
Bosan bergelung dalam lingkup konflik berat, ku beri sedikit hadiah penenang....
...Cekidot!...
...○○○...
...Akan tertinggal...
...Atau ditinggalkan...
...Meneruskan......
...atau memulai, dengan sesuatu yang baru?...
...Ah, sudahlah....
...Ikuti saja alunan waktu dalam jiwa terjaga....
...Kemana dia akan membawa segenap kisah yang membentuk dua kata digaris tegas ......
...Masa depan!...
...Hari mengukir legenda, entah dengan jenis perasaan yang mana. Yang jelas... semua sudah terlewati sesuai porsi dan takarnya....
...Tuhan !...
...Mengikuti alur dan skenario yang Ia ciptakan. Dengan rela, dengan sadar, juga dengan syukur....
...Melangkahlah.......
...••••...
"Bagaimana? Kamu suka rumah ini?"
Pertanyaan itu tercetus dari mulut sang idola pada fansnya, fans yang kini berganti status menjadi isterinya.
Ya! Kenzie.
Berdiri berdampingan di balkon luar sebuah apartemen. Kerlap dan kerlip lampu dihamparan kota, yang mungkin berjumlah ribuan itu, menjadi sejurus pemandangan yang tak bisa di tepis. Terlalu mencolok.
"Aku suka. Disini pemandangannya sangat indah," sahut Hana tersenyum, menoleh sekilas ke arah suaminya, lalu kembali menghadap beranda malam yang berbeda dari biasanya.
Ya, mereka baru saja pindah ke tempat itu. Memutuskan mandiri lebih awal dari keinginan kedua orang tua Kenzie yang mengharapkan keduanya tetap tinggal dirumah utama.
"Benarkah?"
"Hmm." Tanpa merubah pandang. Tetap lurus ke depan. Namun sepertinya angin malam mulai menunjukkan perannya. Kedua tangan Hana yang semula berpegang pada besi pembatas, kini mulai bergerak perlahan, menyilang, memeluk tubuhnya sendiri, dengan pundak sedikit terangkat.
Kenzie menyadari itu. Entah apa yang menggelitik hatinya, hingga bibirnya tertarik kesamping membentuk sabit senyuman yang menawan. Tanpa berkata, pria itu menggerakkan kakinya selangkah ke belakang. Mensejajarkan posisinya seolah mengantri.
Hana, wanita muda itu masih asyik dengan ragam pikirnya. Entah tentang lampu-lampu diseantero kota, atau lalu lalang kendaraan yang bergerak seperti mainan dengan remot control.
Hingga sebuah gerak merayap di kedua pinggangnya mengusik melodi tenangnya. Dengan kaku menurunkan wajahnya, menatap ke arah perutnya. Dan ....
Ya, Tuhan ....
Lengan kekar itu sudah melingkar sempurna, mengunci tubuh kecilnya. Tak ada jarak membentang, tidak walau hanya satu mili. Dagu lancip dengan belahan manis ditengah itu, sudah mendarat dipundaknya.
Sontak! Perlakuan tak lazim Kenzie itu membuat irama berdentam dan berdentum di dada Hana, seolah membentuk orkestra dadakan. Meneguk salivanya dengan susah payah. Sumpah demi apapun, ini terlalu mengejutkan!
__ADS_1
"Sudah hangat?"
Tararamtamtam....
"Emm ... su-sudah." Meringis merutuki kekakuannya sendiri. Memalukan!
"Syukurlah."
"Te-terima kasih."
Oh Lord ... bisakah buat hatinya datar dan bersikap biasa saja? Kenapa degupan abnormal itu tak bisa digilas setidaknya dengan kalimat santai tanpa patahan.
Bodoh!
"Hana ...."
"I-iya, Ken." Masih dalam modenya.
"Maafkan aku."
"Eh?" Terperangah. "Ke-kenapa minta maaf?"
"Karena aku banyak melakukan kesalahan terhadapmu. Bahkan dihampir satu bulan pernikahan kita ini, aku masih belum memperlakukanmu selayaknya isteriku."
Hana masih bergeming. Geming yang mengandung dentuman keras didalamnya, setiap bait kalimat Kenzie itu, bisa dikatakan hampir memporak porandakan perasaannya.
Benar, pernikahannya dan lelaki itu sudah berjalan hampir satu bulan lamanya. Bahkan onggokan kecil yang bernaung dirahimnya sudah menunjukkan kehidupannya. Tapi ia dan pernikahannya, masih stuck dalam baris monoton.
"Ku mohon maafkan aku ...." Kepala Kenzie masih bertopang dipundak isterinya.
"Aku ... aku akan selalu menunggu... menunggu sampai kamu mau menerima, dan melihat bahwa aku selalu berjalan disampingmu." Untuk pertama kalinya, Hana menyemburkan isi hatinya. Tanpa ragu dan si kaku bodohnya.
Mendengar kalimat itu, perasaan lelaki Kenzie, berdesir perih. Bagaimana bisa ia mengabaikan sebuah perasaan, perasaan yang seutuhnya ditujukan untuknya? Tuhan ... bisakah ampuni dia dengan segala kebodohannya.
Sungguh ...
