
Semua orang menunggu dalam mode penasaran. Benarkah, gadis yang akui Gavin sebagai kekasihnya itu, memiliki rambut yang di penuhi hewan-hewan menjijikan seperti yang di ujarkan Sony?
Kita lihat saja!
Dalam hatinya, Shinta sangat berharap, bahwa yang di katakan pengawalnya itu, benar adanya.
"Aku ingin tahu kebenarannya." Sejenak ia menelisik penampilan Nilam dari atas hingga ke bawah. Kemudian telapak tangannya mulai melayang mendekati wajah Nilam, dan ....
Wush! Terbuka.
Ikatan rambut yang di pasang secara asal-asalan, membuatnya terlepas seiring kain hitam yang di tarik Shinta secara cepat dan kasar. Hingga nampaklah pemandangan dari rambut Nilam yang terburai.
Sangat indah dan ... sempurna!
Pasang-pasang mata itu membelalak seketika. Tak terkecuali Sony. "Bidadari, kah?" Tanpa sadar, gumaman itu terlontar dari mulutnya yang semula menganga. Menelan sedalam-dalamnya ucapan yang telah di ujarkannya sebelumnya.
Sudah jelas bukan, julukan bidadari yang di gumamkan Sony itu, mematah telak pengetahuan bodohnya tentang Nilam.
Salah besar!
Asty nyaris tak mampu mengedipkan matanya. "Ya, Tuhan ... Nuri ...."
"Kalian semua lihat? Adakah belatung yang mau hidup di tempat seindah ini?" Gavin merangkul pundak Nilam dari samping. Mengecup sekilas sisi kepala kekasihnya itu.
Ekspresi kesal di tunjukkan Shinta. Tangannya terlihat mengepal. Kenapa juga si Sony itu menuduhkan hal yang sebenarnya sangat di luar logika. Memalukan! "Aku permisi, Tuan Gavin." Melangkah dengan rasa malu yang di bungkus keangkuhan. "Ayo Sony."
Namun apa, si bodyguard konyol itu masih bergeming di tempatnya. Kelopak matanya yang melebar masih tak lepas menatap Nilam.
"Sony ...!!"
Teriakan Shinta itu berhasil mengembalikan jiwanya yang melanglang buana di buai kekaguman. Ia mengerjap seketika. "I- iya, Nona. Tunggu aku!" Kemudian berlari mengejar sang Nona yang sudah mulai menjauh.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Gavin, memegang pundak Nilam yang masih terdiam membisu.
"Ya," jawaban singkat Nilam.
"Syukurlah." Gavin menarik tubuh itu ke dalam peluknya. "Maafkan aku." Menciumi pucuk kepala itu bertubi-tubi.
Sebuah senyuman tipis di ulas Nilam. "Bukan salahmu, Gav. Lagipula aku tidak apa-apa."
Kembali, sebuah kecupan mesra di daratkan Gavin di kening Nilam.
Sebuah pertunjukkan yang menarik untuk waktu sepagi ini. Semua menatap keduanya dengan perasaan iri.
Iri pertama, jelas karena kecantikan Nilam yang merupakan idaman setiap wanita.
Dan iri yang lainnya adalah, mereka juga memiliki harapan besar yang isinya ... 'semoga ada stock pria lain yang sebaik, setampan, dan sekaya Gavin'. Lucu sekali.
Eits, tapi tunggu! Bukan seperti itu, bukan. Bukan menginginkan pria yang sama persis seperti Gavin, melainkan pria itu sendirilah yang mereka inginkan.
Aduhaaii ... mimpi yang benar-benar muluk.
Dan tentu saja, yang demikian adalah isi kepala para wanita yang tak lain adalah karyawan Gavin sendiri.
__ADS_1
Sedangkan kekaguman lainnya, di siratkan oleh para karyawan bergender Adam untuk Nilam. Dan sungguh, itu membuat sang Bigbos bak trinidad scorpion. Pedas!
"Apa yang kalian lihat?! Kembali ke kubikel kalian masing-masing!!" perintah Gavin keras, tegas dan tak terbantahkan.
Seperti kerumunan semut yang terganggu, semua berhamburan kelimpungan. Bahkan beberapa dari mereka ada berbelok arah dari tujuannya.
Meskipun masih berusia sangat muda, aura kepemimpinan Gavin mampu membuat siapapun tak bisa melawan ketegasannya.
"Ayo, Sayang," ajak Gavin usai keadaan steril. Dan Nilam mengangguk tanpa berkata. Asty mengekori juga dalam diamnya
****
"Ken, apa semua yang berhubungan dengan iklan itu, belum juga kau bereskan?"
"Sudah. Kenapa? Apa ada yang salah?" Duduk bersilang kaki, Kenzie menanggapi dengan santai pertanyaan Gavin di ruangannya.
Seperti sebelumnya, Gavin menghampiri Kenzie ke ruangannya tanpa Nilam. Ia meninggalkan Gadis itu di ruang kerjanya bersama Asty, sekretarisnya.
Tentu saja, tujuannya untuk meminimalisir pertemuan kekasih dan sahabatnya itu.
Menurutnya, Kenzie dengan sejuta pesonanya, bisa saja menarik perhatian Nilam. Dan mungkin saja, gadis kesayangannya itu, akan beralih pandang darinya. Sebuah pemikiran logis yang nyaris terdengar konyol. Dasar bucin!
