
Mengingat luka itu akan menghasilkan resah.
Jangan menuruti pikir yang menyesakkan.
Yang sudah, biarkan pada kesudahannya.
Lanjutkan memupuk harapan.
Modali dengan seulas senyuman tulus, maka apapun akan datang sebagai medali kemenangan.
...♡♡♡♡...
Kemeja putih yang sudah tergulung hingga ke sikut, dengan celana hitam resmi, dan pantopelnya, Gavin turun dari dalam BMWnya berhias ragu.
Rumah Kenzie.
Di edarnya pandang kesekeliling. Rumah yang di jejakinya itu kini adalah rumah Nilam juga, gadis yang yang selalu menempati tahta permaisuri dalam hatinya.
Umm ... Permaisuri?
Ya, meskipun ini bukan zaman kekaisaran Jepang ataupun kerajaan Padjajaran, yang bertengger Subang Larang diposisinya, namun ini bukan isapan jempol, Nilam memang telah menempati ruang terindah dalam jiwanya.
It's okay to be Lebaaayyy !
Menarik nafas dalam lalu dihembuskannya perlahan. Langkah kaki mulai dituntun Gavin mendekati daun pintu klasik itu.
Kalo orang Muslim bilang .... Bismillah.
Berhubung ini bukan story yang mengusung alur religi, jadi ucapan itu biar Auth yang wakilkan. Huufftt ...
Mulai melayangkan telapak tangan yang sudah dikepalkannya setengah ke depan daun pintu itu, Gavin mulai mengetuk.
Padahal ada bell nonjol disamping, tapi sepertinya Gavin lagi olahraga jari. Hi....
CEKLEK
Pintu terbuka.
"Gav ...."
JRENG...
Nilam muncul dari balik pintu yang tersibak itu. Terlalu indah untuk sebuah kebetulan.
"Nilam ...." Sekat itu masih ada meskipun mulai samar. Gavin masih harus menahan diri dan mengendalikan sebuah rasa yang kini bertabuh keras didadanya. Rindu, sangat rindu. Ingin sekali di rengkuhnya tubuh itu kedalam peluknya. "Ba-bagaimana kabarmu?"
"Ba-baik."
Hey! What the hell?
__ADS_1
Kenapa sama-sama kaku? Bukankah pertemuan awal kalian yang diawali dengan seratus lima puluh ribu itu, sangat lancar meskipun baru pertama kali bertemu, setelah tumbuh tinggi dan mengenal cinta?
Ahh, cinta, terkadang kau berlebihan memasang bentengmu untuk dua hati yang sudah saling bersambut. Terlalu tinggi!
"Boleh aku masuk?"
"O-oh... tentu. Silahkan."
Dan keduanyapun berjalan beriringan menuju sebuah sofa yang melingkar berhadapan.
"Silahkan duduk, Gav. Sebentar aku buatkan minum."
Tersenyum, Gavin sungguh mengenal sosok itu, sosok yang tak pernah berteman dengan kesombongan. Bayangkan, Nilam kini adalah Nona Muda di istana ini, ada beberapa asisten rumah tangga yang bisa di andalkan untuk sekedar membuatkan minum. Tapi dia ... ahh, benar-benar Nona Muda yang merakyat.
Selang beberapa menit. "Silahkan, Gav." Cangkir berwarna coklat dan alasnya itupun diletakkan Nilam dimeja dihadapannya.
Dipandangi Gavin isian dari gelas ceper itu, sesaat kemudian ia tersenyum. Mochalatte! "Ternyata kamu masih mengingat minuman kesukaanku."
Duduk disofa berseberangan, Nilam cukup kikuk dengan kalimat itu. "Ya. Silahkan diminum. Mumpung masih hangat."
"Terimakasih." Suara sruputan menandakan Gavin mulai menyesap minuman panas itu. "Umm ... Nilam, dimana Kenzie?"
Derrr....
Pertanyaan itu kenapa membuat jantung Nilam berdentam? Kenzie? "A-aku tidak tahu. Dia belum kembali dari dua hari yang lalu. Tapi dia sempat mengirim pesan pada Ibu, kalau dia baik-baik saja. Tapi tak menyebutkan dimana keberadaannya."
"Kira-kira dimana dia?" Gavin bertanya pada dirinya sendiri.
Gavin tentu tahu itu. Sisi hati yang lembut membuat Nilam mudah mengeluarkan air matanya. Terlebih ini tentang Kenzie. Lelaki yang kini adalah kakak kandungnya.
"Jangan sedih, dia pasti baik-baik saja."
"Ini semua salahku. Salahku yang memberikan harapan padanya. Seandainya saat itu aku menolaknya. Mungkin dia akan tetap disini, dan menerimaku sebagai adik kandungnya." Mulai berganti isakkan.
Tak ada raut terkejut. Gavin tak bisa menahan diri lagi, ia mengangkat tubuhnya untuk mendekat kearah gadis ringkih itu. Direngkuhnya erat. "Ini bukan salahmu. Apapun yang terjadi, semuanya sudah dalam baris aturan Tuhan." Dikecupnya pucuk kepala itu dalam.
