
Pendar kegagahan sang surya mengusir gelap dengan angkuhnya.
Saatnya aku memimpin hari, enyahlah! Begitu mungkin bunyi seruannya.
Huufft ... Tuhan, bukankah telah Kau atur segalanya dengan sangat apik? Lalu kenapa Author yang oon ini masih saja dengan kata-kata sok puitisnya? Menggelikan!
****
"Kau yakin, Gav, akan pergi ke rumah Dahlan siang ini juga?" Kenzie dengan secangkir latte di tangan kanannya. Berjalan menghampiri Gavin yang masih duduk dengan santai di balkon apartemennya.
Benar, Kenzie datang ke tempat itu pagi-pagi buta. Entah apa yang menjadi alasannya. Aneh.
"Iya."
Mendaratkan bokongnya di kursi sebelah Gavin. Dengan meja bundar minimalis di tengah yang menjadi penyekat jarak antara keduanya. "Lalu pekerjaan kantormu?"
"Akan ku bawa sebagian ke desa Nilam dan ku kerjakan di sana, dan sebagian lagi, seperti biasa ku serahkan pada Seno dan Asty."
Kenzie dengan senyum gelinya. "Kau tidak kasian pada Asty, dia itu belum menikah. Kau bisa membuat kepalanya botak sebelum mencapai pelaminan."
"Akan ku belikan wig yang paling mahal."
"Haha ... apa menurutmu itu sebanding?"
"Jelas."
Kali ini kekehan Kenzie terdengar lebih keras. "Kadang aku tidak mengerti kenapa wanita itu betah menjadi sekretarismu?"
"Karena aku ini tampan!"
"Buk--"
"Kamu pikir hanya kamu saja yang tampan! Sombong!"
Pungkasan ucapan Nilam itu sukses membuat kedua prince itu menoleh.
Hening ...
Pemilik kedua wajah tampan itu terpaku. Diam, dengan mata terpana tanpa kedip.
Jelas saja! Selain pemandangan indah kota dan pendaran cahaya mentari, Nilam, dengan balutan midi dress dusty blue polos berlengan tanggung, serta rambut panjangnya yang di biarkan tergerai begitu saja, menjadi pemandangan paling indah yang membius mata pagi itu.
"Kalian berdua, kenapa?"
Upin dan Ipin tampan dan tak botak itu, seketika mengerjap.
"H- hay, Nilam." Lambaian tangan kaku Kenzie, menandai bahwa ia lebih dulu keluar dari dunia kekagumannya.
"Bukankah kamu sudah menyapaku tadi saat kamu datang, Ken?"
"E -eh, iya. Aku lupa." Kenzie menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ketombe pun tidak ada, apalagi kutu. Lalu apa? Salah tingkah! Begitulah kira-kira penyebabnya.
Namun Gavin, pria yang belum mandi namun tetap wangi itu, mulai berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah Nilam. "Jangan terlalu banyak bicara dengannya. Kamu ini milikku." Tanpa lalala, ia memeluk gadis itu seerat-eratnya. Menciumi pipi kanan dan kirinya berkali-kali. Memeluknya lagi dan lagi penuh semangat.
"Dasar anak bodoh, dia pikir di sini hanya mereka berdua," gumam Kenzie tersenyum seraya membuang muka.
"Gav, berhenti. Aku tidak bisa bernafas!"
Lepas! "Maaf." Lalu tersenyum. "Aku terlalu bahagia."
"Kenapa? Ada apa?" Pertanyaan polos Nilam.
__ADS_1
"Karena aku bisa melihat bidadari cantik sudah turun sepagi ini ke bumi. Apa dia kehabisan tempat di surga?"
"Lebay!" Kenzie kembali dengan umpatannya.
"Kamu ini ada-ada saja," ujar Nilam memukul pelan lengan kekasihnya itu. "Oiya, aku sudah meyiapkan sarapan. Maaf, agak lama, tadi aku mandi dulu."
"Tidak apa-apa, Sayang. Ayo makan," sahutan ceria Gavin seraya merangkul pundak gadisnya.
"Ayo, Ken," ajak Nilam.
"Iya."
Menatap punggung kedua sejoli yang berjalan di depannya itu, sedikit mencubit perasaan Kenzie. Andai bisa, mungkin ia akan mencopot hatinya saat itu juga. Agar perasaan bodoh itu, tak terus menggodanya. Sialan!
****
Di depan, Lamborghini hitam milik Kenzie memimpin, dikuti Bmw i3 yang di kendarai Gavin di belakangnya. Kedua mobil mewah itu, melaju beriringan. Menonjol membelah jalanan kota yang syarat dengan hiruk pikuknya.
Ya, mereka kini dalam perjalanan menuju ke Tegal Mayang, sebuah desa kecil nan asri tempat Nilam di besarkan.
Melaju tanpa hambatan, akhirnya mereka sampai setelah hampir lebih dari tiga jam menempuh perjalanan.
Penduduk di sekitaran, menatap penuh kagum pada kedua kendaraan mewah yang sangat asing bagi mereka itu.
Banyak dari mereka mulai mendekat karena penasaran, siapakah gerangan yang berada di dalam mesin pengangkut nan mewah beroda empat yang kini terparkir di halaman rumah kakek Usman itu?
Wuahhh ....
Itulah kata pertama yang keluar dari mulut mereka. Ketika kedua pintu mobil itu terbuka, dan keluarlah dua pangeran kodok yang kadar ketampanannya setara Song Weilong milik wajah tampan Gavin, dan sekelas Orlando Bloom di sandang Kenzie.
