
Rumah sederhana itu, kini terasa sepi tanpa kehadiran Nilam. Kakek Usman selalu lebih banyak mengurung diri di kamarnya.
Teriakan - teriakan Murni tak lagi terdengar.
Sedangkan kesepian mulai merasuki diri Hana. Tak ada lagi tempat baginya untuk berkeluh kesah. Tak ada pendengar untuknya berbagi cerita-cerita recehnya.
Tak ada lagi....
"Hana," panggil Murni yang sudah berdiri di ambang pintu kamar anak gadisnya itu. "Kamu kenapa, akhir-akhir ini selalu banyak melamun?"
Hana menoleh ke arah ibunya. "Ibu sudah tahu jawabannya."
"Karena Nilam?"
Hana membuang muka.
"Untuk apa kamu memikirkan gadis tak tahu diri itu, Hana. Sudah mau di beri hidup enak malah melarikan diri."
"Yang merasa enak itu Ibu, bukan kak Nilam."
"Berhentilah menyalahkan Ibu, Hana."
"Sudahlah, Bu. Aku tidak ingin berdebat," ucap Hana malas. "Oiya, Bu. Aku ingin bertanya pada Ibu."
Murni melangkah mendekati anak semata wayangnya itu. Kemudian mendudukkan dirinya di kasur sederhana di samping Hana.
"Bertanya apa?"
"Waktu itu Ibu memintaku dengan sukarela untuk menggantikan kak Nilam menikah dengan Juragan Dahlan. Tapi ketika orang-orang Dahlan itu datang dan benar-benar memintaku menggantikan kak Nilam, kenapa Ibu tak mengizinkannya? Bukankah itu keinginan Ibu?"
Murni tertegun menyikapi pertanyaan Hana.
"Ka-karena Ibu, Ibu...."
"Karena Ibu apa?"
"Tentu saja karena Ibu tidak ingin kehilanganmu, Hana."
"Bukankah itu keinginan Ibu, aku menjadi isteri dari orang kaya, meskipun orang itu adalah Juragan Dahlan, lelaki tua yang sudah memiliki tiga orang isteri."
"Tidak, Hana. Ibu meralat keputusan Ibu tentang itu."
Hana mengerutkan keningnya heran.
"Kenapa? Apa Ibu mengetahui sesuatu?"
Murni menatap kedua manik mata Hana.
"Karena ketika Ibu datang menemuinya untuk bernegosiasi tentang Nilam, Juragan Dahlan sudah menentukan syaratnya sendiri."
"Apa?"
"Ibu bisa mendapat harta yang banyak, tapi kita semua tidak akan bisa lagi bertemu dengan Nilam, selamanya."
Hana terperangah.
"Dan Ibu menyetujuinya karena itu adalah kak Nilam. Dan bukan aku...! Ibu takut tidak bisa lagi bertemu denganku jika aku benar - benar menggantikan kak Nilam. Begitu, kan, Bu?"
"I- Iya, Hana. Ka- kamu benar. Ibu tidak mau terpisah denganmu."
Hana menatap suram wajah sang ibu.
" Kak Nilam itu tidak berdosa padamu, Bu.... Dia itu gadis yang baik dan juga lugu. Kehadirannya di tengah-tengah keluarga kita, adalah takdir. Dia tidak merebut kasih sayang siapapun. Dia di cintai semua orang, karena dia memang pantas di cintai, Bu...!"
Murni tersentak mendengar penuturan anaknya yang sedikit di bumbui bentakan itu.
"Hanaa...."
__ADS_1
"Aku kecewa padamu, Bu. Sangat, sangat kecewa." Hana bangkit meninggalkan sang ibu yang terpaku di tempatnya.
***
Hari ini Nilam sudah memulai aktifitasnya di sebuah kedai kecil milik pasangan suami isteri yang telah bersedia menampungnya untuk tinggal di rumah mereka.
"Nuri, tolong antarkan kopi-kopi ini pada tamu yang ada di depan," perintah ibu pemilik kedai.
Ya, Nilam mengganti namanya menjadi Nuri, sebagai bentuk penyamaran untuk menghindari kejaran orang-orang suruhan Dahlan. Ia juga mengenakan kain hitam pemberian nenek Samiah untuk menutupi kepalanya.
"Baik, Bu." Nilam menerima nampan kopi yang di sodorkan ibu kedai padanya. Kemudian melangkah ke arah depan, untuk memberikan kopi itu kepada si pemesan.
"Permisi, ini kopinya, Tuan," kata Nilam lembut, seraya meletakkan kopi yang berjumlah tiga gelas itu di meja bundar yang di tempati ketiga orang lelaki pelanggan kedai.
"Terima kasih Nona manis. Sepertinya kau baru di sini, Nona."
Nilam mengangguk sopan. "Benar, Tuan. Saya permisi." Ia berbalik badan berniat masuk kembali ke dalam kedai menghampiri sang pemilik.
Namun tiba-tiba salah satu dari ketiga laki-laki itu menahan lengannya.
"Mau kemana? Temani kita dulu di sini. Tenang saja, kita akan memberimu bonus yang besar. Bagaimana?"
"Benar, Nona. Kita bersenang - senang dulu di sini," timpal lelaki lainnya.
"Maaf, Tuan, saya masih banyak pekerjaan."
"Pemilik kedai pasti mengizinkanmu, Nona. Karena mereka juga akan mendapatkan bagian lebih dari sekedar harga kopi ini."
"Tidak, Tuan. Saya mohon, jangan."
Nilam terus meronta berusaha melepaskan cekalan lelaki 35 tahunan itu.
Kedua lelaki yang lain hanya tertawa menanggapi kelakuan nakal teman mereka.