Nilam mendongak wajah. Menjauhkan sedikit tubuhnya dari rengkuhan Gavin. "Gav, kamu sudah tahu?" Menatap dengan raut tersentaknya.
Dan Gavinpun mengangguk, anggukan berpulas senyum. "Ya, aku tahu. Dua malam lalu Kenzie sempat datang ke rumahku. Dia menceritakan segalanya. Awalnya aku tidak percaya, tapi melihat kesungguhan dan kekacauannya ... aku tahu dia tidak berbohong."
Cukup getir perasaan Nilam kini. Ia hanya terdiam. Rasanya terlalu sulit baginya untuk percaya. Kenzie ... pria yang hampir saja menikahinya itu adalah kakak kandungnya sendiri.
"Dan dia ... memintaku untuk menjagamu kembali," lanjut Gavin.
DEG!
Sontak menatap dengan mata membulat. "Apa?"
"Iya, Nilam. Dia ingin aku kembali padamu." Terdiam sesaat. "Begitupun aku." Diraihnya kedua telapak tangan itu. "Aku masih sangat mencintaimu."
__ADS_1
Andai ada tombol yang bisa meredakan jantungnya yang berjoged itu, mungkin ia menekannya secepat kilat.
Ah, sudahlah.
Dalam lidah yang kelu, Nilam tak mampu melontar kata. Kalimat terakhir Gavin itu terlalu mengejutkan untuknya. Namun mata itu terus menatapnya seolah meminta jawaban.
"Nilam ... Sayang ...." Dikecupnya punggung tangan itu dalam. "Aku tau ini terlalu cepat. Tapi itulah yang menjadi alasanku. Aku ingin ada disaat-saat tersulitmu. Dan disemua waktumu."
Nilam dalam tercenung. Getaran dihatinya semakin menggelitik. Cinta, ia memang masih memiliki cinta untuk pria itu. Tapi ... "Gav--"
"Jangan tolak aku. Aku mohon... Aku akan menebus sebuah kesalahanku dalam sepanjang waktu kedepan. Aku akan membuatmu bahagia, hingga luka dihatimu tertutup olehnya."
Terdengar memaksa, namun untaian kalimat Gavin itu cukup menekan sisi sensitif dihati Nilam. Ia tahu itu sangat, sangat tulus. "Tapi, Gav... aku takut."
"Apa yang kamu takutkan, hmm? Katakan padaku?"
"Keluargamu. Mereka mungkin akan sangat membenciku."
Gavin tersenyum. "Kau tahu ... Mama selalu menunggumu. Dia sudah sangat jatuh cinta padamu. Begitupun Papa. Kejadian lalu itu semua salahku. Mereka tidak akan membencimu. Percayalah." Gavin terus berusaha meyakinkan. "Kita lanjutkan yang tertunda diantara kita."
"Apa yang tertunda diantara kalian?" Suara Kevin menggema memenuhi ruangan. Dengan Dalia yang mengiring disampingnya dengan kernyitan bingung diwajahnya. Yang sontak membuat kedua muda-mudi itu terperanjat dan melepaskan pertautan jari jemari mereka.
"A-ayah."
"Jelaskan!" pinta Kevin tegas. Sofa kosong sudah didudukinya juga Dalia.
Gavin menegakkan tubuh. "Maafkan aku, Om, Ibu. Sebelumnya aku dan Nilam memang sudah berhubungan. Bahkan kami berdua sudah bertunangan."
"Apa?!" Dalia tersentak. "Tunangan?"
"Iya, Ibu."
"Jadi ... pesta pertunanganmu waktu itu, adalah pesta pertunanganmu dengan Nilam, bukan dengan wanita yang gagal kamu nikahi itu?"
"Ben--"
"Wanita yang gagal kamu nikahi, maksudnya?" pungkas Kevin dalam kernyitan diwajahnya, menatap ingin tahu.
Nilam masih dalam katupnya. Sesungguhnya ia juga ingin mengetahui kenyataan yang sebenarnya dibalik hubungan dadakan Gavin dengan wanita model itu.
Gavin, terlihat nafas ditariknya lalu dihembuskannya perlahan. Lalu mulai merangkai kata. "Begini, Om, Ibu ...." Selanjutnya ia menceritakan segala yang terjadi padanya dua bulan belakangan. Termasuk tentang Gendam itu.
Gerry, sang papa dengan segala koneksinya, sudah berhasil menyeret Warjo, si dukun gendam itu melalui tangan-tangan hebatnya. Kini pria itu dalam genggaman keluarga Gavin.
Setelah semua terbeber sempurna tanpa ada yang terlewat, Nilam juga kedua orang tuanya itu cukup dibuat terkejut dengan penjelasan panjang Gavin. Sekotor itu cara seorang wanita menggaet lelaki yang diinginkannya. Terlalu rendah!
....
Hari gini ... main dukun-dukunan?
__ADS_1
Aduhai millenial ....😂