
Dalam perjalanan yang ditempuh dengan tapak kaki menuju perusahaan.
"Umm ... Asty.... Untuk yang dikafe itu, aku minta maaf. Sella itu dulu pernah menyukai aku. Dan dia memaksaku bersamanya, dengan cara yang tak biasa, dan terbilang nekad. Maka dari itu, tadi aku meminjam bahumu dan pura-pura mengakui bahwa kamu adalah tunanganku. Aku hanya berharap dengan begitu dia akan faham dengan statusku."
Melengak. Cukup membuat Asty menjadi beku seolah terdampar di Antartika. "Oh, itu ... aku mengerti. It's okay, tak masalah," balasnya dengan senyum samar.
"Terima kasih."
"Ya ...," balas singkat Asty. "Eh, tapi bukankah wanita itu sudah bersuami? Apa yang kamu takutkan?"
Danu terdiam sejenak. "Ya, itu benar. Tapi aku tetap belum tenang. Sella itu perempuan nekad. Aku hanya khawatir dia akan mengusikku lagi kedepannya setelah pertemuan kami tadi, juga tentang masa lalu yang tidak begitu baik."
"Aku rasa tidak! Dia dan suaminya terlihat mesra." Cara pandang Asty, tak ingin bertanya lebih jauh perihal masa lalu yang disebutkan Danu barusan itu. Entah apa penyebabnya!
Danu tersenyum. "Kau mungkin benar. Mudah-mudahan semuanya baik-baik saja," ujarnya. "Ayo. Kita sudah terlambat."
Sebentuk anggukkan kecil itu menjadi jawaban Asty. Entah kenapa ... kata 'tunangan' itu, aku berharap itu adalah nyata. Ditatapnya wajah Danu yang menjulang disampingnya itu sekilas. Lalu tersenyum. Muluk sekali, bukan?
...---...
Sepasang tungkai kaki jenjang baru saja menapak susunan paving block yang menadah dibawahnya. Nilam! Keluar dari dalam mobil yang mengantarkannya itu dengan sejuta karismanya.
Tampilan sederhana dari dress asimetriss sedikit melewati lutut, berpadu sepatu kets dengan rambut dicepol sembarangan, tak luput selempang rajut yang mengait dipundaknya, membuatnya terlihat semakin memukau bak aktris-aktris terkenal di negara kelahiran Lee Min Ho.
"Pak, tidak usah menunggu. Aku akan pulang bersama kakak ataupun Gavin nantinya."
"Begitu, Nona? Baiklah. Hati-hati. Saya permisi."
__ADS_1
Setelah bercakap singkat dengan sang supir, Nilam mulai berbalik badan dan melangkah menuju pintu masuk perusahaan milik calon suaminya itu.
Sehubungan hari ini adalah akhir pekan, semua karyawan seperti biasa akan dipulangkan lebih awal dari jam kerja normalnya.
Dan disinilah... laju langkah gadis itu terhambat oleh segerombol orang-orang yang berhambur menuju pintu keluar. Sapa-sapaan hangatpun disambutnya dengan senyuman terbaiknya.
Hingga tak sengaja ....
"Aaaa...."
GEPP
Tubuh yang hampir terjatuh karena terpeleset itupun tak sampai melumbruk kelantai. Seseorang berhasil menangkapnya dengan tangkas. Kini posisi tubuh Nilam melengak ke belakang, diatas sanggaan lengan kekar yang menopangnya. Kedua pasang mata itupun bertemu.
"Danu ...."
Semua yang melihat adegan itu, cukup di buat klemer-klemer. Pasalnya, setelah ketampanan Gavin dan Kenzie yang menjadi pusat kekaguman, kini Danu mengisi baris ke tiga setelahnya. Wajar saja, jika semua wanita itu merasa ingin menggantikan posisi Nilam yang kini berada dipelukan Danu. Walaupun itu terjadi tanpa unsur kesengajaan.
"Ekhem!!"
Sukses! Suara super manly itu membuat irama romantis itu refleks amburadul. Dengan cepat Nilam mengangkat tubuhnya dari pelukan penyelamatan Danu. "G-Gavin." Mundur menjauh dari mantan kekasihnya yang masih bergeming menatapnya dan Gavin bergantian.
Ada rasa tak nyaman dalam hati Danu. Dan itu jelas!
Tatapan elang Gavin membuat kedua orang dihadapannya semakin terintimidasi. Seketika, suasana berubah menjadi horor dan menegang.
"Apa yang kalian lakukan?!"
__ADS_1
JRENGGGG...
Pertanyaan itu ... haduh ....
"Oh, maaf, Pak Gavin. Tadi Nilam terpeleset, saya hanya menolongnya. Tidak ada maksud apapun," jelas Danu mencoba memperbaiki suasana dengan sikap formalnya.
"I-iya, Gav. Aku tadi hampir terjatuh, dan Danu--"
"Tidak apa-apa. Ayo." Gavin menarik pinggang ramping Nilam, menuntunnya berjalan masuk kembali menuju ruang kerjanya yang terletak di lantai enam, tanpa menimpal apapun tentang penjelasan Danu.
Dan Danu ... pria itu masih mematung ditempatnya, menatap tubuh Nilam dan Gavin yang kini sudah lenyap di telan pintu elevator. Tersenyum getir.
Ternyata perasaan ini masih tetap sama, Nilam. Aku belum mempu melupakanmu. Berbalik badan dan memapah langkahnya gontai menuju pintu keluar mengikuti rekan seprofesinya.
Sementara dibalik dinding tak jauh dari tempat itu, Asty, melihat durja muram milik Danu, cukup membuat hatinya berdesir dan bergetar. Beberapa asumsi mulai kembali menjejal diruang pikirnya. Tentang pelukan tak sengaja itu, tentang tatapan getir Danu terhadap calon nyonya bosnya, dan juga ... tentang hatinya yang terasa sesak. Bergabung menjadi satu kesatuan menyakitkan.
Tapi ... apa haknya?
Bukankah itu sangat lucu?
Bahkan pertemuannya dengan pria itupun masih bisa dihitung menggunakan jari-jemarinya?!
Mungkinkah ....
Mungkinkah ia telah jatuh cinta?
Tapi mengapa secepat ini?
__ADS_1
Oh cintaaaa....