
Awan hitam berarak tertiup angin. Kabut tipis menyelimuti desa di pagi yang mendung itu.
Tuhan dengan sangat apik mengatur background kesedihan seorang remaja 15 tahunan itu hari ini.
Didy, bocah yang tak lagi gagu itu, kini tengah berkubang dalam dukanya. Duka yang tertoreh dari pahitnya kehilangan.
Dengan gerakan naik turun, telapak tangan Didy mengelus - elus batu nisan Mbok Parmi yang baru saja selesai di kebumikan. Air matanya tak henti mengalir mengiringi kepergian wanita tua yang begitu di sayanginya itu. Jasad renta itu kini terkubur, bersama kasih lembut dan senyumnya, yang kini, hanya tinggal kenangan.
"Dy... kita pulang, ya. Sepertinya sudah mau hujan," ajak Danu. Karena semua pelayat yang mengantar Mbok Parmi ke peristirahatan terakhirnya, satu persatu mulai meninggalkan pemakaman. Menyisakan Danu yang masih setia mendampingi bocah malang itu.
"Aku masih mau di sini, Kak." Suara serak Didy menandakan dalamnya luka yang tergores di titik terdalam hatinya.
Seorang gadis dengan pakaian hitam senada membalut tubuhnya berjalan menghampiri ke arah Danu dan Didy. "Dy...," sapanya.
Didy mendongak melihat si mpunya suara.
Begitupun Danu.
"Kak Hana...."
"Hana...."
Gadis yang tak lain adalah Hana itu tersentak kaget kala mendengar suara remaja Didy. "Dy, ka- kamu bi- bisa bicara?" tanya Hana terbata. Tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Iya, Kak."
"Ya, Tuhan... syukurlah," ucap Hana. Ia kemudian menekuk tubuhnya berjongkok di samping Didy. "Kakak turut berduka cita atas kepergian mbokmu, Dy. Maaf, Kak Hana datang terlambat. Ibu...."
"Tidak apa - apa, Kak. Aku mengerti. Kakak ke sini pasti melalui perdebatan panjang dulu dengan Bibi Murni, kan?"
"Kamu benar, Dy," suara Hana terdengar sendu. "Terkadang Kak Hana merasa menyesal karena telah lahir dari rahim seorang ibu yang sikapnya selalu seperti itu."
"Hana... apa yang kamu katakan?! Seharusnya kamu bersyukur masih mempunyai ibu yang peduli terhadapmu," ujar Danu memperingatkan.
"Kak Danu benar, Kak. Seharusnya Kakak bersyukur masih punya ibu. Kakak lihat aku, aku bahkan tak tahu dimana ibuku berada sekarang." Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itulah peribahasa yang tepat untuk mewakili perasaan Didy kini.
"Dy... yakinlah... suatu saat kamu pasti bertemu ibumu kembali. Dia pasti akan mencarimu ke sini," ucap Danu meyakinkan.
Hana memasang wajah heran. "Mencari ke sini? Maksudnya? Bukankah ibumu sudah meninggal, Dy?"
Didy terdiam, tak ada kata yang tepat baginya untuk menjawab pertanyaan Hana.
"Nanti aku ceritakan, Han." Danu memberi jawaban. "Oiya, Han. Nilam dimana? Kenapa setiap kali aku mencoba menemuinya, dia tak pernah ada?" tanya pemuda itu dengan segala ketidaktahuannya.
Hana dan Didy saling melempar pandangan.
Mereka bingung darimana harus memulai.
"Kenapa kalian diam?"
__ADS_1
Tik... tik... tik....
Dan tetesan demi tetesan air kehidupan itu mulai jatuh menimpa apapun di sekitar tempat itu. Ketiga anak muda itu mendongak ke atas langit, memastikan. Dan benar, sepertinya langit memang ikut bersedih hari ini.
"Hujan, Dy," kata Hana.
"Ayo bangun, sepertinya akan deras," ujar Danu. "Disana ada gubuk bambu, kita berteduh disana. Ayo...."
Ketiganya berlari menuju sebuah gubuk yang di tunjuk Danu.
Byuuurrrr....
Tepat ketika mereka sampai di gubuk itu, tetesan itu telah mengundang banyak rekan - rekannya hingga berubah menjadi aliran. Hujan turun dengan derasnya.
"Untung saja keburu sampai disini," ucap Hana.
"Iya, Kak," sahut Didy.
Mereka kini duduk berjejer di atas sebuah bale bambu usang yang berada di dalam gubuk itu.
"Kalian berdua belum menjawab pertanyaanku," tuntut Danu.
Kembali Hana dan Didy saling menatap.
"Kak Nilam... dia...." Selanjutnya Hana menceritakan secara rinci deretan kejadian yang di alami Nilam dan keluarganya.
