Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Ancaman


__ADS_3

Waktu ...


Masa depan ...


Akan terus menjadi misteri.


Entah kapan akan menemui kesudahannya.


..........


Kepala yang pening di peganginya seraya menuntun tubuhnya untuk bangkit dan mendudukkan tubuhnya yang lemah. "Ada dimana aku...?" Pertanyaan ini tertuju untuk dirinya sendiri.


"Sudah bangun? Ini baru jam lima pagi."


Suara itu membuat Nilam memaksa matanya untuk melebar. Tangkapan kornea nya, mendapati sosok tak asing yang terduduk santai disofa tunggal dipojok ruangan, dengan satu batang rokok yang dihisapnya sesekali. Seketika! Aliran darahnya seakan berhenti mengalir. Membeku. "Ju- juragan Dahlan!" Kenapa aku tiba-tiba bersamanya? Memaksa otaknya untuk bergerak mundur pada kejadian semalam.


Ya, bahkan gaun itu masih melekat ditubuhnya.


Mulai dingatnya, semalam ia pergi ke toilet yang terletak di belakang rumah megahnya. Kemudian Edrick datang dengan gangguan kecilnya. Namun tak lama, pria itupun pergi. Setelah itu, saat mulai melangkahkan kakinya kembali, ia merasakan seseorang membekap mulutnya dari belakang, dan selebihnya ..... Semua hilang menggelap, dan berakhir di tempat ini. Entah dimana.


Namun yang jelas, tempat ini dibawah kekuasaan Dahlan.


Lelaki yang tak lagi muda itu tersenyum. Mematikan dan menaruh batang kecil berasap itu ke tempatnya, lalu berdiri menghampiri gadis yang duduk ketakutan diatas ranjang medium itu. " Akhirnya aku menemukanmu, Sayang." Dagu runcing dengan belahan manis itu, ditariknya mendongak. "Kau milikku."


Nilam beringsut mundur. Memojokkan diri hingga ke kepala ranjang.


"Jangan takut manis, aku tidak akan berbuat jahat padamu."


Terdengar lembut, namun Nilam tahu, pria itu tak sedang mengasihaninya. Mengingat ia pernah melarikan diri dari duplikat Hitler itu. "Tolong, biarkan aku pergi dari sini."


Permintaan itu terdengar lucu di telinga Dahlan. "Aku akan membebaskanmu. Setelah kau menemani aku bersenang-senang seharian ini."


"Tidak. Aku tidak mau, aku ingin pulang."

__ADS_1


"Haha ...." Dahlan terbahak. "Pulang?" Dengan nada mengejek. "Ini rumahmu, Sayang."


Nilam mulai menangis. Benar, ini tidak akan mudah baginya.


"Awalnya semalam aku mempersiapkan cara lain untuk menculikmu. Tapi beruntung, kau malah mempermudah rencanaku, dengan pergi ke tempat yang sepi dipesta itu. Sepertinya kau memang sudah sangat siap untuk ikut denganku." Sarkas! Di ikuti seringai. Kemudian memapah langkahnya berjalan hilir mudik dengan saku celana menjadi tempat telapak tangannya bersembunyi.


"Apa yang kau ingin dariku sebenarnya?" Pertanyaan itu diiringi gemuruh keras berdebum didada Nilam.


Dan Dahlan pun kembali terbahak. "Haha .... Kamu manis sekali, Nilam. Bukankah kau tahu, dari dulu aku begitu menginginkanmu?"


"Tapi kenapa harus aku?" Nilam mulai mengusung keberaniannya. "Bukankah diluar sana masih banyak wanita yang lebih segalanya dariku? Bahkan kau bisa mendapatkan mereka dengan mudah, Juragan!"


"Lalu kenapa kau tidak bisa seperti mereka? Datang padaku sebagai penjilat? Aku akan dengan senang hati merentangkan tangan menyambutmu." Dahlan mendekat dan mendaratkan diri duduk disamping Nilam. "Aku akan memberikan semuanya untukmu."


"Tidak! Kau tidak bisa memaksaku!"


"Gavin! Karena dia, kan?" Tersenyum kecut. "Kau memang pandai memasang umpan," ujarnya. "Tapi kau tidak bisa kembali padanya lagi. Aku akan segera melenyapkannya."


