
TIDAAAKKK!!!
Suara Gavin mengudara keras, kala ia mulai menyadari bahwa gadis dalam pelukannya itu sudah terkulai tak berdaya.
Awalnya ia mengira, Nilam hanya ketakutan ketika gadis itu menghambur ke pelukannya, karena mendengar suara pelepasan peluru yang cukup memekakkan telinga, namun mata yang terpejam, tubuh yang terkulai, dan basahan berwarna merah yang tak sengaja disentuhnya, seketika membuatnya sadar, bahwa gadis itu sudah kehilangan kesadarannya.
"Sayang ... banguuunn...!" Gavin mengguncang tubuh lemah yang kini sudah tergolek di lantai. Dengan paha Gavin menjadi penyangga kepalanya. Darah segar mulai mengalir perlahan di lantai. Gaun yang semula putih itu, kini sebagian berubah pekat memerah.
Semua orang langsung melesat menghampiri.
Tak elak, raut terkejut menghias di semua wajah. Suara-suara dari setiap bibir meneriakkan nama gadis itu histeris. Mereka mulai mengerumuni Nilam dan Gavin.
Seperti tersihir, Gavin menangis meraung-raung, layaknya psakitan yang menunggu penghakiman.
Dan semua orang, seolah kehilangan akal sehat untuk berpikir, mereka malah meminta Gavin untuk bersabar.
Dari sanalah, Kenzie yang masih menggunakan pikiran jernihnya datang membelah kerumunan. Tanpa memperdulikan Gavin dan lainnya, ia mengangkat tubuh tak berdaya itu dan menggendongnya ala bridal style.
"Mau kau bawa kemana tunanganku, Kenzie?!!" Sungguh, Gavin dalam waras yang mengambang. Shock!
Sesaat menghentikan langkah, Kenzie menjawab tanpa menoleh. "Bodoh! Apa kau akan terus menangisinya tanpa memberinya pertolongan!"
Sukses! Seperti kecoak terinjak, Gavin terdiam. Benar! Rumah sakit! Nilam harus segera di berikan pertolongan.
"Gav ... susul calon isterimu!" bentak Briana yang melihat Gavin masih terpaku ditempatnya.
Kunci mobil Gavin yang sudah digenggamnya diselipkan ke telapak tangan puteranya itu. Namun tak berhasil. Gavin hanya memandang bodoh benda kecil itu di telapak tangannya.
PLAK! Gavin mengerjap. Rasa panas dipipinya mulai memulihkan kesadarannya.
Cara itu di layangkan Gerry sang Papa. "Apa kau kau terus berdiam diri disini?!"
"Papa ..." ucapnya. "Nilam, mana Nilam, Pa?" tanyanya dalam kecemasan stadium akhir.
"Ken sudah melarikannya ke rumah sakit!"
Tanpa babibu, Gavin berlari melesat keluar menuju mobilnya terparkir.
"Ayo kita susul mereka, Pa," ajak Briana.
"Iya, Ma."
****
Di rumah sakit
Brangkar itu tengah melaju cepat menuju ruang penanganan. Kenzie, Chaka, dan Hana yang juga ikut serta menggiring benda beroda itu hingga berakhir di depan pintu bertuliskan IGD.
Langkah mereka terpaksa ditahan dokter, demi kelancaran proses penanganan didalam ruangan. Akhirnya, mereka terpaksa menunggu dengan cemas.
Gavin datang dengan tergopoh dan panik. "Mana Nilam, Ken?!" Polesan darah dibajunya masih terpampang menghiasi.
"Tenang, Gav." Menyentuh pundak Gavin. "Dia sedang ditangani dokter didalam."
__ADS_1
Mengacak rambutnya, berjalan menuju kursi penunggu yang berjejer didepan ruangan, Gavin mulai menangis. Cabikan dihatinya benar-benar membuatnya tersiksa. "Kenapa begini, Tuhan ...." keluhnya menyanyat perasaan.
Seketika! Keluhan Gavin itu membuat Kenzie menegakkan tubuh. Hatinya jangan pernah di tanya, sungguh tak jauh berbeda dengan sahabatnya itu. Ia meraih ponsel disaku jasnya yang juga berlukis darah Nilam, kala ia menggendong gadis itu tadi.
"Bagaimana apa sudah ada kabar tentang pelakunya?" Pembicaraannya dengan seseorang di line telpon membuat semua menoleh ke arahnya. "Jangan berhenti. Aku tunggu kabar selanjutnya."
Telpon dimatikannya sepihak.
"Bagaimana, Bos?!" tanya Chaka.
Kenzie ikut mendudukkan tubuhnya di samping pemuda cute itu. "Belum menemukan titik terang. Orang-orang paman Gerry juga masih berusaha. Sepertinya, penembak itu sangat terlatih dalam segala hal, sampai kita bisa kecolongan."
"Benar, Bos. Jumlah orang-orang yang tidak terlalu banyak, membuatnya mudah untuk membidik," balas Chaka. "Tapi kenapa Nona Nilam yang menjadi sasarannya, ya...?"
"Itu yang masih belum ku mengerti. Semua dalam keadaan tenang, bahkan jika Gavin yang dijadikannya sasaran, maka dia akan membidik dari arah berlawanan."
