Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Luka berbalut duka


__ADS_3

Bagai tersengat listrik ribuan volt, Didy di kejutkan oleh sebuah kenyataan yang bahkan tak pernah di bayangkannya sekalipun.


Ia terpaku membeku, dengan kedua bola mata membulat sempurna di sertai rasa panas, menahan lelehan air kesedihan yang terus memaksa untuk keluar. Gejolak di dalam dadanya tak terbantahkan. Sekujur tubuhnya mulai bergetar.


"Dy.... Kamu tidak apa - apa?" Danu membungkukan tubuhnya, mengguncang pelan tubuh Didy yang duduk terpaku di sampingnya.


"Lek.... Maafkan si Mbok, baru memberitahumu sekarang...." Mbok Parmi menangis penuh sesal. "Si Mbok tahu kamu pasti kecewa. Maafkan si Mbok, Nak."


"J- ja... ja- ja... di...."


Danu dan Mbok Parmi terkejut mendengar patahan suara Didy, yang sudah hampir enam tahun lamanya tak pernah mereka dengar.


"Di, kamu bicara? Ayo, Dy, Ayo. Lanjutkan. Terus. Kamu ingin bicara apa?" tanya Danu antusias.


Namun bukannya bicara, Didy malah terisak. Air matanya mengalir deras. Namun tanpa suara. Kabar itu seperti sebuah pukulan keras yang menghantam tepat di jantung hatinya.


Jadi aku ini adalah anak dari juragan Dahlan.


Ya, Tuhan... sekeras inikah takdir mengendalikan hidupku? Didy membathin.


Melihat remaja itu menangis, Danu tak tega untuk memaksanya bicara. Ia menepuk - nepuk pundak bocah 15 tahunan itu pelan. "Sabar, Dy.... Hidup memang terkadang sepahit ini. Kamu harus berusaha menerimanya," ucap Danu berusaha menenangkan.


Didy tak menggubris ucapan Danu. Ia bangkit dari posisinya. Kemudian berlari keluar dari ruangan itu.


"Dy...!!" teriak Danu.


"Lek...." suara parau Mbok Parmi. Lengannya melambai lemah ke arah pintu yang menelan tubuh Didy di baliknya.


Danu dalam kebingungannya, antara mengejar Didy, dan kekhawatirannya terhadap Mbok Parmi. Ia berjalan hendak keluar menyusul bocah itu, namun di urungkannya, kala melihat Mbok Parmi tengah memegangi dadanya, dengan kedua bola mata mendelik ke atas, dan nafas yang memburu cepat. Ia langsung menghampiri ke arah wanita tua itu. "Mbok!" teriak Danu cemas.


"Dokter...! Suster...!" Danu menekan - nekan tombol nurse call yang terletak di samping atas brangkar Mbok Parmi.


Beberapa saat kemudian, seorang dokter wanita di ikuti suster di belakangnya, datang dengan tergopoh. "Ada apa, Mas?!"


"Si Mbok, Dok. Tolong!"


"Mas tunggu di luar sebentar. Kami akan memeriksanya."

__ADS_1


"Baik, Dok. Tolong selamatkan si Mbok."


"Kami akan berusaha. Silahkan Mas keluar dulu."


Dengan langkah gontai Danu meninggalkan ruangan itu. Setelah di luar, ia langsung mencari keberadaan Didy. Menyusur setiap koridor rumah sakit itu.


Hingga tak butuh waktu lama, Danu melihat Didy yang tengah duduk memeluk lututnya di sebuah tangga, dengan kepala terbenam di antara kedua pahanya yang terlipat.


"Dy... si Mbok, Dy!"


Mendengar suara Danu, Didy langsung mendongak. "Hm... hmm...." (Kenapa dengan Si Mbok?)


"Si Mbok anfal, Dy," jawab Danu cepat. "Dokter sedang menanganinya sekarang. Ayo bangun. Dia butuh dukungan kamu, Dy."


Tak serta merta, Didy langsung berlari melewati Danu, kembali ke ruangan tempat Mbok Parmi di rawat. Danu berlari menyusulnya dari belakang.


Sesampainya di depan pintu ruang rawat Mbok Parmi, Didy melihat dokter yang tadi menangani Mboknya, baru saja keluar.


"Hmm... hmm...." Didy menggunakan bahasa isyaratnya. Dan tentu saja dokter muda itu kebingungan, menelaah arti gerak tubuh Didy.


