
Di alas kebimbangan, semua mungkin akan terasa kaku.
Teruslah melangkah, jangan berhenti, sampai kau temukan batasmu.
Karena di penghujung, kau akan temukan sehamparan luas taman dengan segala bentuk keindahannya ... menanti untuk kau pijaki.
Keep your smile.
"Tidak apa-apa. Jangan takut. Aku yakin mereka akan sangat senang melihatmu." Di genggamnya tangan dingin itu menenangkan.
Hana, menatap manik mata tegas itu bergantian, hingga sesaat kemudian ia mengangguk.
Kenzie tersenyum. "Ayo turun."
Meskipun cukup ragu, Hana menuntun langkahnya menuju teras rumah pojok yang keluarganya tinggali.
Tok tok tok....
Seiring suara pintu yang diketuknya....
"Hana ... putriku ...."
Murni, muncul dari arah samping. Sirat terkejut berbalut kerinduan menghias diwajah yang mulai menunjukkan usianya.
Hana dan Kenzie serempak menoleh. "Ibu ...."
Perlahan saling mendekat, seperti drama bollywood, ibu dan anak itu akhirnya berhambur saling memeluk melepas perasaan rindu yang telah menggunung.
Lumer sudah....
"Kamu pulang, Nak. Ibu sangat merindukanmu."
"Aku juga rindu ibu. Maafkan aku, Bu."
Tangis haru bergelimang menjadi pengiring.
"Tidak apa-apa, Nak. Kamu kembali saja Ibu sudah sangat bahagia."
Mendengar suara sedikit ricuh dari luar, Kakek Usman menyibakkan daun pintu. Wajah terperangah disusul senyuman penuh kerinduan kala melihat sosok gadis yang sangat sayanginya, telah kembali. "Hana ... cucuku."
Pelukan itupun terlepas. Hana beralih hambur pada sang kakek. "Kakek. Maafkan aku, Kek."
Hanya anggukkan dengan usapan lembut dipunggung Hana, yang bisa dilakukan kakek Usman. Terlalu kelu lidahnya untuk menggambarkan kebahagiaan itu.
Kenzie hanya menatap penuh haru. Mulai sekarang aku berjanji, akan menjadi penjaga untuk mereka. Terutama Hana. Meskipun perasaanku terhadapnya masih samar. Tapi aku akan berusaha memupuknya lebih dalam. Karena kini ada darah dagingku dirahimnya. Mengingat kalimat terakhirnya itu, senyumnya seketika mengembang. Benar, ia akan segera menjadi seorang ayah.
Lucu sekali bukan?
Usai saling melepas rindu. Ke empatnya kini sudah berada di dalam rumah yang di tinggali Kenzie dan Chaka. Karena bangunan itu lebih luas dibanding tempat yang dihuni Murni dan Kakek Usman. Nilam dan kedua orang tuanya, sudah dikabari Kenzie mengenai Hana yang sudah berhasil ditemukannya. Dan kini berada dirumah singgah.
"Jadi selama diluar sana kamu bekerja padanya, Nak?" Murni masih belum lepas memeluk puterinya.
__ADS_1
"Iya, Ibu."
Ya, Hana mulai menceritakan segala yang dilaluinya selama melanglang buana diluar, termasuk pertolongan Jian.
"Baik sekali orang itu. Ibu ingin mengucapkan terima kasih padanya."
"Sudah ku wakilkan, Bibi," sergah Kenzie yang duduk berseberangan disamping kakek Usman. "Dan aku juga sudah menyuruh orangku untuk membantunya mengembangkan bisnisnya. Promosi, peluasan area dan lainnya. Karena resto itu letaknya cukup tersembunyi dari jalanan."
"Benarkah?" tanya Murni takjub.
"Iya, Bibi."
"Kakek selalu percaya padamu. Kamu orang hebat, Kenzie." Tepukkan kakek dipundak pemuda itu, memperlihatkan kebanggaannya.
"Terima kasih, Kek. Tapi aku tak sehebat itu." Kenzie berubah sendu. Tertunduk dengan telapak tangan saling tertaut. Rasa bersalah menyeruak kembali didalam dadanya. "Aku telah merusak Hana, gadis kesayangan kalian dan menghancurkan masa depannya.
Hati Hana cukup mencelos. Kata merusak itu terlalu kejam rasanya. Yang pada kenyataannya ia sendiri menikmati saat perusakkan itu terjadi.
Kakek tersenyum. Diusapnya pundak pemuda rapuh itu. "Dibalik kesempurnaan manusia, pasti terselip kekurangan. Jangan menyalahkan dirimu terus menerus. Sekarang lakukanlah tanggung jawabmu sebagai laki-laki."
Ditatapnya wajah yang mulai renta itu. "Pasti, Kek." Lalu mengalihkan pandang pada Murni dan juga Hana. "Dan aku ingin mengungkapkan lagi satu hal pada kalian...."
BRUK!
"Hana!"
Pintu yang terbuka tiba-tiba disusul sebuah teriakkan, memotong kalimat yang akan diutarakan Kenzie. Dan semua serempak menoleh ke arahnya. "Kak Nilam."
