun manis, juga hidup ataupun mati, itu semua adalah ketentuan Tuhan. Kita kini hanyalah pion yang digerakan-Nya. Jadi semua hal yang terjadi padaku, sudah termasuk dalam ketentuan-Nya."


Perasaan bahagia dan bangga, terangkum dalam senyuman haru yang terpulas diwajah Gavin. Satu kecupan dipunggung telapak tangan Nilam di lepaskannya dalam. "Terima kasih, Sayang."


Juga senyuman yang ia dapat sebagai balasan dari gadisnya.


Mendengar penuturan Nilam, kenapa hatinya begitu terasa sakit? Murni. Bertumpuk kesalahan dalam liput kejahatan dan kecurangan yang dilakukannya pada gadis itu, merobek dinding hatinya yang mulai disapa kesadaran dan hidayah. Gadis itu, selalu kokoh dalam garis kesabarannya. Tak ada kata menyalahkan, juga tak ada dendam.


Nilam ... terbuat dari apakah hatimu itu?


"Maafkan Bibi, Nilam. Maafkan Bibi. Terlaku banyak kesalahan yang Bibi perbuat padamu." Jatuhan butiran bening itu, sudah basah bergaris dikedua belah pipinya.

__ADS_1


"Bibi ... kenapa harus mengungkit itu lagi? Aku sudah memaafkan Bibi, seiring maaf, yang selalu disediakan Tuhan untuk setiap hamba-Nya."


Kalimat itu sungguh menohok titik terdalam hati Murni. Ia menangis terisak.


Sungguh merasa kecil.


"Ibu ...." Hana memeluk sang Ibu. "Sudah ya, Bu. Mulai sekarang sayangilah Kak Nilam. Seperti Ibu menyayangi aku. Juga seperti dia, yang tak pernah membenci Ibu."


Anggukan cepat teriring tangisan penuh sesal, Murni sungguh merasa kejam sebagai manusia.


"Iya, Nak."


"Syukurlah, Kakek bahagia," ucap Kakek penuh syukur.


Tok tok tok ....


Suara ketukan pintu menjadi pengusik, melodi penuh sesak dan haru itu.


"Masuk." Gavin menyahuti.


Tak lama pintu itupun terbuka. Menampilkan sesosok lelaki paruh baya berseragam supir.


"Permisi, Tuan Muda. Mobil yang Anda minta sudah siap." Lelaki itu adalah salah satu pegawai di rumah besar Gavin.


"Oke, tunggu sebentar. Kamu bisa tunggu diluar."


"Baik, Tuan Muda."


Dan lelaki itupun berlalu dan pintu tertutup kembali.


"Dia supir dirumah utama," jawab Gavin seadanya. Entah mengapa, kini wajahnya berubah seolah berpikir. Dan sesaat kemudian, kalimat penuh ragu itupun di semburkannya. "Umm ... Kakek, Hana dan juga Bibi, aku minta maaf sebelumnya. Karena tidak meminta pendapat kalian terlebih dahulu soal ini."


Ketiga orang yang diabsen Gavin itu, mengernyit tak mengerti. Tak terkecuali Nilam.


"Maksudmu, Gav?" tanya Kakek.


Sejenak Gavin menghela nafas. " Aku memutuskan untuk membeli sebuah rumah dikota ini untuk kalian tempati."


"Rumah? Untuk kami?" Hana berkerut kening, juga Murni dan Kakek yang masih berusaha mencerna.


"Begini ... aku rasa, rumah kalian didesa itu, bukan lagi tempat aman untuk kalian tinggali. Apalagi kalau sampai Dahlan tahu, Bibi Murni ada disana."


"Ibu? Kenapa dengan Ibu, Gav?" Hana mulai penasaran.


"Iya, Gav... ada apa dengan Bibi? Apa pembebasan dari rumah Juragan Dahlan itu, bersyarat?" Nilam menimpali, juga dengan penasaran.


Sejenak Gavin terdiam. Kemudian ....


"Aku dan Kenzie melakuan perjanjian palsu dengan Dahlan, dibalik pembebasan Bibi Murni."


"Perjanjian palsu?!" Pertanyaan itu terlontar bersamaan.


"Ya."

__ADS_1


Selanjutnya Gavin menceritakan seluk dan beluk rencana yang telah disusunnya dengan Kenzie. Dan penjelasan itu cukup membuat semua orang yang ada di ruangan itu membelalak terkejut.


"Serumit itu? Ya, Tuhaaann.... Bagaimana kalau sampai Dahlan tahu?" Kakek Usman mulai cemas.


"Akan ku usahakan serapi mungkin." Gavin meyakinkan. "Jadi kalian setuju, kan, menempati rumah yang ku belikan?"


Pasang-pasang mata itu saling melempar tatap.


Hingga ....


"Baiklah, kami setuju, Gavin. Kami tidak ingin membuat semua pengorbananmu menjadi sia-sia," jawaban Kakek Usman akhirnya.


Gavin memulas senyum. "Terima kasih," ucapnya. "Dan satu lagi, setelah pulih, juga sebelum aku dan Nilam resmi menikah, Nilam juga boleh tinggal bersama kalian. Karena apartemen dan juga rumahku, bukan lagi tempat yang aman untuknya."


"Benarkah itu, Gav?" Nilam dengan binar dimatanya.


"Iya, Sayang. Apa kamu senang?" Telapak tangan itu di genggam Gavin.


"Sangat, Gav."


"Syukurlah." Lalu kembali mengecupnya.


"Ah aku senang sekali. Akhirnya kita berkumpul lagi!" Hana sumringah. "Kakak akhirnya kita bisa cerita-cerita lagi setiap malam."


"Iya, Hana. Kakak juga."


****


Pukul 07.30 malam.


Hana, Ibu dan Kakeknya, sudah diantar supir Gavin menuju rumah baru mereka.


Menyisakan Kedua sejoli yang kini tengah saling beceloteh penuh canda, dan ... romantis tentunya.


Hingga dering suara ponsel milik Gavin yang masih tergantung dalam chargernya dimeja yang terletak disudut ruangan, mengusik alunan romantic itu.


"Oh, shiitttt!!! Mengganggu saja!" seru Gavin kesal.


"Di angkat dulu, Gav. Siapa tahu penting," usul Nilam.


"Palingan juga Kenzie atau Asty... atau mungkin Mama. Sudahlah biarkan saja! Aku sedang asyik bersamamu." Gavin dengan senyuman imut layaknya hamster.


"Lalu kenapa jika itu mereka, bukankah mereka orang-orang penting untukmu?"


Seketika, wajah imut yang dibuat-buat itu berubah datar. Gadis ini .... "Baiklah. Sebentar, aku angkat dulu."


"Iya, Gav."


Menuntun kakinya beberapa langkah untuk meraih ponselnya. "Dari rumah," gumamnya, setelah melihat nama yang tertera dilayar benda pipih itu.


"Hallo. Ada ap--"


"Tuan Muda!! Nyonya, Tuan ....!!"

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa jejaknya...😘❤❤


__ADS_2