"Bagaimana keadaan Mbok Parmi, Dok?" Danu memperjelas pertanyaan yang di ajukan Didy.


Didy dan Danu terpaku tak percaya.


"Maaf, Mas, Dek... kami sudah berusaha. Namun Tuhan berkehendak lain. Dan ini di luar batas kendali dan kemampuan kami. Saya harap kalian ta'bah dan bisa melepas kepergian Bu Parmi dengan berlapang hati." Dokter itu berlalu meninggalkan kedua lelaki berbeda generasi yang masih sibuk mencerna setiap bait kalimat yang di ucapkannya barusan.


Didy melangkah perlahan memasuki ruangan tempat dimana Mbok Parmi menghembuskan nafas terakhirnya. Ia melihat seorang perawat tengah melepas alat - alat medis yang terpasang di tubuh wanita renta itu satu persatu. Dan mulai melipatkan kedua tangan Mbok Parmi di bawah dadanya.


Danu sudah berdiri di samping Didy yang terus menatap wajah lelah Mbok Parmi. Mata tua itu kini telah terpejam tenang. Mata yang tak akan pernah terbuka kembali, untuk selamanya.


Hingga sesaat kemudian, bocah gagu itu menghambur memeluk jenazah Mbok Parmi. Seorang wanita tua yang telah merawat dan membesarkannya selama 15 tahun dengan penuh kasih sayang itu, kini telah tiada.


Tangis Didy pecah seketika.


"Mbooook!!!" teriak Didy. Akhirnya ia mampu melepas suaranya yang tercekat selama bertahun - tahun lamanya. Namun sayang... suara panggilan pertamanya itu, juga merupakan panggilan terakhirnya untuk Mbok Parmi. Sebuah panggilan yang tak akan pernah mendapatkan sahutan setitikpun.


Danu mengelus - elus punggung Didy yang membungkuk, memeluk erat tubuh kaku Mbok Parmi. "Yang sabar, Dy. Kamu harus kuat." Setetes air matanya ikut terjatuh mengiringi kepergian Mbok Parmi.

__ADS_1


"Mbok! Jangan tinggalkan Didy, Mbok!" Didy dengan jelas meneriakkan kepedihannya.


Dalam sedihnya, Danu tersenyum.


Akhirnya kamu bisa bicara kembali, Dy.


Kata hati Danu penuh syukur.


"Mohon maaf, Adek, Mas. Kami harus segera mengurus jenazah," pinta suster yang sedari tadi menyaksikan tangisan pilu Didy. Ia terlihat menyeka sedikit sisa air mata di sebelah pipinya, ikut terbawa suasana duka di ruangan itu.


"Dy.... Sudah. Ikhlaskan Mbok. Biar dia tenang," ucap Danu lembut. Kemudian merogoh saku celananya, mencari sesuatu.


"Ah, sial. Tadi, kan, aku lompat lewat jendela, mana mungkin membawa ponsel. Bagaimana caranya menghubungi orang rumah dan orang - orang desa," gumam Danu yang mulai kebingungan.


Didy bangkit, ia menyapu sisa air mata di kedua belah pipinya. "Kak...," panggilnya.


Danu yang membelakangi Didy, menoleh seketika. "Dy... ada apa?"


"Bukankah di luar ada bapak suruhan pak Kades?"


"Oiya, kamu benar, Dy. Kakak sampai lupa," ucap Danu, ia langsung berbalik badan hendak keluar. Namun ia menyadari sesuatu, dan kembali menghadap ke arah Didy.


"Dy, kamu sudah bisa bicara dengan lancar?" tanyanya penuh binar.


Didy mengangguk tersenyum. "Iya, Kak."


"Ya, Tuhan...." Danu langsung berhambur memeluk bocah itu. "Kakak seneng, Dy. Akhirnya kamu bisa bicara. Nilam pasti bahagia mendengar kabar ini." Danu melepaskan pelukannya, dan beralih memegang kedua pundak Didy.


Mendengar nama Nilam, raut wajah Didy kembali muram. "Kak Nilam... entah dimana dia sekarang...."


Danu mengernyit heran. "Maksud kamu, Dy?"


"Nanti aku jelaskan. Kita harus mengurus jenazah si Mbok terlebih dahulu, Kak."


"Astaga! Kamu benar, Dy. Maafkan Kakak." Danu mengusap wajahnya kasar. "Baiklah, kamu tunggu di sini. Kakak keluar dulu untuk mencari pak Tono."


"Iya, Kak."

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2