Tanpa babibu, Nilam menubrukkan diri memeluk Hana. "Kamu kemana saja, Hana? Kakak sangat mengkhawatirkanmu!" Teriring tangis bahagia.
"Ken, kamu yang menemukan Hana?" Disusul suara Dalia yang muncul bersama Kevin.
"Iya, Bu."
"Syukurlah." Dalia berucap penuh syukur.
"Tuan dan Nyonya Kevin, silahkan duduk."
"Terima kasih, Nyonya Murni," sahut Dalia seraya mendudukkan tubuhnya di samping Murni. Dan Kevin mengambil sofa tunggal dibagian tengah.
Semua larut dalam irama kerinduan. Berbagai pertanyaan terlontar untuk Hana. Hingga tiba-tiba ....
Huek ... huek...
Gadis itu memegangi perut dan menutup mulutnya dengan masing-masing satu tangannya.
"Hana, ada apa?" Nilam dan semuanya dalam kekhawatiran. Tanpa perduli apapun, Hana berlari menuju kamar mandi dan menyemburkan segala ketidak nyamanan diperutnya. Nilam, Murni juga Kenzie menyusul dengan tergopoh.
"Hana, apa kita harus kerumah sakit?" Kenzie mulai khawatir, kejadian ini sama persis seperti yang di alami Hana, ketika di resto Jian tadi siang.
Dengan nafas terengah dan wajah memerah, Hana mulai menegakkan tubuhnya. "Tidak, aku tidak apa-apa."
__ADS_1
"Apa kamu masuk angin, Nak?" Murni bertanya cemas.
"Tidak, Bu." Wajahnya tertunduk sendu.
"Hana, ada apa?" Kali ini suara Nilam.
Kenzie cukup mengerti situasi itu. "Sebaiknya kita kembali ke depan," usulnya. Dan mereka mengikuti tanpa sahutan.
Dalia berdiri menyambut. "Ada apa?"
"Ini yang akan aku bicarakan pada kalian semua." Kenzie membuka percakapan, usai semuanya terduduk tenang ditempat masing-masing.
"Ada apa, Ken?" tanya Dalia penasaran.
Mengumpulkan segenap kata dalam keberanian. Menarik nafas sejenak, lalu dihembuskannya perlahan. Kenzie mulai bersuara, "Aku akan menikahi Hana secepatnya."
DEG
Cukup mengejutkan bagi Hana, kedua matanya bergerak membola. Tak terkecuali semua orang.
"Ken ... apa kau serius?" Kevin, sang ayah mengambil pertanyaan.
"Iya, ayah," sahutnya tegas. "Hana sedang mengandung anakku."
JREENGGG....
Semua bola mata terbelalak melebar.
Hana menunduk dalam resah tiada tara. Akankah semua orang membencinya?
"Hana, kamu hamil, Nak?" Murni memastikan. Belaian telapak tangannya di wajah Hana, teriring tatapan sendu menggambarkan segumpal perasaan yang bercampur tak menentu didalam dadanya.
"Iya, Hana. Jujurlah, Nak. Kita semua tidak akan marah padamu." Dalia menimpali.
"Hana, ada Kak Nilam. Tidak perlu takut."
Semua wajah dipandangi Hana satu persatu. Lalu berakhir pada durja tampan milik Kenzie yang juga menatapnya. "Iya, aku sedang mengandung." Kembali menunduk.
Berbagai nafas terhembus dalam mode berbeda. Ada lega, juga ada nafas terdengar berat, yakni milik Kevin. Raut kecewa tak bisa disembunyikannya. Seorang Kenzie, putera yang dididik dan dibesarkannya dengan keras namun penuh kasih sayang itu, ternyata bisa berbuat serendah itu. Namun apa mau dikata, nasi, sudah menjadi nasi goreng. Akan tetap berminyak meskipun dibasuh berulang kali.
Huhh!
"Baiklah, pertangung jawabkan perbuatanmu. Nikahi dia segera."
"Iya, Ayah. Itu juga yang akan aku lakukan." Lalu berdiri mendekat, dan berjongkok dihadapan Hana. "Hana, apa kamu bersedia menikah denganku?" Seraya menggenggam tangannya.
Mata bening itu sudah berkaca-kaca. Mengedar pandang pada Murni, kakek Usman juga Nilam yang mengangguk. Semua seolah memberi restunya. Lalu kembali menatap wajah lelaki yang bersimpuh didepannya. Tak ada opsi untuk menolak. Akhirnya ia mengangguk perlahan. "Iya, Ken. Aku mau."
Pulasan senyum berpendar disetiap wajah.
Kenzie mencium punggung tangan gadis yang akan dinikahinya itu, dalam. Lalu mendongak menatap wajah manisnya. "Terima kasih. Aku berjanji, akan selalu menjagamu. Juga anak yang ada dalam kandunganmu."
__ADS_1
Hana mengangguk dalam guratan kebahagiaan yang tak mampu diwakilkannya dengan kata-kata.
Terlalu indah ....