Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Menunggu terbiasa


__ADS_3

Waktu terus merambat mengukir segala rasa.


Di tinggalkannya benang-benang kusut yang belum sempat dipulihkan.


Dan kapan? Apakah ia akan tetap kusut?


Kapan cerita sampah ini melahirkan solusi?


Ada getar cinta yang belum terjawab.


Tapi dinikmatinya dengan sabar tanpa menuntut.


Biarkan mengalir seperti air.


Meskipun ujungnya harus terbelah dibendungan yang tersekat.


Lalu berpisah.


Tak ada penyatuan.


Kenzie menatap gadis disampingnya yang tengah fokus pada layar besar didepannya. Sesekali senyuman tersungging manis dibibir kecil itu, kala sebuah adegan lucu menggelitik perasaannya.


Ya ... ia dan Nilam kini berada disebuah bioskop. Menonton film bersama dalam rangka mengusir resah. Film bergenre komedi yang terputar itupun mungkin dianggapnya hanya pemanis, yang bahkan isi ataupun judulnya sama sekali tak diperdulikannya. Yang terpenting baginya ... Nilam tersenyum.


Dan itu berhasil!


Bukan hanya sekedar senyum, sedikit tawa kecil juga mulai di tampakannya.


Ah ... bukankah itu menyenangkan?


Nilam mulai menyadari kelakuan lelaki itu. Di tolehkannya wajah manisnya ke arah pria disampingnya itu dengan cepat. Dan ....


Gep!


"Kenapa terus menatapku? Apa filmnya berpindah ke wajahku?" Wajah itu sungguh lucu dimata Kenzie.


"Mungkin." Jawaban singkat yang aneh.


"Ken ... filmnya ada disana." Di tunjuknya layar besar didepan mereka itu.


Sekilas mengikuti arah telunjuk Nilam. "Aku tidak suka." Menyebalkan sekali bukan?


"Kalau tidak suka kenapa kesini?"


"Karena disini aku bisa melihatmu tertawa."


"Ken ...."


"Apa?" Bersidekap tangan, dengan tubuh dimiringkan menghadap Nilam, dan kepala terbentur santai disandaran kursi. "Sepulang dari sini aku ingin mentraktir sutradara film itu."


"Ha?" Berengutan bingung itu menghasilkan kekehan dibibir Kenzie.


"Ya ... karena dia telah berhasil membuatmu tertawa."


Menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. Kembali dihadapkannya wajahnya ke layar besar menyala itu. "Kali ini aku tidak akan tertawa."


"Jangan! Karena itu akan membuatku sedih," hardik Kenzie.


Dan tentu saja membuat Nilam kembali memutar tubuh menghadapnya. Tapi sepertinya tak ada kata yang mampu diucapkannya, terlihat dari gelengan kepala dengan bibir yang masih terkatup rapat.


Skakmat!


"Kalau filmnya sudah tidak menarik. Ayo keluar." Kenzie menegakkan tubuhnya.

__ADS_1


Sejenak berpikir. "Baiklah, ayo." Diraihnya uluran tangan Kenzie yang sudah melayang dihadapannya.


Dan selanjutnya kegiatan hari ini mereka lalui dengan penuh tawa. Berbagai tempat dan kegiatan lainnya mereka lalui.


Ah ... luka ... sepertinya kau mulai tersisih.


Sebaiknya jangan pernah kembali.


Biarkan pendar senyuman itu, tetap bergaris dalam kekuatannya.


Hingga senja mulai beranjak ke atas tahtanya.


Sepertinya ini akan menjadi tempat terakhir yang dipijak Nilam dan Kenzie hari ini.


Danau.


Kenzie sungguh menyukainya.


"Ini indah sekali, Ken." Dengan tubuh menghadap kurus ke hamparan air tanpa ombak itu, Nilam tersenyum. Rambut panjangnya yang terburai indah, terus digoda angin.


"Suka?" Kenzie mengimbangi disampingnya.


