Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
BAGH BIGH BUGH


__ADS_3

...Jangan biarkan keraguan dan ketakutan menyelinap ke dalam ruang harapan yang mulai meluas....


...Tetap kokohkan diri pada garisnya....


...Karena harapan akan selalu ada saat keyakinan menjadi pendamping yang menguatkan....


...••••...


Malam ini, malam kedua bagi Nilam berada di bangunan syarat kaca itu.


Hati yang resah teriring jiwa yang gelisah, bertabrakan saling menggempur dalam dirinya. Mata sendu itu seolah enggan untuk terpejam.


Tuhan ... semoga Gavin dan lainnya berhasil menjinakkan bom itu.


Berguling diri ke kanan dan ke kiri, hingga sprei matras yang di rebahinya semrawut menjadi kusut.


Dan akhirnya ia lebih memilih bangkit lalu mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Diraihnya secarik kertas yang berikan Gavin melalui tangan Hera yang diselipkannya dibawah bantal yang bahkan telah dibacanya ratusan kali.


Kini diulangnya kembali dengan posisi memunggungi kamera cctv yang terus menyorotnya mengintai.


...Bersabarlah, Sayang....


...Aku pasti menjemputmu....


...Tetap tenang, dan jaga dirimu....


... -Gavin...


"Kenapa aku baru menyadari, tulisan surat itu sama sekali tidak mirip dengan tulisan ini. Bodoh!" makinya pada dirinya sendiri, lalu menengadahkan kepalanya ke atas dengan mata terpejam.


Hingga suara ketukan pintu berhasil mengalihkan iramanya. Cukup terkejut! Diselipkannya kembali kertas itu ke tempat asal persembunyiannya dengan cepat dan tergesa. Lalu dengan ragu melangkah menuju pintu yang terus diketuk tanpa jeda dan mendesak.


Ceklek!


Setelah rangkap besi yang terkunci itu terlepas, pintu disibak Nilam perlahan. Dan nampaklah sosok yang kini menjadi subjek utama mimpi buruknya, berdiri tegap dihadapannya.


Edrick!


Tanpa menunggu dipersilahkan, pria itu masuk ke dalam kamar lalu merebahkan diri dengan satu tangan terlipat menjadi penyangga kepalanya. "Kemarilah." Memaju mundurkan telapak tangannya yang melayang ke arah Nilam, yang masih membeku menatapnya diambang pintu. "Ayo."


"Aku tidak mau." Bukankah kau memiliki kamar sendiri?"


Bangkit, lalu melangkah kembali ke arah suara lalu menarik dagu dengan belahan manis itu. "Aku hanya ingin dekat denganmu. Apa itu salah?"


"Ya."


Menurunkan kembali lengannya, yang kemudian beralih diselipkannya pada kedua kantong celananya. Lalu berjalan mondar-mandir dengan lagak santainya. "Tapi sepertinya aku pernah mendengar, bahwa kau bahkan pernah tinggal satu apartemen dengan Gavin. Tidak mungkin, kan, jika tidak terjadi apapun diantara kalian?"


"Jaga ucapanmu!"

__ADS_1


Tersenyum lucu. "Aku benar, kan? Tidak akan ada laki-laki yang tahan saat berdekatan dengan seorang wanita semenggoda dirimu."


Nilam menepis telapak tangan Edrick yang baru saja hendak menyentuh pipinya. "Gavin tidak serendah itu!" tegasnya. Andai ia bisa memanggil tikus, burung, dan juga kucing, seperti yang dilakukan Cinderella, mungkin ia akan menyuruh hewan-hewan itu menggigiti pria itu hingga tak berbentuk.


"Haha...." Edrick terbahak. "Kau terlalu naif. Tapi aku ... tidak percaya!" sentaknya. "Tapi asal kau tahu, Nilam. Aku tidak masalah. Meskipun kau tak suci lagi." Melembut. "Aku bisa menerimamu apa adanya."


Daaan....


PLAK!


Pipi tegas itu menerima pendaratan keras telapak tangan Nilam. Sungguh itu adalah ucapan terbiadab sepanjang hidupnya.


Ia pernah mengalami hampir dilecehkan.


Berkali-kali. Dan yang terasa hanya sebuah ketakutan. Tapi ucapan pria itu... telah merubah ketakutan itu menjadi sebuah amarah yang meletup.


"Aku tidak serendah itu!" bentaknya keras.


Edrick yang masih bergeming dengan kepala miring selepas tamparan keras Nilam, memasang senyuman remeh. Lalu membalik menegakkan kepalanya menghadap Nilam. "Kalau begitu ... kita buktikan sekarang."


DEG


"A-apa maksudmu?" Melakukan gerakan mundur perlahan, kini ketakutan kembali merayapinya.


