
Menyeret langkah kakinya dengan gontai menuju ruang rawat Nilam. Perasaan tak nyaman mulai menjalar disekujur hati Gavin. Mengapa ia tiba-tiba mengucapkan kalimat bodoh itu pada Kenzie? Jelas-jelas lelaki itu adalah rival baginya. Mungkinkah ia telah kalah?
CEKLEK!
Pintu itu dibukanya perlahan. Menampilkan Nilam dan Chaka yang tengah asyik mengobrol. Entah apa tema pembicaraan mereka itu.
Chaka yang duduk dikursi samping ranjang itu seketika bangkit, kala melihat tubuh tegap itu masuk menghampirinya.
"Gav ...."
Melihat mulut mungil itu bergerak menyebut namanya, seketika perasaan bersalah itu memenuhi rongga dadanya.
Bohong, jika ia merelakan gadis itu bersama Kenzie.
Sungguh ia tak akan sanggup kehilangan.
Dan itu jelas terlihat dari dua tetesan bening yang sudah jatuh menimpa pipinya.
Kemudian tanpa babibu, ia menarik tubuh Nilam yang terduduk ke dalam rengkuh peluknya. Sangat erat. "Maafkan aku .... Maaf karena lagi-lagi aku gagal melindungimu." Deretan kata itu terucap diiringi air mata yang mulai mengundang rekan-rekannya.
Nilam, tentu saja terkejut. "Gav ... aku tidak apa-apa. Aku masih baik-baik saja."
"Aku tahu, kamu pasti akan baik-baik saja. Karena aku menitipkanmu pada orang yang tepat."
Nilam tersenyum. "Iya, kau benar. Kenzie memang luar biasa."
DEGG!!
Kalimat itu ...? Kenapa terasa menyakitkan bagi Gavin? Dan sekali lagi, kebimbangan itu menyapa kembali hatinya yang samar. Ia melepas pelukan itu perlahan. Ditatapnya netra indah itu lekat-lekat. "Apa kamu menyukainya?"
Apa?! Pertanyaan macam apa itu? Nilam dalam sentakkan hati dan kejutnya. "Apa maksud pertanyaanmu, Gav?"
Chaka beringsut mundur. Sepertinya pembicaraan pribadi itu tak membutuhkan dirinya untuk menimpal ataupun membalas kata. "Umm, Bos. Aku pulang saja, ya....?" tanyanya ragu.
Gavin dan melirik ke arahnya. "Iya, Chaka. Ken sudah menunggumu diparkiran."
"Oh benarkah? Kalau begitu aku pamit."
"Ya."
"Terima kasih sudah menemaniku, Chaka," ucap Nilam tulus.
"Iya, Nona. Bos, aku pamit."
"Ya. Terimakasih."
"Sama-sama."
Dan pemuda itupun berlalu keluar meninggal dua sejoli yang kini tengah bertarung dalam perang perasaan.
__ADS_1
"Sekarang jelaskan apa maksud pertanyaanmu, Gav?" lanjut Nilam.
Gavin memangku diam sesaat. Resah mulai menggoda titik hatinya. Ia lalu memberanikan diri menatap bulatan indera yang selalu dirindukannya setiap saat itu. "Sayang ... apa kamu juga memiliki perasaan pada Ken?"
"Juga?" Nilam mengernyit tak mengerti. "Maksudmu?"
Gavin menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, Kenzie menyukaimu. Bahkan dari saat kalian pertama kali bertemu."
"A-apa?!"
"Iya Dengan cintanya dia selalu berhasil menyelamatkanmu. Dengan cintanya, dia selalu menjagamu. Sedangkan aku ... aku belum mampu memberikan dan melakukan apapun yang berarti untukmu!"
"Gav!! Apa yang kamu katakan?! Aku memang kagum pada Kenzie. Tapi bukan berarti aku menyukainya! Jika Ken memang menyukai ku dan melakukan banyak hal untukku, itu hak, keinginan, dan juga perasaannya! Bukan aku ataupun kamu yang memaksa!" seru Nilam menggebu. "Aku hanya mencintaimu ... Gavin." Dengan oktaf mulai melembut.
Sedikit terdengar kejam. Kenzie mungkin akan sangat terluka mendengar rentetan kalimat yang diujarkan Nilam. Tapi itulah kenyatannya. Tak ada yang bisa membantah. "Aku tidak perduli apapun. Jikapun Kenzie atau lelaki manapun yang menolongku ribuan kali. Perasaanku akan tetap sama. Cintaku hanya untuk kamu, Gav...."
Pancaran mata Gavin mulai meredup sayu. Ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Nilam, sungguh menyentuh titik terdalam hatinya. Bukan karena ia serakah. Bukan pula ia tak menghargai pengorbanan dan perasaan Kenzie. Tapi melepaskan Nilam ... bukanlah sebuah opsi.
"Maafkan aku .... Aku kira dengan merelakan dan melepasmu dengan Kenzie, itu akan membuatmu aman dan tidak terancam."
Dari sanalah kerapuhan itu terlihat. Memutus segala kekukuhan yang dengan congkak di suarakannya di hadapan Kenzie. Cinta yang sebenarnya cinta, akan selalu rela menyiapkan yang terbaik untuk yang dicinta. Meskipun ia harus menahan sakit seorang diri. Biarlah, asal dia yang dicinta ... selalu dalam bahagia dan tenangnya.
