Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Menghadapi Pertemuan


__ADS_3

Hari mulai pagi. Namun gelap masih enggan untuk mengalah. Mungkinkah ia cemburu pada mentari yang beberapa saat lagi akan merajai hari?


Tidak, tidak seperti itu. Karena Tuhan akan selalu membuat mereka saling mengisi, dan saling berbagi. Ia dengan segala keagungan-Nya, telah menempatkan kedua masa itu pada masing-masing singgasana.


Meskipun ayam jantan mulai bersahutan meneriakkan kokoknya, namun Gavin masih terbuai dalam lelapnya.


Kemanakah jiwanya mengembara? Sepertinya bukan ke Jeruk Purut ataupun Terowongan Casablanca yang terkenal horor itu? Terlihat dari durja tampan yang kini tersenyum-senyum dengan mata yang masih terpejam.


Mimpi, kemana kau membawanya?


Ancol atau Kebon Raya?


Huh! Sudahlah, biarkan saja!


Drrrtt ... drrrttt ... drrrtt ....


Ambyar! Suara vibra ponsel yang di letakkannya di atas nakas di sampingnya sungguh mengganggu.


Ia membuka matanya perlahan. Mengucek seraya mengambil benda pipih itu tanpa melihatnya.


"Ya ... hallo."


"Gaviiinnn .... Akhirnya kamu mau angkat telpon Mama. Dimana kamu, Nak? Kenapa sampai tidak pulang berhari-hari?" Gempuran suara Briana di ujung telpon.


Gavin sedikit menaikkan tubuhnya. Duduk dengan tubuh tersandar di kepala ranjang. "Aku di apartemen, Ma."


"Apa?! Di apartemen?"


"Iya."


"Tapi dua hari yang lalu Mama ke sana. Dan kamu tidak ada. Begitupun di kantor."


"Aku baru kembali kemarin, Ma."


"Kembali dari mana?"


"Dari desanya Nilam."


"Nilam? Untuk apa ke sana?"


"Meminta restu kakek dan adiknya untuk menikahinya," jawaban ringan Gavin.


"Apa?!" Terdengar nada terkejut dari suara Briana.


"Kenapa, Ma?"


Tak ada sahutan.


Hening ....


Namun timer di ponsel Gavin masih terus berjalan.


"Ma, Mama baik-baik saja?" Gavin sedikit khawatir. Masa iya mamanya itu tiba-tiba ayan, gara-gara mendengar dirinya ingin menikah. Ulala ... yang benar saja!


"I- iya, Sayang. Mama baik-baik saja." Meskipun terdengar kaku, namun jawaban itu cukup membuat Gavin merasa lega.


"Syukurlah."


"Gav ... apa kamu serius ingin menikahi wanita kampung itu?" Briana ingin tahu.


"Iya," jawaban tegas Gavin tanpa ragu. "Aku akan tetap pada pendirianku. Aku yakin, lambat laun Mama juga pasti akan meyukainya."


Sesaat diam. "Baiklah. Bawa dia kemari. Mintalah restu pada papamu. Dia akan kembali siang ini."


"Benarkah, Ma? Papa akan pulang?" Gavin melonjak senang. Ia berdiri seketika dengan senyum merekah lebar.


"Iya, Sayang. Mama akan menjemputnya ke bandara dua jam lagi."


"Baiklah. Aku pasti pulang. Terimakasih, Ma. I love you. Muach ... muach ...." kecupan bertubi di ponselnya, mewakili kecupan untuk sang Mama.


Beberapa waktu kemudian ....


Dengan langkah santai Gavin berjalan menuju arah dapur. Pendar ceria di wajahnya tak lepas menghiasi. Tampilan formal kaos putih yang di balut flight jacket berwarna coklat, berpadu celana jeans navy blue, membuatnya terlihat berbeda hari ini. Aroma parfum maskulin tercium semerbak di seantero ruangan itu.


Sudah mandi? Tentu saja.


"Sayang ... kamu sedang apa?" tanyanya pada Nilam yang sekarang tengah bergelut dengan kompor dan penggorengan.


"Gav ... sudah bangun?"


"Kelihatannya?" Gavin balik bertanya. Wajahnya sedikit memberengut, karena wanita itu tak sedikitkan menoleh padanya. Padahal kini ia sudah berdiri tepat di sampingnya.


Gav, sepertinya karismamu di kalahkan nasi goreng yang kini menjadi pusat perhatian Nilam di penggorengan. Mirisnya.


Melangkah menuju meja makan. Lalu mendudukkan tubuhnya pada salah satu kursi di antaranya. Bertopang dagu. Matanya mengikuti pergerakan Nilam yang meliuk kesana- kemari.


