
Segerombol gannet utara terbang pulang ke peraduan, mengitari langit sore dengan jingganya. Pantulan bayangnya dilautan seolah menggiring menuju temaram.
Di ujung laut, sang surya beranjak semakin rendah. Membenam diri menggilir belahan dunia.
Dua pasang kaki telanjang melangkah mengukir bekas di lembutnya pasir ditepian. Tangan terikat saling mengait bergandengan.
Menjejak romansa di senja yang mulai meniti gelap.
Gavin dan Nilam!
Langkah mereka akhirnya terhenti, dijarak beberap meter dari batas sapuan air laut. Duduk bercengkrama hangat berhadapan saling bertukar tatap. Sesekali tawa renyah terdengar saling membalas. Hangat!
Tak peduli tiupan udara yang mulai berubah dingin. Tak peduli debur ombak yang mulai membesar kian mendekat.
Lenyap! Tak terasa!
Tertutup hangatnya deburan cinta yang memuncak ditengah bahagia.
"Sayang, kita tinggal disini selamanya saja, ya?" Mengangkat telapak tangan Nilam yang terdampar dikedua pahanya.
"Yang benar saja, Gav." Nilam terkekeh.
"Habisnya disini tenang. Tidak ada Chaka."
"Justru aku akan merindukannya bila terlalu lama disini."
"Apa katamu?! Merindukannya? Merindukan manusia gasrak itu?" Seolah terpancing.
"Haha...." Nilam tergelak. "Aku hanya bercanda, Gav."
Gavin terdiam sesaat. "Sayang ... boleh aku minta satu hal?"
"Hmm." Sedikit mengangkat alisnya.
"Bisakah memanggilku dengan panggilan yang lebih mesra?"
"Eh?"
Nilam memaku diam, mencerna.
Benar! Lelaki itu kini sudah resmi menjadi suaminya. "Memangnya kamu ingin aku panggil apa?" Sedikit rengutan kikuk.
__ADS_1
"Ummm...." Mendongakan kepalanya tipis, Gavin seolah berpikir. "Aku ingin kamu panggil ...."
"Apa?"
Meluruskan pandangan ke wajah Nilam, dengan sunggingan senyuman pasti seolah menemukan apa yang dicarinya. "Hubby."
"Hubby ...?" Menatap Gavin memastikan.
"Ya. Bagaimana?"
Bergelut sesaat dengan pikirnya.
"Baiklah... Hubby!" Tak ada alasan bagi Nilam untuk menolak. Yah, cukup menggelikan memang! Tapi ... itu memang seharusnya. Ia dan pria itu sudah terkait dalam ikatan sakral yang didalamnya syarat penghormatan.
Tidak bisa ugal-ugalan!
Senyuman lebar terukir menyabit di bibir Gavin. "Begitukan manis," imbuhnya. "Aku bahagia. Sangat bahagia." Menangkup kedua belahan pipi sang isteri. "Terima kasih sudah melengkapi warna ku. Terima kasih sudah membintangi malamku. Terima kasih ... sudah hadir dalam hidupku."
Terdengar seperti gombalan koin, namun andai dada itu boleh dibelah, maka sebentuk ketulusan yang akan muncul jadi pemuka. Tak ada! Gombal memanglah kias semu. Namun yang Gavin utarakan itu, ialah untaian kejujuran tulus tanpa tipuan.
Binar senyuman memancar terang diwajah cantik milik Nilam. Ia merasakan! Sangat merasakan. Gavin tak sedang menggoda dengan gombalan kebanyakan pria. Ia melihat itu.
Ketulusan!
Saling menatap dalam lingkar yang sama. Dalam asa dan haluan yang juga sama.
Penuh cinta!
Mengikuti irama senja yang syahdu. Perlahan gerak itu mulai berubah. Kedua telapak tangan Gavin kini bergeser menyusup kebelakang tengkuk Nilam. Hembusan nafas saling membentur kulit wajah mereka. Semakin dekat dan ....
CUP!
Kedua bibir saling beradu. Kedua pasang mata mulai meredup. Namun tak ada nafsu. Murni hanya sentuhan saling mengisi.
Hingga ...
BYURRR....
Ombak datang menghempas diri menginterupsi, seiring warna hari yang mulai pekat.
"Hahaha...." Kedua sejoli itu saling melempar gelak dan tawa.
"Tidak ada Chaka, tapi disini ada ombak," umpat Gavin dan lagi disusul tawanya.
__ADS_1
Tubuh mereka sudah kuyup.
"Ayo. Sekalian saja kita berenang." Gavin yang sudah berdiri mengulurkan telapak tangannya ke arah Nilam yang masih terduduk dengan sisa tawanya.
"Ayo."
Dan keduanya pun berlari menantang ombak yang baru saja memukul moment manis mereka.
Air laut menutupi tubuh mereka hingga melewati pinggang. Saling menciprat seperti anak kecil yang bermain banjir. Namun jujur saja ... itu sangat menyenangkan.
Romantis!
Puas dengan tawa, kedua tubuh kini mendekat saling merekat peluk. Saling beradu berhadapan tanpa jarak. Sedikit merendahkan tubuhnya, Gavin memilih posisi rendah dalam romantisme berlebel 'halal' tersebut. Melanjutkan sesi manis yang tadi disela ombak.
...♡♡♡♡...
Dan pada akhirnya....
Cinta yang luhur, akan tetap luhur.
Meski alam merajam dengan ribuan panah atau bahkan tombak.
Meski semesta menghakimi dengan gumpalan demi gumpalan tanah yang menghancurkan.
Meski penyihir merubah dengan segala bentuk dan tatanan.
Tetap pada kekokohannya.
Tangguh dengan kekuatannya.
Cinta!
Milik akan tetap menjadi milik!
Dan hak akan tetap menjadi hak!
Karena cinta...
Cinta...
Cinta...
__ADS_1
Dan juga cinta!