
Dua hari berlalu....
Kenzie yang mengambil cuti beberapa waktu dari kantor Gavin, melimpahkan segala urusan pekerjaannya pada Chaka. Namun masih tetap dalam pantauannya.
Aneh memang, ia dan Gavin adalah jenis lelaki workaholic, namun semua buyar setelah kehadiran Nilam ditengah-tengah mereka. Entah sihir macam apa yang berada dalam diri gadis itu, hingga ia mampu membelokkan fokus pria-pria cerdas itu.
Hari ini, pria yang memiliki wajah berahang tegas itu, sudah duduk dibalik kemudi lamborghininya. Dengan Nilam yang bertengger manis disampingnya.
"Kamu yakin akan menemui wanita itu?" Kenzie bertanya seraya terus memutar bingkai stirnya. Ya, mobil itu sudah melaju membelah jalanan siang ini.
Anggukan teriring keyakinan diberikan Nilam. "Ya, Ken. Aku yakin."
"Sebenarnya apa yang membuatmu ingin menemuinya?"
Menoleh tipis ke arah Kenzie. "Aku hanya merasa bersalah padanya. Dia begitu karena aku."
Senyuman kecut tertarik di bibir Kenzie. "Terkadang aku heran, didunia ini masih ada orang seperti kamu." Diraihnya telapak tangan halus itu, lalu dikecupnya sekilas. "Terlalu baik dan terlalu tulus."
"Bukan begitu, Ken. Aku bisa merasakan bagaimana perasaannya. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Dia hanya menginginkan bahagia. Meskipun jalan diambilnya salah."
"Dan karena kesalahannya itu, sekarang ia menjadi seorang psakitan. Bahagia tak menuntut cara keras. Banyak hal sederhana yang bisa dilakukan untuk menghasilkannya. Seperti aku...."
Nilam memiringkan kepala dengan tatapan ingin tahu terarah pada Kenzie. "Apa?"
Diliriknya gadis itu dengan seulas senyuman tulus. "Melihatmu tersenyum, sudah mampu menghasilkan kebahagiaan untukku."
Author ngeceng. Ciyeeee, Kenzie uda bisa gombal. Ayo apresiasi, Lovers! He...
"Kamu berlebihan, Ken." Tersenyum geli.
"Kenapa?"
"Tidak cocok."
"Benarkah?" Nilam mengangguk masih dengan senyuman lucunya. "Lalu apa yang cocok denganku?"
"Aku lebih suka mendengarmu membahas pekerjaan."
"Seserius itu aku?" Kenzie tak habis pikir.
Nilam terkekeh. "Tidak. Tidak juga."
"Lalu?"
"Umm ...." Seolah berpikir. Lalu menatap Kenzie yang sudah mulai tak sabar. "Lakukan mulai sekarang untukku. Aku suka."
Sungguh jawaban yang menjebak. Tapi ... Kenzi suka itu. Dikecupnya kembali punggung tangan gadis disampingnya itu, tanpa melenceng dari kemudinya. "Untukmu ... apapun akan aku lakukan."
__ADS_1
Nilam, tentu saja menarik sudut bibirnya. "Terima kasih."
Cukup lama perjalanan itu dilalui dengan berbagai obrolan. Namun tanpa melibatkan nama Gavin didalamnya. Karena nama itu cukup sensitif untuk dijadikan topik di moment setenang itu.
Hingga tak berapa lama.
"Kita sampai," ujar Kenzie seraya memarkirkan mobilnya.
"Oya?" Nilam, di edarkan pandangannya menyapu sekeliling tempat itu, melalui kaca mobil yang terbuka.
"Ayo, turun."
Keduanya mulai melangkah beriringan menuju bangunan berpagar tinggi dan berkawat itu.
Sebuah lapas.
"Siang, Tuan dan Nona, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pria berambut cepak, yang tentu saja berseragam polisi.
"Kami ingin bertemu Nona Anita, Pak." Kenzie menjawab seadanya.
"Nona Anita?" Polisi itu terlihat berpikir.
"Tahanan dengan kasus percobaan pembunuhan dan pelemparan bom asap beracun dikediaman Gerry Pradana."
"Oh, Nona Anita yang itu." Pria itu mulai mengingat. "Mohon maaf, Tuan, tahanan atas nama Nona Anita dengan kasus yang Anda sebutkan, sedang tidak berada di lapas," terangnya.
"Maksud Anda tidak ada, Pak?" Kenzie ingin tahu.
"Sekitar empat hari yang lalu Nona Anita dilarikan ke ruma sakit. Karena ia terus berteriak, menangis dan meraung menyebut-nyebut nama Gavin, hingga tak lama tubuhnya mengalami demam tinggi dan menggigil. Dan masih dalam perawatan hingga saat ini," jelas polisi muda itu.