Aduhai gadis itu ... Gavin sudah dengan totalitas gayanya, sama sekali tak menarik perhatiannya.


Ulu- ulu kasihan ....


"Selesai." Nilam meletakkan dua piring nasi goreng dengan dua telur mata kebo masing-masing satu di tengahnya. "Ayo sarapan," ajaknya seraya ikut mendudukkan tubuhnya di samping Gavin.


Namun sepertinya lelaki itu masih berdemo dengan kecemburuannya pada telur di atas nasi goreng yang kini memelototinya.


"Gav ... Kenapa?" Nilam terheran melihat kediaman kekasihnya itu.


"Tidak."


Kerutan di kening Nilam mulai menebal. "Apa aku ada salah? Atau gara-gara aku keluar semalam?" tanyanya ingin tahu.


"Aku cemburu."

__ADS_1


"Apa?!" Tentu saja Nilam terkejut. Tak satupun laki-laki di temuinya kemarin. Lalu siapa yang menjadi subjek kecemburuan Gavin? "Cemburu pada siapa, Gav?"


"Semalam anak kucing itu, dan sekarang nasi goreng dan telur ini yang merebut perhatianmu dariku."


Sontak jawaban itu membuat Nilam tertawa.


"Gav ... apakah itu beralasan? Kamu cemburu pada seekor anak kucing? Dan yang lebih parahnya pada nasi goreng dan telur yang bahkan akan kamu telan sebentar lagi." Kembali tertawa. "Apakah kamu sejelek itu, hingga telur ini pun kamu anggap saingan?" Tawa Nilam terdengar semakin keras.


"Berhenti menertawaiku. Atau kamu yang ku makan!"


"Kamu mengancamku?"


"Ya."


"Aku tidak takut!" Nilam dengan wajah menantang.


Menarik!


"Sungguh? Kalo begitu ayo kita mulai."


Senyuman nakal di wajah Gavin seketika memudarkan tawa Nilam. Kenapa lelaki itu kelihatan serius? "Tidak-tidak. Baiklah, ayo kita makan. Keburu dingin. Tidak enak."


"Baiklah. Kali ini ku ampuni kamu," ujar Gavin tersenyum. "Oiya ... habis ini kamu mandi. Kita akan pergi ke rumah Mama."


"Apa?" Nilam tersentak.


"Iya, Papaku akan pulang hari ini. Aku ingin memperkenalkan kamu padanya. Sekalian meminta restu untuk pernikahan kita."


Terdiam. Dalam hatinya Nilam sungguh masih belum siap untuk bertemu Briana. Berbagai pertanyaan mulai memenuhi pikirannya.


Apakah ibunya Gavin itu, akan mau menerimanya, usai pertemuannya terakhir kali yang berisi ucapan-ucapan telaknya yang mungkin akan membuat wanita itu membencinya?


Lalu sekarang ayahnya. Apakah sikapnya akan sama seperti yang di perlakukan Briana padanya?


Sungguh itu membuatnya gelisah.


"Tidak apa-apa. Jangan takut. Semua akan baik-baik saja." Satu sentuhan Gavin di telapak tangannya cukup menenangkannya.


"Apa kamu yakin, Gav, akan membawaku ke rumahmu?"


"Ya aku sangat yakin. Karena itu tujuan utamaku pulang. Memperkenalkanmu pada Papa dan meminta restunya."


"Tapi aku tak yakin, Gav."


Gavin tersenyum. "Tenanglah. Aku pastikan semua akan baik-baik saja."


Sesaat terdiam, Nilam berusaha meyakinkan diri.


"Baiklah."


"Bagus."


*****


"Kita cari baju yang pas untukmu."


Ya, Gavin membawa Nilam ke sebuah butik besar ternama dipusat kota.


"Baju? Untuk apa?"


"Untuk membuatmu terlihat lebih cantik di hadapan orang tuaku."


"Apa itu perlu?"


"Sebenarnya tidak. Aku hanya ingin saja. Tidak apa-apa, kan?"


Diam sesaat. "Baiklah."


"Kalau begitu ayo kita cari gaun yang paling bagus untukmu." Nilam hanya mengangguk.


Keduanya mulai memilah dan memilih apa yang di cari.


Seorang gadis berkemeja abu datang menghampiri. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan, Nona?" tawarnya. Terlihat beberapa gadis lainnya mengenakan pakaian yang sama dengannya. Menandakan bahwa dirinya adalah salah satu pegawai di butik tersebut.