Lanjut ke percakapan.
"Lalu kenapa wanita itu terus merepotkan dirinya datang kemari?"
"Shinta maksudmu?"
"Siapa lagi? Memangnya berapa orang model yang kau sewa jasanya?"
"Jangan mengujiku. Katakan saja!"
"Haha ....! Jatuh cinta terkadang merubah orang menjadi bodoh. Shinta itu suka padamu, Kawan!"
"Apa katamu? Suka? Sejak kapan? Hitungan pertemuan dengannya saja belum menghabiskan lima jariku. Itupun tak ada interaksi berlebih. Jangan mengarang, Ken. Ini bukan pelajaran bahasa."
"Ya, Tuhan ...." Kenzie mengusap durjanya kasar. "Sepertinya sekarang kau lebih cocok menjadi pelawak, di bandingkan pemimpin. Aku jadi tak yakin, kau bisa menghadapi Dahlan."
"Berhentilah mengolokku, Ken," ujar Gavin. "Aku mulai tak nyaman dengan keberadaan wanita bernama Shinta itu."
"Biarkan saja. Dia hanya seekor hamster yang sedang jatuh cinta."
"Tapi aku melihat tatapan sengitnya itu mengarah pada Nilam. Aku tahu benar, aura benci itu berisi pemikiran kotor. Terlebih dia adalah seorang publik figur. Mudah baginya melakukan apapun. Aku takut dia akan menyakiti calon isteriku, jika benar yang kau katakan itu."
Kenzie tersenyum kecut. "Warasmu masih ada ternyata. Tapi kau ada benarnya, selama ini begitu banyak wanita yang menjadikanmu kandidat pasangan mereka. Menghampirimu dengan jalan menjilat tanpa malu. Lalu kau tolak, dan mereka pulang dengan kecewa tanpa hasil. Dari sanalah berbagai cara bodoh mereka lakukan untuk mendapatkanmu."
"Dan beruntung aku memilikimu, security hebatku yang berhasil menghalau mereka dengan cara yang bahkan aku tak tahu." Gavin tersenyum miring.
"Mengurus kelinci-kelinci kecil seperti itu bukan masalah untukku." Kenzie jumawa.
"Aku percaya. Tapi kadang aku heran, kenapa kau lebih suka bersembunyi dan memilih menjadi tamengku, padahal jika kau menonjolkan diri, aku yakin, mereka akan lebih mengejarmu dari pada aku."
Seulas senyum di hadiahkan Kenzie. "Kau tidak perlu tahu. Itu akan tetap menjadi bagian yang tak bisa ku jelaskan. Dan untuk Shinta, aku baru ingat, sepertinya dia memang tak bisa di remehkan."
__ADS_1
"Maksudmu?" Gavin mengernyit.
Kenzie mengangkat tubuh tegapnya, berjalan ke arah sebuah guci yang terletak di pojok ruangan. Menekan kran, dan menyangganya dengan gelas yang siap menampung airnya.
Gluk... gluk ... gluk ....
Suara tegukan air yang mengaliri kerongkongan Kenzie, berhasil melepas dahaganya.
"Dari hasil penyelidikan anak buahku, nama Shinta tertulis di dalam sebuah kartu keluarga, dan jelas, di sana ia berstatus sebagai anak."
"Lalu?"
Kenzie kembali mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Masih dengan gelas di lingkar jari-jarinya. "Dan kau akan terkejut mendengar siapa yang bertanda tangan sebagai kepala keluarganya."
"Jangan terus memberi teka-teki. Langsung saja." Kesabaran Gavin mulai terkikis.
"Dahlan!"
Sontak! Sebuah kejutan yang mengejutkan bagi Gavin. "Kau tidak sedang bercanda, kan, Ken?"
Kenzie menggeleng. "Baru babak audisi saja, aku sudah tidak lolos. Wajahku bukan di takdirkan untuk menjadi pelawak."
"Jadi itu benar? Shinta adalah anaknya Dahlan?"
"Iya, Gav! Dunia ini sungguh sempit, bukan?" Kenzie dengan kekehan kecilnya. "Mencari garis besar perangai Dahlan, ada Shinta yang ku temukan. Satu tepukan, dua lalat yang harus di urus secara bersamaan. Merepotkan!"
Rasakan kalian!
Dunia sempit yang Author ciptakan sambil menyesap segelas kopi. Sangat mudah, bukan? Hhee...
"Hey Author sompak! Sadar! Kau juga yang harus repot mengatur saraf-saraf pemikiran kita berdua," suara puas Kenzie dan Gavin.
Ha ...? Benar juga. Hhuffftttt ...
Melehoyyyy ....
"Jadi, apa kau punya rencana?" tanya Gavin.
"Baru akan ku pikirkan. Dan kau, Gav, kapan rencananya kau akan pergi ke desa itu kembali?"
"Besok pagi."
"Baiklah. Aku ikut."
"Kau ikut? Untuk apa?"
"Tenang saja, aku tidak akan mengusik Nilammu. Aku hanya ingin bertemu Hana."
Gavin tersenyum kecut. "Jadi semudah itu kau mengalihkan hatimu?"
"Terserah apapun menurutmu. Aku hanya berpikir, kehadiranku akan berguna di sana."
Jipajip laaahhh...🤓
__ADS_1
°°°°°