
Untuk mempermudah imajinasi kalian wahai readers!
Ananya Pandey_As;
Song Weilong_ As;
Dennis Joseph O'neil sr_As;
Debbi Sagita_As;
Thor, kenapa tidak sama dengan cover?
Yeah ... just simple... ini imajinasiku sebagai KangTik, dan cover itu imajinasinya Mamak Ilustrator, sahabatku tertjintah "Jibril Ibrahim".
Kenapa Kenzie sama sekali gak mirip Orlando Bloom ataupun Robert Pattinson, seperti yang selalu KangTik gemborkan di chapter-chapter sebelumnya?
Enteng saja, KangTik berubah pikiran Genksss...๐โ
Kalu kalian merasa gak tjotjoq, maka silahkan berhalu sesuai yang kalian syukah...
Mau pake Tukul Awwrana sebagai Gavin, Aduls sebagai Kenzie, ElisSugigih sebagai Nilam, atau Bouyend sebagai Hana, Monggoh.... Tapi KangTik masih nomral, mase syuka nyang bening-bening bin kinclong!
Ockehh....
...โโโโ...
Di tepi pantai, masih dipesta pernikahan Gavin dan Nilam. Waktu kini menunjukkan pukul 01.00 dini hari.
"Ken, bawa Hana masuk ke villa, ini sudah terlalu larut. Ibu khawatir dia kelelahan," pinta Dalia dengan rengut wajah khawatir seraya mengusap punggung Hana yang terduduk disampingnya.
"Aku tidak apa-apa, Bu," sangkal lembut Hana.
"Iya, Kak. Aku khawatir pada kandungannya." Nilam menimpali.
Sejenak Kenzie berpikir.
Benar, Hana sedang hamil. Kenapa ia masih saja tidak peka? "Kalian benar. Ayo, Hana." Dan akhirnya ia bangkit setelah menyadari kebodohannya. Lalu mengulurkan telapak tangannya ke arah isterinya
"Tapi, Ken...." Mendongak menatap Kenzie dengan raut tak enak.
"Hana Sayang ... kasihan bayi dalam kandunganmu." Dalia kembali memperingatkan.
Hana mengedar pandang sejenak, lalu mulai bangikit menerima uluran tangan Kenzie dengan canggung, usai melihat anggukan Kevin, sang mertua. "Ba-baiklah, Ken."
"Kenapa kalian masih saja kaku? Tidak ada panggilan sayang begitu?" celetuk Chaka yang duduk nyeleneh disamping Gavin.
Semua laju melirik ke arahnya.
"Aku rasa Chaka benar. Kalian terlalu kaku," timpal Gavin.
"Aku tidak ada waktu berdebat dengan kalian!" Dengan gaya ala bridal style, tanpa babibe Kenzie mengangkat tubuh Hana ke dalam gendongannya.
"Ken!" pekik Hana. "Turunkan aku. Aku malu," ucapnya seraya melirik kearah orang-orang yang kini serentak menatap ke arahnya.
"Tidak apa-apa, Hana. Kenzie hanya tak ingin kamu kelelahan. Jarak villa lumayan jauh." Dalia, sang mertua menambahkan dengan nada sedikit kencang karena Kenzie sudah berjalan cukup jauh meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Nah Gavin, ajak juga Nilam ke kamar villa. Dia juga sudah nampak kelelahan," saran Gerry, papanya Gavin.
"Tidak, Papa. Aku masih ingin disini," tolak Nilam halus.
"Kamu yakin?" Gavin menatapnya memastikan.
"Iya, Gav." Tersenyum. "Kita bisa istirahat seharian penuh esok," lanjutnya.
"Kalau begitu malam ini tidak ada malam pertama, dong?!" seloroh Chaka tersenyum jahil lalu menyeruput cappuccino panasnya tanpa beban.
Tuing!
Gavin menoyor keningnya hingga minuman itu sedikit terhambur ke wajah dan bajunya. "Mulutmu ingin ku lakban, hh?!"
"Gav. Kenapa begitu?!" Nilam terlonjak melihat Chaka yang tersedak dengan kejutnya.
"Iya, Nona Nilam. Suamimu ini suka sekali menoyor keningku. Lihatlah, wajah tampan jadi lengket begini, kan?" adunya seraya menyapu wajahnya menggunakan sehelai tissue.
"Gav ...."
"Biarkan saja, Bu."
"Chaka, bajumu juga basah. Sebaiknya diganti dulu," saran Dalia. "Gavin, Gavin." Laju menggelengkan kepala.
"Akan ku ganti, Bu." Lalu hengkang meninggalkan tempat itu menuju tujuannya.
"Tidak usah kembali!" teriak Gavin.
"Kopiku masih banyak, Boss!!" Chaka menyahuti keras seraya terus berjalan menjauh.
Dua pasang orang tua itu hanya geleng-geleng terkekeh menanggapi.
"Oiya, Gav. Apa kamu sudah ada rencana bulan madu?" tanya Briana membuka bahasan.
"Entahlah, Ma."
"Eh?" Terperanjat. "A-aku ... aku juga tidak tahu, Ma."
"Kalian pergilah bulan madu. Papa sudah siapkan destinasi yang cocok untuk kalian."
"Benarkah itu, Pa?" Gavin terlonjak sumringah.