Gavin dan Nilam serempak menoleh ke arahnya. "Saya cari baju yang simple, tidak ribet, tapi tetap cantik." Jawaban Gavin.


"Untuk Nona ini?"


"Betul."


"Baiklah, mari ikut saya. Akan saya tunjukkan beberapa koleksi kami," ucapnya sembari mengarahkan telapak tangannya ke suatu arah yang menampakkan deretan gaun-gaun wanita.


"Oke."


"Ini, Tuan. Silahkan di pilih mana yang Anda inginkan." Beberapa helai model midi, mini dan shift dress di sodorkannya pada Gavin dan Nilam.


"Tuan Gavin." Seorang wanita berusia 30 tahunan dengan gaya khas sosialitanya tiba-tiba datang menghampiri Gavin dengan wajah menelisik. "Anda disini?"


"Miss Lusi."


"Wuah, sudah lama sekali ya, Anda tidak kemari." Juluran telapak tangannya di arahkan pada Gavin. "Bagaimana kabar Anda, Tuan?"


Membalas uluran telapak tangan wanita itu. "Baik. Anda sendiri apa kabar?" tanya Gavin.


"Oh, saya selalu baik," balas wanita bernama Lusi itu tersenyum ramah. Ia tak lain adalah pemilik butik itu sendiri. "Mana Nona Anita?" Kepalanya begerak mencari.


Sejurus pertanyaan itu membuat Gavin melirik Nilam yang masih memilih gaun-gaun yang di sodorkan pegawai tadi. Sebenarnya Nilam mendengar, namun ia bersikap seolah tak peduli.


"Tidak, saya dan Anita sudah lama tidak bersama."


"Oh, benarkah? Sayang sekali. Padahal kalian sangat cocok," ujar Lusi menyayangkan.

__ADS_1


Sukses, kalimat itu membuat Nilam menghentikan kegiatannya. Dan Gavin cukup memahami situasi itu. Tak ingin membuat obrolan tentang Anita berkembang semakin jauh, ia menarik Nilam yang berdiri tak jauh di belakangnya. "Miss Lusi, kenalkan, ini Nilam, calon isteri saya."


"Wuah, benarkah? Cantik sekali," pujinya takjub. "Hay, Nona Nilam," sapaan yang di iringi uluran salam dari tangannya.


Wanita ini terlihat sederhana, cantik wajahnya juga sangat alami.


"H- hay." Jawaban kaku Nilam membalas uluran telapak tangan tangan Lusi.


"Anda benar-benar cantik, Nona."


"Terima kasih." Senyuman tulus Nilam membuat Lusi semakin tertarik.


"Umm, ngomong-ngomong, kalian sedang mencari apa?"


"Oh, ini, aku mencari gaun sederhana untuknya." Gavin mengarahkan pandangannya pada Nilam.


"Oh benarkah? Oke, biar aku yang pilihkan," ucap Lusi. "Nuni, kamu urus pelanggan yang lain. Gaun Nona Nilam biar aku yang urus," pintanya pada si pegawai.


"Baik, Miss."


Beberapa waktu kemudian ....


Lusi dan Nilam baru saja keluar dari ruang ganti. Dan nampaklah Nilam dengan balutan Shift dress putih dengan aksen segaris renda di bagian lengan pendeknya. "Bagaimana Tuan Gavin, cantik sekali, bukan?"


Gavin yang tengah sibuk dengan ponsel di tangannya seketika membelalak takjub. "Iya, Miss, sangat cantik." Penilaian dari mata dan pikiran Gavin yang sinkron.


"Sudah ku duga Anda pasti menyukainya." Lusi tersenyum bangga.


"Baiklah Miss Lusi, terima kasih banyak. Saya dan Nilam harus segera pergi."


"Umm ... sayang sekali, padahal aku ingin sekali mengajak kalian untuk minum kopi barang sejenak."


"Mohon maaf, Miss. Lain kali pasti kita lakukan. Untuk sekarang kami benar-benar blum bisa."


"Baiklah, akan ku tunggu. Oiya, kapan rencananya kalian akan menikah?"


"Segera aku kabari. Yang pasti, siapkan gaun pengantin yang paling cantik untuk calon isteriku ini." Gavin tersenyum dengan lengan yang di lingkarkannya di pundak Nilam.


"Pasti! Akan aku buatkan desain yang paling sempurna khusus untuk Nona cantik ini."


"Terima kasih, Miss. Untuk urusan pembayaran, seperti biasa."


Lusi mengangkat telapak tangannya dengan telunjuk dan ibu jari yang di buat melingkar. "Oke."