"Jadi kesimpulannya menurutmu, Bos, memang orang itu benar-benar mengincar Nona Nilam?" Chaka menerka.
"Iya, Chaka."
"Jika aku mengetahui siapa dalang dibalik semua ini, akan aku pastikan ... dia akan hancur!" Suara geram penuh dendam itu, keluar dari mulut Gavin. Telapak tangannya terkepal keras. Wajah merah dengan rahang mengetat, menjadi lukisan nyata, bahwa amarah tengah menguasai dirinya saat ini.
"Iya, Gav, aku mengerti. Kita akan tindak seadil mungkin. Untuk sekarang, yang harus kita lakukan adalah berdo'a untuk keselamatan Nilam." Kenzie selalu menjadi yang paling dewasa dalam situasi apapun.
Andai kau tahu, Gav ... akupun sama sepertimu. Entah mengapa, melihat darah Nilam, aku seperti merasakan, darah didalam tubuhku ikut bergolak.
"Ibu!" Kenapa tiba-tiba aku mengingat ibu.
Mendengar ucapan Kenzie, sontak ketiga orang itu menoleh.
"Ada apa dengan ibumu, Ken?" Gavin juga ingin tahu. Ia mulai bisa menguasai diri.
Kenzie menggeleng. "Tidak, tidak apa-apa. Entah mengapa aku tiba-tiba mengingat Ibuku. Dan perasaanku tiba-tiba tidak enak."
"Apa mungkin ibu sakit, Bos?"
"Chaka, jangan bicara sembarangan!" hardik Gavin.
"Entahlah. Aku semakin tidak nyaman." Kenzie memaut rambutnya ke belakang menggunakan jari-jemarinya, dengan wajah menengadah ke atas. Terlihat jelas, ia kini dalam keresahan.
"Co-coba telpon saja, Ken. Mungkin semua itu bisa menjawab rasa cemasmu." Meskipun sempat ragu, Akhirnya Hana mencoba menyuarakan pendapatnya.
Sontak, Kenzie menoleh ke asal suara lembut itu. "Terima kasih, Hana. Idemu sangat membantu."
Kemudian ia kembali meraih ponsel yang sudah di simpannya kembali ke dalam saku bagian dalam tuxedonya.
Tut ... tut ... tut ....
Pertanda sambungan telpon itu terhubung.
"Hallo," sahutan diseberang sana.
"Bi ... Ibu dimana?"
__ADS_1
"Tuan Muda Ken, kebetulan Anda menelpon. Ibu, Tuan ...."
"Ada apa dengan Ibu?!" Kenzie refleks berdiri.
"Tadi sekitar pukul delapan, Ibu kembali histeris, Tuan."
"Apa?!" Kenzie terkejut. "Sudah panggil Dokter Anwar?"
"**Sudah, Tuan. Sekarang Ibu sedang d**i tanganinya didalam."
"Baiklah, aku segera kesana."
"Ada apa, Ken?" Gavin yang tengah dirundung cemas karena Nilam, ikut berdiri cemas melihat Kenzie. Pun dengan Hana dan Chaka.
"Ibuku kembali histeris, Gav. Entah mengapa ... padahal ia sudah dinyatakan sembuh dari penyakit itu." Kenzie bermuram durja.
"Pulanglah. Temui ibumu." Gavin menepuk pundak sahabatnya itu.
"Tapi Nilam ...."
"Ada aku, ada Hana, dan Papa Mamaku beserta Kakek Usman dan Bibi Murni, mereka dalam perjalanan kemari."
"Juga ada aku, Kak." Didy datang didampingi Kedasih.
Kening Kenzie mengkerut dalam melihat Didy.
"Dia Didy, Ken. Tadi saat di rumah, aku belum sempat mengenalkannya padamu," ujar Gavin.
Kenzie tersenyum. "Hay Didy. Aku Kenzie."
"Iya, Kak." Didy balas tersenyum. "Aku sudah mendengar percakapan kalian. Sebaiknya Kakak cepat temui ibu Kakak dulu. Dia pasti sangat membutuhkanmu saat ini."
"Bocah ini benar, Bos. Ayo kita pulang," ajak Chaka.
Sejenak Kenzie memandang Gavin yang terlihat kusut. "Gantilah pakaianmu, Gav. Jangan sampai ketika Nilam sadar, dia melihatmu sejelek itu."
Selipan candaan Kenzie itu menghasilkan senyum di wajah Gavin. "Iya, Kawan," balasnya tenang.
"Baiklah, aku pergi dulu. Tolong kalian semua jaga Nilam. Kalau ada apa-apa cepat kabari aku."
"Pasti. Dan terima kasih ...."
"Untuk?"
"Kau telah membawa Nilam kemari lebih cepat dari kebodohanku."
Kenzie tersenyum getir. "Sudah seharusnya seperti itu, Gav."
"Kau benar. Berhati-hatilah," ucap Gavin. "Chaka, sebaiknya kau ambil alih kemudi. Sepertinya bukan pilihan yang baik jika Ken yang menyetir," sarannya.
"Siap, Bos Gav. Itu juga yang akan aku lakukan."
"Kalian pikir aku kenapa?" Kenzie melengos.
__ADS_1
"Sudah, Bos. Ayo."