"Hmm. Semua sudah Papa atur. Kalian akan berangkat dua hari lagi."
"Ah, bagus itu. Mama sudah tidak sabar untuk segera menimang cucu." Briana bersemangat.
Nilam tersenyum kikuk, terlalu malu untuk menanggapi. Lain halnya dengan Gavin. Telapak tangan menopang sebelah pipinya dengan sikut yang disandarkan pada meja dan tubuh yang dimiringkan menghadap Nilam. Menatap isterinya itu dengan senyum menggoda dan alis yang bergerak naik turun. "Kamu siap, Sayang?"
"Ha?" Nilam sontak menatap Gavin, lalu memutar pandang pada ke empat orang tuanya bergiliran dengan raut memerah. Dasar Gavin...geramnya dalam hati. Shameless!
...โขโข...
"Ken... ini sudah terlalu jauh. Turunkan aku," rengek Hana memohon. Lengannya masih melingkar erat dileher Kenzie.
"Tidak apa-apa. Sedikit lagi."
"Aku hanya takut lengan dan pundakmu akan sakit."
"Biarkan saja."
"Ken...."
"Tinggal beberapa langkah lagi."
__ADS_1
Hana hanya mengangguk kaku. "Baiklah." Lalu membenamkan wajahnya didada bidang pria yang kini menjadi suaminya itu.
Tak lama, tubuh Hana sudah diturunkan tepat di pijak awal villa mewah milik keluarga Gavin, yang letaknya beberepa puluh meter dari tempat resepsi pernikahan.
Terlihat Kenzie memutar kepala dan merentang-rentangkan lengan, hingga menimbulkan bunyi krepitasi disekitarnya.
"Aku sudah bilang, tidak usah gendong aku. Kepala dan tubuhmu jadi pegal dan sakit, kan?" sesal Hana.
Kenzie tersenyum menanggapi. "Aku tidak apa-apa. Ayo masuk," ajaknya seraya melingkarkan lengannya dipundak Hana.
Tanpa menyahut lagi, Hana menyeret langkahnya sambil sesekali melirik wajah Kenzie dengan raut cemas.
"Sudah ku bilang, aku tidak apa-apa." Mulai menyibak pintu. "Tubuhku tidak akan ambruk hanya karena menggendongmu," ujarnya seraya tetap berjalan menuju kamar yang akan ditempatinya.
"Tapi aku tetap khawatir. Tubuhku kan berat," ujar polos Hana dengan sesal yang malah terlihat lucu.
Kenzie tentu saja terkekeh. Mengasak gemas rambut Hana yang masih tersanggul itu. "Sudah. Sekarang ganti bajumu. Lalu istirahat." Sembari melepas outer tebal beserta jas yang membalutnya, hingga hanya menyisakan kemeja putih yang kemudian digulung lengannya hingga kesikut.
Kini keduanya sudah berada didalam kamar.
"Tapi aku belum mandi. Tubuhku lengket sekali."
"Besok saja," ujar Kenzie. "Sini, biarku bantu melepas gaunmu."
Hana refleks memundurkan tubuhnya. "Aku sendiri saja.
"Hey, aku ini suamimu. Aku sudah melihat semuanya. Tidak ada gunanya kamu tutup-tutupi." Menarik paksa tubuh Hana, lalu ditempelkan ketubuhnya. Kemudian mulai menurunkan resleting gaun dipunggung isterinya itu dengan posisi berpeluk.
Hana cukup terkejut!
Namun sesaat kemudian...
Tubuh tegangnya mulai melemas. Membenamkan wajahnya didada bidang itu mengikuti instingnya.
Lalu tanpa disadari, kedua lengannya sudah melingkar sempurna ditubuh Kenzie. Rasa hangat dan aroma maskulin yang berasal dari tubuh itu mulai terasa menenangkan baginya. Hingga sudut bibirnya tertarik membentuk sabit senyuman bahagia dengan mata terpejam.
Menyadari itu Kenzie tersenyum. Perasaan bahagia seketika menyeruak didalam dadanya. Kenapa tidak sedari dulu ia membuat wanita ini menjadi miliknya?
Ada ruang penyesalan, kala ia mengingat segala ucapnya kala itu.
Jangan jatuh cinta padaku, Hana.
Sebaris kalimat itu, membuat hatinya mencelos perih. Bagaimana perasaan Hana saat itu?
Tuhan ... Pasti sakit sekali!
Belum usai gaun itu terbuka, Kenzie malah mengalihkan lengan menguatkan pelukannya. Rasa penyesalan bercampur cinta bergelung dalam satu gumpalan yang sama.
Sakit ... juga bahagia.
"Aku mencintaimu, Hana." Kalimat itu lolos begitu saja dari mulutnya.
Hana yang masih bergeming, kini mengangkat wajahnya melengak menatap wajah tampan suaminya, lalu tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Ken."
Keduanya kini dalam senyum saling menatap.
Hingga jarak antara wajah itu perlahan mendekat. Hembusan nafas semakin terasa hangat juga berat. Dan akhirnya terkikis semua jarak!
Tiiiiiiittttttt ....
โกโกโก
Oh, Cinta....
__ADS_1
Indahmu larut dalam hati yang berbaur saling menyambut.
Tetaplah seperti itu ....