
"Bagaimana, Tuan Dahlan?" tanya Gavin.
"Apa?! Kalian tidak sedang bermain-main denganku, kan?" Dahlan masih dalam ketidak percayaannya.
Kenzie memasang senyum. "Untuk bisnis kami tidak pernah bermain-main, Tuan," suara tegasnya.
Sesaat Dahlan terdiam, bola matanya bergeser ke kanan dan ke kiri, menatap kedua anak muda di hadapannya bergiliran. "Baiklah. Tapi bagaimana dengan keuntungannya?"
"Kami sudah memikirkan itu dari semenjak kami mengetahui bahwa ada memiliki banyak gadis tawanan. Anda tidak mungkin membawa gadis-gadis yang ... maaf ... tidak cantik, kan?" Gavin sedikit memicingkan matanya di iringi smirk khas.
"Hahaha ...." Tawa Dahlan meledak keras. "Aku ini pecinta wanita cantik, Tuan Gavin. Tidak ada wanita busuk dalam koleksiku."
"Aku percaya padamu, Tuan. Untuk keuntungan, kita akan gunakan sistem bagi hasil secara adil. Anda cukup menyiapkan wanita-wanita itu."
"Pada siapa kalian akan menawarkan gadis-gadis lugu itu?"
"Kami memiliki banyak kenalan orang-orang hebat dari berbagai profesi. Dan saya rasa mereka akan tertarik. Asalkan kita mau mengeluarkan sedikit modal untuk mempercantik mereka," tutur Gavin.
"Tapi apakah mereka akan mau, pada gadis-gadis desa bodoh seperti itu?"
"Justru itu yang mereka cari. Karena wanita-wanita dengan kelas tinggi sudah cukup membosankan bagi mereka. Terlebih tak ada satupun dari mereka yang masih murni. Dan kita bisa menawarkan harga tinggi untuk gadis-gadis yang ada pada Anda. Karena sudah pasti, mereka masih tersegel rapi, kan?"
Deg!
Hentakan detak jantung Dahlan. Ia terdiam bak kecoa yang terinjak.
"Tuan Dahlan. Ada apa?" Sejurus pertanyaan Kenzie.
Dahlan melirik Kenzie. "Sayangnya tidak semua wanita itu dalam keadaan masih perawan."
Gavin memicingkan mata. "Apa maksudnya, selain Anda menyekap mereka, Anda juga memakai mereka, begitu?"
"Ya, sebagian."
"Waww ... ternyata Anda termasuk predator juga ya, Tuan." Gavin terkekeh. "Tapi tenang saja, itu tak jadi masalah. Mungkin hanya akan berpengaruh pada sedikit kuantitas harga."
"Benarkah?"
"Ya. Anda tidak udah khawatir," ucap Gavin menenangkan. "Anda juga cukup cerdas, dengan menjadikan mereka sebagai jaminan. Dengan begitu kita bisa memanfaatkannya untuk keuntungan lain."
"Haha ... Anda terlalu memuji, Tuan."
"Tidak. Itu memang fakta."
Namun tawa keras Dahlan itu berubah seketika. "Tapi darimana kalian tahu aku menyekap para gadis itu sebagai jaminan?"
Kenzie sedikit memajukan tubuhnya. "Kami mengetahui latar belakang semua rekan bisnis kami, Tuan Dahlan. Termasuk Anda. Jadi secuil masalah apapun kami mengetahuinya."
__ADS_1
Dahlan sedikit terperangah. "Benarkah?"
"Tentu, Tuan. Tapi Anda tenang saja, kami ini orang yang konsisten dalam menjaga rahasia. Karena sebaliknya, kami juga banyak memiliki rahasia di balik bisnis yang kami geluti. Termasuk usaha baru yang akan kita jalankan." Gavin mengambil jawaban.
Perlahan tapi pasti, sudut bibir Dahlan mulai tertarik ke samping, membentuk sebuah seringai iblis. "Aku suka."
Gavin dan Kenzie saling melempar senyum.
"Apa itu artinya Anda setuju, Tuan Dahlan?" tanya Kenzie.
"Ya."
"Baiklah, deal?" Gavin mengulurkan telapak tangannya ke arah Dahlan.
Dan tanpa babibu, lelaki tua itu menerimanya. "Deal." Lalu beralih menjabat tangan Kenzie."
"Bisakah kita melihat para gadis itu, sekarang?" tanya Kenzie.
"Tentu." Dahlan mulai bangkit dari tempatnya. "Mari, Tuan-Tuan." Mengarahkan telapak tangannya ke suatu arah.