Ini adalah kebahagiaan yang paling dan paling indah selama hidup Hana, di genggamnya punggung tangan Kenzie diatas perut ratanya. "Aku tahu kamu akan melakukannya."
Sejenak saling memandang berpulas senyum. Hingga perlahan kedua wajah itu saling mendekat ... dekat ... dan semakin dekat, sampai akhirnya menempel sempurna.
Dua pasang mata itu sudah sama-sama terpejam. Menikmati irama syahdu yang membius.
Terbawa! Hana menuntun lengannya naik dan mengalung saling mengait di leher suaminya.
Dan Kenzie, di tariknya tubuh ramping itu untuk memapas jarak yang tersisa diantaranya. Semakin intim. Kecupan berganti kecapan saling membelit bertukar saliva.
Merasakan mulai ada gelenyar panas yang mulai menguasai dirinya, Kenzie melepas pagutannya lalu mengangkat tubuh itu kedalam gendongannya. Membawanya masuk kedalam kamar untuk melanjutkan yang seharusnya.
Sisanya ... kita serahkan pada mereka ya....
Interupsi!
...•••••...
Pagi menyapa ....
Pendar kegagahan sang surya terasa hangat menembus kulit.
Hana mengerjapkan mata, ketika silau memaksanya untuk memulai kelana dihari yang cerah ini.
__ADS_1
Terasa berbeda!
Ada lengan kekar melingkar di atas perutnya. Memutar kepalanya ke samping untuk memastikan bahwa ini bukan hanya sekedar angan.
Dan nampaklah pemandangan pagi dengan taraf keindahan mengalahkan indahnya taman tergantung Babilonia. Wajah teduh Kenzie yang terpejam. Sangat tampan!
Tanpa disadarinya, jari-jari lentiknya mulai menyusur lembut pipi tegas suaminya itu. Untuk pertama kalinya selama pernikahan, ia dan lelaki itu tidur atas ranjang yang sama. Karena entah mengapa, Kenzie selalu lebih memilih tidur diruang kerjanya sebelumnya.
Cukup menyakitkan. Namun Hana memilih tegar dalam sabarnya. Ia percaya, Kenzie akan bisa mencintainya seiring rambatan waktu yang menjalar semakin jauh juga semakin luas.
Tapi kini, bergelung diselimut yang sama, dengan busana yang bahkan tak sempat mereka kenakan kembali, karena rasa lelah usai kegiatan memabukkan semalam.
"Selamat pagi."
Suara parau itu sontak mengejutkan Hana yang masing asyik dengan belai lembut di iras tampan lelaki halalnya. "K-Ken."
GEP!
Sebelum Hana mengangkat refleks telapak tangannya, Kenzie lebih dulu berhasil menahannya. "Kenapa ditarik? Biarkan saja seperti ini. Aku suka." Disusul senyuman manis pembuka pagi.
Aduhaaaii... impian muluk Hana, sepertinya sudah terealisasi lebih cepat dari dugaan yang bahkan tak pernah diberinya jarak dan rentang waktu.
Walaupun cukup kikuk, namun ia menikmati setiap inci kebersamaan itu. Semoga ini adalah moment yang mengawali segala kebaikan dan kebahagiaan untuk rumah tangganya kedepan, seterus dan untuk selamanya. Semoga ....
Setelah cukup lama berada dalam mode ajaib itu, saling memandang, menatap, dan saling membelai wajah, tiba-tiba tersungging sebuah seringai aneh diwajah Kenzie. Ia bangkit dan berdiri dari baringnya, lalu tanpa papalepale, diangkatnya tubuh mungil Hana lagak bridal style.
Hey! Kalian bahkan tidak berpakaian! Jangan meracuni pikiran si setan alas yang sok polos itu!
"Ken! Kamu mau apa?!" Hana dalam keterkejutannya.
"Kita mandi bersama." Seraya melangkah menuju pintu kamar mandi.
"Ap- apa?!"
"Bukakan pintunya," pinta Kenzie.
"Tap-tapiii...."
"Ayo buka! Aku mulai pegal. Tubuh kecilmu ini cukup berat," selorohnya.
"Lalu kenapa menggendongku!" Dengan wajah memberengut imut.
"Jangan menggodaku. Cepat buka."
"Iya, iya. Lagipula siapa yang menggodamu." Masih dengan raut menggemaskan, seraya memutar knop pintu.
CKLEK!
Dengan gerakan cepat, Kenzie menerobos masuk kedalam ruangan lembab itu dengan tubuh Hana yang masih dalam pangkuannya. Lalu menurunkannya kedalam bathtub yang menunggu untuk di perawani, setelah ranjang. Karena hari ini hari pertama mereka memulai segalanya di apartemen barunya itu. Yang ke semua benda didalamnya masih dalam segel original.
"Sebentar aku isi airnya dulu."
Seperti balita yang baru bisa bicara, Hana hanya mengangguk dalam patuhnya.
Ahh... isteri penurut!
Kemudian ....
...°°°°...
__ADS_1
Hey, readers setiaku, akan ku berikan kesempatan untuk kalian menyusun kegiatan mereka selanjutnya.
Selamat berhalu riaaaa...Wkwk...