Terkejut, miris, sakit, terluka, kehilangan, itulah yang di rasakan Danu kini.
"Iya, Danu. Kami tidak tahu dimana kak Nilam sekarang. Dia pasti takut untuk kembali ke rumah. Aku dan kakek sangat merindukan dia," ujar Nilam muram.
Danu mengalihkan pandangan ke sembarang arah. "Juragan Dahlan...," geramnya.
Didy tertunduk sendu kala mendengar nama lelaki tua itu. Lelaki tua yang memiliki andil besar menghadirkannya ke dunia ini. Lelaki tua yang secara sengaja telah menghancurkan hidup ibunya. Dan lelaki tua yang secara garis besar adalah ayah biologisnya sendiri.
"Dy... maaf, Kak Danu tidak bermaksud menyinggung perasaanmu," ucap Danu saat menyadari Didy dalam sirat bermuram durja.
"Tidak apa - apa, Kak. Sangat wajar bila semua orang membenci dia." Terdiam sesaat. "Begitupun aku."
Hana kembali di buat bingung. Kedua alisnya saling tertaut dalam. "Memangnya Juragan Dahlan pernah melakukan apa padamu, Dy?"
Danu dan Didy terdiam saling melempar pandangan.
"Tidak ada apa - apa, Kak. Hanya masalah kecil," jawab Didy akhirnya.
Maafkan aku, Kak. Bukannya aku tidak percaya pada Kak Hana. Tapi aku tidak ingin terlalu banyak yang tahu kenyataannya bahwa Dahlan adalah ayah kandungku. Itu akan lebih baik untukku.
Danu cukup mengerti dengan keputusan Didy. Itu sebabnya ia terdiam tanpa ikut menimpali apapun.
****
__ADS_1
Kota A - Perusahaan Pradana
Gavin baru saja turun dari mobilnya.
"Ayo," ajaknya. Ia membukakan pintu mobil sebelahnya, yang menampakkan sosok Nilam yang masih terdiam ragu di kursi samping kemudi.
"Aku takut, Gav," sahut Nilam mendongak menatap wajah Gavin.
"Ya, Tuhan... kita sudah membahas ini sepanjang perjalanan. Jangan takut. Semua karyawanku itu manusia, bukan gollum. Ayo." Gavin mengulurkan tangannya pada Nilam. Yang meskipun cukup memakan waktu hampir 1,5 menit, namun akhirnya gadis itu menerima uluran tangan Gavin, dan mulai bergerak keluar.
Mereka berjalan beriringan menuju lobby perusahaan. Dan sesampainya di tempat itu, semua tatapan tertuju pada Nilam. Hingga mereka lupa untuk memberi hormat pada atasan mereka itu.
"Apa yang kalian lihat?!" tegur Gavin tegas.
"Eh... ma- maaf. Selamat pagi, Pak," sahut salah satu karyawan wanita yang bertugas di bagian resepsionis.
"Selamat pagi. Perkenalkan, dia ini Nuri, asisten pribadi saya."
"Ha...?" Mata membulat dan mulut terbuka lebar. Begitulah ekspresi yang di tunjukkan para karyawan Gavin kala mendengar penuturan bos mereka itu. Termasuk para karyawan yang baru saja tiba di tempat itu.
Nilam sungguh dengan perasaan resah, malu dan takutnya. Wajahnya tertunduk dalam,
dan jari jemarinya saling meremas, hingga mengeluarkan keringat pertanda ketidak nyamanannya.
Menyadari itu, Gavin langsung menarik lengan gadis itu. Melanjutkan kembali langkahnya menuju lift yang tertuju pada ruangannya, tanpa perduli tatapan aneh para karyawannya.
Dan benar saja, sepeninggal bos besar mereka itu, para makhluk haus gosip itu langsung berkerumun.
"Siapa gadis itu, ya?" tanya penasaran salah satu dari mereka.
"Tidak tahu. Aku baru melihatnya."
"Wajahnya sih memang cantik. Tapi kalian lihat penampilannya, aneh sekali.
"Iya, kain hitam di kepalanya itu... iyyuuwh... jijik aku melihatnya."
"Darimana Pak Gavin mendapatkan gadis itu, ya? Penampilannya kolot sekali."
Dan selanjutnya beragam asumsi tentang Nilam dan Gavin mereka kembangkan.
Hingga tanpa mereka sadari, sesosok tubuh tinggi tegap nan rupawan, berdiri tak jauh dari mereka, sembari menyilangkan lengan di bawah dadanya, memperhatikan mereka intens.
"Kalian sedang apa?"
Dan sukses, pertanyaan itu membuat para gossiper yang tengah berkerumun itu, gelagapan.
"P- Pak Kenzie...."
Bersambung genkksss....
__ADS_1