"Aku ingin membuktikan kebenarannya. Dan jika itu benar, aku akan benar-benar akan membangunkan sebuah mansion mewah untukmu di negara G." Terus memajukan tubuhnya mendekati Nilam yang juga terus beringsut.


"Tidak. Jangan. Jangan lakukan itu."


"Tidak, Edrick. Jangan, ku mohon." Bulir-bulir bening itu sudah menitik mengiringi deru dentam perasaannya.


"Ayolah. Jangan menolakku. Aku benar-benar menginginkannya sekarang."


Baru saja memutar untuk mengambil langkah cepat, Edrick sudah lebih dilu menarik tubuhnya.


"Tidak! Jangan! Aku tidak mau!"


Tanpa perduli. Dibawah kuasa libido yang terus merangsek menerjang jiwa lelakinya, Edrick menarik lalu menghempas tubuh yang bahkan tak seperempatpun mampu mengimbangi kekuatannya, ke atas ranjang kingsize yang telentang mensponsori pergelutan yang akan berlangsung sesaat lagi. Tentu saja dengan pintu yang sudah ditendangnya tertutup.


Nilam terus meronta dan berteriak dibawah kungkungan lelaki itu. Kecupan demi kecupan menjijikkan tak henti di hujankan Edrick di bagian wajah hingga lehernya. Kedua lengannya di cekal kuat ke atas, hingga pria itu bisa dengan leluasa melakukan aksinya tanpa perlawanan yang berarti darinya.


Tuhan... tolonglah aku...!!!


Sementara di balik pintu, Hera dengan gemetar hebat ketakutannya, mulai menangis mendengar teriakan-teriakkan pilu Nilam, tanpa bisa melakukan apapun. "Tuan Gavin, Tuan Kenzie... kalian cepatlah datang, aku mohoon...," gumamnya dengan jari-jari saling meremas dalam balutan keringat.


"Hey, apa yang kau lakukan?!"


Suara pelan itu cukup mengejutkan Hera, ditatapnya pria kekar pengawal Edrick yang sudah berdiri disampingnya itu. "Ti-tidak! Aku ke belakang dulu." Lalu bergegas meninggalkan pria itu.


"Hh." Terkekeh. "Pasti dia tengah asyik mendengarkan kegiatan Tuan Edrick didalam." Lalu mulai melangkahkan kakinya menjauh. Namun ....

__ADS_1


BUGG! BRUK!


Terkapar seketika!


Dan ....


BRAK!


Pintu ditendang keras.


"Hentikan, Jahannam!!!!" Menghampiri lalu membalik tubuh itu, kemudian....


BAGH!


BIGH!


BUGH!


Pukulan demi pukulan mendarat di wajah bagian-bagian wajah dan tubuh Edrick.


"Gavin...." gumam Nilam.


Kenzie yang baru saja masuk langsung menghambur memeluk Nilam yang menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut, karena Edrick sudah berhasil melepas busana bagian atasnya. "Sayang." Mengecupi pucuk kepala gadis itu berulang.


"Kakak. Aku takut, Kak."


"Tenanglah. Kakak sudah disini. Kau akan baik-baik saja."


Sementara Gavin masih sibuk dengan kepalan kerasnya yang berdebug membabi buta memukuli Edrick yang mulai terkulai.


"Gav, sudah. Dia bisa mati!" teriak Nilam mencegah.


"Tidak! Akan kuhabisi keparat ini!"


"Gavin sudah!" Kevin, datang menahan laju lengannya yang siap kembali dengan hantamannya. "Kau akan membunuhnya."


"Aku tidak perduli, Om. Dia sudah menyentuh Nilamku. Dan hampir melecehkannya!" Dan tendangan keras itupun kembali menimpa ujung pangkal paha Edrick yang sudah melumbruk dilantai.


"Sudahlah, Gav. Sudah. Tenangkan dirimu."


"Gavin ...."


Berhasil! Suara panggilan Nilam dalam tangisnya membuatnya menoleh. "Nilam." Lantas meloncat mengambil alih gadis itu dari pelukan kakaknya, "Maafkan aku. Maafkan aku, Sayang." Seraya menghujani wajah dan kepalanya dengan kecupan.


Tak ada sahutan, Nilam hanya menggeleng dengan air mata yanga masih berderai-derai. Rasa syukur yang teramat dalam hatinya ,mengalahkan segalanya untuk saat ini.


"Bawa Nilam segera pergi dari sini. Untuk orang-orang ini, biar Om dan Kenzie yang urus," tutur Kevin.


Gavin mengangguk. "Baiklah, Om," sahutnya. "Ayo Sayang, kita pergi dari sini."

__ADS_1


...•••••...


__ADS_2