
"Sial ! Di kunci. Buka pintunya, Sella!" teriak Danu membahana.
Tak ... tak ... tak ...
Ritme suara yang berasal dari heels yang di kenakan Sella, seakan menertawai Danu yang terjebak dalam ranjau yang di pasang wanita itu.
"Kamu tidak akan bisa kemana-kemana." Seringai senyuman Sella. Krincing suara kunci yang menari-nari di telapak tangannya, membuat emosi Danu semakin memuncak.
"Buka pintunya. Aku ingin keluar." Suara Danu geram.
Kekehan kecil terlontar dari mulut mungil Sella. "Kamu bisa keluar dari sini, jika kamu memenuhi keinginanku."
"Berikan kuncinya padaku. Cepat!!" Dengan oktaf sedikit lebih tinggi, tanpa perduli kicauan wanita itu.
Krincing!
Gepp!
Sella melempar kunci itu ke suatu arah, yang disana sudah berdiri seorang lelaki, yang menangkap lemparan kunci itu dengan tangkas. "Selamat bersenang-senang, Nona. Jika lelaki itu macam-macam, panggil saja saya di belakang," ujarnya, lalu kemudian melenggang pergi meninggalkan pasangan yang belum tentu jadi itu.
"Terima kasih, Leo," ucap Sella, kemudian mengarahkan pandangannya kembali ke arah Danu yang masih bergeming di tempatnya. "Kita tinggal berdua saja. Bukankah ini menyenangkan?" senyum yang seolah menjadi ejekan untuk Danu.
Pompaan darah di dalam tubuh Danu mulai mengalir tak beraturan. Gemelutuk suara gesekan giginya menandakan amarah yang siap meledak kapan saja, termasuk saat ini juga.
"Berhenti bicara. Aku minta sekali lagi, buka pintunya." Entah, tameng apa yang terpasang dalam diri Danu, hingga ia masih mampu mengontrol emosinya. Tidak mungkin, kan, tameng berlebel bintang, miliknya Kapten Amerika? Ngawur!
Tanpa gentar, tubuh seksi Sella malah berlenggok layangnya seekor cobra, menuntun langkahnya mendekat ke arah Danu. "Danu ... aku ini cantik, tubuhku juga indah. Dan yang paling penting ... aku bisa memuaskanmu berapapun lama waktu yang kamu butuhkan." Lisan menggoda itu sepertinya sama sekali tak menarik perhatian lelaki di hadapannya.
Satu tepisan tangan Danu, menghalau telapak tangan Sella yang mencoba menyentuh garis pipi tajamnya.
Memejamkan mata sesaat, lalu terlihat satu tarikan nafas dalam yang kemudian di hembuskannya kembali dengan kasar. "Sella, dengarkan aku." Jeda sesaat. "Aku tidak punya perasaan apapun padamu. Pernyataan cintaku saat itu tidaklah jujur. Aku berbohong padamu. Aku hanya me--"
"Melampiaskan rasa patah hatimu, begitu?" pungkas Sella kilat. "Dan aku sama sekali tidak perduli. Aku menginginkanmu, Danu. Salahmu karena datang padaku! Salahmu menjadikanku alat pelampiasanmu!" serunya keras.
Danu memijit pangkal hidungnya dengan satu tangan lainnya bertolak di pinggang. "Sella ... tolong mengertilah ...." Sebait ucapan dalam rangka kehabisan kata.
"Tidak!" tolak Sella. "Aku ingin kamu menikahiku." Lembut suaranya di iringi tetesan bening di kedua kelopak matanya.
Dan sumpah demi apapun, air mata itu kini membuat Danu semakin kebingungan dan tentu saja ... iba!
Bagaimana caranya terlepas dari wanita ini?
"Sella ... benar, kamu cantik. Dan tentu dengan kecantikanmu ini, kamu pasti bisa mendapatkan lelaki yang lebih dari aku. Yang bisa mencintai kamu dengan tulus." Suara Danu melembut.
__ADS_1
Gelengan kepala Sella sebagai jawaban mengartikan kekukuhannya. "Tidak, Danu. Aku hanya mau kamu. Menikahkahlah denganku," ujarnya dengan iras penuh permohonan. "Atau ...." terdiam.
"Atau apa, Sella?"
"Kita lakukan sekali saja. Maka aku akan melepaskanmu."
Usapan kasar di wajahnya menandakan bahwa Danu semakin frustasi. Nafas yang juga terhembus kasar dalam gurat kebimbangan, mulai meradang dalam hatinya.
Seseorang pernah berkata, 'Andai aku jadi Danu, maka akan ku ubah alur ceritamu.'
