Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Tamparan iblis


__ADS_3

Sore itu, sepulang dari rutinitas kantornya, Gavin mengajak Nilam untuk makan di sebuah restoran favoritenya.


Tiba-tiba di perjalanan ....


"Umm ... Gav."


Gavin menoleh sekilas. " Ada apa, Sayang?" Dengan tetap fokus pada kemudinya.


"Jangan makan di restoran, ya ...."


"Kenapa?"


"Aku ingin memasak."


"Memasak...?"


Nilam mengangguk. "Iya."


"Tapi kamu ingin memasak dimana? Sedangkan setelah ini, kita akan menginap di hotel."


"Tidak usah ke hotel. Ke apartemenmu saja!"


"Ha...?"


"Iya, tidak apa-apa, kan?"


Sejenak Gavin berpikir. Lalu sesaat kemudian, sebuah senyuman tersungging manis di bibirnya. "Baiklah."


"Terimakasih. Kalau begitu, kita belanja dulu, ya." Nilam dengan semangatnya.


"Belanja? Belanja apa?"


"Tentu bahan-bahan untuk aku memasak, Gav. Memangnya kamu pikir apa?" Wajah memberengut itu malah terlihat lucu.


Di sertai kekehan kecilnya, Gavin menarik telapak tangan Nilam, lalu menciuminya bertubi. "Maaf," ucapnya. "Baiklah, kita ke supermarket sekarang."


Sesampainya di supermarket.


Nilam mulai mencari bahan-bahan yang di carinya. Memasukkan satu persatu bahan makanan yang di butuhkannya ke dalam troli.


"Sayang, aku ke toilet sebentar, ya," izin Gavin. "Kebelet."


"Iya, Gav."


"Kamu mau ikut?"


"Ha ... untuk apa? Tidak, tidak." Menggelengkan kepala. "Aku tunggu di sini saja."


"Tidak apa-apa aku tinggal?"


"Ya, Tuhan, Gav. Apa kamu akan sepuluh tahun ditoilet?"


"Hehe ... tidak. Aku hanya khawatir padamu."


"Aku tidak akan apa-apa, juga tidak akan kemana-mana. Sana pergi! Nanti kamu ngompol!" Nilam mendorong punggung Gavin seraya terkekeh.


"Aku bukan si Bulbul yang kencing sembarangan! Baiklah. Tetap di sini. Jangan kemana-mana."


"Iya."


Gavin pun berlalu menuju tujuannya.


Dan Nilam melanjutkan kembali kegiatan berbelanjanya.


Tiba-tiba ....


"Awww!!!" pekik Nilam. Seseorang menjambak rambutnya yang tergerai itu, dengan sangat keras dari belakang.


"Dasar wanita menjijikkan. Enyah kamu dari sisi Gavin!"


"No- Nona ... lepaskan rambutku. Sakiitt ..." rintih Nilam seraya memegangi rambutnya yang di tarik keras wanita di sampingnya. Hingga kepalanya terdongak ke belakang.


Sebelum melepaskan, wanita itu menarik rambut panjang Nilam sekencang-kencangnya, lalu di hempaskannya dengan kasar. Kemudian ....

__ADS_1


Plakkk!!! Dengan kecepatan 350 km/jam, sebuah tamparan dari telapak tangannya mendarat keras di pipi halus Nilam. Hingga menimbulkan bayangan merah memar di bekasnya.


Benar-benar tamparan iblis!


"Aww!!" Lagi-lagi suara pekikan itu kembali terdengar dari mulut Nilam. "Nona ada apa denganmu? Apa salahku?" Menempelkan telapak tangan di pipinya yang terasa panas hasil perbuatan wanita itu.


Shinta!


Dengan wajah pongahnya. "Kau bertanya apa salahmu?" Tersenyum kecut. " Salahmu adalah ... karena kamu telah mengacaukan rencanaku untuk menguasai Gavin!"


"Menguasai Gavin? Maksudmu?"


