
"Sayang, kalau kamu mengantuk, aku akan minta Chaka menyiapkan kamarnya." Suara lembut Gavin.
Nilam menggeleng. "Belum, Gav," jawabnya singkat. "Apa kita akan menginap disini?"
Anggukan Gavin menjadi jawaban. "Sepertinya iya. Karena ini sudah terlalu malam untuk pulang. Tidak apa-apa, kan?"
Nilam tersenyum. "Iya, Gav. Aku tidak masalah." Lalu megalihkan pandangan pada Kenzie yang duduk bersebelahan dengan Chaka di seberangnya. "Ken ... apa ada yang bisa di masak?"
Gavin terperanjat. "Sayang, apa kamu lapar?"
"Iya, Nilam. Apa lelakimu itu tidak memberimu makan?" Pertanyaan Kenzie berisi ejekan untuk Gavin.
Chaka tersenyum. Senyuman yang di baliknya berisi tawa yang tertahan.
Bos gesrek! Duit setebal greatwall RRC, calon isterinya sampai kelaparan. Bodoh!
Andai umpatan penuh ejekan itu di dengar sang Bisboss, maka sudah di pastikan, tubuhnya akan terpental jauh hingga ke neptunus.
Nilam menggeleng cepat. Dua telapak tangannya terkibas-kibas didepan wajahnya. "Tidak. Bukan itu. Aku hanya belum mengantuk. Mungkin memasak akan sedikit mengusir rasa bosanku," tuturnya.
"Jadi kamu mulai bosan?" Tangkupan di kedua pipi Nilam itu, memancing delikan di mata Kenzie dan senyuman sembunyi di wajah Chaka.
Begitulah, ketika novel dengan story garingnya, yang berisi kebucinan si tokoh fiksi pria. Sangat berbanding terbalik dengan dunia nyata ya, sodarah-sodarah?
Semoga kalian tidak bosan dan lari meninggalkan Author yang mulai keteter ide ini. 😂 AMIN
Kembali ke percakapan.
"Sebenarnya tidak seperti itu, Gav ...." Nilam cukup malu oleh kedua lelaki yang menjadi penonton itu. Namun apa mau dikata, begitulah Gavin kesayangannya. Selalu tidak memandang tempat dan memperhatikan sekeliling.
"Lalu?"
"Aku hanya berpikir, suasana seperti ini, akan sangat seru jika kita makan bersama."
"Aku setuju, Nona!" Chaka terlonjak senang.
"Maunya bokongmu!" seru Gavin dengan tatapan tajamnya terarah pada pemuda imut itu.
"Hehe ... ampun, Bos."
"Baiklah, Nilam. Sepertinya idemu bagus juga," ujar Kenzie mendukung. Dan itu menghadirkan senyum di wajah Nilam. "Chaka, kau tangkap beberapa ikan-ikan di kolam itu," pinta Kenzie.
"Aku?" Chaka menunjuk wajahnya sendiri.
"Ya kamu. Mana mungkin aku menyuruh Nilam."
"Ini sudah malam, Bos. Udara dingin. Berurusan dengan kolam itu bukan ide yang bagus," tolak halus Chaka.
"Aku tidak keberatan." Suara Nilam mengudara. "Ayo Chaka kita ambil ikannya," ajaknya bersemangat.
Chaka? Tentu saja dia setuju. Penolakannya sebelumnya luntur seketika.
"Sayang ...." Gavin dalam ketidak setujuannya. "Mana bisa seperti itu."
"Tidak apa-apa, Gav. Aku sudah lama tidak melakukan itu. Lagipula jika Chaka yang kamu khawatirkan, aku melawan!" Wajah ayu itu memberengut lucu.
Gavin mulai bingung. "Sa--"
"Sudahlah, Gav biarkan saja. Kalau Chaka berani macam-macam pada Nilam, aku akan menghadirkan Aslan si penghuni Narnia itu untuk melahapnya."
__ADS_1
"Bos... teganya dirimu." Chaka meringsut seolah takut.
"Sudah sana!"
"Siap, Bos! Ayo Nona Nilam."
Nilam mengangguk bersemangat. Keduanya melangkah menuju halaman belakang tempat Kenzie bermain biola beberapa saat lalu.
"Ken ... apa kau pikir itu cara yang baik?" tanya Kenzie masih dengan aura penolakan. "Aku harus menyusul mereka ke belakang."
Dan langkah Gavinpun tersendat, karena Kenzie mencubit dan menarik bajunya dari belakang. "Hey pria tengik. Bukankah kau bilang, ada hal penting yang ingin kau bicarakan denganku?"
"Iya."
"Kalau begitu ayo. Ikut aku ke ruang kerjaku." Kenzie mulai melangkah ke tempat di ucapkannya.
"Tapi, Ken, Nilam ...."
"Sudah biarkan saja! Chaka itu hasil didikanku. Dia tidak akan berani macam-macam."
"Hhuufftt ... baiklah." Dan Gavinpun mulai mengikuti langkah Kenzie ke ruang kerjanya. Ia mendudukkan tubuhnya disebuah sofa di pojok ruangan. Menunggu Kenzie yang berbelok arah menuju dapur.