"Sangat." Lalu menoleh pada lelaki yang selalu berada disampingnya selama ini. Setelah Gavin mengundurkan diri tanpa hormat dari sisinya.


Briana selalu berusaha meyakinkan, bahwa Gavin dalam pengaruh sihir. Namun rasa sakit dihatinya, sepertinya mengalahkan rasa percaya itu sendiri.


Terlampau sakit!


"Syukurlah kalu kamu menyukainya."


"Ken ...."


"Hmm."


"Aku ingin menikah denganmu."


Refleks wajahnya bergeser menghadap gadis itu. Matanya bulat dan membola. Dentaman dihatinya semakin keras dalam ritme yang cepat.


Tuhan ... apakah ia akan mati hari ini?


Oh, tidak! Jangan dulu. Bukankah yang di dengarnya baru saja itu adalah sebuah kalimat menggembirakan?


"Nilam ... boleh aku dengar sekali lagi?" Dalam rangka memastikan.


Gadis itu mengangguk. "Iya, Ken. Aku mau menikah denganmu. Sesuai harapan ibumu."


Apa?! Jadi hanya karena ibunya?


Kenzie masih terdiam. Seharusnya ia tak terlalu gembira. Nilam, ia tahu betul bahwa gadis itu selalu memikirkan perasaan orang lain. Dan kali ini, dirinya juga termasuk. Bukan karena cinta yang datang dengan tulus dari hatinya.


Ah, benar, ia seharusnya sadar. Waktu ini terlalu singkat untuk berhasil menyembuhkan lukanya dan membuatnya melupakan Gavin dengan cepat.


Sangat mustahil!


Tapi biarlah. Dia akan terus memberi waktu, sampai cinta itu datang karena terbiasa, bukan karena terpaksa.


"Ken ...." Terlalu lama melihat kediaman lelaki itu, Nilam mencoba mengusiknya.


Diangakatnya wajah tampannya, ditatapnya kedua manik mata indah yang bergerak-gerak meminta jawaban darinya. "Baiklah, kita menikah." Meraih kedua telapak tangan Nilam untuk digenggamnya. "Aku akan berusaha membahagiakanmu. Aku tidak perduli walau dalam hatimu belum ada namaku. Yang aku tahu ... aku mencintaimu."


Tatapan sendu yang mendalam, juga untaian kalimat yang disuarakan Kenzie itu, membuat degupan didada Nilam semakin bergejolak. "Terima kasih, Kenzie. Aku akan belajar untuk mencintaimu. Dan aku meminta kesabaranmu, untuk selalu menungguku. Menunggu cinta itu datang dari hatiku ... untukmu."


Anggukkan semangat penuh binar, digerakkan Kenzie. "Selalu. Aku pasti akan selalu menunggu." Diraihnya tubuh itu kedalam rengkuh peluknya. "Aku akan selalu menunggu ... dengan sabar."

__ADS_1


*****


Malam harinya ....


Mereka memilih tak pulang ke rumah singgah. Melainkan ke kediaman Kenzie sebenarnya. Rumah kedua orang tuanya.


"Kalian kesini?" Dalia dengan langkah semangat menemui Kenzie dan Nilam yang sudah duduk santai diruang tengah rumah klasik itu.


"Ibu." Kenzie bangkit menghampiri wanita yang melahirkannya itu, lalu memeluknya penuh kasih. Disambung Nilam yang juga melakukan hal yang sama.


"Duduklah, Sayang." Dalia mengarahkan telapak tangannya ke sofa. "Ibu senang sekali, akhirnya kamu menyempatkan pulang, Ken. Terlebih Nilam juga ikut." Rekahan senyum bahagia terus memulas diri diwajah Dalia.


"Iya, Bu. Aku kemari juga karena ada hal penting, yang harus kami bicarakan dengan Ibu." Kenzie seolah memberi teka-teki.


"Hal penting apa itu, Ken?" Pandangan Dalia juga berpijak diwajah Nilam, dengan rasa ingin tahunya.