••••
Berbekal informasi yang didapat dari sang aparat, Nilam dan Kenzie kini tengah berjalan menyusur beberapa koridor menuju ruang rawat Anita didalam rumah sakit yang dimaksud.
Tak berapa lama kemudian....
Pintu ruangan itu disibak Kenzie perlahan. Setelah memperoleh izin dari kedua polisi yang berjaga didepannya. Dan nampaklah sosok Anita yang tengah terbaring lemah di atas ranjang besi didalamnya.
Keduanya mulai memasuki dan mendekat ke arah gadis narapidana itu. Wajah yang dulu cantik bermodal segala perawatan, kini terlihat pucat dan tirus. Blackspot menghias dengan jelas disekeliling kelopak mata yang terpejam. Sungguh, pemandangan itu membuat Nilam tak kuasa menahan lelehan air dimatanya. Dan sesaat ia mulai terisak.
Melihat itu, Kenzie langsung membentang lengan dan menarik tubuh berguncang itu kedalam pelukannya."Sudah, tidak apa-apa."
"Ken ...."
"Hmm." Seraya mengelus punggung Nilam.
"Bisakah ia dikeluarkan dari penjara? Aku tidak tega melihatnya seperti ini."
__ADS_1
Sejenak Kenzie terdiam. Boleh diakuinya, sesungguhnya hatinya pun tak jauh berbeda dengan Nilam. Rasa iba sudah bergolak meronta didalam sisi manusiawinya. Tak tega. "Tidak bisa, Lam. Pengadilan sudah mengetuk palu untuk hukuman yang diterimanya."
"Tapi ...."
"Kita tidak bisa melakukan apapun."
Dalam dentaman rasa iba yang saling beradu, mata pucat itu mulai terbuka perlahan. Pelukan antara Nilam dan Kenzie sontak terlepas. "Dia sadar, Ken."
Mendengar suara disampignya, Anita menggunakan ekor matanya untuk melihat. "Ka ... li..aan. Se-sedang apa, disini?"
Memapah gerak tubuhnya untuk mendekat, Nilam mendudukkan tubuhnya dikursi yang berada disamping ranjang itu. "Kami hanya ingin menjengukmu, Anita."
"Untuk apa? Untuk menertawakanku?" Pertanyaan sarkas dalam suara lirih dan lemahnya.
Nilam menggeleng cepat. Digenggamnya telapak tangan berhias jarum infusan itu. "Tidak, Anita. Tidak ada yang menertawakanmu. Aku datang kesini sebagai temanmu."
"Teman?" Tersenyum kecut. "Aku tidak percaya. Bahkan orang tuakupun tak pernah menjengukku selama aku dipenjara. Aku terlalu memalukan untuk mereka. Apalagi dirimu yang tiba-tiba mengaku sebagai temanku."
"Apakah kau tidak bisa melihat ketulusan dimatanya, Anita?" Suara sergahan Kenzie yang berdiri dibelakang Nilam.
Ketulusan? Anita menatap netra sendu Nilam. Ditelisiknya berulang. Tak ada, tak kebohongan dan kepura-puraan disana. "Apa tujuanmu?" Masih dalam ketidak percayaannya.
"Aku tidak ada tujuan apapun. Niatku murni hanya ingin mengunjungimu saja. Tak lebih dan tak kurang. Andai aku mampu, maka aku akan membantumu untuk keluar dari tempat itu," ujar Nilam tulus.
Anita tercenung. Benarkah yang di katakan wanita itu? Tapi mengapa ia merasa ucapan itu sangat jujur dan penuh ketulusan? "Benarkah?"
"Ya. Tapi sayangnya aku tidak bisa. Aku tidak punya wewenang apapun. Semua limpahan kasusmu dibawah kuasa papanya Gavin." Nilam dengan raut sesalnya.
Mendengar nama Gavin, dada Anita seketika berdebar penuh sesak. Bulatan matanya mulai memanas. Dan sesaat kemudian, air mata itu sudah terjum menuruni sisi wajahnya. "Gavin ...." Dan mulai menganak sungai.
"Anita, ada apa?!" Nilam tersentak.
"Aku ... terlalu banyak kesalahanku padanya."
"Sudah. Tenanglah, Anita. Dia pasti sudah memaafkanmu."
Terdiam, lalu menjuruskan pertanyaan, "Lalu kau, kenapa tidak bersamanya?" tanya Anita merasa heran.
DEG!
Nilam mendongakkan wajahnya ke arah Kenzie sesaat. "Tidak. Tidak apa-apa." Kembali menatap Anita.
••••
Fix, jadi jelas ya... bulir air mata keempat itu adalah miliknya Anita. Itulah tujuan mengapa part ini dibuat.
◇◇◇◇◇
__ADS_1
Semoga terhibur!