Juga, kebanyakan lelaki mungkin akan berpikir sama, ketika seorang wanita cantik nan seksi, menawarkan dirinya dengan sukarela untuk di jamah tubuhnya. Terkam! Geluti! Senang! Kurang lebih itulah isi kepala mereka.
Sayangnya, Author yang baik ini, menciptakan karakter Danu menjadi sebaliknya.
Gak papa, yakk?? Di larang kecewa!
Danu memerosotkan pundaknya lemas. Kedua tangannya terasa tak berenergi. Terjebak!
Bisa saja ia menghajar makhluk di hadapannya itu sebagai bentuk penolakkan. Tapi, heyy! Dia itu Sella, dan Sella itu wanita. Mana bisa? Hhuffttt ....
"Aku tidak bisa, Sell. Hubungan tanpa cinta itu, tidak akan melahirkan kebahagiaan. Tidak akan ...." Bait kalimat itu di ucapkan Danu dengan raut sendu.
"Aku tidak butuh cintamu. Asalkan memiliki ragamu, aku rela."
"Itu artinya kamu egois Sell ! Kamu tahu aku yang tidak akan bahagia disini. Selain aku tidak memiliki cinta untuk kamu, aku juga tidak bisa berpura-berpura. Lagipula yang kamu rasakan itu sepertinya bukan cinta ... tapi obsesi."
"Tolong, Sell ... jangan paksa aku. Aku tidak bisa. Dan aku minta maaf, atas sikap bodohku waktu itu," ujar Danu penuh penyesalan. "Sekarang aku minta, buka pintu ini. Aku ingin keluar dari sini."
"Tidak! Kamu tidak boleh pergi dari sini! Cinta ataupun obsesi, aku tidak peduli !" Kukuh dalam pendiriannya, Sella mulai menyuarakan isak tangisnya. "Tidak akan aku biarkan kamu keluar dari tempat ini!" teriaknya.
"Baiklah! Kalau begitu aku minta maaf. Aku akan ...."
Danu mengambil sebuah guci seukuran kepalan tangan yang terpajang di atas meja yang tak jauh dari posisinya berdiri. Dan ....
Praangg!!!!!
Jendela kaca yang di pasang permanen di samping pintu itu, di pecahkannya dengan melempar mini guci itu tepat ke tengah-tengahnya, hingga kaca itu hancur berserak. Dan tentu saja, perbuatan Danu itu, membuka jalan untuknya bisa keluar dari tempat itu, tanpa lagi memerlukan sebuah kunci.
"Maaf Sella."
Sella masih terpaku. Matanya menatap remahan kaca yang berserak hingga ke bawah kakinya. Sesaat kemudian ia mulai menyadari, bahwa Danu tak lagi ada di hadapannya. Pria itu sudah pergi meloncati jendela yang telah di rusaknya.
"Danu!!!!"
__ADS_1
Leo datang tergopoh. "Nona! Ada apa?! Kenapa kacanya tiba-tiba pecah?!"
"Leo! Danu pergi .... Kejar dia Leo ...!" Sella mengguncang-guncang bahu lelaki itu dengan buliran kesedihan yang mengalir dipipinya.
"Lelaki itu ... nekat juga," gumam Leo. Kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Tut ... tut ... tut ....
"Ya, hallo ..." suara sahutan di seberang telpon Leo.
"Cegat lelaki yang tadi kita ringkus di gerbang depan. Jangan sampai lolos!"
"Apa dia melarikan diri?"
"Jangan banyak bertanya. Lakukan!"
"Oke!"
Tut ... tut .... Telpon di matikan Leo sepihak.
"Nona tunggu di sini. Aku akan mengejarnya."
"Cepat Leo!"
"Iya, Nona."
Leo berlalu dari hadapan Sella, dengan mengikuti cara Danu meloncati jendela yang telah hancur itu.
Sella melumbrukkan diri, dengan lutut menjadi penyangga bobot tubuhnya. Ia menatap pecahan kaca di hadapannya. "Danu ... apa kekuranganku?" Lalu menangis sejadi-jadinya.
**
"Budi, bangun Budi!" Leo mengguncang tubuh lelaki yang kini tergeletak di tanah dengan tubuh tengkurap itu.
"Umm ...." Satu tepukan keras Leo di pipinya berhasil membuatnya mengerjap sadar. Perlahan ia bangkit dengan wajah meringis menahan sakit.
"Mana bocah lelaki itu?!" tanya Leo tak sabar.
"Di -dia ... melarikan diri, Leo," jawabnya takut.
"Apa? Mengurus anak ingusan saja kamu tidak becus?"
"Dia memiliki kemampuan bela diri yang hebat. Aku di hajar habis-habisan olehnya."
__ADS_1
"Dasar bodoh! Tubuhmu saja yang berotot, tapi otakmu kosong!" bentak Leo. "Ah, sial! Nona Sella pasti kecewa."
••••