"Apa Ayah belum juga pulang, Bu?" Tanpa mengindahkan rasa ingin tahu dari pertanyaan sang Ibu sebelumnya.


Sama halnya seperti Gerry, papanya Gavin, ayah Kenzie pun selalu sibuk dengan usahannya di berbagai kota dinegara itu. Awalnya Dalia selalu mendampingi suaminya, namun penyakit hypophrenia yang sesekali menyerangnya, membuatnya memutuskan untuk tinggal dikediamannya dan melakukan pengobatan rutin tanpa berpindah tempat.


"Belum, Ken. Mungkin akhir bulan ini," jawab Dalia. "Apakah kamu tidak pernah menghubungi ayahmu, Ken?"


Sebuah jawaban berbentuk gelengan kecil dari Kenzie. "Tidak, Bu. Aku takut mengganggunya."


"Tidak seperti itu, Ken. Ibu yakin ayahmu akan sangat senang, jika kamu menghubunginya."


Nilam masih diam memperhatikan. Ada yang mengganjal dalam dirinya. Apakah mungkin Kenzie dan ayahnya sedang dalam masalah? Kenapa hanya untuk menelpon saja lelaki itu sepertinya enggan.


"Baiklah, akan ku hubungi nanti."


"Nak ... Gavin itu sudah maju dengan segala pemikiran cerdasnya. Sudah saatnya kamu meninggalkannya dan mulai mengurus perusahaanmu sendiri. Itu yang diinginkan ayahmu." Dalia dalam segala harapnya.


"Bu ... aku hanya merasa, yang ku lakukan selama ini masih belum cukup untuk membayar jasa-jasa Om Gerry untuk perusahaan kita."


Benar, selama ini Nilam tidak pernah bertanya. Mengapa Kenzie selalu menjadi bayangan Gavin diperusahaan Pradana. Sedangkan ia sendiri memiliki perusahaan yang kini di urus Chaka. Bukankah itu sangat aneh?


Memasang telinga dan pikirannya untuk mencerna sebaik mungkin perbincangan antara anak dan ibu itu, Nilam tetap diam. Karena ia bukan orang yang tepat untuk memberi timpalan kata dengan segala ketidak tahuannya.


"Iya, Nak. Tapi sepertinya Gerry juga sudah tidak keberatan untuk melepasmu dari sisi Gavin. Anak itu sudah hebat sekarang." Dalia penuh keyakinan dan penekanan.


"Justru belum, Ibu. Apalagi sekarang Gavin berhubungan dengan seseorang yang bisa saja menghancurkan perusahannya itu dalam diam."


"Maksudmu?"


Nilam juga ikut mengernyitkan kening. Dan itu tak lepas dari pandangan Kenzie. Ia juga dalam rasa bingung, ingin tahu, dan juga khawatir.


DAMN!


"Saat ini Gavin berhubungan dengan seorang wanita. Dan wanita itu adalah puteri dari seorang tiran, Ibu. Lelaki itu sangat berbahaya. Menghancurkan tanpa belas kasih demi harta dan apapun yang diinginkannya. Meskipun itu calon menantunya sendiri. Jadi aku belum bisa meninggalkan Gavin."


"Tiran? Si-siapa maksudmu, Ken?" Memberanikan diri, Nilam bertanya dalam ragu.


"Dahlan."


Menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangannya. "Jadu maksudmu, Nona Shinta itu, adalah puteri dari Dahlan?"


"Benar, Nilam."


"Ya, Tuhan...."


Sakit, tolong jangan muncul disaat seperti ini. Biarkan kejernihan cinta menggantikanmu. Nilam wanita itu, pasti tak berniat melukai. Dia hanya mengkhawatirkan lelaki itu.


Kenzie .... dalam tatapan kecemburuan yang sungguh tak bisa di elak.

__ADS_1


°°°°


Bersambung ....-


__ADS_2