"Maaf, Tuan. Tolong lepaskan keponakan saya. Dia tidak terbiasa seperti itu. Saya bisa mencarikan wanita pendamping lain untuk menemani Tuan-Tuan semua." Bapak pemilik kedai tiba - tiba datang sepulang dari pasar masih dengan menenteng keranjang belanjaan di tangannya.
"Jadi gadis ini keponakanmu?"
"Aku menginginkannya."
"Maafkan saya, Tuan. Keponakan saya ini sudah bersuami."
Nilam sedikit terkejut dengan ucapan bapak pemilik kedai. Namun ia tahu, itu adalah cara untuk menghindarkannya dari gangguan para lelaki itu.
"Aku tidak masalah dengan itu. Bahkan aku bisa membeli suaminya sekalian."
"Tuan, apa anda bisa lihat kain penutup kepalanya? Anda akan sangat jijik bila melihatnya tanpa kain penutup itu."
"Maksudmu?" Pria itu memasang wajah bingung.
"Dia menderita penyakit kulit yang tersebar di seluruh bagian kepalanya."
Lagi - lagi Nilam di buat terkejut untuk yang kedua kalinya.
Pria itu tersentak, ia langsung melepaskan tangan Nilam dari cekalannya.
"Menjijikan! Cepat pergi dari hadapanku!"
Tanpa aba-aba Nilam langsung berlari masuk ke dalam dapur kedai, dengan rasa takut yang masih tersirat di wajah cantiknya.
"Nuri, kamu kenapa, Nak?" tanya ibu kedai, yang terheran melihat wajah ketakutan Nilam.
"A- aku--"
"Dia di ganggu para preman pasar itu." Bapak kedai yang sudah bergabung di dapur memberi jawaban.
"Preman yang mana, Pak?"
__ADS_1
"Yang di depan."
"Ya, Tuhan. Jadi mereka itu preman pasar yang di kenal kejam itu?"
"Iya, Bu."
"Nuri, kamu tidak apa - apa, Nak? Apa mereka kurang ajar padamu?"
"Aku tidak apa - apa, Bu. Bapak datang tepat waktu," jawab Nilam. Kemudian melirik pada Bapak kedai yang tengah asik mengocek segelas teh di tangannya. "Terima kasih, Pak, sudah menolongku."
"Sama - sama, Nuri. Maafkan Bapak, karena memberi alasan yang mungkin tidak mengenakkan di hatimu pada para preman itu."
Nilam tersenyum. "Aku tidak apa - apa. Toh, kepala ku masih baik - baik saja." Nilam terkekeh mengingat ucapan bapak kedai tadi ketika menghadapi para preman itu.
"Emang Bapak bilang apa pada mereka?" tanya Ibu kedai penasaran.
"Tidak ada."
"Isshh, Bapak ini."
****
Di kediaman Gavin
"Gav, bagaimana? Apa kau berhasil bertemu gadis kecilmu itu?" tanya Kenzie. Ia kini berada di ruang kerja Gavin di kediaman pribadinya.
Gavin menggeleng. "Tidak, Ken," jawan Gavin yang terduduk di sofa berdampingan dengan sahabatnya itu.
"Kenapa? Apa dia sudah menikah dan di bawa suaminya? Atau karena alasan lain...."
"Dia masih hidup, Ken."
"Lantas, kenapa kau tidak berhasil menemuinya?"
Gavin terdiam. Ingatannya mengembara pada percakapannya dengan ibu tetangga Nilam. Dan juga tulisan - tulisan Didy yang membuatnya semakin merindukan gadis itu.
Cerita tentang Nilam yang di paksa menikah dengan seorang pria tua beristeri tiga, terus saja berputar - putar di pikirannya.
Juga tentang Nilam yang masih mengingatnya. Dan yang paling membuat hatinya berdesir adalah Nilam yang sangat merindukannya.
"Gav...." panggil Kenzie. Ia melihat Gavin yang terdiam menatap lurus ke depan dengan raut wajah sendu. "Gav! Kau baik - baik saja?"
Gavin mengerjap. "I- iya. Ke- kenapa, Ken?"
"Ya, Tuhan... ternyata sahabatku ini melamun. Sepertinya kau sangat merindukan gadis itu, Gav."
Gavin melirik Kenzie di sampingnya.
"Sangat, Ken."
Kenzie tersenyum. "Aku tidak pernah melihatmu serapuh ini. Lalu, apa alasannya kau tidak bisa bertemu dengannya?"
"Dia sudah pergi dari desa itu, Ken. Ia melarikan diri dari pernikahannya."
"What?! Why...?" Kenzie memasang raut terkejut.
"Karena dia di paksa menikah dengan lelaki tua beristeri, yang sudah pasti tidak di cintainya, Ken."
"Oh, my God.... Di zaman semodern ini, masih saja ada yang menganut pernikahan paksa. Aku tidak mengerti pikiran orang - orang itu." Kenzie menghempaskan tubuhnya pada sandaran sofa di belakangnya. "Umm... memangnya siapa yang memaksanya menikah dengan lelaki tua itu, Gav?"
"Bibinya."
"Apa? Bibinya? Memangnya kemana orang tuanya?"
"Aku tidak tahu. Aku lupa bertanya. Dulu, sewaktu aku tinggal di tempat itu, kedua orang tuanya masih lengkap."
"Ouh," balas Kenzie singkat. Sesaat kemudian ia menyadari sesuatu. Lalu bangkit dari posisinya nyamannya. "Tunggu, Gav. Aku baru ingat, kenapa ceritamu hampir mirip dengan cerita gadis yang aku temui di desa itu...?"
__ADS_1
"Benarkah...????"
~○○○~