"Gavin itu milikku!" bentakan keras Shinta. Ia mulai melayangkan kembali telapak tangannya ke wajah Nilam. Namun ....


Gepp!! Pergelangan tangannya lebih dulu di cekal seseorang. "Jaga kelakuanmu, Nona," suara bariton itu tegas.


"Si -siapa kamu?!" Shinta dalam keterkejutannya.


Mata Nilam yang semula meringis terpejam, kini terbuka seketika. Ia menatap laki-laki asing yang telah berhasil menghalau laju telapak tangan Shinta ke wajahnya.


"Aku?" Tersenyum remeh. "Aku bukan siapa-siapa. Pergilah dari sini. Jangan membuat kekacauan," pinta pria asing itu pada Shinta.


"Jangan ikut campur urusanku dengan wanita bodoh ini!"


"Kalau kau tidak mau pergi. Aku terpaksa memanggil security untuk mengamankanmu," ancam lelaki itu.


"Kau ... kau tidak tahu siapa aku ...."


"Ku rasa aku tidak perlu tahu. Karena itu memang tidak penting," sahutnya santai. "Pak security ...!!!"


"Nona Anda tidak apa-apa?" tanya Sony datang tergopoh.


"Kau ... kemana saja kau?! Dasar bodyguard bodoh!"


Menghentakkan kakinya keras. Shinta berlalu dari hadapan Nilam dan lelaki itu. Dengan tingkah kakunya Sony mengikuti di belakangnya. Oon!


"Kau tidak apa-apa, Nona?" tanya lelaki itu pada Nilam selepas kepergian Shinta.


"A- aku tidak apa-apa, Tuan. Terima kasih."


Sejenak Nilam terdiam. "Nilam. Namaku Nilam." Menerima uluran tangan itu dengan kaku.


Pria bernama Edrick itu tersenyum. "Sebuah nama sederhana, tapi sangat cantik. Sangat cocok dengan wajahmu yang ayu."


Seperti biasa, Nilam tidak suka pujian. Ia hanya terdiam menunduk menanggapi kicauan lelaki itu.


"Ada apa? Apa aku salah bicara?"


"Sangat salah!" Gavin tiba-tiba datang dari balik punggung Nilam. "Karena hanya aku yang berhak memujinya." Sejurus tatapan tajam terarah lurus ke wajah Edrick.


"Oh, hay, Tuan. Apa kau kekasih Nilam?" tanya Edrick santai.


Dan berbanding terbalik dengan Gavin yang mengerutkan keningnya heran. "Kau tahu namanya?" Melirik ke arah Nilam yang masih menunduk. "Sayang, kamu kenal dia?"


Hanya sebuah gelengan yang di berikan Nilam sebagai jawaban.


"Yakin kamu tidak mengenalnya?" ulang Gavin penasaran.


Edrick masih dengan senyumannya. "Dia tadi di ganggu oleh seseorang. Aku hanya berniat menolong. Tidak lebih."


"Benarkah? Siapa yang mengganggumu?" Memegang kedua pundak Nilam.


Nilam mengangkat wajahnya. Menatap netra pekat milik Gavin bergiliran. "Iya, ta--"


"Ya, Tuhan ... wajahmu kenapa, Sayang? Siapa yang melakukan ini padamu?!" pungkas Gavin dalam kekagetannya kala melihat pipi halus itu berubah memar dan memerah.


"I-itu ...."


"Seorang wanita," potong Edrick bersidekap tangan dengan gaya santainya.


Gavin melirik lelaki asing itu. "Katakan!"


"Sepertinya aku sering melihat wanita itu wara-wiri di televisi."

__ADS_1


"Televisi ...?" Gavin terdiam sesaat. Menggali pikirannya tentang wanita yang di ucapkan Edrick. Dan sesaat kemudian ... "Shinta!" Kembali mengalihkan pandangannya pada Nilam. "Benar itu, Sayang? Shinta yang membuatmu begini?" Mengusap lembut pipi itu menggunakan jari-jarinya.


"Iya, Gav."


