Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Bertemu Kenzie


__ADS_3

Ketika cinta mulai menyentuh sebuah gumpalan merah, bagian dari kehidupan seluruh manusia di muka bumi ini, yang kita sebut... hati, semua akan terasa benar meskipun salah. Akan mengiyakan meskipun niat ingin menolak. Ia akan berpendar dengan sendirinya, hingga sang Tuan terpaksa mengalah pada titahnya.


Aduhai cinta... mengapa sebodoh ini?


****


"Jamal!" teriak Gavin memanggil seseorang. "Jamal...!" ulangnya.


Seorang lelaki muda dengan tergopoh datang menghampiri Gavin. "Ada apa, Pak?"


"Tolong bersihkan pecahan gelas itu."


"Baik, Pak."


"Gav... biar aku saja. Ini semua karena ulahku," ujar Nilam.


"Tidak apa - apa, Nona. Biar saya saja. Ini sudah tugas saya," pungkas lelaki berseragam OB itu sembari memunguti pecahan gelas yang berserakan di lantai.


"Kamu dengar? Ayo, kembali ke ruanganku," ucap Gavin.


Raut tegas tak suka penolakan itu membuat Nilam terpaksa mengikutinya. "Saya minta maaf, sudah merepotkanmu," ucap Nilam pada si OB.


"Tidak apa - apa, Nona. Ini sudah menjadi bagian dari tugas saya."


"Baiklah, terimakasih."


"Sama - sama, Nona."


"Nuri... apa kamu akan terus di sini?" Gavin mulai tak sabar.


"Iya, iya." Nilam memanyunkan bibirnya kesal, seraya melangkah mengikuti Gavin.


"Jangan menggodaku," ujar Gavin sembari menekan tombol lift di samping kanannya.


Nilam melirik wajah lelaki itu. "Maksudmu?" Ia dan Gavin sudah berada di dalam kotak ajaib itu, yang mulai bergerak menuju lantai dimana ruangan Gavin terletak.


"Wajahmu yang seperti itu, adalah godaan untukku."


"Ehh...? Memangnya kenapa dengan wajahku?"


Ting!


Pintu lift terbuka.


"Tidak apa - apa. Ayo... aku sudah terlambat."


Asty sudah berdiri di depan pintu ruangan sang atasan. "Semua sudah menunggu Anda di ruang rapat, Pak."


"Oke. Aku akan segera kesana. Apa semua berkasnya sudah siap?"


"Sudah, Pak."


"Bagus," ucapnya. Gavin kemudian beralih menatap Nilam yang berdiri di sampingnya. "Nuri, kamu tunggu di dalam saja. Aku meeting dulu sebentar."


"Baiklah."


"Jangan macam - macam dan jangan kemana - mana. Tunggu sampai aku kembali."


"Iya, Gav. Memangnya akan kemana aku? Tempat ini saja masih asing untukku."


Gavin terkekeh. Kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Nilam. "Aku takut ada yang menculikmu," bisiknya. Ia kembali terkekeh seraya mengasak pelan pucuk kepala gadis itu.

__ADS_1


Asty membuang pandangannya ke sembarang arah. Tak ingin menjadi penonton tunggal kelakuan bosnya yang hari ini terlihat aneh menurutnya.


Nuri benar - benar membawa pengaruh besar untukmu, Bos. Batinnya sembari menyembunyikan senyum gelinya.


"Gav.... Jangan seperti itu. Ada Asty," ucap Nilam malu - malu.


"Hhehe... baiklah aku pergi dulu. Ayo Asty."


Selepas kepergian Gavin dan sekretarisnya, Nilam menjejakkan kakinya kembali di ruangan kerja milik Gavin. Ia melangkah menghitari ruangan itu seraya mengedar pandangannya menyapu setiap detail benda - benda yang terletak di dalamnya.


Sebuah buku setebal delapan sentimeter, sudah dalam genggamannya. Di bukanya lembar demi lembar, namun tak satupun makna deretan tulisan - tulisan itu di fahaminya. Ia menutup dan menaruhnya kembali ke tempat asalnya.