"Ya, Tuhan ... mereka tampan sekali," pekik orang-orang itu terkagum-kagum. Seolah melihat aktor-aktor kelas dunia tiba-tiba datang ke desa mereka. Benar-benar mimpi yang terwakilkan.
Dan satu lagi kejutan untuk penduduk awam itu ...
"Siang Bibi, Paman, semuanya," sapaan itu keluar dari mulut Nilam dengan halus dan sopan, di sertai senyuman manis yang telah mutlak di milikinya.
"Siang Nilam!!" Semua serentak menjawab.
Kenzie dengan kedua tangan yang di selipkannya kedalam saku celananya, menghampiri Nilam dan Gavin yang masih asik dengan sapa menyapanya dengan orang-orang tetangga Kakek Usman tersebut. "Kalian tidak akan mas--"
"Kak Nilam ...!!!" Teriakan Hana yang muncul dari dalam rumah, mengalihkan perhatian semua orang. Tak serta merta, gadis manis itu langsung menghambur ke pelukan Nilam. "Aku kira Kak Nilam tidak akan kemari lagi."
"Hey, bicara apa, kamu? Kakak tidak akan mengingkari janji." Membalas pelukan Hana.
"Hay, Hana."
Suara Kenzie membuat Hana menoleh. "K- Ken."
Wajah itu, aku melihatnya lagi. Benarkah itu dia?
Kenzie tersenyum, "Bagaimana kabarmu?"
Hana melepas diri dari pelukannya dengan Nilam.
"A- aku b- baik. Ka- kamu apa kabar, Ken?" Suara kaku itu, entah apa penyebabnya. Entah karena pesona ketampanan lelaki itu ... atau karena alasan lain. Hmm ....
"Aku baik."
"Syukurlah."
Nilam dan Gavin saling melempar senyum. Keduanya memilih mendahului Hana dan Kenzie untuk masuk ke dalam rumah. Memberi ruang yang mungkin akan membuat pria dan wanita itu saling mengisi. Semoga ....
__ADS_1
Hana masih tertunduk diam, merasa tak punya kata untuk memulai percakapannya dengan Kenzie.
Pertemuanku dengannya baru mengangkat dua jariku. Tapi kenapa perasaanku sebahagia ini?
"Apa kamu tidak akan mempersilahkanku masuk?"
Seketika wajah dengan rona merah itu mendongak. "E- eh, iya, maaf. Silahkan masuk, K- Ken."
Tanpa di duga Hana, Kenzie melingkarkan lengan kokohnya di pundaknya. "Hana ... kamu masih saja bersikap kaku. Santai saja. Kita ini, kan, teman." Lelaki itu terkekeh geli.
Deggg!!
Sebuah desiran aneh melintas di hati Hana. 'Teman', mengapa kata itu terasa mengganggunya? Apa penyebabnya? Membingungkan!
Simple!
Kamu jatuh hati padanya, Hana. Bisakah, teriakan sutradaramu ini kau dengar??
Melangkah dengan santai, Kenzie berjalan menuju pintu utama rumah Kakek Usman, dengan tangan yang masih melingkar di pundak Hana.
"Sudah sesiang ini, di sini tetap saja terasa sejuk."
Ya, Tuhan, sedekat ini dengannya ....
Gemuruh di dada Hana semakin membuncah. Aroma maskulin tubuh Kenzie yang menenangkan, semakin mendukung gejolak di dalam hatinya.
Kenzie melepas rangkulan di pundak Hana, wajahnya mengedar sekeliling rumah itu, "Dimana Gavin dan Nilam?"
Tak ada jawaban. Hana masih terbius perasaannya. Mengusap sisa sentuhan tangan Kenzie di pundaknya.
"Hana."
Gadis yang di panggil Kenzie itu tersentak. "Eh, kenapa, Ken?"
Kenzie mengerutkan keningnya. Menatap wajah Hana yang semakin memerah. Dan tatapannya yang mengandung bius itu, jelas semakin membuat Hana salah tingkah.
Hingga sesaat kemudian ....
"Jangan jatuh cinta padaku ... Hana."
Deg ... deg ... deg ...
Suara dentaman jantung Hana tiba-tiba mengencang saling menabuh. Ia menatap kedua netra coklat itu bergiliran. "A- apa maksudmu, Ken? Ak -aku tidak mengerti."
Kenzie tersenyum tipis. "Aku tahu kamu suka padaku."
"A -apa?"
Blum sampai tiga menit, Kenzie mampu membaca mimik wajah Hana. Langsung menembak kalimat tanpa pertimbangan. Dan itu ... sangat tepat! "Jika kamu menyukai aku, maka sakit yang akan kamu dapatkan. Karena aku tidak bisa membalasnya. Jadi berhentilah. Dan hapus segera perasaanmu itu."
Hana tertegun, tak ada anggukan apalagi gelengan. Ia tak mampu menolak ataupun mengiyakan. Karena hatinya seratus persen membenarkan.
Siapa dirinya dan siapa Kenzie jelas di sadarinya. Tapi lelaki itu ... ucapannya ... sungguh menyakitkan!
Tidak bolehkan hanya sekedar mengagumi? Bukankah itu sah-sah saja? Seorang fans saja boleh mencintai idolanya, tanpa menuntut balasan dari perasaannya.
Benar, anggap saja ia adalah seorang fans. Tapi kenapa lelaki itu dengan kejamnya, memintanya mencabut tunas perasaan cinta yang bahkan yang baru saja tumbuh? Sakit!
Mengapa ia tak seberuntung Nilam yang di cintai hampir semua lelaki? Bahkan dengan mudah menaklukkan pria sesempurna Gavin.
Mengapa ia tidak bisa?
__ADS_1
Mengapa?!
••••