"Terima kasih, Miss." Tulus ucapan Nilam di sambut senyuman manis Lusi. "Iya, Nona Nilam Sayang. Sering-seringlah kemari."


"Iya, Miss."


****


Setelah memakan waktu selama hampir 35 menit, mobil Gavin akhirnya berhenti di depan rumah megahnya. Ia keluar lebih dulu lalu membukakan pintu untuk sang dicinta. "Ayo, Sayang. Sepertinya Papa sudah ada di dalam."


Dengan ragu Nilam menerima uluran tangan Gavin. "Gav ... apa kamu yakin orang tuamu akan mau menerimaku?" tanyanya tak yakin.


Gavin menolehnya, "Aku pastikan itu," jawabnya meyakinkan. Mulai menyibakkan daun pintu yang terlihat mewah itu. Dengan langkah pasti, ia merangkul pundak Nilam, menuntun langkahnya hingga sampailah keduanya di sebuah ruang keluarga.


Telah nampak disana Briana dan seorang pria berusia sekitar 50 tahunan yang tak lain adalah Gerry Pradana, ayah Gavin. Keduanya sudah terduduk santai di sebuah sofa.


"Pa ... Ma ...." Melepas rangkulannya di pundak Nilam, lalu mendekat ke arah kedua orang penting dalam hidupnya itu. Menciumi pipi kanan dan kiri mereka bergiliran.


Briana menjuruskan tatapan tak terbaca ke arah Nilam. Menelisik penampilan gadis itu dari atas hingga ke bawah. Cantik. Lalu tersenyum.


"Jagoan ... lama tak jumpa." Pelukan di iringi tepukan halus di pundak Gavin, memperlihatkan dengan nyata, bahwa seorang ayah itu sungguh sangat merindukkan sang anak. Kesibukkan mengurus salah satu perusahaannya di German, membuat Gerry tak memiliki banyak waktu untuk anak dan isterinya.


"Iya, Pa. Papa terlalu sibuk. Jadilah ibu dan anak ini terbelangkalai," canda Gavin.


"Kamu ini ... semua yang Papa lakukan untuk kalian berdua," ujar Gerry. Sesaat kemudian wajahnya terarah lurus pada Nilam yang masih berdiri di tempatnya. "Dia ... apakah dia calon isteri yang di katakan Mamamu itu?"


Senyum di sunggungkan Gavin seraya berjalan ke arah Nilam. "Iya, Pa. Namanya Nilam. Dia cantik, kan?"


"Sangat," jawaban jujur Gerry. "Kenapa masih berdiri? Duduklah, Nak," pintanya mempersilahkan.


Setelah mempersiapkan diri membuang segala ketakutannya, Nilam mulai melangkah mendekati Gerry dan Briana. Membungkukan sedikit tubuhnya menyalami kedua orang tua Gavin itu bergantian. "Apa kabar, Tuan, Nyonya?" sapanya disertai senyuman ramah.


"Hey, kenapa memanggil Tuan? Panggil Papa saja, sama seperti Gavin." Garry tersenyum.


"Apa?" Sungguh di luar dugaan Nilam, Gerry lebih wellcome dibanding Briana yang pongah.


Gavin tersenyum, menuntun Nilam untuk duduk di sofa berseberangan dengan kedua orang tuanya. "Iya, Sayang. Bukankah panggilan itu lebih baik." Dukungan untuk pernyataan sang papa.


Senyuman kaku dipasang Nilam di wajahnya. Sejenak ia melirik Briana yang masih dengan ekspresi datarnya. Entah apa yang ada di kepala perempuan paruh baya itu kini. "Apa itu tidak berlebihan?" tanya Nilam ragu.


"Kenapa? Apa kamu keberatan memanggilku Papa?"


Nilam menggeleng cepat. "Tidak, tidak sama sekali. Hanya saja ... aku merasa tidak pantas." Menundukkan wajahnya.


"Sayang ...." Gavin menggeleng. "Jangan terus menempatkan dirimu dalam posisi tidak layak. Kamu itu luar biasa, kamu itu sempurna," ujar Gavin penuh penekanan.


Gerry memendar senyum.


Gadis ini menarik sekali. Kamu sangat pandai memilih wanita, Gav.


"Tapi ...."


"Panggil aku Papa. Tidak ada tapi-tapian!" Suara tegas tak ingin di bantah, keluar dari mulut Gerry. "Panggil juga dia ... Mama."


"Apa?!"


Briana dan Nilam sama-sama tersentak. Saling memandang, lalu saling membuang muka secara bersamaan.


Aduhaaaiii ....

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2