Tapi tidak untuk Nilam. Saat ini yang dirasakannya hanya sebuah kenyamanan ketika bersama Gavin. Lalu kenapa lelaki itu malah berniat melepasnya, hanya karena Kenzie beberapa kali berhasil menyelamatkan nyawanya?
Jika keamanan mengalahkan kenyamanan, maka hansip bisa menjadi pilihan yang tepat.
Terlihat air mata itu mulai berjatuhan di kedua belah pipi halus Nilam. "Perasaanku pada Kenzie hanya sebatas rasa sayang seorang adik terhadap kakaknya. Ataupun perasaan sayang seorang sahabat. Tidak lebih, Gav! Lalu atas dasar apa aku harus bersamanya dan meninggalkanmu?"
Gavin sungguh terhenyak. Dia terpaku dalam kegalauannya. Benar, tidak ada yang tepat dari caranya merelakan Nilam untuk sahabatnya.
Selain ia sendiri yang terluka, Nilam yang mungkin terpaksa, dan Kenzie juga pasti lebih terluka. Meskipun sahabatnya itu nantinya bersama Nilam, namun dia tetap tak akan bahagia. Karena tak ada cinta dihati Nilam untuknya. Dan Kenzie, jelas, sudah tau dan menyadari itu.
"Maaf ...." Diraihnya tubuh itu kembali kedalam dekapnya "Aku juga sangat, sangat mencintaimu. Aku hanya takut kamu celaka dan terluka lagi, jika terus bersamaku," ujar Gavin dalam semburat penyesalan.
"Aku tidak peduli, Gav. Aku hanya ingin bersamamu."
"Tentu, Sayang. Akan ku pastikan itu. Mulai sekarang, aku akan berusaha untuk selalu melindungimu."
Nilam semakin mengeratkan pelukannya. "Aku percaya padamu, Gav."
*****
Dua minggu kemudian....
Nilam sudah dinyatakan sehat dan sudah diizinkan keluar dari rumah sakit, semenjak tujuh hari yang lalu. Ia sudah tinggal dan berkumpul kembali dengan Kakek Usman, Hana dan juga Murni dirumah baru mereka di kota itu.
Gavin sudah bekerja seperti biasa. Begitupun Kenzie, ia masih setia dengan kegiatannya mengurus rumah singgah usai kepadatan rutinitas kerjanya dikantor Gavin.
Soal perasaan mereka... tak ada yang berubah.
__ADS_1
Hari ini adalah akhir pekan.
Gavin dan Nilam dalam perjalanan menuju sebuah tempat yang Nilam sendiri tidak tahu.
Kencan!
Didalam mobil Gavin.
"Sebenarnya kita akan kemana, Gav?" Nilam mulai dirayapi penasaran. Kemana laki-laki itu akan membawanya?
"Sabar, Sayang. Sebentar lagi kita sampai." Dengan senyuman penuh teka-teki.
Kalian tahu? Bahwa Kenzie juga ikut dalam perjalanan itu. Ia dan mobilnya, ditemani Hana, melaju dibelakang mobil milik Gavin.
Tentu saja, Nilam yang mengajukan rencana itu, yang kemudian disetujui tunangannya itu.
Semoga lelaki itu bisa membuka hati untuk Hana.
Begitulah isi harap mereka.
"Sampai!" seru Gavin. "Ayo turun."
Nilam yang selalu menolak diperlakukan bak puteri, membuka pintu mobil itu sendiri dan mulai menginjakkan kaki jenjangnya ditempat itu.
Mobil Kenzie sudah terparkir sempurna di samping mobil Gavin.
"Ya, Tuhan ... ini indah sekali!" seru Nilam memuja.
Sebuah filla sederhana yang terbuat dari jejeran papan dan kayu-kayu bercat putih yang tersusun sangat apik dan cantik, menjadi pemandangan pertama yang mereka lihat.
Disampingnya, hamparan bunga lavender dan kerisan yang terbelah berseberangan menjadi satu keindahan yang memanjakan mata.
"Kamu suka?" kedua lengan itu sudah melingkar dipinggang ramping Nilam.
Nilam terkejut. "Sa- sangat suka."
Ia melirik Kenzie dan Hana yang masih berdiam diri tanpa kata. Malu!
Hingga sesaat kemudian....
"Ayo masuk, Hana," ajak Kenzie. Sebelah telapak tangan itu digunakannya untuk menggaet tangan Hana, lalu menariknya menuju filla putih itu.
Jelas saja. Tak ada gunanya menyaksikan kemesraan dua sejoli yang dimabuk cinta itu. Masuk ke dalam filla adalah opsi yang paling tepat, disamping tubuhnya yang juga meminta hak untuk beristirahat. Karena perjalanan ke tempat itu, cukup jauh dan melelahkan.
♡♡♡♡
Tingglkan jejakmu, Sayang❤
Dengan like, komentar positif, dan vote juga, biarpun cuma 10 point saja..😂😂 agar aku semangat nulisnya...😵
__ADS_1