Hingga sesuatu yang menelungkup di atas meja di pojok ruangan, mencuri perhatiannya. Sebuah figura. Ia mengambil benda itu perlahan, untuk melihat sketsa apakah yang tertera di baliknya.


"Cantik..." gumam Nilam setelah melihat foto yang terselip di dalam figura itu. Seorang gadis cantik tengah tersenyum lebar. "Siapa gadis ini? Kekasih Gavin, kah?" tanyanya pada diri sendiri. "Tapi kenapa foto ini tidak di panjang dan malah di telungkupkan?"


Ada sedikit desiran rasa perih dalam hatinya, ketika membayangkan jika gadis dalam foto itu, benar - benar kekasih Gavin.


Cemburu? Benarkah demikian?


Nilam menggeleng - gelengkan kepalanya untuk mengusir pemikirannya sendiri, yang menurutnya sangat - sangatlah konyol. "Tidak, tidak mungkin. Aku baru mengenalnya selama dua hari saja. Mana mungkin begitu." Ia buru - buru meletakkan foto itu ke posisinya semula.


"Apa yang harus aku kerjakan di sini?" Ia mulai bosan setelah puas mengeksplor ruangan itu.


Hingga decitan suara pintu terbuka, berhasil mengejutkannya. Nilam menoleh ke arah pintu itu. Disana sudah berdiri seseorang, menatapnya dengan tatapan bingung.


"Anda siapa?" tanya orang itu, yang tak lain adalah Kenzie.


Nilam sedikit tersentak. Ia menudukkan kepalanya dalam.


Kenzie mulai berjalan mendekat ke arahnya.


"Nona, saya sedang bertanya. Bisakah Anda menjawab dan menegakkan kepala Anda?"


"Ya...?" Kenzie memiringkan sedikit kepalanya.


"Sa- saya Nuri. Asisten pribadi Tuan Gavin." Ia menjawab sesuai yang yang di ucapkan Gavin.


"Asisten pribadi? Benarkah? Sejak kapan orang itu mau menggunakan asisten pribadi?" tanya Kenzie heran. Karena setahunya, sahabatnya itu tak pernah mengizinkan siapapun mengurusi privasinya. Lalu sekarang...?


"Bisa angkat wajahmu, Nona. Jangan takut. Aku tidak akan memakanmu."


"Bu- bukan begitu. Sa- saya hanya takut di anggap tidak sopan," ujar Nilam semakin menundukan kepalanya.


Kenzie terkekeh geli. "Lucu sekali. Darimana Gavin menemukanmu?" tanyanya. Namun air wajahnya seketika berubah datar. Ia seperti menyadari sesuatu. "Nuri? Jangan - jangan... kamu gadis yang di sekap Gavin di kamarnya, iya?"


Mendengar itu, Nilam refleks mendongak. Hingga kedua pasang mata itu saling bertemu berhadapan.


Namun seketika itu juga, ke empat bola mata itu membulat sempurna.


"Nilam..." suara Kenzie pelan, ia di serang keterkejutan yang amat sangat.


Nilam langsung menundukkan kepalanya kembali.


Bukankah dia ini Kenzie? Pria yang pernah menolongku. Kenapa dia bisa ada di sini?


"Benar, kan, kamu ini Nilam?" tanya Kenzie penasaran. Ia terus menatap wajah Nilam yang tertunduk.


"Bu- bukan, saya ini Nuri. Anda pasti salah orang," kilah Nilam.


Namun bukan Kenzie namanya, jika tak menyadari raut kebohongan di wajah gadis itu. Walau singkat, ia pernah menjajal jurusan psikologi di masa kuliahnya, sebelum akhirnya beralih pada jurusan manajemen bisnis sesuai permintaan sang ayah.

__ADS_1


"Kamu tidak pandai berbohong Nilam."