Dua cangkir kopi tak lama di letakkan Kenzie di meja dihadapan mereka. Keduanya kini duduk bersisian.
"Lalu apa yang akan kau sampaikan padaku?" Kenzie memulai percakapan
Sesaat meraih dan menyesap kopi, lalu meletakkan kembali cangkirnya ke tempat asalnya. "Aku menemukan hal baru dari Dahlan."
"Apa itu?" Kenzie mulai menyimak.
"Didy ... kau pernah dengar nama anak itu?"
"Bocah itu adalah saksi kunci di balik kematian kedua orang tua angkat Nilam."
"Apa?!" Terlonjak kaget. "Apakah maksudmu Dahlan adalah pelaku pembantaian sadis pasangan suami isteri itu?"
Gavin mengangguk mengiyakan.
"Ya, Tuhan .... Pria itu benar-benar bukan manusia," geram Kenzie. "Lalu dimana sekarang bocah itu berada?"
"Ada. Bahkan seharian ini aku dan Nilam menemaninya bermain di mall."
"Benarkah? Lalu sekarang, mana dia?"
"Pulang ke rumah ibunya."
Kenzie memberengut. "Apakah Dahlan tahu, soal anak itu?"
"Ya."
Semakin tak mengerti. "Lalu kenapa bocah itu masih bisa berkeliaran bebas tanpa bayang psikopat itu?"
"Karena pada saat itu, Dahlan mencekokinya dengan sebutir obat perusak pita suara. Juga ancaman pembunuhan yang di layangkannya, membuatnya yakin, bahwa anak itu akan bungkam selamanya," ungkap Gavin.
Meghembuskan nafas kasar. "Jadi sekarang anak itu bisu?"
Gavin tersenyum. Sebuah senyuman yang membuat Kenzie mengernyit keheranan. "Dia sudah sembuh."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Ya."
"Kalau begitu ini akan sangat berbahaya untuk keselamatannya."
"Kau benar, Ken. Tapi utuk sementara ini aku yakin, dia akan aman di rumah ibunya."
"Terlepas dari itu, kita tetap harus memberikan perlindungan untuknya, Gav."
"Tentu, aku sudah memikirkannya," ujar Gavin. "Lalu, apakah otak jeniusmu itu, sudah menghasilkan rencana?" tanyanya.
"Aku harus memberikan tugas ekstra untuk wanita itu."
Gavin menegakkan tubuhnya yang sebelumnya tersandar di punggung sofa. "Maksudmu? Wanita? Siapa?"
Senyuman miring terpulas di wajah Kenzie. "Aku mengirim seseorang ke rumah Dahlan."
"Apa?!" Gavin tersentak. "Dan dia seorang wanita?"
Kenzie mengangguk. "Ya."
"Siapa?"
"Mona."
"Aku baru mendengar namanya. Apa dia bisa di percaya?"
"Aku sangat yakin."
"Hey, Ken. Jangan terlalu meninggikan keyakinanmu. Kau sudah mengirim wanita bernama Mona itu ke sarang harimau. Apa itu tidak cukup membahayakannya?"
Melihat ekspresi cemas Gavin, Kenzie terkekeh. "Aku ingin tahu, kalau Nilam mendengarmu mencemaskan wanita lain, apakah dia akan cemburu? Terlebih Mona itu wanita dewasa yang cantik dan sangat ... menggoda."
"Setan kau, Ken! Ini tidak ada hubungannya dengan perasaan. Aku hanya mencemaskan sesama manusia. Terlebih dia adalah seorang wanita yang kau kirim ke dalam nerakanya Dahlan!" seru Gavin tak terima.
"Haha ...." Tawa Kenzie meledak keras. "Baiklah. Baik. Aku hanya bercanda!"
"Benar-benar sialan kau, Ken!" Pukulan kecil didaratkan di lengan Kenzie. "Lalu, kau kirim dengan cara apa wanita itu kesana?"
"Pencari kerja," jawab Kenzie santai.
"Apa, pencari kerja?! Apa itu tidak akan menimbulkan kecurigaan Dahlan?"
"Ya. Aku sangat yakin. Dengan sedikit godaan dan menjilat, Mona bisa menalukkan Dahlan yang pada dasarnya adalah seorang pencinta ... sekaligus penjahat wanita."
Smirk yang tersirat di wajah Kenzie, menular ke wajah Gavin. "Aku ingin tahu, sejenis apa wanita itu, sampai dia bersedia kau kirim kesana."
"Tak ada sesuatu yang lebih membuat orang menjadi nekat, kecuali ...."
"Uang!" pungkas Gavin cepat di iringi senyum.
"Tepat! Selain dia mendapatkan uang dariku, dia juga mendapatkan bonus berlimpah dari Dahlan."
"Sangat cerdas! Apa kemampuannya bisa di percaya?"
Kenzie mengangkat tubuhnya. Dan berjalan menuju sebuah lemari buku. "Aku yakin. Dia wanita yang pemberani. Sebuah keberanian yang muncul dari pengalaman pahit hidupnya."
"Benarkah? NAku selalu percaya padamu, Ken.
~â–ª~â–ª~
__ADS_1