"Ya, Tuhan ... apa maunya wanita itu?" Menarik Nilam ke dalam pelukannya. "Maafkan aku, Sayang." Dalam rona sesal Gavin mengecupi kedua belah pipi Nilam tanpa perduli dengan tatapan semua orang, termasuk Edrick.


"Sakit, Gav."


"Maaf."


"Lain kali kau jaga dia baik-baik, Tuan." Berucap seraya memutar tubuhnya, Edrick berlalu meninggalkan tempat itu.


"Terima kasih telah menolong isteriku!" seru Gavin.


Tanpa menoleh, Edrick hanya melambaikan tangannya dari samping. "Sama-sama ... Tuan." Guratan seringai senyum terpulas di wajahnya.


Cuihh! Isteri ... aku tidak perduli. Aku menginginkan wanita itu!


****


Di balik tirai oranye, pekatnya malam telah siap menggantikannya. Memberi kesempatan si tubuh untuk beranjak ke peristirahatan.


Di dalam apartemen Gavin.


"Aww!" pekik Nilam.


"Maaf. Sakit sekali ya?"


"Sedikit."


"Sekeras apa wanita itu menamparmu, sampai wajahmu memar begini? Benar-benar wanita gila!" Dengan sangat hati-hati, kain yang telah di celupkan ke dalam air hangat itu, di sentuhkan Gavin ke pipi Nilam penuh kasih.


"Sudah. Tidak apa-apa. Sakitnya mulai berkurang."


Nilam menahan sentuhan berikutnya kain kompres itu dengan telapak tangannya.


"Benar tidak apa-apa?"


"Iya."


Setelah menaruh baskom air hangat itu, Gavin mendudukan bokongnya di samping Nilam. "Tadi aku kan sudah bilang, kamu ikut saja aku ke toilet. Jadinya seperti ini, kan?" Kedua lengannya sudah melingkar di tubuh Nilam.


"Tidak apa-apa. Tuhan sudah menolongku melalui Tuan Edrick," ucap Nilam penuh syukur.


Namun ucapan dan senyum syukur Nilam itu membuat Gavin tersentak. Ia melepaskan pelukannya seketika. "Kau juga tahu namanya?" Semburat cemburu menjadi hiasan.


Nilam mengangguk dengan malu. "Iya, tadi setelah Nona Shinta pergi, dia menyebutkan namanya, lalu bertanya namaku."


"Lalu kamu jawab, begitu?!" Sepertinya aliran darah Gavin mulai naik ke pusat kepalanya.


Nilam mengangguk pasrah. "Iya." Lalu menundukkan wajahnya takut.


Gavin langsung bangkit lalu mengusap wajahnya kasar. "Ya, Tuhan ... itu artinya kalian berkenalan."


"Me- memangnya ke- kenapa, Gav?" Pertanyaan polos Nilam.


"Aku tidak suka! Sangat jelas lelaki itu mengagumi mu," ujar Gavin, kemudian berjongkok bertumpu lutut di hadapan Nilam. "Lain kali jangan berkenalan sembarangan, tanpa sepengetahuanku. Aku cemburu! Mengerti?!"


Nilam tersenyum. "Terima kasih sudah cemburu."


"Apa?!"


"Itu artinya kamu tidak ingin kehilanganku." Telapak tangan halusnya menangkup kedua pipi Gavin. "Aku sayang kamu."


Ungkapan dengan suara lembut itu, sungguh membuat hati Gavin terasa melayang di udara. Sudut bibitnya tertarik membentuk senyuman senang.


"Dasar penggoda kecil!" Ia lantas bangkit menarik Nilam ke dalam rengkuh tubuhnya. "Aku jauh lebih menyayangimu ...." Kecupan bertubi-tubi di hadihkannya di pucuk rambut kekasihnya itu.


Bahagianyaaaa....


♡♡♡♡


Hhuuufffttt... 😫

__ADS_1


Nyang jomblo...Jan mewek!


Wkwkwk..


__ADS_2