Kenzie dan Gavin ikut berdiri dan mulai mengikuti Dahlan yang memimpin langkah.
Melewati ruang demi ruang, hingga mereka keluar di sebuah taman yang terletak di belakang rumah mewah itu. Dan setelah memakan waktu hampir sepuluh menit, akhirnya langkah mereka terhenti di sebuah paviliun yang terpisah cukup jauh dari rumah utama.
"Buka," perintah Dahlan pada seorang pria bertubuh kekar yang berjaga di depan pintu.
Ketiganya mulai melangkah memasuki paviliun yang cukup luas itu. Langkah demi langkah mereka jejakkan, namun ruangan itu tetap kosong, tak ada siapapun di dalamnya.
Namun ketika Dahlan membuka sebuah pintu kamar dengan kunci yang di genggamnya, mata Gavin dan Kenzie di buat membelalak, ketika di dapati keduanya, belasan gadis dari mulai usia remaja hingga dewasa tengah berkumpul berdesak di dalam ruangan sempit.
Ya, Tuhan, bagaimana mereka bisa hidup di tempat seperti ini? Suara batin Gavin prihatin.
"Berdiri kalian semua!" titah Dahlan keras.
Seperti robot-robot yang di kendalikan, gadis - gadis itu menurut tanpa bantahan. Semua menunduk dengan telapak tangan saling meremas.
Manusia ini benar-benar biadab! Kata hati Kenzie geram.
Tidak ada bibi Murni di antara mereka. Gavin dengan mata mencari-cari. Satu gelengan kecil kepalanya, di mengerti Kenzie.
Sesaat kemudian, Gavin mulai melangkah mendekati Dahlan, dan berdiri di samping pria psikopat itu. "Kenapa mereka di satukan dalam satu ruangan pengap seperti ini, Tuan? Bukanlah tempat ini cukup luas?"
"Sudah cukup kerugianku karena ulah orang tua mereka yang tidak sanggup membayar hutangnya. Lalu atas dasar apa aku memanjakan mereka?"
"Bukankah Anda bisa menyita aset mereka tanpa membawa paksa gadis-gadis ini?"
Kenzie yang sudah berdiri menyeimbangi, mencubit pelan lengan Gavin, karena kalimat yang di ucapkannya barusan, bisa menimbulkan kecurigaan Dahlan. Dan ....
__ADS_1
Benar saja! Dahlan memicingkan mata menatap Gavin. "Bukankah menurut Anda tindakkan saya ini bisa meraup keuntungan. Lalu mengapa sepertinya Anda malah terlihat iba terhadap mereka?"
Gavin mengerjap. "Oh, tidak. Maksudku ... bisa saja, kan, Anda memberi pelajaran pada mereka di tempat."
"Hh ...." Dahlan tersenyum kecut. "Aku lebih suka membuat mereka merangkak karena kehilangan."
"Wuaw, mengesankan," ujar Gavin seolah bangga.
Ya, Tuhan ampuni aku.
"Jadi bagaimana, langkah awal apa, yang akan kalian ambil untuk mereka?" tanya Dahlan.
"Kita butuh seorang wanita yang lebih tua untuk mengurus mereka. Apakah ada punya?" Kenzie membuka suara.
"Isteriku?"
"Tidak. Aku ingin bisnis hitam ini cukup hanya kita yang tahu. Tanpa melibatkan keluarga. Karena itu cukup beresiko untuk mereka," tutur Kenzie.
"Benar, Tuan Dahlan. Kita cari orang lain saja," timpal Gavin.
"Tapi siapa?"
"Jika ada, lebih baik seorang wanita gila harta, yang mau menghalalkan segala cara, demi uang," usul Gavin.
Dahlan terdiam. Mencerna setiap bait ucapan Gavin. Dan mulai memaksa otaknya untuk berpikir.
Hingga sesaat kemudian .... "Murni."
"Siapa, Tuan?" tanya Gavin memastikan.
"Murni. Dia adalah wanita sekapanku juga. Tapi tidak ku satukan dengan mereka."
"Kenapa?"
"Dia ku jadikan emban di rumah utama."
"Lalu apa dia bisa di percaya untuk pekerjaan ini?" tanya Kenzie.
"Sangat!" Dahlan menyeringai. "Dia wanita ular yang haus harta."
"Baiklah. Sepertinya bagus." Kenzie tersenyum. "Bisa panggil dia kemari?"
"Tentu," balas Dahlan. "Sebentar aku akan menyuruh anak buahku untuk memanggilnya."
"Silahkan, Tuan."
Bersambung .....
__ADS_1