DEGG


"Sebegitu cintanya kau pada lelaki sialan itu? Lelaki yang sudah menghancurkan hidup puteriku. Kau tahu, sekarang Shinta menjadi gila karena pria bodoh itu!!" Teriakan frustasi Dahlan.


"Shinta ... gila...?" Cukup mengejutkan bagi Nilam. Namun didetik kemudian, air mukanya berubah sinis. Dihapusnya basahan dipipinya. "Anakmu menjadi gila karena ulahmu sendiri, Juragan!"


Membungkuk seraya mencengkram dagu Nilam. "Apa maksudmu?"


"Kau ... kau pasti orang dibalik gendam yang tertanam ditubuh Gavin waktu itu, kan? Karena aku tidak yakin jika Shinta yang yang melakukannya?" Entah darimana keberanian Nilam itu muncul.


Dagu itu dihempaskan Dahlan, lalu kembali terbahak. "Kau sangat cerdas," ujarnya. "Ya, itu memang aku. Rencanaku."


"Maka nikmatilah kenyataan. Shinta menjadi gila karna kebodohanmu sendiri!"


"Diam kau!" Satu tamparan keras melesat di bilah pipi Nilam. "Aku tidak perduli. Yang aku inginkan sekarang adalah ...." Menarik keras rambut panjang itu kebelakang. Hingga melengak dan meringis menahan sakit. "Bersenang-senang, menikmati tubuhmu yang indah ini, setelah itu...." Tangan lainnya membelai pipi halusnya. "Merusak wajahmu. Lalu memulangkanmu pada pria jahannam kekasihmu itu sebagai hadiah kejutan dariku. Haha...."

__ADS_1


"Aku lebih baik mati daripada menyerahkan tubuhku padamu!"


"Tapi itu akan tetap ku lakukan. Untuk merusak mental Gavinmu itu, sebelum aku melenyapkannya."


Tatapan Nilam terjurus menusuk ke wajah Dahlan. "Psycopath! Kau sudah membunuh kedua orang tuaku." Kalimat itu cukup mengejutkan bagi Dahlan. "Sekarang kau akan mencoba melenyapkan Gavin. Tidak akan mudah!"


"Kau sudah tahu aku yang melenyapkan kedua orang tuamu?" Melontar tanya dengan mata menyipit, Dahlan cukup dalam keingintahuannya.


"Ya, aku tahu semuanya. Dan aku rasa kau juga akan lebih terkejut dengan kabar ini."


"Katakan!"


"Anakmu kini ada pada Gavin." Sedikit berbohong, sebagai bentuk usahanya mengikis kepercayaan diri pria itu.


Ucapan Nilam cukup membuatnya tersentak. "Apa maksudmu?"


"Kau ingat bibi Kedasih?"


Dahlan terdiam, nama itu sungguh sangat tak asing ditelinganya. "Kedasih...." Dan.... "Darimana kau tahu tentang Kedasih?" Tentu saja dia mengingatnya. Wanita itu pernah menjadi korban kebiadabannya.


"Tidak penting aku mengetahuinya darimana. Yang jelas, benih yang kau tanam dirahim Bibi Kedasih, kini ia sudah tumbuh remaja. Dan sekarang dia ada pada Gavin." Nilam terus mencoba untuk tetap terlihat tenang, meskipun gemuruh ketakutan didadanya melebihi kapasitasnya.


Dahlan kembali menarik keras rambut panjang Nilam. "Jangan coba bermain-main denganku."


"Aku tidak sedang bermain-main. Satu hal lagi yang kau tahu, Juragan!" Berkata tegas dengan wajah terdongak.


Benarkah anak laki-lakiku ada pada Gavin? Cukup menciptakan keresahannya. "Apa?"


"Kasus pembunuhan kedua orang tuaku itu akan segera dibuka kembali. Karena bukti dan saksi kuncinya sudah terkumpul sempurna."


"Aku tidak takut!" Ucapan datar itu berbanding terbalik dengan isi hatinya yang cukup ketar-ketir, seiring dentaman hebat didalam dadanya. "Akan aku hancurkan kau sekarang sebelum semua itu terjadi." Ditariknya lengan Nilam dan menghempaskan tubuh ramping itu hingga terlentang diatas matras yang kini di tempati mereka. Lalu memulai aksinya.


Nilam terus berusaha berontak. "Tidak! Tolong ....!!"

__ADS_1


"Tidak akan ada yang menolongmu dari cengkramanku."


Bersambung ....


__ADS_2