Nilam terperangah. Kenapa lelaki di hadapannya ini sangat pintar membaca raut wajahnya, begitu pikirnya.


"Katakan... kamu benar Nilam, kan? Nilam yang aku temukan tergeletak pinsan di perkebunan teh milik Juragan Dahlan itu?"


Tersentak, begitulah Nilam kini. "Kamu mengenal Juragan Dahlan?" tanyanya tak percaya.


Kenzie terkekeh. "Jadi benar, kan, kamu Nilam?"


Skakmat!


Nilam tak bisa lagi memasang penyamarannya di hadapan lelaki itu. Sungguh cara memancing yang sangat jenius. "A- aku...."


"Bagaimana kamu bisa berada di sini?" tanya Kenzie seraya memegang kedua bahu Nilam. "Ayo duduk, tidak nyaman bicara sambil berdiri seperti ini." Ia menuntun Nilam menuju sofa yang terletak di kiri ruangan itu.


Nilam mengikuti tanpa menolak. Dan kini keduanya sudah terduduk dengan nyaman berdampingan di sofa tersebut.


"Coba ceritakan padaku. Bagaimana kamu bisa berada di sini?" Gavin mengulang kembali pertanyaannya.


Nilam menatap wajah lelaki yang kadar ketampanannya sebelas dua belas dengan Gavin tersebut. "Aku.... Mulanya aku bertemu Gavin, ketika aku tengah menangis di pinggir jalan. Ia muncul tiba - tiba di hadapanku dan...." Selanjutnya Nilam menceritakan kejadian yang di alaminya sebelum dan sesudah pertemuannya dengan Gavin. Hingga berakhir Gavin membawanya pulang ke rumahnya.


"Seperti itu? Jadi Gavin tidak mengenal siapa dirimu sebenarnya?" tanya Kenzie sedikit memasang wajah terkejut.


Nilam mengangguk. "Iya."


"Dan kamu? Apakah kamu tidak mengenali Gavin sama sekali?" Kenzie penasaran.


Nilam menggeleng seraya mengerutkan keningnya heran. "Maksudmu? Memangnya siapa Gavin sebenarnya?"


Kenzie terhenyak. Untuk beberapa saat ia terdiam. Larut dalam pemikirannya seorang diri.


Jadi mereka tidak saling mengenal. Lalu aku, apakah harus aku memberi tahu Gavin, bahwa gadis di hadapanku ini, adalah gadis yang selama ini di carinya. Bagaimana ini, Tuhan...?


"Kenzie..." panggil Nilam.


Yang di panggil itu mengerjap. "I- iya, Nilam."


"Aku mohon, Ken... jangan beritahu Gavin namaku yang sebenarnya. Biarkan dia tetap mengenalku sebagai Nuri," pinta Nilam penuh permohonan.


"Apa alasanmu?"


Nilam sedikit berpikir. "Antek - antek Juragan Dahlan tersebar luas dimana - mana. Termasuk di kota besar ini. Dia pasti masih terus mencariku. Aku takut..." tutur Nilam muram.


"Kamu benar. Bahkan dia memiliki andil besar pada perusahaan ini."


"Maksudmu?"


"Aku datang ke desa mu untuk melakukan kerjasama bisnis dengan Juragan teh itu. Karena hasil tehnya sangat bagus untuk kelangsungan produksi di perusahaan ini. Karena itu aku menemukanmu dan bisa menolongmu, ketika kamu pinsan waktu itu."


"Benarkah? Bagaimana kalau sampai dia tahu aku berada di sini?"


"Jangan khawatir Nilam. Aku akan melindungimu," ucap Kenzie sungguh - sungguh.


"Terimakasih, Ken," ucap Nilam lega. Dan Kenzie hanya tersenyum mengangguk. "Tapi aku minta padamu satu hal...."


"Apa?''


"Panggil aku, Nuri. Bisa, kan?"


Kenzie terdiam sesaat. Lalu kembali tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah.... Nuri."


Bersambung lagi-lagi......


__ADS_2